Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 22. Pemaksa Tak Mau Diatur


__ADS_3

Mbak Lastri menempelkan telinganya di daun pintu, dia penasaran apa yang sedang terjadi di dalam kamar.


“Sakit Bang.... sakit.....” rintih suara Savitri terdengar pelan di telinga Mbak Lastri. Mbak Lastri yang mendengar suara Savitri kesakitan lalu teringat pesan dari Arya, agar segera melapor ke satpam kalau ada kekerasan dalam rumah tangga. Mbak Lastri lalu segera berjalan menuju ke pos satpam.


“Pak... Pak... tolong...” teriak Mbak Lastri saat sudah berada di dekat pos satpam.


“Ada apa Mbak?” tanya Pak Satpam yang melihat Mbak Lastri dan datang kepadanya dengan jalan yang tergesa gesa.


“Ada.. ada KD... ada KD...” jawab Mbak Lastri dengan nafas yang megap megap karena dia tadi berjalan setengah berlari.


“Dimana ada konser Mbak KD, di teve....” ucap Pak Satpam yang tidak jadi kuatir karena dikira Mbak Lastri memberi tahu ada acara teve menampilkan penyanyi favoritnya. Lalu Pak Satpam terlihat memencet mencet remot control teve yang berada di pos satpam.


“Ayo tho Pak ikut aku itu ada KD.. istri yang disakiti itu lho Pak.” ucap Mbak Lastri sambil menarik tangan Pak Satpam.


“Owalah KDRT.” ucap Pak Satpam lalu berlari agar cepat sampai di rumah Savitri. Saat masuk ke dalam rumah Pak Satpam heran sebab suasana rumah sepi. Hanya rumah masih terlihat berantakan karena belum dirapikan oleh Mbak Lastri. Pak Satpam balik menuju pintu menunggu Mbak Lastri yang masih berjalan.


“Dimana mereka kok sepi?” tanya Pak Satpam


“Di kamar Pak.” jawab Mbak Lastri dengan polosnya, Pak Satpam mengeryitkan dahi mendengar jawaban Mbak Lastri.


“Kamu tidak salah?” tanya Pak Satpam dengan wajah heran.


“Tidak Pak, ini lihat tadi mereka berantem di kamar Bu Vitri.”ucap Mbak Lastri sambil menunjukkan kamar Savitri dan diperlihatkan pigura yang pecah.

__ADS_1


“Terus mereka ke dalam situ dan coba kita dengar tadi saya dengar Bu Vitri merintih kesakitan.” ucap Mbak Lastri kemudian sambil menunjuk ke arah kamar tamu. Mereka berdua pelan pelan berjalan menuju ke arah kamar tamu. Lalu mereka berdua menempelkan telinga di daun pintu. Namun mereka tidak mendengarkan suara. Mbak Lastri semakin kuatir kalau Savitri pingsan atau bahkan lebih parah dari itu. Namun tiba tiba...


“Kamu memang nikmat Vit, legit sempit kayak perawan.”


Mendengar ucapan seperti itu mereka berdua lalu menjauhkan kuping mereka yang menempel di daun pintu, dan tidak lupa Pak Satpam menoyor kepala Mbak Lastri dengan pelan. Mbak Lastri hanya terkekeh.


“Itu memang kekerasan Mbak, kalau tidak keras namanya loyo.” ucap Pak Satpam sambil berjalan menuju ke depan.


“Tapi Pak, kok tadi Bu Vitri kesakitan?” tanya Mbak Lastri dengan polosnya.


“Nanti kamu tanya Bu Vitri, jangan tanya aku.” jawab Pak Satpam lalu segera meninggalkan Mbak Lastri.


“Eh Mbak, apa Reno belum pulang dari rumah sakit kok sepi tidak terlihat anak anak?” tanya Pak Satpam menoleh ke arah Mbak Lastri saat dia sampai di pintu pagar.


“Di rumah Opa dan Oma, Pak.” jawab Mbak Lastri, lalu dia duduk di kursi teras. Mbak Lastri merasa sepi tidak ada Reno dan Reni, juga pikirannya pada Savitri dan Gandi yang sedang di kamar.


“Mosok aku harus tanya Bu Vitri, pasti aku dimarahi karena nguping. Tapi itu mengkuatirkan jangan jangan Gandi pakai cara dengan menyakiti Bu Vitri.”


Mbak Lastri terus duduk di teras, dia diam saja, pikirannya melayang membayangkan saat saat rumah ini diisi oleh tawa ria Reno dan Reni. Kehidupan harmonis Ardi dan Savitri dan semua itu hilang begitu saja.


DIN DIN


Suara klakson tetangga membuyarkan lamunan Mbak Lastri, lalu dia mulai masuk ke rumah dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu di dalam kamar tamu.

__ADS_1


“Vit, aku lapar, buatkan aku makan.” ucap Gandi sambil memakai boxernya. Savitri yang masih kelelahan hanya diam saja. Dia meringkuk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Kamu dengar aku tidak sih.” suara Gandi sudah mulai meninggi. Savitri dengan malas bangkit dari tidurnya lalu mengenakan bajunya. Dia tidak ingin ada keributan dengan suaminya. Savitri berjalan akan meninggalkan kamar tamu.


“Bawa ke sini makanannya.” teriak Gandi saat Savitri akan menutup pintu kamar. Savitri hanya bisa mengusap dadanya agar diberi kesabaran. Savitri berjalan ke dapur untuk membuatkan makanan buat Gandi. Mbak Lastri yang juga sedang bersih bersih ruangan hanya diam saja. Ingin bertanya pada Savitri tetapi bingung bagaimana menyusun kalimatnya.


Setelah selesai membuatkan makanan untuk suaminya Savitri segera membawanya ke kamar tamu agar Gandi tidak berteriak teriak lagi. Gandi makan dengan lahap dalam hitungan menit langsung habis.


“Bang.” panggil Savitri saat Gandi sudah selesai makan, agar bila Gandi tidak berkenan tidak membanting piring lagi.


“Aku mau omong sesuatu.” ucap Savitri sambil menarik piring kosong dari tangan Gandi.


“Apa? Langsung omong saja tidak usah muter muter. Jangan omong lagi masalah rumah, sudah dibilang rumahnya sedang dipinjam temanku.” ucap Gandi dengan suara lantang.


“Bang Gandi kan banyak waktu luangnya, bagaimana kalau mengurusi perusahaan almarhum Bang Ardi, membantu Arya.” ucap Savitri dengan hati hati. Karena dia hanya melihat Gandi kerjaannya hanya tidur, makan, mainan hape, nonton teve dan pergi tidak jelas juntrungnya. Jika Gandi mau ikut mengurus perusahaan almarhum suaminya lumayan ada tambahan pemasukan.


“Apa kau bilang? Ngurus perusahan Ardi? Bantuin Arya? Ha.... ha.... ha... enak aja.” ucap Gandi sambil tertawa lalu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan api lalu menghisapnya dalam dalam.


“Biar saja Arya yang ngurus, kamu tinggal enak dapat transferan tiap bulan dan bagi hasilnya. Ngapain aku harus capek capek dan pusing pusing.” ucap Gandi selanjutnya setelah membuang asap dari mulutnya.


“Tapi apa Bang Gandi mau begini terus, aku tidak enak dengan keluarga almarhum Bang Ardi. Sekarang statusku istri Bang Gandi, tetapi hidupku ditanggung oleh mereka, anak anak sekarang juga ikut mereka.” ucap Savitri sambil menatap Gandi.


“Ha... ha.... dasar manusia bodoh. Perusahaan Ardi itu sudah menjadi milikmu jadi sudah sewajarnya mereka bekerja untuk kamu.” ucap Gandi sambil menunjuk dahi Savitri.

__ADS_1


“Eh apa kamu bilang tadi, anak anakmu sekarang ikut mereka, jadi kita bulan madu lagi he... he.... Makanya kita bisa siang siang gini bermain main. Mbak Lastri anggap saja tidak ada... ha.... ha....” ucap Gandi sambil tertawa senang karena merasa tidak ada lagi anak anak yang mengganggunya. Savitri hanya diam saja. Savitri masih berpikir bagaimana caranya mendapat pemasukan.


“Sudah jangan kau atur atur aku, jangan kau suruh suruh aku. Nanti aku ganti uangmu itu.” ucap Gandi lalu memakai baju lengkap selanjutnya dia pergi meninggalkan rumah entah kemana. Savitri menatap punggung Gandi, dia masih menaruh harapan pada Gandi akan mengembalikan uangnya.


__ADS_2