
“Pak...” teriaknya lagi dengan suara lebih keras, karena Gandi mengabaikan panggilannya. Gandi lalu menoleh Dilihatnya suami Anisa berdiri di depan pintu pagar.
“Apa?” ucap Gandi dengan malas. Karena niatnya akan segera masuk ke kamar Savitri tertunda.
“Bagaimana kabar Bu Vitri? Saya baru pulang kerja, cuma diberi kabar oleh istri saya kalau Bu Vitri masuk rumah sakit. Istri saya menengok ke rumah sakit langsung dari tempat kerjanya.” ucap suaminya Anisa yang masih berdiri di depan pagar. Gandi hanya diam saja tidak tahu mau jawab apa, sebab dirinya juga belum ke rumah sakit.
“Kalau Pak Gandi mau balik ke rumah sakit nanti saya ikut biar saya bonceng Pak Gandi. Nanti pulang saya dengan motor istri saya... atau naik mobil saya sekarang, nanti pulangnya Pak Gandi yang bawa motor istri saya, tapi saya juga tidak enak dengan Pak Gandi.” ucap suaminya Anisa lagi
“Aku besok sekarang aku mau istirahat capek.” ucap Gandi lalu segera membuka kunci pintu utama rumah Savitri. Gandi terus melangkah menuju ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar Savitri.
Gandi langsung memegang megang dan menarik narik pintu lemari Savitri. Setan sudah menguasai seluruh hati Gandi.
“Bener kata dia congkel saja lemari ini tetapi sepertinya sangat kuat lemari ini.” gumam Gandi sambil menarik narik pintu lemari. Gandi lalu berjalan menuju ke dapur untuk mencari alat yang sekiranya bisa untuk mencongkel namun tidak di dapat. Dia lalu berjalan menuju ke ruang gudang, setelah membuka pintu gudang Gandi mencoba menekan saklar lampu ternyata lampu mati, kondisi gudang yang gelap membuat Gandi tidak bisa melihat apapun di dalam gudang tersebut, entah kenapa bulu kuduk Gandi juga terasa meremang berdiri. Gandi lalu dengan segera meninggalkan tempat itu.
“Pakai apa ya..” gumam Gandi lalu dia teringat akan peralatan yang berada di bagasi motor Savitri. Dia terus berjalan menuju ke arah motor Savitri. Dengan segera dia membuka bagasi motor Savitri. Saat bagasi dibuka dia baru teringat.
“Sial, dipinjam Sompret belum dikembalikan.” umpat Gandi saat teringat alat yang berada di bagasi motor Savitri dipinjam oleh teman nongkrong nongkrongnya dan belum dikembalikan. Gandi lalu duduk duduk di teras sambil merokok dan mengusap usap hapenya.
Sementara itu di rumah Oma dan Opa, Reno dan Reni terus meminta untuk pergi ke rumah sakit ingin menjaga Mamanya. Saat Arya pulang ke rumah kedua anak itu selalu mengikuti Arya kemana pun Arya pergi. Mulut mungilnya tidak henti henti menanyakan kabar Mamanya dan minta Arya mengantar mereka ke rumah sakit.
__ADS_1
“Sabar ya Sayang... Papa istirahat dulu.” ucap Arya sambil merebahkan badannya di tempat tidur. Reno dan Reni pun ikut naik ke tempat tidur Arya.
Sedang di kamar yang lain, Opa mendapat telpon dari Kakek yang mengatakan kalau Savitri ingin bertemu dengan Reno dan Reni dan juga Kakek mengatakan kalau Savitri sedang hamil.
“Savitri itu kok tidak pakai alat kontrasepsi sudah tahu suaminya sekarang seperti itu. Coba besok kalau anaknya lahir siapa yang ngurus biayanya. Apa ya kita lagi.” ucap Oma setelah diberitahu oleh Opa.
“Siapa tahu dengan adanya anak dia jadi sadar dengan kelakuannya Ma.” ucap Opa berusaha untuk berpikir positif.
“Eleh sadar apa, dia kan juga sudah punya anak dari istri pertamanya. Malah pergi meninggalkan dan mencari istri muda yang kaya. Kalau Savitri sudah tidak punya harta dia juga akan ditinggal.” saut Oma.
“Tapi janinnya tidak salah Ma, bagaimanapun itu ciptaanNya Ma. Oma kalau belum siap di rumah saja. Biar aku yang mengantar cucu cucuku menemui Mamanya.” ucap Opa sambil menatap Oma yang paham kalau Oma masih kesal.
“Ya sudah Opa saja. Aku itu mikir ke depan kalau anak Savitri yang sekarang kelakuannya sepeti Bapaknya gimana coba, pasti akan merepotkan Reno dan Reni.”
“Terus maksud Opa biar Arya lagi yang mendidik gitu... Papa itu kenapa tidak kasihan pada Arya.”
“Sudah sudah kenapa kita malah jadi ribut sendiri dengan masalah yang belum pasti. Kalau Oma belum siap, di rumah saja.” ucap Opa lalu beliau meninggalkan Oma di kamar sendirian. Opa berjalan mencari kedua cucunya. Opa membuka pintu kamar cucunya. Sepi tidak terlihat tubuh tubuh mungil cucunya yang selalu bisa menghibur hatinya. Kakek masuk ke dalam melihat apa mereka berdua sedang bermain duduk di karpet terhalang oleh lemari mainan mereka. Namun tetap tidak ada. Opa lalu berjalan menuju ke kamar Arya. Dibuka pelan pelan pintu kamar Arya. Terlihat Arya sudah tertidur dan kedua keponakannya berbaring di sisi kanan kirinya sambil memeluk tubuh Arya. Pelan pelan Kakek mendekat untuk melihat apa kedua cucunya juga tertidur. Ternyata tidak mata Reno dan Reni terbuka dan sesekali berkedip kedip.
“Kakak dan Adik mau ikut Opa tidak?” tanya Opa pelan. Reno dan Reni lalu mengangkat kepalanya menoleh ke arah Opa.
__ADS_1
“Aku dan Adik mau nunggu Papa Arya mau ikut ke rumah sakit jagain Mama.” jawab Reno Opa lalu duduk dan membelai kedua kepala cucunya itu.
“Opa mau ke rumah sakit mau menengok Mama kalian.” ucap Opa sambil menatap sendu kedua cucunya.
“Benar Opa?” tanya Reno dan Reni lalu duduk sambil menatap Opa dengan mata berbinar. Opa mengangguk.
“Horeeeee.” teriak mereka berdua dengan keras sampai membangunkan Arya. Lalu kedua anak itu digendong oleh Opa menuju ke mobil Opa.
Di sepanjang perjalanan Reno dan Reni menyuruh Opa mempercepat laju mobilnya katanya biar segera sampai ke rumah sakit. Sedangkan Opa sedang berpikir bagaimana caranya menyampaikan kabar kalau Mama mereka di dalam perutnya sedang ada janin.
“Kak, Dik... nanti kalau memeluk perut Mama jangan keras keras ya.” ucap Opa.
“Iya Opa, apa perut Mama masih sakit?” tanya Reno.
“Iya, meskipun nanti kalau Mama sudah boleh pulang tetap harus hati hati kalau peluk perut Mama, sebab ada adiknya.” jawab Opa
“Horeeeeee.” teriak Reno dan Reni bersamaan, jiwa polos mereka bahagia karena akan mendapatkan adik, mereka belum bisa memikirkan itu benih dari siapa. Yang ada jiwa polos mereka bahagia adanya kehidupan baru.
“Aku akan jaga adik itu Opa, aku ingin adik cowok biar buat teman aku.” ucap Reno sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
“Aku mau cewek buat teman aku.” saut Reni.
“Cowok atau cewek sama saja bisa buat teman kalian berdua. Tuh kita sudah sampai..” ucap Opa sambil dagunya menunjuk ke depan memperlihatkan gedung rumah sakit sudah berada di depan mereka.