Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 76. Sesi 2. Beda Pendapat


__ADS_3

“Besok aku pikirkan kembali. Yang penting anaknya sehat dulu dan beri dia uang selama menunggu anaknya. Untuk berapa besarannya kamu bicarakan pada Ibu Nuning. “ ucap Arya selanjutnya. Mereka lalu berbicara tentang pekerjaan lainnya dan terdengar pembicaraan tentang hal yang tidak begitu berat.


Dan tidak lama kemudian pembicaraan mereka selesai. Dan Dimas akan ijin untuk pulang.


“Pak Arya saya mau pamit pulang.” ucap Dimas sambil melihat ke arah ruang keluarga. Maksudnya dia juga akan pamit pada Oma dan Opa seperti biasanya kalau dia sedang ke sini.


“Ya sudah pulang sana, pintu luar di sana kenapa kamu melihat ke belakang.” ucap Arya, yang kuatir jika Dimas pamit pada Savitri juga, entah kenapa Arya ada perasaan cemburu pada Dimas. Ada perasaan kuatir juga jika Savitri akan mudah luluh dengan perhatian dan kebaikan seorang pria, seperti kasus dengan Gandi dulu. Kuatir juga jika Dimas terpesona dengan Savitri yang terlihat anggun dan cantik di sore ini.


“Tumben Pak Arya sekarang sering bicara ketus, apa karena efek dia masih sakit apa karena banyak masalah.” gumam Dimas dalam hati lalu dia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruang tamu. Dimas masih melihat Reno yang masih bermain di teras akan tetapi dia diam saja dan terus melangkah menuju ke mobilnya. Sebab dari pengamatan nya mode yang dipasang oleh Reno sama dengan mode yang dipasang oleh Arya.


“Kakak ayo masuk, mainan nya di bawa masuk.” ucap Arya sambil berdiri di depan pintu menatap Reno. Reno lalu menuruti perintah dari Arya, dia mengemasi mainnya dan masuk ke dalam. Arya lalu menutup pintu rapat rapat. Dia berjalan masuk ke dalam sambil membawa sebendel berkas. Saat melewati ruang tamu terlihat Oma dan Savitri duduk di ruang keluarga. Di meja ada beberpa cangkir teh dan kue kue berada di atas piring.


“Mana Dimas, Ya?” tanya Oma yang tidak tahu kalau Dimas sudah pulang sebab tadi dia sedang serius menyiapkan kue kue, dan biasanya Dimas pamit kalau pulang dan minum teh dulu di ruang keluarga bersama dirinya.


“Sudah pulang Ma.” jawab Arya lalu duduk di samping Savitri. Benar sekarang seperti ada magnet di tubuh Savitri, Arya inginnya dekat dekat terus. Arya lalu mengambil cangkir teh dan meminumnya.


“Tumben tidak ke belakang pamit pada aku.” gumam Oma.

__ADS_1


“Katanya tergesa gesa.” ucap Arya setelah menyesap teh dari cangkirnya


“Kak Vitri, ini kerjaan nanti malam.” ucap Arya sambil menepuk nepuk sebendel berkas, setelah menaruh cangkir teh nya lagi di meja. Savitri hanya menganggukan kepalanya.


“Ya, aku sayup sayup mendengar yang ditabrak Pak Slamet anaknya Helena.” ucap Oma sambil menatap Arya


“Iya Ma. Bikin pusing saja, sudah dipesan tidak usah datang lagi masih saja datang bawa anaknya lagi.” ucap Arya dengan nada kesal.


“Biaya pengobatan sudah diganti oleh perusahaan, minta uang ganti selama dia menjaga anaknya karena katanya jadi tidak bisa bekerja, sudah dituruti. Masih juga minta ganti kehilangan pelanggan dapat pekerjaan.” ucap Arya selanjutnya


“Itulah kenapa aku dulu tidak menyukainya, dia memang pintar, tetapi hatinya tidak tulus macam ada niat niat liciknya.” ucap Oma sambil menatap Arya


“Sudah Ma, tidak usah diungkit ungkit lagi.” ucap Arya dengan malas


“Tapi kasihan juga Ma kalau mempunyai anak dan tidak bekerja. Saya yang kemarin pernah mengalami kesulitan ekonomi dan itu pun masih mendapat transferan dan juga anak anak sudah ditanggung oleh Arya, saya merasa pusing Ma, harus pontang panting dan otak rasanya muter muter mencari cara agar dapat uang.” ucap Savitri yang berempati pada Helena sebagai orang tua tunggal yang tidak memiliki pekerjaan.


“Iya Vit, kasihan kalau mengingat anaknya dan nasibnya sekarang, tapi kalau ingat tingkah dia bikin mangkel. Sudah tidak usah dipikir. Ya kamu mandi terus kita makan malam.” ucap Oma lalu bangkit berdiri tidak mau membahas Helena lagi.

__ADS_1


Waktu terus berlalu, setelah makan malam selesai Arya langsung menuju ke kamarnya. Savitri pun disuruh oleh Oma agar segera mengikuti Arya, biar nanti tidak terlalu larut malam selesainya.


Savitri membuka pintu pelan pelan, terlihat Arya sudah duduk di kursi dan di depannya berkas berkas yang tadi di bawa oleh Dimas. Kini Savitri yang sudah tahu pekerjaannya langsung sigap mengambil berkas berkas yang sudah ditanda tangani oleh Arya lalu diberi tanggal dan stempel perusahaan. Kali ini pekerjaan lebih cepat dari kemarin selain berkas tidak sebanyak kemarin juga Savitri sudah bisa bekerja lebih cepat.


Savitri menaruh berkas yang sudah selesai di tepi meja Arya, sedangkan Arya terlihat membuka lap top untuk melihat laporan laporan yang sudah masuk. Dan beberapa saat kemudian hape Arya berdering setelah di lihat ada nama kontak Pak Slamet tertera di layar hape Arya. Arya segera menerima dan terlihat Arya mendengarkan dengan serius.


“Hmmm dia akan tetap melaporkan pada polisi jika kita tidak memberikan pekerjaan.” gumam Arya,


“Apa kita datangi mereka Ya, kita ajak dia bicara baik baik. Bagaimanapun kamu memang harus menemui nya menjelaskan maumu seperti apa, mau dia seperti kita cari jalan yang terbaik.” ucap Savitri sambil menatap wajah Arya


“Masalahnya dia merasa kenal baik dengan kamu yang jadi pimpinan jadi dia merasa tidak puas dengan perkataan yang disampaikan oleh karyawanmu. Dan pasti juga ingin bertemu dengan kamu.” ucap Savitri selanjutnya sambil tersenyum.


“Aku malas menemui dia.” ucap Arya


“Dia itu keras kepala, pasti dia akan tetap minta pekerjaan.” ucap Arya kemudian


“Ya sudah kita beri saja , demi kemanusian. Aku kan sejak awal memberikan usulan dia ditaruh di bagian produksi. Kamu tidak akan melihatnya saat ke perusahaaan.” ucap Savitri sambil berjalan lalu duduk di sofa.

__ADS_1


“Kalau kamu sudah sembuh kita temui dia sekaligus menengok anaknya. Aku penasaran dengan wanita masa lalumu.” ucap Savitri lagi sambil menatap Arya yang masih duduk di kursi.


“Kalau aku tidak demikian aku tidak ingin melihat masa lalu ku dan juga masa lalu Kak Vitri. Kita lihat masa kini dan masa depan.” ucap Arya yang kini sudah berdiri dan berjalan menuju ke sofa lalu duduk di samping Savitri, Arya lalu menoleh dan menatap wajah Savitri dengan jarak yang sangat dekat. Savitri yang merasa dilihat oleh Arya dia pun pelan pelan memalingkan wajahnya dan menghadap ke arah Arya. Arya menatap tajam manik manik mata Savitri.


__ADS_2