
Mobil terus melaju dengan kecepatan penuh. Arya ingin segera sampai di rumah Opa dan Oma. Dia ingin segera istirahat di dalam kamarnya. Dan tiba tiba kepala Arya kembali diserang oleh pusing. Entah karena dia mengantuk karena tadi bangun terlalu pagi atau karena siang tidak minum obat pusing sebab tadi lupa tidak membawa, padahal masih ada obat dari dokter untuk hari ini. Atau pusing karena setelah bertemu Helena.
Mobil terus melaju dan di saat di persimpangan lampu merah, Arya menerobos lampu merah dan...
“Arya......” teriak Savitri dengan sangat keras. Karena di saat mobil menerobos dari arah samping sudah ada banyak kendara melaju dengan kencang.
Mobil Arya terus melaju dan selamat dari hantaman kendara dari arah samping. Tetapi entah nanti atau besok akan mendapat surat elektronik tilang tidak, hanya bisa menunggu surat tilang datang.
“Ya jangan ngebut Ya...” pinta Savitei dengan nada kuatir.
Setelah di jalan yang aman Arya menepikan mobilnya. Savitri terlihat was was sebab terlihat wajah Arya memucat.
“Kak Vitri gantikan yang pegang kemudi ya.. , kepalaku pusing mungkin aku ngantuk.” ucap Arya kemudian lalu dia melepas sabuk pengaman nya. Dia lalu membuka pintu mobil dan berjalan mengitari mobil untuk pindah tempat duduk. Savitri pun melepas sabuk pengaman nya dan bergeser untuk pindah di jok kemudi. Sambil memasang sabuk pengaman dia melihat Arya yang sedang berjalan sambil memegang kepalanya.
“Tadi harusnya aku yang berjalan keluar untuk pindah.” ucap Savitri setelah Arya membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
“Tidak apa apa.” ucap Arya lalu dia menyandarkan kepalanya di sandaran jok. Savitri menoleh ke arah Arya, dilihatnya Arya belum memasang sabuk pengaman. Savitri meraih tali sabuk pengaman dan dipasangnya sabuk pengaman itu di tubuh Arya. Dada Savitri berdebar debar saat hidungnya sangat dekat di tubuh Arya dia mencium dari dekat aroma parfum maskulin Arya saat meraih sabuk pengaman.
Savitri lalu menjalankan mobilnya dengan pelan pelan. Dadanya masih berdebar debar karena mobil yang hampir dihantam kendaraan dan juga berdebar debar karena aroma maskulin Arya.
“Ya, kamu masih kuat atau kita ke rumah sakit?” tanya Savitri dia kalau spontan dan gugup masih saja memanggil hanya dengan nama Arya saja.
“Pulang saja, kenapa masih saja panggil aku dengan hanya nama saja.” ucap Arya sambil memejamkan matanya dan kepala terus bersandar. Savitri hanya diam saja dan terus melajukan mobilnya.
__ADS_1
Savitri sebenarnya akan bertanya apa Arya pusing karena masalah dengan Helena tadi. Tetapi Savitri tidak sampai hati saat melihat Arya yang tidak berdaya.
“Apa memang Arya memiliki memori yang sangat manis dengan Helena hingga dia sampai pusing begitu.” gumam Savitri dalam hati.
“Kalau dia belum bisa melupakan masa lalu nya lebih baik aku jaga diri jangan sampai aku jatuh hati pada Arya dulu.” gumam Savitri dalam hati lagi.
Mobil terus melaju dengan hati hati dan pelan pelan . Savitri yang sudah lama tidak membawa mobil sendiri memang agak grogi apalagi di jalan raya yang sangat ramai. Akan tetapi sangat berbahaya jika Arya yang tetap mengemudikan mobil. Meskipun dengan pelan pelan akhirnya mobil sudah memasuki jalan kawasan rumah Oma dan Opa yang sudah tidak begitu ramai. Hati Savitri sudah lega dan tidak lama kemudian mobil sudah sampai di halaman rumah Oma dan Opa.
Setelah mobil berhenti mereka berdua turun dari mobil. Savitri menggandeng tangan Arya, sebab Arya terlihat wajahnya sangat pucat. Saat memasuki rumah terlihat Oma dan Opa duduk di sofa di ruang keluarga, sedangkan Reno dan Reni tidur siang di kamar mereka.
“Arya kamu kenapa?” tanya Oma dengan nada kuatir saat melihat wajah pucat Arya dan digandeng oleh Savitri.
“Pusingnya kambuh Ma.” jawab Savitri, sambil terus berjalan menggandeng tangan Arya. Oma dan Opa pun lalu bangkit berdiri dan selanjutnya Oma juga ikut menggandeng tangan Arya.
“Sudah Ma, jangan diomeli, nanti tambah pusing kepala Arya.” ucap Opa berjalan lebih cepat lalu membukakan pintu kamar Arya.
“Kamu buka baju Arya, Vit diganti yang bersih agar keringat tidak terserap pori pori lagi.” ucap Oma lalu dia berjalan menuju ke lemari baju Arya.
Opa dan Savitri membawa Arya menuju ke tempat tidurnya, Opa lalu terlihat mengambilkan obat dan air minum. Sedangkan Savitri menuruti perintah Oma, untuk membuka baju Arya. Pelan pelan Savitri membuka jas yang masih menempel di tubuh Arya lalu dia taruh di sandaran kursi di dekat tempat tidur Arya. Selanjutnya Savitri membuka kancing kancing kemeja Arya, kembali dada Savitri berdebar debar, dan tidak hanya Savitri, Arya yang berbaring di tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur pun dadanya berdebar debar karena perlakuan Savitri.
“Sudah Vit?” tanya Oma yang sudah berdiri di dekat Savitri.
“Sudah kemejanya Ma, Mama buka kaos dalamnya. Saya bantu Opa untuk membukakan obat buat Arya.” ucap Savitri lalu dia bangkit berdiri untuk menaruh baju kotor Arya di keranjang dan selanjutnya mengambil obat yang masih berada di tangan Opa.
__ADS_1
Savitri memang sengaja menghindari membuka kaos dalam Arya karena baru membuka kemeja nya saja dada Savitri sudah berdebar debar apalagi jika harus melihat dada bidang Arya dan perut six pack nya. Savitri mulai sekarang akan berusaha untuk tidak membiarkan perasaannya terpesona dan jatuh hati pada Arya. Dia takut sakit hati jika ternyata Arya masih menyimpan memori memori indah dengan Helena.
“Kerja kok tanggung. tidak sekalian.” ucap Oma lalu segera melepas kaos dalam Arya.
“Ma ... Pelan pelan.. “ teriak Arya yang kepalanya masih nyangkut di kaos dalam yang ditarik oleh Oma.
“Biar segera minum obat dan tidur, jangan pikir pekerjaan dulu.” ucap Oma lalu segera memakaikan baju bersih pada tubuh Arya dan mengganti baju bagian bawah Arya. Savitri hanya memejamkan matanya.
Kini Opa memberikan obat dan air minum buat Arya, obat yang sudah dibukakan bungkusya oleh Savitri. Opa terlihat wajahnya berekspresi kuatir. Dia kuatir jika Arya masih pusing harus ke rumah sakit lagi harus dilakukan ct scan dan pemeriksaan lebih lanjut.
“Sudah sekarang kamu tidur, jangan pikir yang berat berat dulu.” ucap Opa setelah memberikan obat buat Arya. Opa ingin Arya anak yang masih hidup satu satunya bisa hidup dengan sehat dan tidak memiliki penyakit yang berbahaya. Kesedihan akan kehilangan Ardi masih membekas dia tidak ingin mendapat kesedihan lagi akan kesehatan Arya.
Tidak lama kemudian Arya sudah tertidur. Mereka bertiga lalu keluar dari kamar Arya.
“Apa yang terjadi sampai Arya kambuh pusingnya?” tanya Opa pada Savitri.
“Hmm tidak tahu persisnya Pa, tetapi tadi sempat berbicara serius dengan Helena.” jawab Savitri sambil berjalan di samping Opa.
“Helena mengancam akan melaporkan Pak Slamet dan perusahaan jika tidak diterima lamaran kerjanya.” jawab Savitri dengan jujur. Opa dan Oma terlihat kaget dan kini mereka berdua juga ikut pusing kepalanya.
“Kalian sudah dibilang tidak usah menemui Helena tetapi nekat saja. Kenapa juga anak dia ditabrak Pak Slamet, bikin pusing saja.” ucap Oma lalu berjalan menunu ke kamarnya dan Opa pun mengikuti langkah kaki Oma.
Akan tetapi bagi Savitri pertemuannya tadi dengan Helena membuat dirinya harus menjaga hati agar tidak terpesona dulu dengan Arya sampai benar benar tahu Arya sudah melupakan memori memori manis nya dengan Helena. Savitri kuatir jika Arya akan jatuh hati lagi pada cinta pertamanya.
__ADS_1