Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 39. Savitri Sakit


__ADS_3

“Mbak, buka saja kuncinya.”ucap Savitri dengan suara lirih setelah mendengar ancaman Gandi, dia tidak ingin Gandi membuat onar lagi. Savitri sudah capek dia ingin beristirahat. Mbak Lastri lalu membalikkan tubuhnya dan kembali ke pintu depan. Lalu dia membuka kunci pintu, namun pintu tetap masih dalam kondisi tertutup.


Gandi yang masih merasa sakit di pinggangnya dia belum mampu berdiri. Mulutnya ngedumel tidak jelas sambil berjalan merangkak saat sampai di depan pintu tangannya meraih handel pintu dan mencoba membukanya saat pintu bisa dibuka dia masuk masih dengan jalan merangkak. Berkali kali dia memanggil Savitri namun Savitri hanya diam saja, dia sudah masuk ke dalam kamar Reno dan sudah berusaha untuk bisa tidur karena dia memang sangat capek. Satu butir obat tidur pun sudah dia telan dan lama lama Savitri bisa terlelap.


Sementara Arya masih menunggu Gandi di lapangan volly sambil terkantuk kantuk. Beberapa kali hapenya berdering, panggilan suara dari Oma yang mengira Arya masih kerja lembur. Oma sudah menyuruhnya untuk segera pulang karena hari sudah malam dan hujan sudah reda. Aryapun akhirnya pergi meninggalakan lapangan volly dan dia sudah punya alasan jika nanti ditanya oleh Oma dia akan menjawab memr karena jatuh terpeleset di lantai luar yang terkena air hujan.


Hari terus berganti waktu terus berlalu... Pada suatu siang saat Mbak Lastri sudah selesai memasak dia mendapat panggilan suara dari adiknya yang mengatakan Simboknya sedang sakit dan masuk rumah sakit. Mbak Lastri diminta untuk segera pulang kampung.


“Hiks... hiks... hiks....” isak tangis Mbak Lastri sambil mengucek ucek matanya. Dia berjalan mencari Savitri yang sedang berada di kolam.


“Bu Vitri... Bu Vitri.... hiks.. hiks...” ucap Mbak Lastri sambil terisak isak dan mengucek ucek kedua matanya agar air mata tidak berderai derai.


“Hei.. jangan kamu tabrak burungku.” teriak Gandi dari tempat duduknya di teras sambil merokok. Dia baru saja membeli burung berkicau dari temannya dan burung di dalam kurungan itu di taruh di dekat Savitri karena menyuruh Savitri memberi makan itu burung.


“Hiks... hiks... Bu Vitri....” isakan Mbak Lastri tanpa menghiraukan omongan Gandi dan benar Mbak Lastri menabrak kurungan burung itu, dan kurungan menggelimpang untung segera di tahan oleh Savitri kalau tidak bisa bisa burung terbang. Uang Savitri yang dipakai untuk membeli itu burung bisa melayang.


“Ada apa Mbak?” tanya Savitri sambil menatap wajah Mbak Lastri yang bengkak.

__ADS_1


“Simbok sakit Bu... hiks...hiks....” jawab Mbak Lastri masih dengan isakan tangisnya


“Saya harus pulang sekarang.” ucap Mbak Lastri kemudian sambil duduk di samping Savitri yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Ya sudah Mbak Lastri pulang dulu, mungkin Simbok sakitnya kangen dengan Mbak Lastri, semoga setelah bertemu dengan Mbak Lastri segera sehat Simboknya Mbak Lastri. Mbak Lastri tidak usah menangis.” Ucap Savitri sambil menatap Mbak Lastri, sebenarnya dia ingin mengusap usap punggung Mbak Lastri namun dibatalkan karena mengingat tangannya kotor habis pegang pegang pakan ikan dan pakan burung.


“Bu Vitri tidak apa apa saya tinggal?” tanya Mbak Lastri yang kuatir keadaan Savitri jika dia tinggal pulang kampung. Savitri meyakinkan Mbak Lastri kalau dia tidak apa apa. Sedangkan Gandi yang masih duduk merokok tidak menghiraukan omongan mereka.


Mbak Lastri pun akhirnya di hari itu juga berangkat ke kampung untuk menjenguk Simboknya. Dia akan pulang ke kampung sampai Simboknya sehat. Sementara Mbak Lastri pulang kampung Savitri mengurusi semua pekerjaannya seorang diri. Suaminya Gandi tidak bisa diandalkan malah justru menambahi pekerjaan.


“Bang sudah tidak usah membeli burung lagi, sayang uangnya, juga capek aku bersihin kurungannya, kotorannya bau kalau tidak sering dibersihkan.” ucap Savitri saat Gandi meminta uang untuk membeli burung lagi.


“Kalau tidak kamu kasih aku racun ikan ikan itu sekalian kamu tidak dapat uang.” ucap Gandi dengan suara meninggi. Savitri hanya bisa mendengus dan akhirnya memberikan uang buat Gandi.


“Kurang.” Ucap Gandi namun Savitri sudah tidak memberikan lagi uang kepada Gandi karena memang uangnya juga sudah menipis. Gandi lalu pergi meninggalkan Savitri sambil ngedumel ngatain kalau Savitri pelit. Savitri hanya diam saja dan melanjutkan pekerjaannya.


Sudah lebih dari satu minggu Mbak Lastri belum kembali ke rumah Savitri. Meskipun Savitri kini sudah tidak pergi pergi lagi mengantar ikan, dia sudah menuruti saran Arya agar pembeli datang sendiri ke rumahnya. Namun karena semua pekerjaan dia lakukan sendiri akhirnya tubuh lemahnya semakin terasa tak berdaya.

__ADS_1


Kepala Savitri terasa berkunang kunang saat dia membersihkan kotoran burung burung di dalam kurungan kurungan itu, baunya membuat perut Savitri mual mual. Savitri lalu meninggalkan pekerjaannya dan berjalan dengan gontai menuju ke kamar.


Sesampai di kamar, Savitri langsung menumpahkan isi perut di wastafel setelah menguyur dengan air kran, dia lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Savitri meraih dua mainan Reno dan Reni yang selalu berada di tempat tidurnya dia peluk erat kedua mainan itu. Kerinduan pada kedua anaknya pun juga menambah tubuhnya semakin melemah. Air mata Savitri tidak terasa meleleh...


“Vit... Vit.... itu burung klabakan lapar, belum kamu kasih makan ya?” teriak Gandi dari luar kamar.


“Kamu itu malah tidur!” teriak Gandi saat membuka kamar Savitri.


“Aku pusing Bang. Tolong ambilkan air hangat tadi aku mual mual bau kotoran burung.” ucap Savitri sebenarnya dia menginginkan teh hangat, tetapi dia hanya minta air hangat saja agar Gandi lebih mudah mengambilkannya.


“Heleh ngaya pakai mual dan pusing bau kotoran. Kamu kan punya kaki bisa berjalan kamu ambil sendiri. Aku mau kasih pakan burung dia dalam kurungan tidak bisa mengambil sendiri.” ucap Gandi lalu menutup pintu dengan keras. Dia meninggalkan kamar Savitri tidak untuk mengambilkan air hangat buat Savitri tapi pergi mengurus burungnya.


Savitri yang masih terbaring merasa perutnya bergejolak lagi dia dengan susah payah berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Kepalanya juga terasa pusing. Tangannya dia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar bisa bangun. Ahirnya dengan pelan pelan Savitri mampu bangun namun...


Hoek... hoek....hoek...


Sebelum Savitri bisa berjalan menuju ke wastafel isi dalam perut Savitri sudah tumpah lagi ke lantai. Aromanya tercium di hidung Savitri dan membuat dia mual mual lagi. Berkali kali isi perutnya keluar hingga tubuh Savitri terkulai dan akhirnya dia terjatuh untuk dia masih duduk di tempat tidur belum sempat berdiri, jadi dia terjatuh di tempat tidur.

__ADS_1


“Bang... Bang... Tolong...” ucap Savitri dengan suara lirih. Kepala dia masih terasa pusing, tubuhnya juga terasa lemas dan dingin. Dia ingin mengambil air minum dan minyak angin namun sudah tidak berdaya untuk berjalan meskipun hanya satu langkah saja.


__ADS_2