Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 28. PHK


__ADS_3

Orang tua Savitri tidak goyah hatinya meskipun dibujuk rayu oleh Gandi agar mau membeli mobil Savitri. Mobil akhirnya tetap harus dijual untuk menutup kekurangan dan menghemat pengeluaran. Savitri akhirnya mengabari Arya kalau dia berniat untuk menjual mobil. Arya merasa sayang jika mobil kenang kenangan dari almarhum Ardi dijual akhirnya Arya yang membeli mobil tersebut.


“Kak Vitri harus gunakan uang sebaik baiknya. Sudah aku transfer lunas.”ucap Arya saat datang ke rumah Savitri untuk mengambil mobil Savitri. Dia tidak mengajak Reno dan Reni karena Reno masih takut jika ketemu Gandi.


“Iya Ya, akan aku pakai buat tambah modal usaha.” jawab Savitri.


“Dimana Gandi kok tidak terlihat apa masih tidur?” tanya Arya yang sudah dikasih tahu Mbak Lastri dan kedua keponakannya kalau Gandi tukang tidur. Savitri hanya menganggukkan kepalanya. Arya lalu pamit karena dia akan segera kerja ke kantor.


“Ya, aku nitip makanan kesukaan Reno dan Reni ya.” ucap Savitri lalu dia masuk ke dalam ruang makan untuk mengambil makanan yang sudah dia buat untuk Reno dan Reni. Arya lalu menerima kotak makanan dan satu paper bag besar berisi makanan dan cemilan kesukaan Reno dan Reni. Barang titipan dari Savitri itu lalu diserahkan Arya pada Pak Harun sopir pribadi Opa yang akan membawa mobil Savitri ke rumah Opa dan Oma. Sedangkan Arya ke kantor memakai mobilnya.


Savitri mengantar mereka sampai ke pintu gerbang. Air mata Savitri meleleh bukan karena kehilangan mobilnya tetapi karena kerinduan pada kedua anaknya membuncah di dada.


“Hai... sudah, masuk kamu!” teriak Gandi yang berdiri di depan pintu rumah. Savitri menoleh sejenak lalu menghapus air matanya yang meleleh di pipi. Savitri lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Seperti biasanya Gandi sudah duduk di sofa ruang keluarga sambil mengaktifkan teve dengan volume tinggi. Savitri berjalan melewati Gandi bermaksud akan membuatkan kopi sebelum Gandi berteriak teriak. Namun...


“Hai... sini!” teriak Gandi sambil menarik tangan Savitri dan merebahkan tubuh Savitri agar duduk di sofa dekatnya. Savitri yang tubuhnya semakin melemah tidak berdaya dan terduduk di samping Gandi.


“Kamu transfer ke rekeningku sekarang. Mana hapemu!” teriak Gandi sambil berusaha mencari hape Savitri yang ditaruh di kantong celana kulot Savitri.

__ADS_1


“Bang, jangan.... uangnya buat mencukupi kebutuhan kita sebelum usaha ikan menghasilkan. Dan untuk tambah modal. Aku dan Mbak Lastri mau mencoba usaha kue kering.” ucap Savitri sambil berusaha mempertahankan hapenya. Gandi tidak mau kalah dia menarik tangan Savitri dan Gandi berhasil mengambil hape Savitri. Lalu dia memencet mencet namun tidak bisa karena ada pelindungnya.


“Buka!” perintah Gandi sambil menyodorkan benda pipih itu. Savitri mau mengambail hapenya namun masih dipegang erat oleh tangan Gandi.


“Kamu buka saja pin nya.” teriak Gandi, Savitri menggelengkan kepalanya. Terlihat wajah Gandi memerah.


“Aku banting hapemu ini kalau kamu tidak mau mentransfer ke rekeningku.” ancam Gandi sambil tangannya siap akan membanting hape Savitri.


“Bang jangan Bang....” teriak Savitri sambil berusaha untuk merebut hapenya. Tubuh Gandi yang lebih tinggi darinya mengangkat tangannya sambil membawa hape Savitri. Tangan Savitri tidak bisa meraihnya. Mbak Lastri yang berada di dapur mendengar keributan di ruang keluarga. Keributan antara tingginya volume teve dan juga teriakan Savitri dan Gandi. Mbak Lastri berjalan menuju ke ruang keluarga dia sudah membawa sapu siap akan memukul Gandi.


“Kamu jangan ikut campur, atau aku banting bener hape ini.” teriak Gandi sambil menatap Mbak Lastri yang berusaha mendekat sambil membawa sapu. Mbak Lastri tampak ragu ragu takut juga kalau Gandi nekat membanting hape Savitri. Hape hadiah ulang tahun Savitri dari almarhum Ardi. Savitri sangat sayang pada hape pemberian Ardi itu selain itu hape mahal yang dulu sangat diinginkan juga sekarang merupakan hape kenang kenangan almarhum.


“Kalau kamu nurut kan enak, aku juga tidak minta banyak banyak lima juta saja. Kan masih sisa banyak uangnya.” ucap Gandi sambil matanya melihat jari jari Savitri yang menekan nekan tuts di layar hape. Savitri yang merasa Gandi mengamati berusaha memusingkan layar hape agar Gandi tidak melihat data pribadinya. Dengan terpaksa Savitri mentransfer ke rekening Gandi. Namun kejadian seperti itu terus berulang ulang lagi. Gandi meminta transferan sedikit demi sedikit lama lama uang hasil penjualan mobil pun tidak bisa menopang kebutuhan hidup mereka.


Pada suatu malam hari sehabis makan malam Savitri masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat catatan keuangan dan saldo rekening di tabungannya. Kepalanya terasa pusing berpikir bagaimana caranya bisa mengurangi pengeluarannya. Akhirnya dia berpikir untuk memberhentikan Mbak Lastri. Dia pikir sudah tidak anak anak juga, jadi dia yang akan melakukan sendiri pekerjaan domestiknya. Savitri lalu mengambil uang cash gaji Mbak Lastri bulan ini ditambah uang bonus sebesar gaji Mbak Lastri, dia lalu berjalan ke luar kamar. Amplop berisi uang itu ditaruh di saku celana kulot Savitri. Dilihat Mbak Lastri sudah selesai membereskan dapur. Savitri mengetuk pelan pintu kamar Mbak Lastri.


Tok.... Tok.... Tok....

__ADS_1


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan tampak Mbak Lastri di balik daun pintu.


“Ada apa Bu, apa mau tukar kamar lagi?” tanya Mbak Lastri


“Boleh aku masuk Mbak, aku mau omong serius.” jawab Savitri. Mbak Lastri menganggukkan kepala sambil memperlebar membukakan daun pintunya. Savitri lalu melangkah masuk dan diikuti oleh Mbak Lastri. Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur secara berhadapan.


“Mbak, maaf sebelumnya ya....” ucap Savitri terhenti matanya sudah memerah dan ada genangan air di sana. Mbak Lastri yang mendengar dan melihat ekspresi wajah Savitri yang sedih terlihat bingung dan aura sedih Savitri menjalar ke tubuh Mbak Lastri.


“Ada apa Bu, saya kok deg degan.” ucap Mbak Lastri.


“Mbak, ini terpaksa harus aku lakukan sebenarnya aku tidak tega dan aku sudah sayang banget dengan Mbak Lastri. Mbak Lastri sudah aku anggap sebagai saudara aku sendiri....” ucap Savitri sekarang dia sudah mulai terisak dan air mata sudah mulai meleleh di pipinya.


“Bu... maafkan saya kalau saya ada salahnya.” Mbak Lastri yang sudah mulai kuatir ada yang tidak beres juga sudah mulai menangis.


“Bukan salah Mbak Lastri. Mbak Lastri tidak bersalah. Tetapi kondisi keuanganku sudah tidak bisa membayar Mbak Lastri. Mbak Lastri bisa mencari kerja di tempat lain”


“Bu... ijinkan saya tetap membantu Bu Vitri, gaji saya dikurangi juga tidak apa apa Bu. Saya juga sudah sayang dengan Bu Vitri. Kalau Bu Vitri dimarah marahi Pak Gandi bagaimana. Bagaimana kalau Pak Gandi kilaf ...” ucap Mbak Lastri sambil terisak dan menghapus air matanya yang sudah berderai. Savitri lalu mengambil amplop berisi uang dari dalam sakunya dan diberikan pada Mbak Lastri.

__ADS_1


“Maaf dan terimakasih banyak Mbak Lastri.” ucap Savitri menaruh amplop itu ke pangkuan Mbak Lastri sambil memeluk Mbak Lastri. Mbak Lastri membalas pelukan Savitri sambil menangis tersedu sedu. Kedua perempuan itu saling memeluk dan menangis.


__ADS_2