
Sesuai rencana, Arya dan Savitri akhirnya sudah mengambil cincin pesanan mereka. Arya dan Savitri puas dengan hasilnya. Arya dan Savitri saling menatap sambil tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan dan pemilik toko perhiasan itu mereka berdua langsung pamit dan segera menuju ke mobilnya untuk segera pulang, agar kedua anaknya tidak lagi protes karena terlalu lama menunggu.
Saat mobil Arya sudah memasuki halaman rumah Opa dan Oma, hari masih terang. Arya segera mematikan mesin mobilnya dan saat dia membuka kan pintu mobil, pintu rumah Oma dan Opa pun terbuka kini yang muncul adalah sosok Oma di depan pintu.
Savitri pun segera membuka pintu mobil di samping tempat duduknya tidak menunggu Arya yang membukakan. Mereka berdua segera berjalan menuju ke pintu rumah.
“Apa sudah kalian ambil?” tanya Oma saat mereka berdua sudah berada di depan pintu.
“Kok kalian sudah sampai di rumah jam segini?” tanya Oma lagi.
“Sudah Ma.” jawab Arya dan Savitri secara bersamaan lalu mereka berdua secara bergantian memberi salam dan mencium punggung telapak tangan Oma.
“Aku sudah menghubungi Nenek, besok hari Sabtu acara lamarannya.” ucap Oma sambil menutup pintu lalu mereka bertiga berjalan masuk ke dalam.
“Ma, terus saya harus pulang ke rumah orang tua saya dulu?” tanya Savitri sambil berjalan di samping Oma.
“Tidak usah tidak apa apa, semua di siapkan dari sini saja. Biar tidak bolak balik. Besok saja kalau pernikahannya baru kamu pulang dulu ke rumah orang tuamu.” jawab Oma sambil terus berjalan.
“Baru ini ya Ma belum dilamar sudah tinggal serumah, saat lamaran pengantin perempuan nya satu mobil dengan pengantin pria dari rumah pihak pengantin pria he...he...” ucap Savitri sambil tertawa kecil.
“Tidak apa apa, kata Nenek hanya kerabat dekat dan Pak er te yang diundang. Dari sini juga hanya pak er te dan beberapa pengurus saja.”
__ADS_1
“O Ma, saya kabari Anisa ya, entah dia bisa datang tidak tapi sepertinya belum menjelang kelahiran anaknya. Kalau dia bisa datang saya ikut mobil Anisa saja.” ucap Savitri
“Iya Anisa diundang. Tapi masalah mobil gampang nanti bisa diatur.” ucap Oma, lalu Oma meminta cincin mereka yang sudah diambil dari toko perhiasan. Savitri lalu mengambil kotak perhiasan yang tadi dia taruh ke dalam tasnya. Dengan segera dia menyerahkan kotak perhiasan itu pada Oma. Oma pun dengan cepat membuka kotak perhiasan itu karena sudah tidak sabar ingin melihatnya. Arya yang juga masih berdiri di ruang keluarga itu tersenyum ingin melihat bagaimana ekspresi dan komentar dari Oma.
“Wow, bagus ini Ya bagus sekali. Aku juga jadi pengen kamu pesankan cincin seperti ini.” ucap Oma sambil tersenyum lebar.
“Ya sudah aku simpan ini ya Vit.” ucap Oma lalu dia berjalan menuju ke kamarnya sambil membawa kotak Perhiasan itu.
Arya lalu memeluk pundak Savitri, dia mencium puncak kepala Savitri lalu mereka berdua pun berjalan menuju ke kamarnya masing masing.
Sedangkan di lain tempat, di mess perusahaan Helena sudah mendapatkan kunci mess. Dia juga mendapat informasi dari bagian administrasi mess kalau Helena ditempatkan di bagian produksi di divisi kemasan. Tentu saja Helena terlihat kaget dan tidak percaya dia diterima kerja hanya sebagai karyawan biasa. Apalagi setelah tahu lokasi tempat kerjanya di tempat lain tidak satu lokasi dengan Arya.
“Sial benar ternyata mereka pintar juga. Menaruhku di lokasi yang jauh dari tempat kerja mereka.” gumam Helena sambil berjalan sambil membawa barang barangnya menuju ke kamar mess nya. Pak Slamet tidak lagi membantu dirinya sebab Pak Slamet masih menjalankan tugasnya dan belum pulang.
“Hmm lumayan luas dan bersih, tempat tidur juga luas lebih dari cukup buat tidur aku dengan Keynan.”
“Keynan, kenapa aku lupa tidak tanya Pak Slamet di mana kamar Pak Slamet. Sudah jam segini pasti dia sudah bangun. Kalau dia bangun tidak ada Pak Slamet dan dia keluar kamar, bisa bisa dia tersesat di mess ini.” ucap Helena yang baru teringat akan keberadaan Keynan. Dia lalu berjalan menuju tempat administrasi mess akan bertanya di mana kamar Pak Slamet berada. Akan tetapi saat sudah di depan tempat administrasi mess pintu sudah tertutup rapat. Pegawai sudah tidak ada di dalam ruangan tersebut.
Helena lalu kembali berjalan menuju ke kamarnya. Banyak karyawan yang hilir mudik baru pulang dari kerjanya menuju ke kamar mereka masing masing, Helena tidak bertanya pada mereka, dan mereka pun cuek pada Helena. Sedangkan Helena segera masuk ke dalam kamar akan segera mengambil hapenya untuk menghubungi pada Arya, dia akan bertanya pada Arya nomor hape Pak Slamet dan nomor kamar mess pak Slamet.
Sedangkan di kamar Pak Slamet, Keynan sudah bangun tidur sudah mandi sendiri dan kini dia santai santai melihat film kartun di televisi di kamar Pak Slamet. Dia menurut pada pesan dari Pak Slamet.
__ADS_1
Dan menjelang maghrib Pak Slamet tiba. Dia mengetuk pintu sambil memanggil nama Keynan. Keynan yang mendengar suara Pak Slamet terlihat bahagia dia lalu bangkit berdiri dan segera berjalan untuk membukakan pintu buat Pak Slamet.
“Pak Slamet, aku sudah mandi pinjam handuk Pak Slamet. “ ucap Keynan saat pintu sudah terbuka.
“Anak pinter.” ucap Pak Slamet sambil mengusap puncak kepala Keynan. Lalu dia memberikan oleh oleh buat Keynan.
“Tapi tidak ganti bajunya Pak.” ucap Keynan sambil tersenyum senang menerima oleh oleh dari Psk Slamet.
“Ayo Pak Slamet antar kamu ke kamar Mami kamu, kata petugas kamar Mami juga di lantai satu. Kita tidak terlalu jauh.” ucap Pak Slamet selanjutnya. Mungkin karena pertimbangan Helena membawa anak anak jadi ditempatkan di lantai satu agar tidak tidak berbahaya buat anak anak. Mereka berdua lalu segera keluar dari kamar Pak Slamet. Keynan masih setia memeluk mainannya sambil membawa kantong plastik berisi kue oleh oleh dari Psk Slamet. Sungguh repot sekali dia membawanya namun tidak mau dibantu oleh Pak Slamet.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan pintu kamar Helena.
“Mami... Mami...” teriak Keynan yang ingin segera tahu tempat tinggal barunya.
“Keynan, Mami mencari cari kamu.” ucap Helena sambil membukakan pintu. Keynan langsung masuk ke dalam kamar dan melihat lihat isi di dalam kamar baru nya.
“Mami kenapa tidak ada televisinya?” teriak Keynan saat melihat tidak ada televisi di kamarnya.
“Di tempat Pak Slamet ada.” ucap Keynan sambil menoleh menatap Pak Slamet yang masih berdiri di depan pintu kamar.
“Keynan kalau mau nonton televisi bisa di tempat Pak Slamet, besok kalau Mami Keynan sudah punya uang bisa beli.” ucap Pak Slamet, sedang Helena masih sibuk beres beres kamar.
__ADS_1
“Apa aku boleh tidur di tempat Pak Slamet lagi?” tanya Keynan penuh harap. Pak Slamet yang tidak tega pun mengizinkannya. Setelah diganti bajunya oleh Helena, Keynan pun kembali lagi berjalan menuju ke kamar Pak Slamet bersama Pak Slamet tentunya dan tangan nya masih sama seperti tadi memeluk mainan dan membawa kantong kue oleh oleh Pak Slamet.
Entahlah mungkin memang Keynan ingin menonton televisi atau kerinduannya akan sosok seorang ayah terobati dengan adanya Pak Slamet selama ini. Yang jelas Keynan kini lebih bahagia dari pada waktu di kamar kontrakan atau bahkan saat tinggal di luar negeri.