Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 89. Sesi 2. Ketemu Gandi


__ADS_3

Sementara itu di ruang kerja Arya. Savitri yang mulai bisa mengikuti ritme kerja di perusahaan masih serius menatap layar komputer di meja kerjanya. Dia sudah mulai bisa membalas email email dan mengarsipkan surat surat dan dokumen dokumen penting. Di saat sudah selesai membalas email email pun dia menyempatkan waktu untuk mempelajari data data tentang perusahaan.


Namun tiba tiba dia terkaget karena ada telapak tangan kokoh menempel di pundaknya.


“Honey sayang...” ucap Arya selanjutnya dengan telapak tangannya masih menempel di pundak Savitri. Savitri kini tidak hanya kaget namun matanya juga melotot karena kaget ke dua kali. Lalu pandangan matanya tertuju ke arah Dimas, karena dia kuatir Dimas akan melihat dan juga mendengar suara Arya.


Dan benar, terlihat kepala Dimas di seberang sana meskipun sosok Dimas terhalang oleh komputer Dimas, akan tetapi bisa dilihat kalau kepala Dimas sedang memandang ke arah mereka berdua. Dimas memang juga kaget saat mendengar Arya memanggil Savitri dengan sebutan Honey sayang.


“Ayo kita istirahat makan, apa Honey tega kalau aku sakit lagi, aku tidak tega jika Honey yang membawa mobil ke rumah.” ucap Arya selanjutnya , Savitri yang malu pada Dimas lalu menyikut perut six pack Arya. Dan Arya hanya tertawa. Arya lalu tangannya meraih mouse yang masih dipegang oleh Savitri. Lalu jari jari Arya mengklik klik dan akhirnya layar komputer di meja Savitri sudah mati.


“Sekretaris Dimas , aku dan Bu Vitri akan istirahat makan siang di luar .” ucap Arya sambil kembali ke tempat meja kerjanya untuk mengambil kunci mobil dan hapenya.


“Baik Pak.” ucap Dimas dan terus menyelesaikan pekerjaan nya yang tinggal sedikit lagi dan setelah selesai dia pun juga akan beristirahat untuk makan.


Arya dan Savitri pun segera ke luar dari ruang kerjanya. Arya menggandeng tangan Savitri sampai berada di depan lift.


“Ya, malu dilihat karyawan.” Ucap Savitri sambil menepis pelan tangan Arya.


“Tidak apa apa Honey, aku malah senang sebab selama ini ada kasak kusuk di bawah kalau aku menyimpang dan Dimas adalah kekasihku , sialan benar.” ucap Arya setelah mengucapkan kalimat terakhir ekspresi wajahnya terlihat sangat kesal.

__ADS_1


“Dan lebih sial lagi Dimas malah senang dengan gosip itu. Sebab dia memang belum boleh pacaran dan menikah oleh orang tuanya sebab ada kakak perempuannya yang belum menikah. Dan banyak karyawan perempuan yang mendekati dirinya. Dengan berita kasak kusuk malah membuat dia aman.” ucap Arya selanjutnya. Dan Savitri terlihat tersenyum.


“Malah tersenyum.” ucap Arya lalu merangkul pundak Savitri dan mereka berdua masuk ke dalam lift.


“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Oma jika kasak kusuk itu sampai terdengar di telinganya.” ucap Savitri kemudian saat mereka sudah berada di dalam lift.


“Entahlah mungkin, burungku akan di test oleh Oma dengan menghadirkan banyak gadis sexy.” ucap Arya sambil tersenyum dan menatap wajah Savitri.


“Tapi Honey yakinlah aku normal, kini aku membayangkan pundak Honey saja aku sudah horny .” ucap Arya sambil meraih tangan Savitri dan menggodanya mendekatkan tangan Savitri ke bagian bawah tubuhnya.


“Arya kamu jangan nakal.” teriak Savitri menarik tangannya. Tingkah Arya itu membuat pipi Savitri merona merah sedang kan Arya justru senang dan langsung tertawa kecil.


Tidak lama kemudian pintu lift terbuka dan mereka terus berjalan menuju ke mobil dan seterusnya mobil melaju menuju ke rumah makan yang tidak jauh jaraknya.


“Tidak ada yang lebih baik bagiku.” jawab Arya sambil menaruh sendok dan garpu di atas piring yang sudah kosong karena makanan sudah masuk ke dalam perut Arya. Lalu dia meneguk air minum nya.


“Aku tadi sudah menghubungi pengacara perusahaan. Katanya jika Helena meminta bantuan organisasi masyarakat kita akan bisa kena pelak terus. Jadi bonyok habis biaya sana sini.” ucap Arya setelah menghabiskan minumnya.


“Berarti mau tak mau kita harus menerima dia.” gumam Savitri.

__ADS_1


“Iya, maka kita harus segera menikah agar dia tidak mengganggu aku. “ ucap Arya selanjutnya.


Setelah mereka berdua selesai makan siang, mereka langsung kembali menuju ke tempat kerjanya. Saat memasuki ruang kerja terlihat Dimas sudah mulai sibuk di depan komputernya. Terlihat wajah Dimas hanya berekspresi datar sejak tadi.


“Dimas, kamu jangan terlihat sedih begitu. Nanti orang orang mengira kamu itu sedang patah hati.” ucap Arya sambil menatap wajah Dimas.


“Iya Pak, harusnya saya bahagia karena berita kasak kusuk itu terpatahkan. Tetapi mereka pasti akan mendekati saya lagi. Kalau saya tidak mau pasti yang dikira sumber penyimpangan adalah saya. Kalau saya mau nanti jadi masalah keluarga.” ucap Dimas dengan tatapan mata masih terus pada layar komputer nya.


“Dekat dengan cewek kan belum tentu pacaran Om Dimas. Tidak apa apa mendekati mereka, sekalian untuk menyeleksi mana yang terbaik.” ucap Savitri ikut memberi masukan. Terlihat Dimas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Mereka bertiga lalu terus menyelesaikan pekerjaan nya hingga sore hari. Dan setelah jam kantor selesai, Arya dan Savitei meninggalkan ruang kerja lebih dahulu sebab Arya berencana akan mengajak Savitri ke toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan mereka.


Arya dan Savitri sudah masuk ke dalam mobil, dan mobil segera berjalan meninggalkan halaman perusahaan tempat mereka bekerja. Mobil terus melaju terlihat wajah Arya terus tersenyum dan sesekali menoleh ke wajah Savitri.


“Honey kita beli cincin emas putih ya... aku tidak begitu suka memakai perhiasan apalagi warna gold.” ucap Arya nada serius sambil sekilas menoleh ke arah Savitri.


“Terserah kamu Ya.” ucap Savitri yang karena sudah dua kali menikah sudah tidak begitu memikirkan masalah model.dan bahan cincin . Arya hanya tersenyum saja. Dan terus melajukan mobilnya.


Tidak lama kemudian mobil sudah memasuki jalan raya kawasan toko toko perhiasan. Arya mulai menepikan mobilnya mencari toko yang paling terkenal. Arya mulai memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Akan tetapi mereka berdua mendadak terhenyak kaget saat melihat sosok berada di depan mobilnya dengan jarak beberapa meter. Ada sosok laki laki yang mirip Gandi, akan tetapi memakai baju tukang parkir dan berjalan terpincang pincang dan salah satu tangannya terlihat lunglai.


“Kok seperti Gandi.” gumam Arya dan pandangan matanya fokus mengamati sosok tukang parkir di depan nya itu. Wajah Savitri pun mendadak memucat dan tanpa sadar dia memegang tangan Arya dengan sangat erat. Arya yang merasakan telapak dingin tangan Savitri lalu dia memegang erat telapak dingin tangan Savitri itu untuk memberi ketenangan.


__ADS_2