
Reno dan Reni terus menghambur berlari menuju ke mobil yang sudah berhenti. Dengan tidak sabar mereka berdua mencoba untuk membuka pintu mobil.
“Adikku mana Adikku ..?” tanya Reno dan Reni bersamaan. Terlihat Opa turun sambil mengendong jenasah janin Savitri.
“Ayo masuk dulu.” ucap Arya sambil turun dari dalam mobil lalu menggandeng kedua keponakannya itu. Mbak Lastri pun ikut turun dari dalam mobil. Mereka semua akan masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu. Tampak Oma sudah berada di ruang tamu, dia sudah menyiapkan meja untuk tempat jenasah janin Savitri. Opa lalu meletakkan jenasah itu dengan hati hati di atas meja.
“Duduk sini kita berdoa buat Adik, biar Opa dan Papa Arya mandi dan makan dulu, habis ini kita ke makam Papa Ardi.” ucap Oma sambil menganggukkan kepala pada Reno dan Reni agar mereka berdua mendekat pada Oma. Reni dan Reno nurut mereka lalu duduk didekat Oma.
“Oma Adik namanya siapa?” tanya Reni sambil menatap Oma. Oma lalu menatap ke arah Arya.
“Rendy.” jawab Arya lalu dia melangkah masuk ke dalam untuk mandi. Sedangkan Oma, Reno dan Reni dengan khusuk berdoa untuk arwah Rendy. Beberapa menit kemudian Arya sudah mandi dan sudah makan, dia berjalan menuju ke ruang tamu.
“Ma dimakamkan sekarang?” tanya Arya.
“Iya sekarang saja, aku sudah menyuruh Pak Harun ke makam sudah disiapkan liang kuburnya.” jawab Oma.
“Adikku... hiks... hiks...” isak tangis Reni yang belum rela Rendy dikubur.
“Sudah Sayang jangan nangis, adik Rendy sudah damai dengan Papa Ardi.” ucap Oma sambil mengusap usap kepala Reni. Mereka semua lalu pergi ke makam sebelum malam keburu larut.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat Gandi masih nongkrong nongkrong di warung tempat biasa dia nongkrong. Leli setelah memberikan minuman pesanan Gandi dia duduk di dekat Gandi.
“Bang mana katanya mau kasih aku persenan.” ucap Leli dengan suara manja sambil mengusap usap kaki bagian atas Gandi. Orang orang di warung melirik ke arah mereka.
“Sabar, tadi Tuan Lion masih istrirahat, aku disuruh ke sana lagi nanti setelah Tuan Lion selesai makan malam.” jawab Gandi sambil tersenyum ke arah Leli.
“Oooh aku kira sudah dapat uang Abang lupa. Ya sudah nanti aku antar ke rumah Tuan Lion, abis itu kita bersenang senang. Aku ijin kerja di warung malam ini.” ucap Leli yang kini wajahnya sudah nempel di pundak Gandi.
“Hhhmmm.” gumam Gandi tak bisa berkata kata, bau parfum Leli membuat dia melayang dan hanya bisa bergumam saja.
“Bang setelah dapat uang Abang beli mobil saja, ngapain punya uang banyak pakai motor.” ucap Leli lagi.
“Yang penting utang utang di warung dibayar dulu Gan.” ucap teman nongkrong Gandi. Pemilik warung terlihat tersenyum sambil memberikan ibu jarinya tanda setuju dengan usul teman nongkrong Gandi. Beberapa menit kemudian waktu yang dijanjikan oleh pegawai Tuan Lion buat Gandi tiba. Gandi dengan segera bangkit dari tempat duduknya dia berjalan menuju ke tempat motornya terparkir , Lelipun mengikuti Gandi langkah kaki Gandi.
Tidak lama kemudian motor sudah sampai di depan pintu pagar Tuan Lion. Penjaga pintu pagar sudah berganti orang akan tetapi model orang yang sama. Orang tinggi besar dengan tubuh kekar dan kulit berwarna gelap. Gandi lalu menyampaikan maksud kedatangannya pada penjaga pintu itu. Pintu lalu dibuka dan Gandi diperbolehkan masuk bersama Leli.
“Bang baru kali ini aku masuk, ternyata di dalam luas sekali.” ucap Leli sambil berpegang erat pada pinggang Gandi.
“Aku juga baru masuk tadi, rumahnya juga luas kayak istana itu saja baru dari luar.” ucap Gandi sambil menjalankan motornya di dalam halaman rumah Tuan Lion menuju ke pintu rumah utama Tuan Lion. Tidak lama kemudian motor berhenti di depan pintu utama rumah Tuan Lion. Gandi cepat cepat mematikan mesin motornya. Dua orang penjaga pintu sudah menatap tajam ke arah Gandi. Gandi turun dari motor sambil memegang erat map, Leli yang akan membantu membawakan tidak diperbolehkan oleh Gandi.
__ADS_1
Gandi melangkah menuju ke pintu utama, Leli turut serta dia memegang erat tangan Gandi sebab takut jatuh terpeleset karena lantai teras yang tampak berkilau kilau oleh sinar lampu. Gandi dengan segera menyampaikan maksud kedatangannya pada penjaga pintu. Gandi lalu dipersilahkan masuk, namun tidak demikian dengan Leli. Leli lalu duduk di lantai teras sebab tidak ada kursi di teras itu.
Gandi masuk ke dalam, ruang tamu sangat luas dengan mebel mebel lux dan besar besar. Di dalam ruang tamu juga petugas dengan model yang sama laki laki dengan tubuh kekar. Laki laki itu lalu membawa Gandi menuju ke suatu ruangan. Laki laki itu membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Gandi masuk. Di dalam ruangan itu tampak seorang laki laki tua memakai kaca mata tebal duduk di kursi malas alias kursi goyang. Di pojok ruangan ada meja dan di depannya ada orang yang duduk di kursi itu, terlihat dia merupakan pegawai Tuan Lion juga. Gandi dipersilahkan duduk di kursi sofa tidak jauh dari Tuan Lion.
“Kamu mau pinjam berapa juta. Sertifikatmu sertifikat tanah apa sertifikat rumah, berapa luasnya, hak guna apa hak milik?” tanya Tuan Lion sambil menatap Gandi.
“Hmmm saya tidak tahu Tuan, nanti Tuan lihat saja, ini ada beberapa sertifikat. Tuan kira kira saja, saya bisa mendapat pinjaman berapa.” jawab Gandi dengan sangat sopan. Dia memang belum mengecek secara detail keterangan yang berada di dalam map. Dia cuma membuka dan melihat sampul depan itupun hanya bagian atas lalu dimasukkan kembali ke dalam map.
“Apa semua sertifikat akan kamu jaminkan?” tanya Tuan Lion sambil menggoyang goyangkan kursinya.
“Iya.” jawab Gandi sambil tersenyum membayangkan akan dapat banyak uang.
“Sudah kamu pikirkan baik baik?” tanya Tuan Lion sambil menatap tajam Gandi. Gandi menganggukkan kepalanya dengan mantap.
“Han, kamu periksa itu sertifikatnya dan kamu perkirakan bisa dapat berapa duit dia.” perintah Tuan Lion pada orang yang duduk di depan meja. Orang yang dipanggil Han itu lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arah Gandi. Dia meminta map yang dibawa oleh Gandi. Lalu dia berjalan ke mejanya, setelah sampai di mejanya dia membuka map yang dibawa oleh Gandi, dia mengambil semua sertifikat di dalamnya. Dia mengamati amati semua sertifikat itu. Lalu dia berjalan menuju ke kursi goyang Tuan Lion dan membisikkan sesuatu pada Tuan Lion. Gandi berdebar debar tidak sabar ingin tahu berapa milyard rupiah yang akan dia dapat.
“Hmmmm pasti banyak yang akan aku terima sampai pegawainya mungkin tidak bisa menghitung.” gumam Gandi dalam hati.
Pegawai Tuan Lion yang bernama Han itu lalu kembali ke meja dan mengambil lagi map yang dibawa oleh Gandi. Lalu dia berjalan menuju ke tempat dimana Gandi duduk.
__ADS_1
“Jangan coba coba menipu Tuan Lion, kamu pikir karena Tuan Lion sudah tua bisa kamu kelabui dengan sertifikat palsu.” ucap Han sambil melemparkan map ke tubuh Gandi. Lalu dia berjalan membuka pintu dan memanggil petugas yang bertubuh kekar. Sementara Gandi masih bengong mendengar kata palsu, dengan segera dia membuka map dan melihat isinya.
“Dia mau mencoba menipu, kamu kerjakan tugasmu untuk menangani orang yang coba coba mau menipu.” ucap Han pada petugas bertubuh kekar itu. Tidak butuh waktu lama petugas itu langsung menyeret tubuh Gandi ke luar ruangan Tuan Lion. Gandi berusaha memberontak tetapi dia kalah kuat setelah di luar ruangan Tuan Lion tubuh Gandi menjadi samsak petugas bertubuh kekar itu. Meskipun berkali kali Gandi minta ampun namun tidak dihiraukan oleh petugas yang bertubuh kekar itu.