
Setelah menciumi kedua anaknya dan berjanji akan segera datang lagi, Savitri lalu berdiri dan berjalan menuju ke mobilnya dia duduk di jok belakang di samping Mbak Lastri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil sebab dia tidak tahan melihat perpisahan Savitri dengan kedua anaknya. Mobil pelan pelan berjalan meninggalkan rumah Opa dan Oma. Terlihat Reno dan Reni berlari mengejar mobil mereka berdua berdiri di depan pintu gerbang sambil melambai lambaikan tangannya sambil berteriak teriak....
“Mama.... dadaaaah Mama....dadaaaaahhhhh Mama...” teriak Reno dan Reni. Savitri di dalam mobil menoleh ke belakang sambil menempelkan telapak tangannya di kaca agar terlihat oleh anak anaknya.
“Hati hati Ma..!” teriak Reno sangat lantang.
“Dadaaaah Mamaaaaa...” teriak Reno dan Reni lagi.
Opa dan Oma berjalan menghampiri mereka. Lalu Oma dan Opa mengendong Reno dan Reni untuk dibawa masuk ke dalam rumah sebab mobil sudah menghilang dari pandangan mata.
Sementara Savitri juga sudah mengarahkan pandangan matanya ke depan setelah anak anaknya tidak terlihat. Air mata masih terus meleleh di pipi Savitri. Suasana di dalam mobil hening tidak ada yang berbicara semua sibuk dengan pikirannya masing masing. Beberapa menit kemudian,
“Kak, apa benar rumah Gandi mau dijual?” tanya Arya memecahkan keheningan, pura pura tidak tahu tentang rumah Gandi.
“Iya katanya mau dijual. Tapi katanya belum bisa dijual karena masih ditempati temannya.” jawab Savitri dengan tatapan mata kosong, pikirannya masih kepada kedua anaknya yang baru saja ditinggalkan.
“Apa Kak Vitri percaya dengan omongan Gandi? Aku sudah cek sendiri itu bukan rumah Gandi, tetapi dia hanya kontrak beberapa bulan.” ucap Arya selanjutnya.
__ADS_1
Savitri hanya diam saja perkataan Arya bisa diterima karena Gandi selalu marah jika ditanya tentang rumah. Dia belum pernah melihat sertifikat rumah Gandi tetapi dia juga tiada nyali untuk menanyakan. Namun di sebagian hatinya berusaha untuk mempercayai perkataan Gandi, karena dia tidak siap jika uang yang sudah banyak keluar untuk membayar utang utang Gandi tidak kembali. Mendadak kepala Savitri terasa pusing. Savitri menunduk sambil memegang pelipisnya.
“Bu, Bu Vitri kenapa?” teriak Mbak Lastri yang melihat Savitri terus memegang kepalanya. Mendengar teriak Mbak Lastri, Arya menoleh ke belakang, berusaha untuk melihat Savitri.
“Kak Vitri kenapa? Sakit?” tanya Arya masih menoleh ke belakang.
“Tidak apa apa, hanya pusing karena kurang tidur mungkin.” jawab Savitri yang tidak ingin Arya mencemaskannya, akan tetapi Savitri terus menundukkan kepalanya yang ditopang oleh tangannya. Suasana di dalam mobil kembali hening semua kembali sibuk dengan pikirannya masing masing. Hingga tidak terasa mobil sudah mendekati komplek perumahan Savitri. Savitri kemudian mendongakkan kepalanya.
“Ya, berhenti di swalayan sebelum komplek ya.”ucap Savitri. Arya dan Pak Sopir mendengar suara Savitri, Pak Sopir kemudian melajukan mobil pelan pelan dan akhirnya berhenti di halaman parkir swalayan. Arya dan Pak Sopir mengira Savitri akan membeli sesuatu di swalayan tersebut. Namun....
“Percaya aku baik baik saja. Nanti kalau ada apa apa biar Mbak Lastri mengabarimu.” ucap Savitri menyakinkan Arya. Kemudian terlihat Arya dan Pak Sopir turun dari mobil, dan Savitri pindah ke jok kemudi. Arya dan Pak Sopir menunggu hingga mobil Savitri berjalan dan memasuki komplek perumahan. Kemudian mereka berdua naik taxi on line menuju ke rumah sakit untuk mengambil mobil Opa yang masih terparkir di sana.
Sementara itu mobil Savitri sudah berjalan pelan pelan menuju ke rumahnya. Mobil berhenti di depan rumah. Meskipun sudah siang namun terlihat lampu jalan di depan rumahnya masih menyala juga lampu teras masih menyala terang. Savitri dan Mbak Lastri turun dari mobil pelan pelan mereka memasuki rumah. Mbak Lastri membuka pagar dengan sangat hati hati agar tidak menimbulkan suara. Savitri dan Mbak Lastri terus berjalan lalu membuka pintu pelan pelan, sama seperti di luar, lampu di dalam rumah semua masih menyala. Savitri dan Mbak Lastri masuk ke dalam rumah, terdengar suara televisi dengan volume yang tinggi. Tampak Gandi tertidur di sofa ruang keluarga. Di meja terlihat asbak dengan banyak puntung rokok yang berceceran kemana mana. Sampah makanan dan minuman juga masih teronggok di meja juga ada beberapa yang terjatuh di lantai. Aroma ruangan benar benar tidak sedap.
“Untung tidur Bu, sedikit tenang.” ucap Mbak Lastri saat mereka sudah meninggalkan ruang keluarga. Savitri hanya tersenyum datar lalu mereka berdua masuk ke dalam kamarnya masing masing.
Savitri melangkah memasuki kamarnya, dia merasakan kehampaan di dalam ruang hatinya. Kamar yang biasanya terdengar suara celotehan anak anaknya kini sepi. Dipandanginya foto keluarga yang masih terpasang di dinding, tidak terasa air mata Savitri meleleh semakin lama semakin deras. Dadanya terasa sesak, lehernya terasa sakit.....
__ADS_1
BRAK!
Tiba tiba pintu dibuka dengan keras. Savitri menoleh ke arah suara keras itu. Tampak sosok Gandi sudah berdiri di depan pintu kamar Savitri. Rambut Gandi terlihat agak acakan, baju kusut dan mata terlihat merah. Tubuh Savitri meremang karena ketakutan akan amarah suaminya itu. Gandi melangkah mendekati Savitri dengan langkah cepat dan tiba tiba...
“Kalau benda ini membuatku bersedih buang saja!” ucap Gandi sambil tangannya meraih pigura besar yang terpampang di dinding.
“Bang..... jangan Bang.... jangan Bang...” teriak Savitri berusaha mempertahankan agar foto keluarganya agar tetap terpasang di kamarnya. Gandi tidak peduli dengan suara teriakan Savitri, tenaga Gandi lebih kuat untuk mengambil dan menurunkan pigura itu. Savitri tetap berusaha untuk mempertahankan dan...
PRANG!
Gandi membanting pigura itu, Savitri menangis sambil jongkok di depan pigura yang kacanya sudah pecah berkeping keping. Pecahnya kaca pigura bagaikan pecahnya hati Savitri karena keluarga kecilnya yang dahulu selalu bersama bahagia kini mereka terpisah pisah.
“Kamu itu meninggalkan suami, pulang pulang malah yang dilihat foto.” Teriak Gandi, Savitri mengumpulkan kaca kaca yang berserakan sambil air matanya yang terus meleleh, Savitri menangis tanpa suara. Namun tiba tiba tubuhnya terangkat. Gandi mengendongnya dan membawanya ke luar dari kamar tersebut. Savitri hanya memejamkan mata dengan air mata yang terus meleleh, tiada tenaga melawan dan tidak ada gunanya melawan, Savitri hanya bisa pasrah. Saat Gandi sudah melewati pintu itu, Mbak Lastri sedang berlari dari dalam kamarnya menuju ke arah kamar Savitri karena Mbak Lastri mendengar suara barang dibanting dan teriakan Savitri.
“Apa yang terjadi.” gumam Mbak Lastri saat melihat Savitri dalam gendongan Gandi dibawa menuju ke kamar tamu. Mbak Lastri berjalan menuju ke kamar Savitri, pintu masih terbuka lebar. Mbak Lastri melangkah masuk, dia kaget melihat kaca kaca yang masih berserakan karena Savitri belum mengumpulkan semua kaca yang pecah.
“Ibu Vitri baik baik tidak ya, kenapa tadi di dalam gendongan hanya diam saja.” gumam Mbak Lastri lalu dia melangkah menuju ke kamar tamu untuk memastikan apa yang terjadi.
__ADS_1