Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 82. Sesi 2. Tidak Menduga


__ADS_3

“Hel, kamu keterlaluan!” suara Arya dengan nada tinggi.


“Ha... ha... ha... ha... keterlaluan kamu bilang?” ucap Helena mengandung nada bertanya sambil tertawa dan memandang Arya.


“Itu kamu bilang buat kamu sendiri Ya, kamu sudah menjadi pimpinan perusahaan tetapi tidak mau memberi aku yang mantan kekasihmu sebuah pekerjaan padahal aku sangat membutuhkan itu untuk hidupku dan hidup anakku. Itu yang namanya keterlaluan.” ucap Helena sambil terus menatap Arya dengan tatapan tajam. Dia sudah kepalang basah dari pada hanya ancaman buat pak Slamet sekalian ancaman buat perusahaan. Setelah dia tahu kalau pemilik perusahaan adalah seorang perempuan pasti akan keder jika diancam.


“Aku sudah tidak ada urusan dengan kamu. Masa lalu adalah masa lalu. Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu kalau mau melamar pekerjaan lewat peraturan yang sudah ditentukan oleh perusahaan.” ucap Arya


“Hmmm masa lalu adalah masa lalu sesuatu kalimat yang mudah diucapkan. Namun aku percaya di dalam memori otakmu pasti ada kenangan kenangan manis bersama aku, pasti masih ada memori malam malam romantis kita dulu, saat di kampus saat...” ucap Helena sambil tersenyum berusaha mengingatkan Arya akan masa lalu nya dan berusaha membuat Savitri cemburu dan marah pada Arya.


“Cukup, diam kamu!” bentak Arya pada Helena, dia tidak mau mengungkit ungkit masa lalu, dan kuatir akan membuat Savitri ilfil dengannya padahal dia baru tahap pendekatan.


“Okey silahkan kamu kalau akan melaporkan, aku tunggu laporan kamu itu.” ucap Arya selanjutnya menanggapi ancaman Helena, toh nanti bisa diurus dengan pengacara.


“Arya kamu menerima tantangan ku, Sudah kamu pikir masak masak. Kamu tidak kasihan dengan kekasih hatimu yang cantik dan lembut ini jika nanti harus berurusan dengan hukum ?” ucap Helena sambil tersenyum licik.


“Aku memang tidak punya uang buat membayar pengacara. Tetapi aku bisa meminta bantuan organisasi masyarakat yang akan dengan suka rela pasti akan mau membantu aku yang seorang perempuan single parent yang menjadi korban.” ucap Helena dengan nada serius sambil menatap wajah Arya dan Savitri.


“Bu, maaf saya menengahi, kita pikirkan kesehatan Keynan dulu, setelah Keynan sehat dan sudah keluar dari rumah sakit, kita bicarakan kembali dengan kepala dingin.” ucap Savitri yang tidak mau ribut di rumah sakit sebab sudah banyak mata memandang ke arah mereka bertiga.


“Saya juga seorang ibu, pasti Bu Helena juga memikirkan kesehatan anak lebih dulu, masalah pekerjaan kan bisa dicari setelahnya, bukannya Bu Helena juga sudah mendapatkan uang ganti kerja selama menunggu Keynan di rumah sakit.” ucap Savitri selanjutnya mengingatkan pada Helena akan kesehatan anak yang utama.

__ADS_1


“Hmm okey aku terima.” ucap Helena.


“Sudah ayo kita pulang....” ucap Arya menganggukkan kepala menatap Savitri sambil memegang tangan Savitri dengan lembut. Dia sudah merasa pantatnya pantas ingin segera pulang. Arya bangkit dari tempat duduknya lalu diikuti oleh Savitri. Arya tidak pamit dengan Helena sedangkan Savitri tidak sampai hati jika langsung pergi berlalu begitu saja. Savitri pamit pada Helena dan Helena menjawab dengan senyuman datar.


Helena lalu masuk ke dalam kamar rawat Keynan. Dia duduk di kursi sambil memegang pelipisnya. Meskipun dia terlihat kuat di depan Arya dan Savitri namun di dalam hatinya dia sungguh sangat cemburu dan iri hati melihat Savitri yang mendapatkan perlakuan mesra dan lembut dari Arya. Niatnya untuk kembali mendapatkan hati Arya terhalang oleh perempuan yang kini selalu dekat dengan Arya apalagi pemilik perusahaan tempat Arya bekerja.


“Padahal dia sudah punya anak, dan Arya mau dengannya. Informasi yang aku dapat Arya adalah pimpinan perusahaan aku kira dia juga pemilik perusahaan itu.” gumam Helena dalam hati


“Hmm apa Arya mau dengan perempuan sudah punya anak karena demi uang dan jabatan.” gumam Helena lagi


“Andai orang tuaku masih mau menerima aku, aku juga anak orang kaya, Arya pasti juga mau menerima aku meskipun ada Keynan.” Pikir Helena.


“Bagaimana caranya agar mereka mau menerima aku.” gumam Helena sambil berpikir pikir. Namun lamunan Helena buyar karena mendengar suara Keynan yang sudah bangun dari tidurnya.


“Mana Daddy Tampan dan Tante Peri?” tanya Keynan saat sudah tidak melihat sosok Arya dan Savitri.


“Tante Peri?” tanya Helena menatap Keynan sambil mengeryitkan dahinya.


“Iya, dia yang tadi datang dengan Daddy Tampan dia seperti Ibu Peri di cerita yang aku baca, baik dan lembut suaranya.” jawab Keynan dengan nada serius.


“Sudah pulang.” jawab Helena singkat.

__ADS_1


“Mami mana uang buat Keynan, pasti Daddy Tampan memberi uang Keynan lagi dan uangnya dibawa Mami.” ucap Keynan kemudian sebab dia mengira Arya akan memberi uang lagi.


“Tidak ada uang.” ucap Helena dengan ketus.


“Mami bohong ... Mami bohong..” teriak Keynan sambil tangan satunya yang tidak sakit memencet tombol darurat di tempat tidurnya untuk memanggil perawat, dia sudah diberi tahu oleh perawat jika perlu dengan perawat bisa memencet tombol tersebut.


“Keynan! Kamu jangan nakal ya!” teriak Helena sambil melepas tangan mungil Keynan yang terus memencet tombol darurat.


“Mami yang nakal, Mami yang nakal...” teriak Keynan dan tidak lama kemudian dua perawat membuka pintu dengan tergesa gesa dan segera datang menunu ke tempat tidur Keynan.


“Ada apa Bu?” tanya perawat sambil memegang tubuh Keynan untuk melihat sesuatu apa yang terjadi pada diri Keynan.


“Mami mengambil uangku.” ucap Keynan sambil menatap wajah perawat untuk minta bantuan. Dua perawat itu terlihat geleng geleng kepala.


“Bu, tolong berikan uang dia, jangan buat emosinya tidak stabil akan mengganggu proses penyembuhannya.” ucap satu perawat itu. Helena menatap tajam ke wajah Keynan yang terlihat tersenyum senang. Lalu Helena mengambil dompetnya dan menyerahkan uang ganti dari Pak Slamet kepada Keynan agar kedua perawat itu segera pergi.


Sementara itu Arya dan Savitri terus berjalan meninggal rumah sakit menuju ke tempat mobilnya terparkir. Arya membukakan pintu buat Savitri. Setelah Savitri memasuki mobil Arya lalu menutup pintu mobil tersebut. Dia segera berjalan memutari mobil bagian depan lalu dengan cepat dia membuka pintu mobil untuk dirinya dan dia pun segera masuk ke dalam mobil.


Arya menyalakan mesin mobil lalu dia menjalankan mobil dengan pelan pelan keluar dari halaman rumah sakit. Mobil terus melaju di jalan raya menuju ke rumah Opa dan Oma.


Mereka berdua terdiam sibuk dengan pikirannya masing masing. Suasana hening di malam mobil berbeda dengan saat berangkat tadi Arya yang terus tersenyum dan sesekali menoleh ke arah Savitri kali ini pandangan Arya terus fokus ke arah depan.

__ADS_1


Pikiran Arya bercabang cabang, memikirkan ancaman Helena yang akan mengandalkan pada bantuan dan kekuatan organisasi masyarakat. Dia tidak menyangka jika Helena mempunyai ide seperti itu. Dan Arya juga memikirkan Savitri apa dia terpengaruh oleh ucapan ucapan Helena dan Keynan. Belum lagi pikiran Arya akan pekerjaannya yang menumpuk meskipun ada beberapa pekerjaan dibawa ke rumah tetapi itu hanya sebagian kecil saja. Masih banyak pekerjaan tertunda karena dia ijin sakit.


__ADS_2