
Arya masih terus menoleh menatap Savitri dan masih tersenyum lalu mengetuk pintu itu dengan pelan pelan.
Sementara itu di dalam ruang rawat Keynan, terlihat Keynan matanya mulai terpejam, dia sudah mulai mengantuk karena sehabis makan dan minum obat. Sedangkan Helena sedang asyik makan. Pak Slamet tadi sudah memberi uang dan mengirim makanan buat Helena namun tidak lagi makanan beli di warung makan atau di restoran siap saji tetapi makanan dari dapur mess tempat Pak Slamet tinggal.
“Hmmm lumayan dapat makan gratis , uang jadi utuh.. he... he.. Dia itu orang baik hati atau orang bodoh.. kadang mirip mirip he... he...” gumam Helena sambil terus menikmati makanan kiriman dari Pak Slamet meskipun makanan hasil olahan dapur mess tetapi tidak kalah enaknya dari warung makan atau restoran. Apalagi gratis. Sedangkan Pak Slamet memberikan itu, karena dia teringat istri dan anak anaknya yang di kampung. Berempati jika kejadian itu menimpa pada anak istrinya, semoga juga ada orang yang membantu sebab dia kerja di kota tidak bisa mendampingi jika sewaktu waktu ada masalah mendadak yang menimpa pada keluarga nya.
Saat mendengar suara ketukan Helena masih mengabaikan sebab dia mengira perawat yang akan mengecek keadaan Keynan. Biasanya perawat mengetuk ngetuk pintu dan akhirnya membuka pintu sendiri sebab pintu tidak dikunci oleh Helena. Akan tetapi pintu terdengar ada yang mengetuk ngetuk lagi.
TOK TOK. TOK. TOK . TOK
“Siapa sih mengganggu orang makan saja.” ucap Helena sambil menoleh ke arah pintu.
“Apa Pak Slamet akan memberikan minuman.” ucap Helena sambil berdiri dan menaruh makannya di meja kecil di dekat tempat tidur Keynan , Keynan yang belum begitu nyenyak tidurnya membukakan matanya sebentar lalu terpejam lagi.
Helena lalu berjalan menuju ke pintu dan dibukanya dengan cepat pintu itu sambil menunjukkan ekspresi wajah ketusnya , sebab dia mengira Pak Slamet yang datang.
Saat pintu sudah terbuka betapa kagetnya dia karena yang berada di depannya adalah Arya dan lebih kaget lagi juga ada seorang perempuan cantik di samping Arya, seorang perempuan yang pernah ditemuinya di ruang HRD perusahaan Arya.
“Kamu kenapa bisa bersama Arya?” tanya Helena dengan nada ketus sambil menatap tajam ke arah Savitri dengan tatapan yang tidak suka.
“Bagaimana kabar anakmu?” tanya Arya sambil matanya melihat ke arah dalam kamar untuk melihat pasien. Dia sungguh enggan melihat wajah Helena.
__ADS_1
“Ini Savitri dia pemilik perusahaan tempat aku bekerja sekaligus kekasih hatiku.” ucap Arya selanjutnya sambil tersenyum menoleh ke arah Savitri.
Savitri tampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan seterusnya menyerahkan buah tangan yang dibawanya kepada Helena. Wajah Helena terlihat kaget semua ekspresi campur aduk di wajahnya, antara tidak suka, cemburu, kaget namun juga senang karena dapat makanan lagi. Helena segera menetralkan ekspresi wajahnya.
“Owh.. mari silahkan masuk.” ucap Helena sambil menerima satu kotak besar makanan yang dibawa oleh Savitri. Lalu mereka bertiga masuk ke dalam dan melangkah menuju ke tempat pembaringan Keynan.
“Siapa namanya?” tanya Savitri basa basi sambil membelai kepala Keynan lalu mata Savitri menoleh ke arah data pasien yang berada di atas tempat tidur Keynan.
“Keynan.” jawab Helena dengan nada datar. Dia tidak suka melihat Arya yang berdiri di samping Savitri dengan tangan yang sering nempel di tubuh Savitri. Sementara itu Keynan yang mendengar namanya disebut dan mendengar suara lembut seorang perempuan membukakan matanya.
“Daddy Tampan.” ucap Keynan dengan mata melebar saat melihat Arya di depannya. Arya menatap Keynan dengan senyum datar sebab dia kuatir Savitri tidak suka Keynan menyebutnya dengan sebutan Daddy. Keynan berusaha untuk bangkit dari tidurnya namun kesulitan. Tangan Savitri lalu cepat cepat memegang tubuh Keynan. Menahannya agar tidak memaksakan diri untuk bangun. Sedangkan Helena masih saja menatap wajah Arya.
“Keynan tiduran saja, biar tempat tidurnya saja yang diatur.” ucap Savitri dengan suara lembut.
“Dia tidak ikut Tante, aku mau berteman dengan dirinya.” ucap Keynan lagi.
“Tidak sayang lain kali ya, dia sedang sekolah.” jawab Savitri sambil tersenyum
“Pak, tolong atur tempat tidurnya biar dia enak.” ucap Savitri sambil menoleh ke arah Arya. Arya lalu dengan segera mengatur tempat tidur Keynan. Helena pun lalu berjalan untuk mengambilkan kursi untuk Arya.
“Silahkan duduk Ya.” ucap Helena dengan nada ramah dan tersenyum manis sambil menaruh kursi tepat di belakang Arya.
__ADS_1
“Maaf kursi nya hanya satu.” ucap Helena kemudian sambil melirik ke arah Savitri.
“Duduk Bu.” ucap Arya sambil menarik kursi di arahkan ke samping agar tepat di belakang Savitri. Tidak cukup sampai di situ Arya pun memegang pundak Savitri dengan lembut dan mendorong lembut agar Savitri duduk di kursi.
Arya berdiri di belakang Savitri dengan tangan masih terus menempel di pundak Savitri sambil mendengarkan Savitri dan Keynan berbicara. Keynan bercerita kalau dia sering bolos sekolah. Savitri yang memiliki anak seumuran dengan Keynan dan juga memiliki anak laki laki terlihat cepat akrab dengan Keynan Savitri pun tidak mempedulikan Keynan yang memanggil nama Arya dengan sebutan Daddy sebab dia juga bisa merasakan kerinduan Keynan pada sosok seorang ayah.
Savitri dengan sabar mendengarkan cerita Keynan, cerita tentang anak anak seperti halnya Reno dan Reni bercerita cerita tentang teman temannya ceritanya keinginan jalan jalan cerita keinginan memiliki mainan. Cuma bedanya keinginan Reni dan Reni sudah terpenuhi sedangkan keinginan Keynan masih dalam wujud keinginan. Dan juga beda cerita tentang teman teman kalau Reno dan Reni cerita tentang kebaikan teman temannya. Sedang Keynan banyak teman yang tidak suka pada dirinya bukan karena dia nakal tetapi karena dia miskin dan sering bolos. Sambil mendengarkan cerita Keynan mata Savitri tidak terasa berkaca kaca.
“Tante jangan sedih, aku tidak apa apa, kata Mami aku anak yang kuat.” ucap Keynan dan tangan Savitri mengusap usap kepala Keynan.
“Tante aku ngantuk.. besok datang lagi ya.. sama anak Tante sepertinya dia tidak membenci aku.” ucap Keynan kemudian dan terlihat matanya sudah terlihat sayu.
“Iya sayang...” ucap Savitri sambil.terus mengusap usap kepala Keynan dan lama lama Keynan tertidur.
“Sekarang Keynan sudah tidur.” ucap Savitri sambil menoleh ke arah Helena.
“Mari kita keluar saja, ada hal penting yang ingin kami sampaikan.” ucap Savitri, lalu mereka bertiga berjalan keluar agar tidak mengganggu Keynan yang sudah tidur.
“Bu Helena kami datang ke sini selain untuk melihat kondisi Keynan. Kami juga bermaksud akan membicarakan akan hal yang dilaporkan kepada kami atas ancaman Ibu Helena yang akan melaporkan Pak Slamet akan kasus ini jika tidak menuruti kemauan Ibu Helena.” ucap Savitri kemudian karena Arya memang enggan berbicara, nanti saja akan berbicara jika Savitri membutuhkan bantuan.
“Hm tidak hanya Pak Slamet yang akan aku laporkan tetapi juga perusahaan karena tidak memberi keamanan buat tamu.” saut Helena
__ADS_1
“Hel, kamu keterlaluan!” suara Arya dengan nada tinggi.