
Aku juga tidak tahu sejak kapan, tetapi ini kenyataan dan bukan gombal.” ucap Arya dengan nada serius setelah pintu lift tertutup.
Arya menatap wajah Savitri dengan jarak yang sangat dekat, mereka hanya berdua di dalam lift itu. Savitri yang biasanya di rumah tanpa make up dengan sedikit polesan make up saja semakin terlihat cantik dan menarik, apa lagi di mata Arya yang sedang jatuh hati.
“Ya agak jauh.” ucap Savitri sambil mendorong pelan tubuh Arya. Savitri yang belum terbiasa memanggil Pak Arya jika berkata spontan masih terbiasa hanya menyebut nama Arya saja.
“Hmmm kalau hanya memanggil dengan menyebut namaku saja mulai sekarang kena denda.” gumam Arya sambil tersenyum.
“Belum juga dapat gaji sudah akan kena denda.” ucap Savitri sambil sedikit cemberut. Namun hal itu justru membuat Arya menjadi gemas. Sebab selama ini Savitri tidak pernah menunjukkan sikap manja kepada Arya dan sisi jiwa laki laki Arya ingin menjadi tempat sandaran bermanja manja kekasih hatinya. Saat dulu menjadi pacarnya Helena, Helena yang terkenal seorang bintang kampus dan seorang perempuan yang mandiri, Arya lah yang menjadi sandaran tempat bermanja manja Helena.
Dan tanpa disadari Arya memegang erat telapak tangan Savitri. Akan tetapi tiba tiba terdengar suara alarm bunyi tanda lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Pintu lift segera terbuka Arya masih memegang erat telapak tangan Savitri.
“Pak Arya, aku bisa jalan sendiri.” ucap Savitri sambil menarik telapak tangannya yang masih digenggam oleh tangan kekar Arya. Namun Arya masih saja terus menggenggamnya.
“Biar tidak jatuh he...he..” ucap Arya sambil tertawa kecil. Dan mereka berdua melangkah keluar dari pintu lift.
“Malu dilihat orang, dikira aku janda macam apa.” ucap Savitri sambil menyikut pelan pinggang Arya. Lalu Arya melepas genggaman tangannya dan selanjutnya mereka melangkah menuju ke ruangan kerja Arya.
Setelah sampai di depan pintu ruang kerjanya Arya segera membukakan pintu dan selanjutnya dia mempersilahkan Savitri untuk masuk lebih dulu.
__ADS_1
“Lady first “ ucap Arya sambil ibu jarinya memberi kode agar Savitri masuk. Terlihat Savitri tersenyum lalu segera masuk ke dalam ruang kerja Arya dan selanjutnya Arya melangkah masuk dan menutup pintu rapat rapat.
Saat masuk ke dalam ruangan, Arya melihat Dimas sudah duduk di kursi kerja Dimas, Dimas lalu menoleh ke arah mereka berdua dan segera memberi salam.
“Mas, kamu sekarang ke rumah ambil berkas berkas yang kemarin kamu bawa. Dan setelah itu belikan buah tangan aku dan Bu Vitri akan mengunjungi korban kecelakaan.” perintah Arya pada Dimas, dia memang sengaja tidak membawa berkasnya agar Dimas keluar dan dia bisa berdua dengan Savitri tanpa ada yang melihatnya.
“Pak Arya aku kira sudah ada di dalam tas Pak Arya berkas berkas itu.” ucap Savitri yang masih berdiri di dalam ruang kerja itu.
“Maaf aku tidak mengingatkan tadi.” ucap Savitri kemudian.
“Tidak, biar dia yang ambil.” ucap Arya lalu dia duduk di kursi kerjanya.
“Dan nanti sediakan meja dan kursi kerja buat Bu Vitri. Kamu atur lay out ruangan nya agar aku mudah untuk berkomunikasi dengan Bu Vitri.” perintah Arya sekali lagi. Terlihat Dimas menganggukkan kepalanya lalu dia segera keluar dari ruang kerjanya untuk menjalankan perintah Arya.
Waktu terus berlalu dan akhirnya siang hari menjelang jam makan siang Dimas kembali datang. Dia datang membawa satu bendel bekas dan juga buah tangan yang akan dibawa oleh Arya dan Savitri untuk mengunjungi korban kecelakaan.
“Pak untuk meja kerja Bu Vitri besok baru mau di bawa ke sini.” ucap Dimas saat berdiri di depan meja Arya. Arya menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih kepada Dimas.
Arya dan Savitri lalu pamit kepada Dimas, mereka berdua akan menjenguk korban kecelakaan dan lalu pulang. Mereka berdua akan kerja penuh waktu mulai besok pagi. Arya dan Savitri segera keluar ruangan dan berjalan menuju ke lift dan selanjutnya menuju ke mobilnya yang terparkir.
__ADS_1
“Bu Vitri kita cari makan dulu ya.” ucap Arya setelah mobil sudah keluar dari halaman gedung perusahaan. Savitri hanya menganggukkan kepalanya dia sedikit nervous karena akan bertemu dengan Helena, yang menurut beritanya sebagai bintang kampus, sedangkan dirinya hanya lulusan SMA. Meskipun dia sempat bertemu dengan Helena akan tetapi hanya sekilas dan tidak ada komunikasi.
Setelah selesai makan siang Arya dan Savitri segera masuk ke dalam mobil, dan mobil terus melaju menuju ke rumah sakit. Arya sekilas menatap wajah Savitri dari samping. Dia melihat wajah Savitri yang tampak tegang dan bahasa tubuhnya yang tidak nyaman. Arya lalu tangan kirinya melepas dari pegangan kemudi nya saat dirasa lalu lintas aman. Arya lalu memegang tangan Savitri, terasa dingin tangan Savitri.
“Tidak usah kuatir, bukannya ini atas kemauan Bu Vitri.” ucap Arya lalu dia segera melepaskan tangan Savitri dan kembali memegang kendali kemudi mobilnya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit Arya segera menjalankan mobil menuju ke tempat parkir. Mereka berdua segera keluar dari mobil, Arya terus menggandeng tangan Savitri kali ini Savitri tidak menolak, dia merasakan nyaman dan aman di dalam genggaman tangan kekar Arya. Arya sambil menggandeng tangan Savitri menoleh ke arah Savitri sambil tersenyum senang. Arya mengunjungi Helena dengan tanpa beban dia sudah melupakan masa lalunya dengan Helena dan akan meraih masa depan nya bersama Savitri. Dia senang sebab sepertinya Savitri sudah mau membuka hatinya untuk dirinya. Dan selanjutnya Arya juga menginginkan Savitri pun mencintainya seperti saat dulu Savitri mencintai Ardi kakaknya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di depan ruang rawat Keynan. Arya tidak perlu menanyakan pada bagian informasi rumah sakit sebab Arya sudah menanyakan pada Pak Slamet.
“Lepas, aku mau mengetuk pintunya.” ucap Savitri lirih sebab tangannya masih digandeng oleh Arya sedang tangan satunya membawa kantong yang berisi buah tangan. Arya sambil tertawa kecil lalu melepas gandengan tangannya.
“Biar aku yang mengetuk pintunya, sayang jari jari lembut Bu Vitri kalau untuk mengetuk ngetuk pintu, buat mengetuk ngetuk dadaku saja.. ada pintu hati di sana.” ucap Arya sambil tersenyum
“Gombal.” ucap Savitri sambil mencubit kecil lengan Arya.
“Aduh sakit.” teriak Arya lirih sebab kalau keras takut ada yang dengar.
“Lagi dong. “ ucap Arya selanjutnya sambil tersenyum menoleh ke arah Savitri.
__ADS_1
“Cepat ketuk pintunya.” ucap Savitri dengan tidak sabar dan sudah mulai gemas dengan Arya.