Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 13. Nikah


__ADS_3

Dengan berjalannya waktu tidak terasa Savitri sudah menjadi janda selama empat bulan lebih sepuluh hari. Dan tidak lama lagi syarat dia bisa menikah lagi sudah terpenuhi. Gandi beserta orang tuanya sudah datang ke rumah orang tua Savitri untuk melamar Savitri. Kedua orang tua Savitri menerima lamaran Gandi dan mereka sudah menentukan tanggal pernikahannya.


Di suatu siang hari Savitri mendapat kabar dari orang tuanya kalau besok hari Sabtu akan datang sebab hari Minggunya Gandi akan menikahi Savitri.


“Sekarang sudah hari Jumat, berarti besok bapak dan ibu akan datang.” gumam Savitri setelah menerima telepon dari Ibunya.Savitri kemudian hanya diam saja. Dia merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Dulu saat mau menikah dengan Ardi persiapan dilakukan jauh jauh hari bahkan berbulan bulan sebelum hari H.


Savitri lalu berjalan menuju ke kamarnya dibukanya lemari pakaian dicari cari baju kebaya dan kain yang cocok untuk dipakai untuk acara nikah besok. Savitri memang tidak berniat untuk membeli baju baru. Saat masih sibuk memilih milih tiba tiba pintu kamar terdengar ada suara ketukan.


“Ada apa Mbak Lastri.” gumam Savitri dalam hati lalu segera berjalan menuju pintu agar Mbak Lastri tidak mengetuk pintu lagi, kuatir Reno dan Reni yang sedang tidur terganggu oleh suara ketukan pintu.


“Bu, ini ada kiriman dari Om Gandi.” ucap Mbak Lastri sambil mengulurkan tas berukuran besar.


“Ayo di sana biar Reno dan Reni tidak terbangun.” ucap Savitri sambil berjalan keluar kamar sambil menutup pintu kamar.


“Bu, katanya juga ada baju buat saya.” ucap Mbak Lastri sambil berjalan di belakang Savitri.


Setelah mereka berdua duduk di sofa ruang keluarga, Savitri lalu membuka tas besar kiriman dari Gandi. Dilihatnya ada baju kebaya putih juga kain panjang dan perlengkapannya.


“Bagus Bu, cantik sekali.” puji Mbak Lastri sambil kagum melihat baju kiriman Gandi


Savitri lalu mengangkat baju baju kecil yang tidak lain baju untuk Reno dan Reni. Baju untuk Reni sama seperti punya Savitri namun dalam.versi kecil. Savitri tersenyum menatapnya. Punya Reno pun baju beskap warna putih dan kain batik untuk bawahan motif sama kain Savitri.


“Pasti Reno dan Reni cakep cakep pakai ini Bu.”


“Iya pasti lucu lucu mereka.”


“Punya saya mana ya Bu?” tanya Mbak Lastri tidak sabar untuk melihat bajunya.


Savitri lalu menarik bungkusan paling bawah. Lalu diberikan pada mbak Lastri. Saat Mbak Lastri membuka bungkusannya nampak wajahnya kecewa.


“Kok buat saya daster Bu.” ucap Mbak Lastri dengan nada kecewa dan wajah murung.


“Ya sudah besok Mbak Lastri beli sendiri mau beli on line apa ke mall?”


“Beli di pasar saja Bu, dekat pasar ada toko baju bagus.”


“Bu terus konsumsinya bagaimana, tamunya berapa?” tanya Mbak Lastri.

__ADS_1


“Konsumsinya pesan, Tante Anisa yang mengurus. Bapak hanya mengundang penghulu dan para saksi saja Mbak. Saksi Pak Erte Bu Erte dan pengurus Komplek. Ditambah Tante Nisa dan suaminya... Malu mbak kalau mengundang banyak orang.”


“Iya Bu, yang penting sudah sah tidak jadi omongan orang komplek.”


“Iya mbak, besok baru nikah siri. Kata Om Gandi besok kalau sudah lebih satu tahun meninggalnya Bang Ardi baru nikah resmi secara hukum.” ucap Savitri lalu meringkasi baju baju yang sudah dilihat dan diberikan pada Mbak Lastri agar dicuci lebih dulu.


Hari H yang dinanti tiba.


Savitri sudah cantik dengan baju pengantin dengan make up natural yang dia lakukan sendiri. Reno dan Reni juga sudah memakai baju couple dengan mamanya. Savitri merasa bahagia karena melihat kedua anaknya sangat senang.


“Adik nanti kita duduk terus di dekat Mama, jangan jalan atau lari lari kesana kemari ya...” ucap Reno mengingatkan adiknya yang biasanya tidak bisa diam.


“Iya Ka, atu duduk teyus di camping Mama.”


Mereka bertiga lalu berjalan ke ruang tengah, Savitri tangan kanan dan kirinya digandeng oleh kedua anaknya. Nenek yang sudah berada di ruang tengah lalu berjalan mendekati dan menyambut mereka. Nenek terlihat tersenyum senang melihat Savitri dan kedua cucunya. Lalu Nenek membantu Savitri dan kedua cucunya duduk di tempat yang sudah disediakan.


Tidak lama kemudian Anisa yang sudah tampil cantik datang mendekati mereka. Sedangkan Kakek duduk di ruang depan.


“Idih.. senangnya yang mau punya papa baru.” ucap Anisa sambil menoel dagu Reno dan Reni karena gemas melihat mereka yang cakep dan lucu lucu.


“Papaku jadi tiga Tan.” ucap Reno sambil menunjukkan tiga jarinya pada Anisa.


“Kak sudah datang para saksinya. Pengantin lakinya kok belum datang.” ucap Anisa saat datang dengan suaminya juga bersamaan datang dengan para saksi yang kemudian mereka duduk di ruang depan bersama Kakek.


“Iya nih sudah aku tanya ga ada jawaban. Aku telpon ga diangkat. Padahal Pak Penghulu sebentar juga akan datang.” jawab Savitri dengan tangan sibuk dengan hape untuk menghubungi Gandi.


“Oma, Opa dan Arya kamu undang tidak?” tanya Savitri sambil menatap wajah Savitri.


“Sudah aku kabari, Ibu dan Bapak juga sudah datang ke rumah mereka. Tapi entah datang entah tidak. Oma tidsk menjawab. Opa dan Arya cuma bilang akan diusahakan.” jawab Savitri dengan nada sedih ada genangan air di matanya. Anisa terlihat mengusap usap pundak Savitri untuk memberi ketenangan.


Savitri dan kedua anaknya yang tadi bahagia sekarang tampak gelisah. Apalagi Nenek yang tampak mondar mandir ke depan dan ke belakang untuk mendatangi Savitri yang duduk di pelaminan di ruang tengah.


“Vit kamu hubungi Gandi lagi gih.. kok belum datang. Pak Penghulu sudah datang. Kalau lama mau ditinggal dulu ada jadwal menikahkan di tempat.lain.” ucap Nenek pada Savitri dengan wajah kuatir.


Savitri terlihat sibuk dengan hapenya lagi untuk menghubungi Gandi. Reno dan Reni yang melihat mamanya gelisah dan panik juga ikut terlihat gelisah. Sudah tidak ada lagi senyum ceria di wajahnya. Apalagi Oma , Opa dan Arya yang dinanti tidak datang juga.


“Bagaimana Kak?” tanya Anisa yang setia mendampingi Savitri.

__ADS_1


“Katanya sudah on the way.” jawab Savitri.


“Ma yang on the way siapa? Papa Arya?” tanya Reno yang masih menunggu Arya dan Oma Opanya. Savitri hanya menggelengkan kepala, dia tidak tega membuat anaknya kecewa karena tahu kalau Reno sangat mengharapkan kedatangan Arya. Savitri juga gelisah karena Gandi tidak segera datang. Jika Gandi terlambat, Pak Penghulu akan pergi menikahkan yang lain dan itu berarti bisa dapat jadwal nikah yang sore.


Reno dan Reni terlihat duduk lesu sambil bersandar di tubuh Savitri.


“Ma, aku telpon Papa Arya ya...” pinta Reno sambil menatap Mamanya.


“Nanti ya sayang, hapenya lagi buat nunggu kabar dari Om Gandi. Tamunya semua sedang menunggu Om Gandi.” jawab Savitri karena hapenya dibuat siap siaga menerima informasi dari Gandi. Reno yang mendengar jawaban Mamanya semakin dibuat lesu.


Beberapa menit kemudian ada mobil berhenti di depan rumah Savitri. Gandi terlihat turun dari mobil bersama seorang wanita setengah baya dan seorang seumuran Gandi yang keluar dari pintu kemudi. Mereka bertiga lalu berjalan masuk ke rumah Savitri. Gandi dan wanita setengah baya tersebut terlihat membawa beberapa bingkisan yang akan dijadikan syarat untuk pernikahan.


“Ah untung sudah datang, terlambat satu menit saja Pak Penghulu sudah akan pergi.” ucap Kakek menyambut kedatangan mereka.


“Maaf terlambat, Bapak mendadak tensinya naik dan tidak bisa hadir, jadi dari pihak pengantin laki laki hanya didampingi Ibu dan teman saya.” ucap Gandi saat sudah duduk di dekat Pak Penghulu.


“Tidak apa apa yang terpenting pengantin laki laki hadir.” ucap Pak Penghulu sambil tersenyum.


Acara pernikahan kemudian segera dimulai. Gandi menjawab ucapan akad nikah dengan lancar sebab sudah latihan setiap hari sejak Savitri menerima ajakannya untuk menikah. Gandi tersenyum puas saat kata sah sudah terucap.


Setelah kata sah terucap, Savitri keluar ke ruang depan didampingi oleh kedua anaknya, Nenek dan Anisa. Gandi tertegun melihat Savitri yang sangat cantik. Savitri kemudian mencium tangan Gandi selanjutnya pada Ibunya Gandi, hal itu juga dilakukan oleh kedua anak Savitri. Meskipun ekspresi wajah mereka hanya datar datar saja.


Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan jamuan yang sudah disiapkan oleh Mbak Lastri yang dibantu oleh Anisa. Reno dan Reni tidak mau makan apapun mereka masih menunggu Papa Arya, Oma dan Opa. Meskipun sudah dibujuk tetap tidak bisa. Akhirnya Savitri memberikan hapenya agar Reno menelpon Arya. Saat ditelpon Arya beralasan masih sibuk kerja dan Oma masuk angin.


Dengan lesu Reno menyerahkan hape ke Savitri. Lalu dia berlari menuju ke kamarnya dan diikuti oleh Reni. Savitri terlihat bingung antara ingin mengejar anaknya atau tetap mendampingi Gandi.


“Nis tolong bujuk mereka ya.” bisik Savitri pada Anisa. Anisa lalu berjalan menuju ke kamar Reno.


Sementara itu di lain tempat, Arya yang habis ditelepon oleh Reno termenung sejenak. Dia sebenarnya tidak tega dengan keponakannya yang menanti kedatangannya. Namun dia sudah dipesan oleh Oma agar tidak hadir di acara pernikahan Savitri. Jika nekat datang akan dicoret dari Kartu Keluarga. Arya akhirnya mendengus untuk melepaskan kebingungannya. Akhirnya dia punya ide untuk menghibur Reno dan Reni. Dia lalu mengusap usap hapenya.


Tidak lama kemudian ada mobil box berhenti di depan rumah Savitri mereka mengantar dua kardus yang ukurannya besar besar.


“Bu, siapa yang belanja?” tanya Mbak Lastri pada Savitri saat melihat ada mobil box menurunkan barang di depan rumah Savitri. Mbak Lastri lalu berjalan ke depan meninggalkan nampan yang dibawa untuk menjamu tamu.


Mbak Lastri menerima kardus besar besar itu yang diperuntukkan untuk Reno dan Reni kiriman dari Arya, agar bisa menghibur Reno dan Reni. Mbak Lastri dengan susah payah membawa barang barang itu masuk ke dalam rumah, tanpa memikirkan tamu tamu yang ada.


“Dari Om Arya untuk Kakak dan Adik, Bu.” teriak Mbak Lastri sambil terus berjalan menuju ke kamar Reno dan Reni. Gandi yang mendengar mengeryitkan dahinya sambil bergumam....

__ADS_1


“Aku yang jadi pengantin kenapa Reno dan Reni yang dapat kado, dasar Arya sentimen sama aku.”


__ADS_2