
Pak Slamet duduk di kursi di depan ruang unit gawat darurat agak berjauhan dengan Helena. Wajah Pak Slamet tampak sangat kusut. Dia takut harus mengeluarkan banyak biaya untuk rumah sakit dan juga uang ganti buat Helena, karena tidak bisa bekerja sebab harus menunggu di rumah sakit. Padahal keluarga Pak Slamet di kampung juga membutuhkan kiriman uang untuk keperluan hidup dan sekolah anak anaknya. Tetapi dia juga berpikir jika tidak menuruti Helena pasti akan dibawa ke ranah hukum, dia harus bolak balik ikut sidang dan pasti juga keluar uang. Belum lagi kalau di tahan, dia tidak bisa bekerja tambah membuat pusing keluarganya, belum lagi mendapat status baru sebagai seorang narapidana pasti akan kesulitan untuk mengurus surat surat penting.
Sedangkan Helena tampak tersenyum menang. Setelah Pak Slamet menyanggupi biaya rumah sakit dan uang ganti dia selama menunggu Keynan. Helena berpikir bagaimana bisa bekerja di perusahaan Arya. Dia terlihat merapikan baju dan rambutnya.
Beberapa menit kemudian Pak Slamet bangkit berdiri saat melihat sosok Dimas berjalan menuju ke arahnya. Dimas terlihat membawa satu kotak pizza dan satu keranjang buah buahan. Memang begitu kebiasaan perusahaan Arya jika menjenguk kolega yang sakit di rumah sakit membawa makanan dan satu keranjang buah buahan. Melihat Pak Slamet yang berdiri Helena menoleh ke arah Pak Slamet, dan saat melihat Pak Slamet menatap sosok laki laki muda yang keren sambil membawa buah tangan. Helena pun ikut berdiri.
“Pak Slamet, bagaimana kabar terakhir kondisi korban?” tanya Dimas saat sudah di depan Pak Slamet.
“Masih di dalam Pak Dimas, sedang dilakukan tindakan.” Jawab Pak Slamet.
“Mana orang tua korban?” tanya Dimas. Sebelum Pak Slamet menjawab Helena sudah mendekat dan mengulurkan tangannya pada Dimas tidak lupa dia memberikan senyuman manisnya dan menyebutkan namanya. Padahal jaman dia belum mendapatkan musibah dia jarang sekali tersenyum pada orang lain apalagi orang yang belum dikenalnya. Pada teman dan tetangga saja kalau berpapasan hanya memberikan wajah datar dan kaku.
“Ooo Bu Helena, saya mewakili Perusahaan mengucapkan mohon maaf yang sebesar besarnya, atas musibah ini. Semoga anak Ibu Helena segera pulih kesehatannya.” ucap Dimas sambil memberikan buah tangannya.
“Iya Pak, namanya juga musibah, tidak seorangpun tahu akan terjadi dan tidak menginginkan. Terima kasih atas perhatiannya.” ucap Helena dengan sangat manis sambil menerima buah tangan dari Dimas.
__ADS_1
Mereka bertiga lalu duduk di kursi tunggu itu sekarang posisi mereka duduk berdekatan. Karena Dimas akan menympaikan sesuatu pada mereka .
“Bu Helena, kemudian sebagai bentuk permohonan maaf kami dan rasa tanggung jawab kami, semua biaya rumah sakit ditanggung oleh perusahaan. Karena kecelakaan terjadi di lokasi perusahaan dan juga karena Pak Slamet merupakan karyawan senior kami, jadi tidak memakai uang pribadi Pak Slamet.” ucap Dimas sambil menatap Helena dan Pak Slamet secara bergantian.
“Benarkah Pak Dimas?” tanya Pak Slamet sambil menatap Dimas dan Dimas memandang Pak Slamet sambil menganggukan kepalanya.
“ Terimakasih Pak...” ucap Pak Slamet kemudian sambil tersenyum dan terlihat wajah kusutnya pelan pelan mulai pudar dan kini sudah terbit ekspresi senyuman menghiasi di wajahnya.
“Pak, saya juga mengucapkan terima kasih. Tetapi tadi Pak Slamet sudah sepakat juga memberi uang ganti buat saya. Kalau itu dibatalkan saya akan tetap melaporkan pada polisi kasus ini.” ucap Helena dengan nada serius dan memberi penekanan pada kalimat melaporkan pada polisi.
“Uang ganti apa Bu?” tanya Dimas.
“Bu tetap akan saya bayar uang ganti Ibu yang tidak bisa bekerja selama di rumah sakit. Tapi tolong jangan laporkan pada polisi cukup kita damai saja.” ucap Pak Slamet dengan nada kuatir.
“Tidak cukup itu saja. Saya minta ganti atas peluang pekerjaan saya yang telah hilang gara gara kasus ini.” ucap Helena dengan nada serius, tetapi di dalam hati dia tersenyum.
__ADS_1
“Baiklah Bu, untuk masalah itu nanti akan saya bicarakan dengan Pak Arya.” ucap Dimas yang tidak tega melihat wajah Pak Slamet dan juga sudah dipesan oleh Arya kalau masalah ini diselesaikan dengan kekeluargaan.
“Kenapa bukan Pak Arya yang datang langsung ke sini?” tanya Helena sambil menatap tajam ke arah Dimas.
“Maaf Bu, Pak Arya sedang sakit. Dan juga masalah menengok kolega sakit memang tidak harus Pak Arya sendiri yang datang.” jawab Dimas
“Baiklah Bu, masih ada banyak hal yang harus saya kerjakan, saya pamit semoga anak Ibu cepat sembuh. Pak Slamet yang akan masih menunggu di sini.” ucap Dimas selanjutnya..Tampak Dimas bangkit berdiri dan menarik tangan Pak Slamet untuk diajak turut serta melangkah agak menjauh dari tempat duduk Helena.
“Pak, kalau uang ganti tidak bisa ditanggung perusahaan biar pakai uang pribadi saya tidak apa apa Pak. Saya sudah senang biaya rumah sakit ditanggung oleh perusahaan. Yang penting saya tidak ada urusan dengan polisi Pak, saya takut ditahan.” ucap Pak Slamet dengan nada serius tetapi dengan suara sangat pelan agar tidak didengar oleh Helena.
“Nanti saya bicarakan dengan Pak Arya. Pak Slamet hari ini tidak usah bekerja dulu tungguin korban dan istirahat. Nanti saya yang akan ke rumah Pak Arya mengantar berkas berkas yang harus ditanda tangani Pak Arya, sekaligus nanti membicarakan masalah ini.” ucap Dimas sambil terus berjalan di samping Pak Slamet.
“Ayo Pak antar ke ruang administrasi saya membutuhkan data korban.” ucap Dimas lalu mereka berjalan menuju ke ruang administrasi rumah sakit.
Sementara Helena yang masih duduk, mengambil satu buah apel merah jambu yang berada di keranjang buah oleh oleh dari Dimas. Dia menggigitnya sambil tersenyum dan menatap punggung Dimas dan Pak Slamet yang ber jalan semakin menjauh.
__ADS_1
“Hmmm apakah musibah ini bisa menjadi berkah buatku.” gumam Helena dalam hati sambil mengunyah kapalnya.
“Keynan kamu kali ini benar benar anak Mami.. kamu sakit dulu Nak.. Mami yang akan berpikir untuk mencari cara agar dalam musibah ini kita mendapat jalan untuk hidup senang... Aku sudah bosan bekerja serabutan, capek capek uang tidak seberapa, kamar sempit di pemukiman kumuh... Dan... ha....ha.... sudah lama aku tidak menikmati pizza mahal ini juga buah buah segar dan mahal mahal seperti ini.” gumam Helena dalam hati lagi, lalu dia memetik satu buah anggur merah tanpa biji yang berada di keranjang buah dan memasukkannya ke dalam mulutnya.