Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 64. Sesi 2. Savitri Bertemu Helena


__ADS_3

Savitri tersenyum senang, dia merasa termotivasi oleh dukungan Ibu Nuning dan Pak Bagas. Apalagi melihat sosok dan keberhasilan Ibu Nuning. Savitri benar benar tidak menyangka jika Ibu Nuning adalah seorang yang seperti dirinya tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Ibu Nuning yang awak tidak memiliki pendidikan keuangan kini bisa menjadi pimpinan di bagian keuangan dan perusahan yang dipimpin Arya sekarang juga semakin berkembang.


“Yang penting kemauan dan semangat belajar ya Bu.” ucap Savitri dengan mata yang berbinar binar.


“Betul Bu Vitri dan selalu menjalin relasi yang baik dengan karyawan lain maupun teman bisnis.” ucap Pak Bagas yang juga mendukung Savitri. Setelah Savitri merasa cukup bincang bincang awalnya untuk memulai ikut terjun di perusahaan almarhum suaminya. Savitri mempersilahkan Ibu Nuning dan Pak Bagas kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Tidak lupa Savitri mengucapkan banyak terimakasih.


Mereka bertiga lalu bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju ke pintu keluar ruangan. Savitri mengantar Ibu Nuning dan Pak Bagas sampai di depan pintu. Setelah menutup pintu Savitri berjalan menuju ke meja kerja Arya. Dilihatnya Reni sekarang duduk tenang sambil menatap layar komputer sesekali jari jari mungilnya memencet mencet tuts. Ternyata Dimas membukakan foto foto dokumentasi perusahaan di mana ada foto almarhum Ardi dan juga ada foto Savitri jika sedang ada acara mendampingi Ardi.


“Om ada foto ku tidak?” tanya Reni sambil jari jari mungilnya memencet mencet tuts keyboard.


“Ren, ayo pulang Mama juga akan ke ruangan lain. Ruangan berada di lantai bawah, setelah itu kita langsung pulang.” ucap Savitri sambil mengangkat berkas berkas. Melihat hal itu Dimas langsung berjalan untuk mencarikan tas guna menaruh berkas berkas yang akan dibawa Savitri agar Savitri lebih mudah dalam membawanya.


“Ma, aku masih ingin lihat foto foto Papa.” ucap Reni pandangan matanya masih fokus di layar komputer.


“Besok kita ke sini lagi. Kalau Reni nakal Om Dimas tidak mau lagi membukakan pintu.” ucap Savitri sambil menerima tas dari tangan Dimas. Akhirnya Reni mau turun dari kursinya. Dimas membantu menurunkan tubuh Reni dari kursi kerja Arya.


“Terimakasih Om Dimas.” ucap Reni sambil tersenyum lebar. Savotei dan Reni lalu berjalan ke luar ruangan tidak lupa Reni dan Dimas saling melambaikan tangannya dengan bibir yang tersenyum lebar.


“Adik tidak usah digendong ya, Mama tidak akan meninggalkan Adik di dalam lift. “ ucap Savitri saat mereka sudah sampai di depan pintu lift.

__ADS_1


“Tapinya tanganku digandeng terus ya Ma.” ucap Reni sambil mendongak menatap wajah Mamanya.


“Iya, kalau Mama sedang tidak menggandeng tangan Reni yang pegang tangan Mama. Nih tangan Mama satunya kan sedang bawa tas berisi pekerjaan Papa Arya.” ucap Savitei lalu menggandeng tangan Reni saat pintu lift terbuka. Mereka berdua segera memasuki lift. Savitri lalu memencet tombol lantai 1. Benar saat tangan Savitri memencet tombol tangan mungil Reni yang terlepas segera memegang tangan Savitri satunya yang menenteng tas berkas pekerjaan Arya.


“Tidak usah takut Sayang, Mama tidak akan meninggalkan kamu.” ucap Savitri lalu menggandeng tangan Reni lagi. Tidak lama kemudian lift sudah di lantai yang mereka tuju. Setelah pintu terbuka Savitri yang masih menggandeng tangan Reni segera keluar dari lift. Savitri berencana akan ke ruangan Divisi HRD.


Kali ini Reni sudah tidak mau digandeng dia berjalan sendiri sambil berceloteh menceritakan tentang kebaikan Om Dimas. Dan tidak lama kemudian mereka sampai di depan ruangan Divisi HRD.


“Ren, masuk ke sini dulu.” ucap Savitri pada Reni yang sudah mendahului langkahnya.


“Oooo aku kebablasan ya Ma he.. he... “ ucap Reni sambil tertawa lebar dan lalu membalikkan tubuhnya kini berjalan mendekat Savitri yang berdiri di depan pintu ruangan Divisi HRD. Savitri mengetuk ngetuk pintu dengan pelan. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka muncul seorang karyawan bagian HRD yang sudah mengenal Savitri.


“Aku mau menemui Bapak Pimpinan Divisi HRD. “ ucap Savitri dengan sopan.


“Silahkan Bu, tunggu di dalam. Sedang ada tamu.” ucap karyawan itu lalu mengantar Savitri dan Reni duduk di sofa.


Di dalam ruangan tersebut Savitri melihat di depan meja Pimpinan Divisi HRD ada seorang wanita cantik dan seorang anak laki laki seusia Reni. Tampak dia menyerahkan berkas lamaran pekerjaan.


“Berkas nanti kami periksa ya Bu, nanti diterima atau tidaknya akan kami hubungi lewat sambungan telepon. “ ucap Bapak Pimpinan Divisi HRD dengan ramah dan sopan.

__ADS_1


“Pak tolong saya ya , saya butuh pekerjaan saya single parent ini anak saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan untuk makan dan biaya hidup juga sekolah anak saya.” ucap perempuan itu dengan penuh permohonan. Savitri yang mendengarkan sebagai sesama perempuan yang single parent merasa tersentuh hatinya. Dia juga bersyukur ditinggal suaminya tetapi dilimpahi banyak rejeki. Tidak membayangkan jika punya anak suami tidak ada dan tidak memiliki pekerjaan bagaimana menghidupi diri dan anak anaknya.


“Iya Bu, semua kami proses sesuai prosedur. Sabar ya.” ucap Bapak Pimpinan Divisi HRD itu lagi.


“Pak, saya kenal baik Pimpinan Perusahaan ini. Saya sudah meminta katabelece tetapi hapenya masih belum aktif.” ucap perempuan itu lagi.


DEG. Jantung Savitri berdetak lebih kencang. Kenal dengan Pimpinan Perusahaan, siapa yang dimaksud Ardi atau Arya. Hape Bang Ardi memang masih di non aktifkan oleh Savitri.


“Maaf Bu, tetap sesuai prosedur rekruitmen karyawan di perusahaan kami. Bapak Pimpinan tidak mengijjkan ada katabelece. Silahkan Ibu menunggu hasilnya. Jika Ibu tidak sabar silahkan diambil lagi berkasnya dan bisa Ibu serahkan di perusahaan lain.” ucap Bapak Pimpinan Divisi HRD itu lagi


“Saya sabar Pak, tapi tolong cepat diproses ya... perut anak saya tidak bisa diajak menunggu jika lapar.” ucap perempuan cantik itu sambil merangkul anak laki lakinya.


Savitri dan Reni yang duduk di sofa mendengar semua ucapan perempuan itu. Savitri menduga duga siapa perempuan cantik itu.


“Ma kasihan ya dia lapar tidak punya uang.” bisik Reni di telinga Savitri lalu pandiangan matanya menatap wajah anak laki laki itu. Anak laki laki itu pun memandang wajah Reni.


“Iya Bu, iya silahkan Ibu sekarang pulang. Sudah ada tamu lain yang menunggu. “ ucap Bapak Pimpinan Divisi HRD sambil menoleh ke arah Savitri. Savitri pun menganggukkan kepalanya dengan sopan sambil tersenyum. Perempuan itu juga menoleh ke arah Savitri dan melihat tas berkas yang dibawa Savitri juga melihat ke arah Reni. Ekspresi tidak suka terlihat di wajah perempuan itu yang tidak lain adalah Helena. Karena mengira Savitri sama dengan dirinya seorang single parent yang sedang melamar kerja membutuhkan uang untuk hidup.


“Jangan karena dia lebih cantik dan muda terus diterima.” ucap perempuan itu lalu bangkit berdiri. Bapak Pimpinan Divisi HRD hanya tersenyum datar.

__ADS_1


__ADS_2