
“Pak, apa kita balik lagi saja....” ucap Nenek sekali lagi sebab Kakek terlihat hanya diam ragu ragu. Akan tetapi tiba tiba hape Kakek berdering dengan suara nyaring.
“Kamu angkat itu hapeku.” ucap Kakek sambil mengambil hapenya dari kantong kemeja dengan tangan kirinya lalu diulurkan kepada Nenek yang duduk di sampingnya.
“Mbak Lastri.” gumam Nenek lalu segera menggeser tombol hijau.
“Hallo.” ucap Nenek setelah menggeser tombol dan selanjutnya menempelkan hape Kakek di dekat telinga Nenek. Tampak Nenek dengan seksama mendengarkan suara Mbak Lastri dari balik hape Kakek. Nenek terlihat mengangguk anggukan kepalanya dengan wajah yang tersenyum lalu terlihat Nenek mengulurkan hape kepada Kakek.
“Bawa dulu saja, kalau nanti telpon lagi Mbak Lastri atau Arya.” Ucap Kakek sambil fokus pada kemudinya.
“Bagaimana?” tanya Kakek kemudian.
“Terus menuju ke rumah sakit saja Pak. Kesadaran Savitri sudah lebih baik tetapi masih di ICU. Katanya mencari aku. Mungkin dia sungkan atau malu pada Arya. Kata Mbak Lastri pengurus komplek juga akan datang menengok. Jadi kita harus segera ke sana sebelum mereka datang Pak. Tidak enak malah keluarga Savitri tidak ada yang di rumah sakit.” jawab Nenek. Lalu Kakek terus melajukan ke rumah sakit Sesampai di rumah sakit Nenek dan Kakek berjalan dengan cepat menuju ke ruangan tempat Savitri dirawat. Terlihat Arya duduk di kursi tunggu sambil sibuk dengan hapenya.
“Ya, bagaimana keadaan Savitri?” tanya Nenek sambil berjalan mendekat ke arah Arya, Kakek yang kedua tangannya membawa barang barang Mbak Lastri lalu segera duduk di samping Arya dan menaruh barang barang Mbak Lastri di lantai.
“Sudah membaik Bu, tapi belum dipindah ke ruang rawat. Mbak Lastri di dalam, hanya boleh satu orang yang di dalam. Kalau Bapak dan Ibu sudah di sini saya mohon ijin untuk pulang dulu. Mau istirahat sebentar.” ucap Arya dengan sopan sambil menaruh hapenya ke dalam kantong kemejanya.
“Terimakasih ya Nak Arya, dan maafkan kami...” ucap Nenek dengan nada sedih mengingat dia dan suaminya sudah berprasangka buruk kepada keluarga Arya karena termakan omongan Gandi.
__ADS_1
“Sama sama Bu, tidak ada yang perlu dimaafkan Ibu tidak bersalah.” jawab Arya sambil menatap Nenek.
“Apa Savitri sudah tahu kalau dia sedang hamil?” tanya Nenek
“Saya belum memberi tahu Bu. Coba nanti tanya Mbak Lastri, Kak Vitri sering curhat ke Mbak Lastri. “ jawab Arya.
“Aku kuatir Savitri bingung dengan kondisi dia sekarang yang sedang hamil. Tidak menerima kehamilannya karena anak dari Gandi tetapi itu juga anak yang tidak berdosa.” Ucap Nenek dengan wajah sedih.
“Apa kamu curhat Bu.” gumam Kakek dengan nada datar.
“Pasti ini juga yang dirasakan Kakek. Dia benihnya Gandi manusia penipu tidak tahu diri itu tetapi dia juga cucu kita Pak. Termasuk darah daging kita. Anak Savitri.” ucap Nenek yang kini sudah tahu sifat asli Gandi dari cerita Mbak Lastri dan dari mata kepalanya sendiri sebab tidak melihat Gandi berada di rumah sakit menjaga Savitri.
Sedangkan Nenek dan Kakek masih duduk diam terpaku. Akan tetapi tiba tiba mereka terkaget karena suara Mbak Lastri yang tiba tiba muncul di balik pintu yang hanya sedikit terbuka.
“Bu, tolong jagain Bu Vitri dulu saya mau mandi nanti kalau orang komplek datang sudah sudah cantik he... he...” ucap Mbak Lastri yang hanya melongokkan kepalanya di balik pintu. Nenek menoleh dan menganggukan kepalanya. Mbak Lastri lalu berjalan mendekati Nenek.
“O ya Bu, kalau nungguin Bu Vitri diceritain yang lucu lucu. Terus cerita tentang Reno dan Reni, bibirnya Bu Vitri tersenyum. Jangan cerita tentang bayi, kalau ada kata bayi dan suami air mata Bu Vitri keluar apalagi kalau denger kata Gandi.” Ucap Mbak Lastri kemudian sambil menatap Nenek dan selanjutnya dia berjalan untuk mengambil tas bajunya yang tadi dibawakan oleh Kakek. Setelah mengucapkan terimakasih Mbak Lastri berlalu menunu ke kamar mandi.
Nenek lalu masuk ke dalam ruangan dimana Savitri masih terbaring lemah. Alat alat medis masih menempel di tubuhnya. Nenek lalu menggeser kursi dan duduk di dekat Savitri.
__ADS_1
“Vit... ini Ibu... ayo cepat sehat katanya kangen ke rumah Ibu besok kalau dari rumah sakit langsung ke rumah Ibu saja sama Reno dan Reni.....”
“Oooo atau ke rumah Oma dulu terus sekalian Oma diajak nginep ke rumah Ibu... Opa dan Kakek biar tangkap ikan. Kita bakar ikan yerus makan bersama di kebun.. Reno dan Reni pasti suka sekali. Dan hanya kamu yang dinilai mereka bisa bersih ngambil duri duri ikan dalam suapan mereka.... “ ucap Nenek..
“Bu... aku kangen mereka aku ingin peluk mereka sekarang....” ucap Savitri lirih...
“Iya iya aku suruh Kakek nelpon Opa agar membawa mereka ke sini sekarang. Mereka katanya juga menunggu kamu sadar. Katanya Reni pengen pamer sudah tidak celat bicaranya ha.... ha... lucu sekali anak itu.” ucap Nenek sambil tertawa kecil lalu bangkit berdiri untuk memberi tahu pada Kakek agar segera menelpon Opa untuk membawa Reno dan Reni ke rumah sakit.
Sementara itu di tempat lain dimana Gandi masih nongkrong di warung dengan teman temannya. Sambil sedikit mabuk Gandi bercerita tentang lemari Savitri yang terkunci padahal isi lemarinya barang barang berharga.
“Congkel aja beres.” usul salah satu temannya. Gandi tampak tersenyum...
“Bener katanya nanti aku bilang kalau ada maling masuk ha..... ha.....” ucap Gandi sambil tertawa terbahak bahak.
“Padahal malangnya suaminya sendiri ha... ha....” saut yang lain sambil tertawa terbahak bahak sambil menepuk nepuk pundak Gandi.
“Sudah aku pulang dulu. Aku utang dulu semua yang sudah aku masukkan ke perutku.” suara lantang Gandi sambil menatap penjaga warung. Gandi lalu bangkit berdiri dan menuju ke motor Savitri yang selalu dia pakai tanpa pernah diservice. Gandi melajukan motor dengan kencang tujuan agar cepat ke rumah Savitri. Tidak lama kemudian dia sudah sampai di lokasi komplek rumah Savitri. Suasana komplek di sekitar rumah Savitri terlihat sepi, karena mereka sudah pergi ke rumah sakit untuk menengok Savitri. Gandi dengan segera melangkah masuk ke dalam rumah Savitri. Akan tetapi saat Gandi membuka pintu.
“Pak.” teriak seseorang dari pagar.
__ADS_1