Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 73. Sesi 2. Kesempatan


__ADS_3

Arya yang sudah kuatir kalau Pak Slamet mengalami kecelakaan apalagi kecelakaan itu terjadi di lokasi perusahaannya dan ditambah yang ditabrak adalah seorang anak kecil, anak dari tamu perusahaannya. Arya semakin kuatir. Terdengar suara Arya yang kuatir membuat Savitri yang sedang serius mempelajari data data klien pun kini menoleh ke arah Arya dan ikut mendengarkan pembicaraan Arya dengan Dimas di sambungan telepon


“Sekarang dimana Pak Slamet, dengan siapa dia?” tanya Arya pada Dimas


“Tadi masih membawa korban ke rumah sakit bersama orang tuanya. Tetapi saya belum tahu di rumah sakit mana.” jawab Dimas.


“Sekarang kamu susul Pak Slamet, kamu ikut bantu dia dalam mengurus semua, seluruh biaya ditanggung oleh perusahaan. Pasti Pak Slamet bingung. Sebisa mungkin kita urus secara kekeluargaan.” perintah Arya pada Dimas.


“Baik Pak.” jawab Dimas.


“Nanti kamu yang antar semua berkas berkas yang harus aku kerjakan ke rumah. Biar Pak Slamet jangan diberi pekerjaan dulu, biarkan dia istirahat.” ucap Arya selanjutnya. Setelah Dimas mengiyakan apa yang diperintahkan Arya memutus sambungan teleponnya.


“Apa yang terjadi Pak?” tanya Savitri dengan nada kuatir juga, sambil menatap ke wajah Arya.


“Pak Slamet mengalami kecelakaan, menabrak anak seorang tamu perusahaan . Untung Kak Vitri tidak jadi ikut Pak Slamet ke perusahaan. “ jawab Arya sambil menyentuh pelan pundak Savitri. Savitri tampak kaget dengan tangan Arya yang tiba tiba mendarat di pundaknya dengan sentuhan lembut. Arya pun dengan segera menarik kembali tangannya


“Tanganku kenapa tiba tiba ingin menyentuhnya.” gumam Arya dalam hati dia sendiri heran kenapa sekarang bagai ada magnet di tubuh Savitri.


Sementara itu mobil Pak Slamet yang sudah sampai di rumah sakit. Langsung berhenti di depan pintu masuk rumah sakit.

__ADS_1


“Bu, tolong bawa anak ini masuk ke dalam, didaftar dulu biar cepat masuk ke ruang periksa.” ucap Pak Slamet saat sudah menghentikan mobilnya.


“Hei, kamu jangan lari dari tanggung jawab ya, aku tidak punya uang buat biaya rumah sakit. Kalau kamu lari aku laporkan kamu ke kantor polisi.” ucap Helena dengan nada tinggi sementara Keynan masih terus mengaduh kesakitan.


“Tidak Bu, saya tidak akan lari, saya akan parkir mobilnya dulu. Nanti saya nyusul Ibu. Siapa nama anak Ibu.” ucap Pak Slamet dengan nada kuatir, dia sudah kuatir dengan kondisi anaknya masih ditambah ancaman akan dilaporkan pada polisi. Tangan Pak Slamet sampai terlihat gemetar.


“Keynan.” saut Keynan dengan cepat.


“Ayo Mam cepat, sakit Mam....” rintih suara Keynan lagi. Helena lalu cepat cepat membuka pintu dan mengendong Keynan menuju ke tempat pendaftaran pasien. Helena memang kuatir jika Pak Slamet akan meninggalkannya karena dia sudah membayangkan biaya rumah sakit yang pasti akan menambah pengeluaran padahal belum ada pemasukan.


Dengan segera Helena mendaftar Keynan. Meskipun dia kadang kesal dengan Keynan namun dia juga kuatir dengan kondisi Keynan. Keynan memang termasuk anak yang kuat karena sering dia marahi, perjuangan buat hidup pada diri Keynan memang bisa terbilang berat. Tidak terasa air mata Helena meleleh. Setelah mendaftar Helena membawa Keynan ke ruang periksa. Tenaga medis mengamati seluruh tubuh Keynan apalagi yang dikeluhkan sakit oleh Keynan. Lalu mereka membersihkan yang luka dan melakukan tindakan awal memberikan suntikan pereda rasa nyeri. Dan selanjutnya melakukan foto rontgen pada tubuh Keynan . Tidak lama kemudian hasil foto rontgen sudah keluar. Dokter mengamati hasil foto rontgen tersebut.


“Bagaimana Dok?” tanya Helena pada Dokter


“Ada tulang yang retak, tapi Ibu tenang saja karena masih anak anak akan segera pulih. Luka lukanya hanya lecet lecet saja.” ucap Dokter. Helena tampak kaget namun segera memahami mungkin pundak Keynan yang mendapat benturan yang retak, untung dia gandeng tadi tangan Keynan jadi jatuhnya tidak begitu kuat karena ada pegangan tetapi dia tidak sempat menopang hingga jatuh dan menimbulkan lecet, makanya Keynan mengaduh sakit di pundak dan tangannya.


“Silahkan Ibu menunggu di luar. Kita akan melakukan tindakan buat anak Ibu.” ucap Dokter selanjutnya. Helena lalu keluar dari ruang periksa. Tampak tenaga medis membawa Keynan ke dalam ruangan gawat darurat. Helena mengikuti brankar yang didorong oleh tenaga medis.


Helena menunggu di depan ruangan gawat darurat dan tidak lama kemudian muncul sosok Pak Slamet dengan wajah penuh kekuatiran apalagi mendapat informasi dari bagian pendaftaran kalau Keynan berada di ruang gawat darurat.

__ADS_1


Sedangkan Helena di dalam hati tersenyum licik saat melihat kekuatiran di wajah Pak Slamet.


“Hmmm aku harus manfaatkan baik baik kejadian ini. Kali ini memang Keynan akan menjadi jalan buat aku bisa bekerja di perusahaan Arya. Orang tua ini yang akan aku ancam.” gumam Helena dalam hati. Lalu dia mulai terisak isak menangis.


“Bu, bagaimana keadaan Keynan?” tanya Pak Slamet dengan hati hati sambil menatap wajah Helena takut takut.


“Anak saya parah tulangnya patah, dia anak saya satu satunya. Bapak sudah menghancurkan masa depannya, menghancurkan hidup saya.” ucap Helena dengan terisak isak.


“Maaf Bu, tapi Ibu juga salah kenapa tidak lewat di jalan yang untuk pejalan kaki.”


“Tapi kalau saya laporkan ke polisi tetap mobil yang salah.” ucap Helena dengan nada ketus tidak mau disalahkan. Tampak Pak Slamet sangat bingung dan takut.


“Bu, kita musyawarah kita bicarakan dengan cara kekeluargaan, saya siap bertanggung jawab sampai Keynan sembuh total.” ucap Pak Slamet. Tampak Helena terdiam akan tetapi dalam hati dia tersenyum merasa akan berhasil dia memanfaatkan situasi.


“Pak tolong pikirkan juga selama saya menjaga Keynan saya tidak bisa bekerja, padahal saya juga butuh makan uang kontrakan juga harus dibayar terus meskipun saya di rumah sakit.”


“Iya iya Bu.. saya nanti juga kasih uang ganti buat Ibu.” ucap Pak Slamet , dia yang dipikirkan saat ini keselamatan korban dan dia tidak berurusan dengan polisi. Tidak lama kemudian hape Pak Slamet berdering. Pak Slamet yang tangannya masih gemetar mengambil hape dari sakunya tampak ada nama kontak Dimas di layar Hapenya. Dengan segera Pak Slamet menerima panggilan suara dari Dimas. Dimas menanyakan Pak Slamet mengantar di rumah sakit mana. Pak Slamet menjawab dimana rumah sakit tempat dia berada dan juga di ruang mana dia menunggu korban.


Setelah selesai memberi tahu kepada Dimas, Pak Slamet memasukkan kembali hapenya di saku bajunya. Helena mendengar pembicaraan Pak Slamet dengan lawan bicara lewat sambungan telepon. Helena bisa menduga kalau Pak Slamet sedang bicara dengan pejabat penting di perusahaan Arya, bahkan Helena berharap yang menelpon itu adalah Arya dan Arya akan datang ke rumah sakit. Jika memang itu benar Helena akan semakin mengambil kesempatan dalam kejadian ini.

__ADS_1


__ADS_2