Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 27. Telat


__ADS_3

Arya benar menyetujui kemauan Oma untuk memperketat transferan buat Savitri. Toh kebutuhan keponakannya juga sudah dia penuhi semua. Savitri sudah dikabari oleh Arya kalau transparannya akan dikurangi dengan alasan perusahaan sedang dalam masa sulit. Savitri hanya bisa menurut, dia sebenarnya sudah bersyukur selalu mendapat transferan rutin oleh Arya. Berapapun akan dia terima.


Arya juga berharap dengan memperketat transferan buat Savitri, Gandi mau berpikir dan mau bekerja. Namun kenyataannya sama saja. Arya selalu mentransfer ke rekening Savitri setiap akhir bulan, bersamaan dengan pembayaran gaji para karyawan.


Pagi hari Anna istri pertama Gandi sudah datang.


“Hallo bestie.... Aku datang...” teriak Anna sambil membuka pintu pagar yang sudah tidak tergembok. Savitri yang sedang memberi makan ikan ikannya menoleh ke arah Anna yang sekarang sudah berjalan menuju ke arah teras.


“Bestie aku tadi belum minum teh, tolong dong buatkan aku teh manis dan panas. Tapi panasnya yang pas jangan terlalu panas.” ucap Anna sambil mendudukkan pantatnya di kursi teras. Savitri hanya diam saja pura pura tidak mendengar.


“Bestie..... kamu dengar tidak sih, apa aku harus berteriak dan mengatakan kamu itu pelakor.” ucap Anna dengan suara lebih keras.


“Ibu ke sini ada perlu apa?” tanya Savitri sambil berdiri.


“Jangan kamu panggil aku Ibu, aku bukan ibumu. Kayak ga tahu saja aku ke sini mau ambil jatah bulananku. Aku tahu kamu sudah dapat transferan Gandi yang bilang menyuruhku kalau datang akhir bulan kalau minta jatah uang makan dan uang sekolah.” jawab Anna sambil menatap tajam Savitri


“Kamu minta saja pada Gandi. Aku sudah tidak punya uang. Kamu tunggu sampai Gandi bangun. Kalau hanya segelas teh manis akan aku kasih.” ucap Savitri lalu dia berjalan menuju ke dalam. Dia lalu menyuruh Mbak Lastri membuatkan teh buat Anna. Sedangkan dia masuk ke kamar tamu untuk membangunkan Gandi.


“Apa sih aku masih ngantuk.” teriak Gandi sambil menendang tangan Savitri yang menggoyang goyang kaki Gandi agar bangun.


“Itu istrimu datang, minta uang. Kamu tahu uang transferan Arya belum masuk, sekarang juga tidak bisa ngasih banyak karena perusahaan sedang sulit. Aku benar benar tidak punya uang.” ucap Savitri sambil masih menggoyang goyang kaki Gandi.

__ADS_1


“Tidak mengenak enaki orang tidur saja.” ucap Gandi lalu bangkit berdiri dan berjalan ke luar kamar lalu menemui Anna.


“Eh suamiku kamu baru bangun apa pelayanan istri mudamu sangat memuaskan.” sapa Anna sambil tersenyum manis.


“Kamu kenapa pagi pagi sudah sampai di sini. Yang mau ditransfer saja belum dihitung. Sudah kamu pulang dulu. Hutang saja dulu sana mau hutang warung atau hutang pinjol terserah. Dan jangan mengancam ancam Savitri, pusing aku.” ucap Gandi sambil menatap tajam Anna. Anna tidak berani beradu pandang dia hanya menunduk lalu meminta uang untuk transport pulang. Gandi yang tidak pegang uang berteriak memanggil Savitri. Savitri pun mau tak mau keluarkan uang untuk transport pulang Anna. Dia sejenak tenang, namun jika Anna pulang untuk utang ke warung dan utang pinjol pasti nanti akan datang lagi untuk menagih utang. Setelah Anna pulang, Gandi berjalan menuju ke kolam dan tiduran di tepi kolam sambil melihat ikan ikan.


“Vit ambilkan rokokku dan buatkan kopi!” perintah Gandi pada Savitri yang mau masuk ke dalam rumah.


Waktu terus berlalu, transferan dari Arya setiap bulan hanya mepet untuk kebutuhan pokok Savitri. Sementara pengeluaran tetap sama, dan Anna masih selalu meminta uang dengan segala macam alasan. Kabar Savitri kesulitan keuangan sampai di telinga orang tua Savitri. Dan merekapun hari ini datang untuk menengok Savitri.


Gandi yang sudah pernah datang ke rumah orang tua Savitri dan mengetahui memiliki kebun luas. Gandi memiliki harapan untuk menguasai juga warisan Savitri dari orang tuanya. Jadi Gandi selalu jaga image di depan mereka. Dengan sangat sopan dia menyambut kedatangan orang tua Savitri. Dia juga bercerita kalau dia yang membuat kolam dan mengurusi ikan ikannya.


“Katanya ikan kayak beginian laku mahal?” tanya Kakek sambil memandang ikan di kolam.


“Ayo Pak, Bu masuk dulu.” ucap Savitri sambil menggandeng tangan Nenek.


“Vit, kok kamu terlihat kurus, apa sedang isi?” tanya Nenek sambil mengusap perut Savitri.


“Tidak tahu Bu, saya belum periksakan.” jawab Savitri sambil tersenyum tipis.


“Haidmu bagaimana?” tanya Nenek lagi

__ADS_1


“Bulan ini belum dapat sih Bu, tetapi sudah biasa telat kok.” jawab Savitri selanjutnya, sedangkan Gandi hanya cuek saja tidak memperhatikan.


Mereka lalu duduk di ruang keluarga. Nenek dan Kakek mengawali perbincangan dengan bertanya kabar Reno dan Reni. Kakek dan Nenek sudah diberi tahu kalau Reno dan Reni sekarang tinggal di rumah Oma dan Opa. Tetapi tidak dikasih tahu penyebabnya hanya dikasih tahu kalau Oma dan Opa menginginkan mereka tinggal di sana.


“Vit kamu bilang kamu kesulitan ekonomi dan mau menjual mobil.” ucap Kakek selanjutnya masuk pada inti maksud kedatangannya.


“Apa kamu benar Vit mau jual mobil? Kenapa tidak bilang aku?” tanya Gandi dengan nada tinggi sebab dia tidak diajak omong oleh Savitri.


“Iya, biaya operasional mobil tinggi Pak, Bang. Aku bermaksud menjual untuk menghemat pengeluaran.” jawab Savitri dengan santai. Sebab dia memang berpikir akan menjual mobilnya saja selain untuk menghemat pengeluaran, juga dia sendiri sudah tidak begitu memerlukan mobil. Dulu dia butuh mobil untuk antar ****** anak anaknya, sekarang mobil malah Gandi yang sering pakai dan pergi tidak jelas juntrungnya. Biaya pembelian bahan bakar yang bayar Savitri, dan biaya perawatan lebih mahal sebab Gandi kalau membawa mobil dengan kasar.


“Nak Gandi harus giat cari uang, apalagi kalau nanti benar Savitri hamil. Kasihan Savitri dan anak di dalam kandungan kalau Savitri harus bekerja dan berpikir keras.” ucap Nenek dengan hati hati sebab beliau sudah diberi tahu oleh Savitri kalau Gandi tidak memberi uang malah hutang hutangnya Savitri yang bayar.


“Iya Bu.” jawab Gandi dengan wajah memerah. Dia malu dan marah menjadi satu, tetapi masih jaga image karena tahu kalau Savitei masih punya banyak aset juga kebun orang tua Savitri sangat luas.


“Apa sudah kamu pikir masak masak untuk menjual mobil Vit, bagaimana kalau sewaktu waktu kamu membutuhkan?” tanya Kakek, Gandi terlihat senang ada harapan mobil tidak jadi dijual.


“Sudah Pak, kalau butuh mobil bisa pakai taxi saja. Cuma Vitri belum bilang ke Arya, itu mobil peninggalan almarhum. Kalau Bapak punya uang bagaimana kalau Bapak yang beli?" ucap Savitri. Gandi terlihat senang, sebab bila mobil dibeli Kakek, bisa diakali itu orang tua. Terlihat Kakek berpikir pikir.


“Aku tidak punya uang Vit, pensiunan cukup untuk kebutuhan sehari hari dan berobat. Kalau jual mobilku juga harus cari tambahan kalau untuk ditukar dengan mobilmu.” jawab Kakek.


“Mengajukan pinjaman bank juga takut kepikiran Vit. Ya sudah kamu terus terang pada Arya saja.” ucap Nenek, terlihat Gandi kecewa dan berusaha berpikir bagaimana caranya membujuk Kakek agar mau menjual kebunnya atau utang bank.

__ADS_1


__ADS_2