
Malam harinya Gandi baru pulang ke rumah. Sementara Savitri dan Mbak Lastri sudah tidur karena kecapekan membersihkan rumah yang beberapa hari tidak terawat. Gandi yang tadi waktu pergi tidak membawa kunci rumah. Menekan klakson mobil Savitri yang tadi dibawanya. Dia menekan berkali kali.
DIN... DIN....DIN....
DIN.....DIN....DIN...
Sudah menekan klakson berkali kali tetap saja tidak ada orang yang membukakan pintu. Gandi lalu membuka pintu mobil lalu menutup pintu mobil dengan sangat keras. Dia berjalan menuju ke pintu gerbang. Dilihatnya pintu gerbang belum digembok oleh Mbak Lastri mungkin karena tahu Gandi belum pulang jadi belum digembok. Gandi menggerak gerakkan pengkait pintu gerbang berkali kali dengan keras hingga tterdengar bunyi keras gesekan besi gerbang.
“Budek semua.” ucap Gandi lalu dia membuka pintu gerbang dengan kasar.
Tidak lama kemudian pintu rumah Savitri terbuka. Tampak sosok Mbak Lastri di depan pintu.
“Pak Gandi sudah malam jangan bikin berisik kasihan tetangga. Pintu gerbang kan belum saya tutup. Bisa buka sendiri tidak usah klakson klason dan bikin suara gerbang. Besok saya pasti yang ditegur orang komplek.” ucap Mbak Lastri dengan emosi saat Gandi sudah berjalan di dekat pintu.
“Suka suka aku, kamu itu hanya seorang pembantu jangan cerewet. Kalau mereka protes suruh menghadap aku.” ucap Gandi terus melangkah masuk ke dalam rumah. Mbak Lastri hanya bisa geleng geleng kepala sambil mengelus dada. Lalu Mbak Lastri berjalan menutup pintu gerbang yang masih terbuka lebar karena dibiarkan begitu saja oleh Gandi.
Sedangkan Gandi berjalan menuju ke kamar Savitri. Dibuka pintu kamar Savitri dengan keras namun tidak terlihat sosok Savitri di dalam kamar. Kamar sudah terlihat rapi namun sepi.
“Vit.” teriak Gandi memanggil Savitri. Dia lalu berjalan menuju ke kamar mandi tetapi kosong. Gandi lalu tersenyum menyeringai menduga Savitri sudah tidur di kamar tamu.
__ADS_1
“Ah dia sudah siap tidur di sana, sudah menginginkan lagi.” gumam Gandi sambil tersenyum senang, membayangkan akan bergulat lagi menghangatkan tubuh. Savitri memang membuat syarat mau melakukan hubungan suami istri hanya di kamar tamu, dengan alasan agar tidak mengganggu anak anaknya dan dia masih teringat almarhum suaminya. Gandi dengan cepat melangkah menuju ke kamar tamu. Dan dengan cepat pula dibukanya pintu kamar. Namun kamar tamu yang juga sudah terlihat rapi tampak kosong tidak ada sosok Savitri. Gandi terlihat sangat kecewa.
“Kemana orang itu, apa menyusul anak anaknya. Baru ditinggal begitu saja sudah meninggalkan suami, apalagi kalau aku pergi kerja.” Gandi ngedumel tidak jelas.
“Mbak Lastri!” teriak Gandi memanggil Mbak Lastri yang sedang berjalan menuju ke kamarnya. Mbak Lastri terlihat menoleh sambil memegang dadanya.
“Sabar sabar.....” ucap Mbak Lastri sangat pelan sambil mengurut urut dadanya.
“Apa Pak, jangan keras keras.” jawab Mbak Lastri kemudian.
“Dimana Savitri?” tanya Gandi dengan suara yang masih keras. Mbak Lastri tidak menjawab dengan bersuara hanya jarinya menunjuk ke kamar Reno. Gandi lalu dengan cepat melangkah menuju ke kamar Reno. Dibuka pintu kamar dengan keras. Saat pintu terbuka terlihat Savitri berbaring di tempat tidur anaknya sambil memeluk erat mainan Reno dan Reni.
“Kamu tidur apa pura pura tidur?” tanya Gandi. Savitri hanya diam saja dan tidak merubah posisi tidurnya.
“Vit, aku ada kabar gembira, kamu jangan sedih.” ucap Gandi sambil menaruh pantat di tepi tempat tidur. Dia lalu menarik mainan Reno dan Reni yang masih dipeluk oleh Savitri. Savitri yang sebenarnya tidak tidur hanya diam saja. Dia sangat merindukan anak anaknya. Tadi sudah menelpon kedua anaknya karena rindu, namun setelah selesai menelpon kerinduan kepada kedua anaknya malah semakin menggebu.
“Vit, aku tadi mendatangi teman teman bisnisku yang kemarin aku pernah kenalkan ke kamu. Aku tadi ditawari bekerja sama dengan dia, Vit.” ucap Gandi selanjutnya. Savitri kini terlihat membuka matanya dan memasang kupingnya ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari Gandi. Bagaimanapun dia merasa senang jika Gandi sudah mau memulai berusaha untuk mendapatkan uang.
“Dia kan punya ikan indukan, dan sudah banyak ikan indukannya, dia minta aku yang merawat ikannya terus anak anak ikannya bisa dijual. Dia juga sudah punya banyak konsumen. Kita hanya tinggal nunggu ikan bertelur dan anak anaknya kita jual. Harganya mahal mahal Vit.” ucap Gandi dengan semangat berapi api.
__ADS_1
“Benarkah?” tanya Savitri dengan penuh pengharapan. Dia sangat ingin mendapatkan pemasukan karena selama ini saldo tabungannya terus mengikis dan gelisah melihat suaminya tidak jelas pekerjaannya tetapi jika dibilang pengangguran marah marah.
“Iya Vit, satu ekor bisa ratusan ribu padahal kalau sudah bertelur dan beranak. Anaknya jumlahnya tidak terhitung. Daripada uangmu dideposito bunganya hanya kecil. Kita buat untuk modal budidaya ikan saja bisa berkembang biak banyak... kita hanya duduk duduk nunggu ikan ikan, mereka yang akan mendatangkan uang.” ucap Gandi bersemangat dan meremehkan deposito Savitri. Savitri menatap Gandi ingin penjelasan lebih lanjut. Dia yang selama ini hanya sebagai ibu rumah tangga benar benar tidak paham tentang bisnis apalagi bisnis ikan hias.
“Sudah besok kamu aku ajak ke temenku itu.”ucap Gandi sambil tersenyum lebar.
“Tapi Bang, aku sudah janji sama anak anak, aku besok mau menengok mereka.” jawab Savitri.
“Ha.... Ha.... Baru saja ditinggal sudah mau ditengok. Kamu menengok mereka bisa kapan saja. Tetapi kesempatan ini tidak bisa terulang lagi. Kalau temanku beralih pikiran, melayang Vit uang yang sudah di depan mata.” ucap Gandi meyakinkan Savitri. Terlihat Savitri berpikir pikir sejenak, yang diomongkan Gandi ada benarnya juga, menengok anaknya bisa kapan saja, tetapi kesempatan kerja sama di dunia bisnis kalau tidak segera diambil bisa hilang.
“Baiklah,nanti aku kabari anak anak kalau aku ada keperluan mendadak.” ucap Savitri kemudian. Gandi terlihat senang dan tersenyum dengan lebar. Gandi lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Savitri, lalu memeluk tubuh Savitri dan tangannya sudah menjalar kemana kemana.
“Bang.... jangan di sini.” ucap Savitri sambil menepis tangan Gandi. Terdengar Gandi lalu mendengus dengan kesal, kemudian dia bangkit berdiri lalu meninggalkan Savitri. Gandi kali ini tidak memaksa dalam urusan ranjang sebab dia punya kemauan lain yaitu ingin Savitri mendukung bisnis barunya budidaya ikan hias.
“Kamu tidur saja, besok pagi pagi kita berangkat sebelum temanku berubah pikiran.” ucap Gandi saat di depan pintu kamar Reno lalu dia menutup pintu dengan rapat. Setelah pintu ditutup oleh Gandi, Savitri tidak tidur tetapi dia mengambil hapenya. Lalu dia membuka aplikasi chatting dan selanjutnya mengirim pesan teks kepada Arya. Dia menyampaikan pesan agar besok memberitahu pada Reno dan Reni kalau dia belum jadi menengok mereka besok sebab ada keperluan mendadak. Setelah chat terkirim dan terbaca oleh Arya tidak lama kemudian ada pesan teks masuk dari Arya.
“Apa Kak Vitri baik baik saja?”
Savitri membaca pesan teks Arya lalu membalasnya dan menyampaikan kalau dia baik baik saja. Lalu Savitri mengakhiri chattingannya dengan Arya, kuatir kalau tiba tiba Gandi datang dan marah marah lagi. Savitri yang belum bisa tidur lalu membuka buka aplikasi di haoe untuk mencari cari informasi yang dibilang Gandi tadi. Informasi tentang budidaya ikan hias.
__ADS_1