Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 40. Savitri Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Savitri terbaring lemas, kepalanya masih terasa nyut nyutan. Suaminya Gandi yang dipanggil panggil tidak datang, entah tidak mau datang atau tidak mendengar. Namun saat tadi mendengar saja juga tidak mau menolong. Tangan Savitri meraih mainan Reni dipeluknya boneka itu, lalu digesek gesekkan hidung boneka itu di pelipisnya. Lama lama terasa pusing di kepalanya sedikit berkurang, Setelah sedikit terasa berkurang pusingnya, Savitri mencoba bangun untuk mengambil minyak angin dan air mineral yang berada di kamar tersebut. Pelan pelan dia berjalan dan akhirnya dia bisa mengambil air mineral dan minyak angin. Dia gosok gosok seluruh tubuhnya dengan minyak angin seperti yang dilakukan oleh Mbak Lastri kepada dirinya. Setelah tubuhnya terasa hangat dia kembali membaringkan tubuhnya.


Sementara Gandi setelah memberi pakan kepada burungnya dia tidak melihat keadaan Savitri. Namun yang dilihat meja makan.


“Istri macam apa di meja tidak ada makanan.” teriak Gandi sambil menutup lagi tudung saji. Savitri memang belum sempat masak buat makan siang. Tadi pagi hanya sempat buat sarapan lalu menyelesaikan pekerjaan lainnya, dan itupun saat membersihkan kotoran burung belum selesai dia pusing dan mual.


“Vit, aku lapar.” teriak Gandi sambil membuka pintu kamar Savitri dengan kasar. Dilihatnya Savitri masih terbaring, kamar tercium aroma minyak angin dan mata Gandipun melihat isi perut Savitri yang tertumpah di lantai. Gandi lalu menutup pintu kamar Savitri dan selanjutnya dia pergi. Savitri yang tidak tertidur mendengar suara Gandi namun dia hanya diam saja. Air mata meleleh namun tidak ada suara isakan tangis dari mulutnya.


Beberapa jam kemudian, perut Savitri pun terasa melilit karena lapar. Gandi yang pergi juga tidak pulang. Savitri pelan pelan bangkit dari tidurnya. Dia habiskan air mineral yang tersisa, lalu dia pelan pelan berjalan keluar kamar.


Savitri berjalan menuju ke ruang makan, dia mengambil nasi yang sudah dia buat tadi pagi. Savitri mengisi perutnya hanya dengan nasi putih. Rasanya tubuhnya masih tidak berdaya untuk melakukan kegiatan di dapur.


“Yang penting perut terisi dulu.” gumam Savitri. Setelah menghabiskan satu piring nasi hangat. Savitri membuat teh hangat dengan air panas dari dispenser yang berada di ruang makan tersebut. Kini tubuh Savitri terasa lebih baik. Setelah merasa tubuh membaik Savitri membersihkan lantai kamarnya.


Kejadian seperti itu berulang ulang dalam beberapa hari. Dan pada suatu hari di saat Savitri dalam kondisi tidak berdaya lagi di dalam kamar. Mbak Lastri pulang dari kampung. Mbak Lastri masuk ke dalam rumah Savitri. Rumah dalam keadaan sepi.

__ADS_1


“Bu Vitri .. Bu Vitri... saya datang... “ teriak Mbak Lastri sambil berjalan masuk.


“Kok sepi ya... “ gumam Mbak Lastri, sambil terus berjalan masuk. Mbak Lastri yang melihat rumah berantakan dan aroma tidak sedap sangat mengkuatirkan keadaan Savitri. Mbak Lastri langsung mempercepat langkah kakinya. Kardus mie instan yang berisi oleh oleh dari kampung dan tas baju yang dia bawa di kedua tangannya langsung diletakkan begitu saja. Dengan segera Mbak Lastri membuka pintu kamar Savitri.


“Bu Vitri......” teriak Mbak Lastri langsung masuk ke dalam kamar saat melihat tubuh Savitri lunglai tersandar di sandaran tempat tidur kaki menjuntai di lantai yang penuh dengan tumpahan isi perut Savitri.


“Bu.... Bu....” Mbak Lastri menepuk nepuk pipi Savitri. Mata Savitri terpejam karena menahan rasa pusing di kepalanya. Mbak Lastri lalu mengambil minyak angin dari dalam tas tangannya. Dia gosok gosok seluruh tubuh Savitri dan dia benarkan posisi tidur Savitri.


“Bu... Bu... kenapa jadi seperti ini. Bu Vitri kenapa tidak telpon Mbak Anisa. Apa hape Bu Vitri masih di Mbak Anisa....” ucap Mbak Lastri sambil terus menggosok gosok tubuh Savitri.


Arya yang sedang libur dan sedang bersama kedua keponakannya kaget saat mendapat telpon dari Mbak Lastri yang mengatakan Savitri sakit dan pingsan lagi. Arya dengan segera menuju ke mobilnya dan turut serta membawa kedua keponakannya.


“Cepat bawa mobilnya Pa, kasihan Mama.” ucap Reno saat mereka bertiga di dalam perjalanan.


“Iya Pa kasihan Mama.” ucap Reni yang kini sudah tidak begitu cepat.

__ADS_1


“Iya Sayang, ini sudah cepat tapi kita juga harus hati hati agar selamat sampai di rumah Mama.” ucap Arya sambil fokus mengemudikan mobilnya. Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di depan rumah Savitri.


“Mama... Mama.... Mama.....” teriak Reno dan Reni saat turun dari mobil mereka berdua langsung menghambur ke dalam rumah Savitri.


“Ih... bau ga enak.. bau apa ini?” teriak Reni sambil menutup hidungnya karena mencium aroma bau yang tidak sedap yang belum pernah diciumnya. Bau aroma alkohol bercampur dengan aroma kotoran burung masih ditambah aroma amis air kolam dan aqurium. Selama beberapa hari ini Savitri memang tidak membersihkan kolam dan kurungan kurungan burung. Gandipun juga tidak mau dia hanya mau menjual ikan dan uangnya untuk membeli makan dia dan minuman.


“Ayo cepat ke kamar Mama.” ucap Reno sambil menoleh menatap Reni yang kini hanya berdiri sambil menutup hidungnya dengan kedua tangan mungilnya. Reni lalu mengikuti langkah kaki Kakaknya sambil terus menutup hidungnya. Arya yang kini juga sudah masuk ke dalam rumah langsung mengendong tubuh Reni dan dibawa melangkah ke kamar Savitri.


Mereka bertiga langsung masuk ke kamar Savitri, saat melihat Mbak Lastri masih menangis sambil menggoyang goyang tubuh Savitri yang hanya terbaring diam saja. Reno dan Reni pun langsung ikut menangis dan memanggil manggil Mamanya.


“Mama.... Mama... bangun Ma... bangun Ma...” teriak Reno dan Reni. Reno menangis lebih keras karena dia takut kalau Mamanya akan pergi juga seperti Papanya.


Arya langsung menggendong tubuh Savitri yang masih terdiam itu.


“Mbak tolong buka mobilnya.” teriak Arya sambil berjalan mengendong tubuh Savitri keluar dari kamar. Mbak Lastri lalu dengan cepat berjalan mendahului Arya menuju ke mobil. Sedangkan Reno sambil menangis dia membuka lemari Mamanya dan dengan cepat dia mengambil beberapa baju Mamanya lalu dengan segera dimasukkan ke dalam tas. Sedangkan Reni sudah mengikuti Arya dan Mbak Lastri. Reno dengan segera berlari sambil membawa baju Mamanya menuju ke mobil.

__ADS_1


“Kakak pinter.” ucap Mbak Lastri yang akan kembali masuk rumah untuk mengambilkan baju Savitri. Reno lalu segera masuk ke dalam mobil. Mbak Lastri langsung mengkunci rumah dan ikut masuk ke dalam mobil yang akan mengantar Savitri ke rumah sakit.


__ADS_2