
Arya terus berusaha menghubungi Gandi lewat sambungan telepon. Sementara di lain tempat Gandi sedang sibuk dengan teman temannya sedang nongkrong nongkrong ngobrol dan minum minum.
“Siapa sih berisik amat, nomor asing.” gumam Gandi saat melihat sederet nomor di layar hapenya.
“Angkat Gan, siapa tahu orang mau beli ikan. Lumayan kan uangnya bisa buat kita senang senang. Istri mudamu memang hebat, sudah dasarnya kaya rajin kerja cantik ....” ucap salah satu teman Gandi.
“Kamu itu memuji istri orang awas kalau kamu memginginkan dia tidak akan aku biarkan kamu hidup.” ucap Gandi, lalu dia menggeser tombol hijau di layar hapenya. Berharap yang menelpon adalah pembeli ikan. Selama Savitri menyuruh pembeli datang ke rumah dan saat itu juga memang Gandi sering menjualkan ikan tetapi uang hasil penjualan ikan tidak diberikan kepada Savitri, tetapi dia gunakan untuk kebutuhan dia bersenang senang sendiri atau diminta Anna istri pertamanya.
“Hallo.” ucap Gandi setelah menggeser tombol hijau di layar hapenya.
“Kamu dimana, istrimu Kak Vitri sakit sekarang di rumah sakit masih di ruang gawat darurat belum sadar. Dan Kak Vitri sedang hamil anakmu.” ucap Arya di balik sambungan telepon. Arya menekankan kalau Savitri hamil anak Gandi agar muncul rasa tanggung jawab. Namun Gandi yang mendengar berita dari Arya hanya menampilkan ekspresi wajah datar datar saja. Lalu dia tersenyum licik.
“Kamu urus dulu, katakan dia di rumah sakit mana nanti aku akan ke sana. Sekarang aku sedang ada urusan penting.” ucap Gandi kemudian dan setelah Arya menyebutkan rumah sakit dan kamar dimana Savitri berada Arya memutus sambungan telponnya.
Sementara Gandi menaruh hapenya di atas meja warung tempat dia nongkrong bersama teman temannya.
“Siapa yang sakit Gan?” tanya salah satu teman nongkrongnya.
__ADS_1
“Savitri, dia bunting anakku.” ucap Gandi sambil tersenyum licik.
“Kalau ada anakku di perut dia, semakin ada alasanku untuk tidak menceraikan dia. Hmmm dan aku akan buat nanti semua warisan Savitri jatuh ke anakku ha.... ha....” ucap Gandi lagi sambil tertawa terbahak bahak karena efek minuman beralkohol sudah menjalar ke saraf sarafnya.
Sementara itu di rumah sakit. Arya dan Mbak Lastri masih berada di ruang tunggu pasien. Mbak Lastri yang mendengar pembicaraan Arya dengan Gandi di telepon, jadi mengetahui kalau Savitri sedang hamil.
“Jadi Bu Vitri hamil Om? Saya sudah curiga, tetapi Bu Vitri sepertinya mengabaikan. Saya tidak tahu ini berita bahagia atau berita sedih. Dulu waktu mendengar kabar Bu Vitri saat hamilnya Reno dan Reni saya sangat senang sekali. Kenapa yang sekarang rasanya beda.” Ucap Mbak Lastri sambil menghapus air matanya yang meleleh di pipi.
“Kondisi Kak Vitri dan janinnya sangat lemah. Mungkin karena kondisi Kak Vitri yang fisik dan psikisnya lemah jadi mempengaruhi janinnya. Kita berdoa saja semoga Kak Vitri dan janinnya sehat sehat Mbak.” ucap Arya.
“Aku juga belum bilang pada Mam dan orang tua Kak Vitri kalau Kak Vitri sedang hamil.” ucap Arya lagi.
Sementara itu, Gandi setelah mendengar kabar Savitri masuk rumah sakit tidak segera bergerak untuk pergi ke rumah sakit namun masih meneruskan kegiatannya nongkrong dan minum minum. Dia pikir di rumah sakit sudah ditangani oleh Dokter dan sudah ada Mbak Lastri dan Arya. Setelah capek nongkrong dia bangkit berdiri hendak pulang ke rumah Savitri akan pergi tidur. Gandi segera melajukan motornya dan tidak lama kemudian dia sampai di depan rumah Savitri. Saat melihat pintu pagar di gembok. Dia akan melompat pagar, namun saat dia ingat juga tidak membawa kunci rumah. Dia lalu segera berjalan menuju ke pos satpam.
“Pak .. Pak dititipi kunci tidak?” tanya Gandi pada Pak Satpam.
“Tidak. Informasi di group Ibu Vitri masuk rumah sakit. Apa Pak Gandi belum ke sana?” jawab Pak Satpam dan balik bertanya kepada Gandi. Gandi tidak menjawab dan segera berlalu pergi. Dia mengambil motornya dan selanjutnya menuju ke rumah sakit tujuannya untuk mengambil kunci rumah.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Gandi sudah sampai di depan rumah sakit. Dia segera memasuki halaman rumah sakit. Setelah memarkir motornya dia segera berjalan menuju ke ruangan yang sudah disebutkan oleh Arya.
Saat sampai di depan ruangan Savitri, tampak Mbak Lastri sedang duduk di kursi tunggu pasien. Dia sedang sibuk dengan hapenya, chattingan dengan Anisa. Anisa memberi kabar kalau nanti sore orang orang komplek akan datang menengok Savitri meskipun Savitri belum sadar.
“Hei, mana kunci!” tanya Gandi saat di depan Mbak Lastri yang membuat Mbak Lastri kaget.
“Dikunci oleh perawat dari dalam Pak. Om Arya tadi dipanggil perawat masuk. Bu Vitri tadi siuman sebentar memanggil manggil Reno dan Reni.” jawab Mbak Lastri yang mengira Gandi minta kunci kamar pasien.
“Kunci rumah yang kamu bawa, dodol..” bentak Gandi.
“Dodol dodol, yang dodol itu Pak Gandi dodol super alot.” ucap Mbak Lastri dengan nada kesal sambil melotot ke arah Gandi.
“Sudah tidak usah cerewet mana kunci aku mau tidur ngantuk. Bukannya Savitri sudah ada yang ngurus.” ucap Gandi sambil menengadahkan tangannya meminta kunci pada Mbak Lastri. Mbak Lastri pun segera memberikan kunci rumah kepada Gandi. Sebenarnya Mbak Lastri juga lebih senang jika tidak ada Gandi. Tetapi dia juga berpikir seharusnya Gandi sang suami yang ada di sini.
Gandi segera menerima kunci dari Mbak Lastri. Lalu dia berjalan pelan pelan menuju ke pintu ruangan tempat Savitri di rawat. Dia mengintip Savitri dari kaca yang ada di pintu tersebut. Dilihatnya Arya dan perawat sedang berdiri di dekat Savitri, tampak terlihat di mata Gandi , Arya sedang memegang telapak tangan Savitri yang terlihat lemah. Ada gemuruh di dada Gandi karena rasa cemburu. Akan tetapi dia pendam, dia pikir toh di dalam perut Savitri sudah ada benihnya tumbuh di sana.
“Hmmm lebih baik aku segera pulang dari pada harus capek capek di rumah sakit, belum lagi nanti kalau harus disuruh tanda tangan yang harus membayar biaya.” gumam Gandi dalam hati sambil tersenyum licik dia lalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sementara di dalam ruangan pasien. Setelah siuman sebentar dan memanggil nama kedua anaknya. Savitri terdiam lagi. Namun jari jari tangannya sudah bisa merespon. Arya terus memegang telapak tangan Savitri untuk memberi semangat sembuh.
“Tadi Reno dan Reni juga mengantar Kak Vitri ke sini. Sekarang mereka istirahat di rumah, nanti kalau Kak Vitri sudah sadar mereka akan ke sini lagi.” bisik Arya lirih di dekat telinga Savitri dan kini ada air bening meleleh dari ujung mata Savitri yang masih terpejam.