
Savitri menaruh kotak perhiasan kecil itu ke dalam tasnya. Dia tidak tahu akan dikemanakan barang itu. Setelah membayar pesanan mereka berdua pamit pada pemilik toko perhiasan itu.
Arya terlihat berjalan sambil memeluk pundak Savitri.
“Jangan dipikir masalah cincin itu. Kalau kamu sayang karena harga nya bisa dilebur saja entah mau kamu jadikan apa.” ucap Arya dan mereka berdua terus berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir. Savitri hanya diam saja. Mereka berdua lalu segera masuk ke dalam mobil nya. Tidak lupa Arya membukakan pintu buat Savitri terlebih dahulu.
Hari sudah mulai gelap, mobil terus melaju ke rumah Oma dan Opa.
“Ya, kenapa aku dulu sebagai Kakak iparmu tidak tahu rencana pertunangan itu.” ucap Savitri memecah keheningan suasana mereka di dalam mobil.
“Iya, itu mendadak aku pun belum sempat memberi tahu kepada Bang Ardi.” ucap Arya masih terus fokus pada kemudi mobilnya.
“Saat aku sedang ke rumah Helena, tiba tiba aku mendengar pembicaraan keluarga Helena yang membahas tentang rencana Helena mau melanjutkan kuliah ke luar Negeri. “ ucap Arya kemudian tanpa menoleh Savitri
“Terus niatku Helena aku ikat dulu dengan pertunangan. Saat itu Helena setuju, kami pesan berdua cincin itu. Tetapi sebelum cincin jadi Helena sudah pergi.” ucap Arya selanjutnya dengan nada suara yang datar dan pandangan matanya fokus ke depan.
“Belum mengundang tamu, ya sepeti kita sekarang baru pembicaraan kedua orang tua Helena dengan Opa dan Oma.” Ucap Arya lagi dan Savitri hanya diam mendengarkan tidak berkomentar.
“Aku dulu kadang iri dengan Bang Ardi, pacaran sejak sekolah dan dengan anak kecil malah lancar he... he...” ucap Arya sambil tertawa kecil dan menoleh sekilas ke arah Savitri.
“Sialan aku dibilang anak kecil.” Saut Savitri dengan bibir agak cemberut.
“Bukannya saat itu Honey masih SMP, masih anak kecil.. kalau sekarang sudah pinter buat anak kecil sudah tiga..” ucap Arya sambil tersenyum menoleh sekilas ke arah Savitri lagi, Wajah Savitri merona akan tetapi tidak terlihat karena suasana sudah gelap.
__ADS_1
Mobil terus melaju dan tidak lama kemudian sudah memasuki halaman rumah Opa dan Oma. Saat mobil sudah berhenti terlihat pintu di rumah terbuka dan muncul Reno dan Reni yang segera menghambur ke arah mobil. Savitri dan Arya pun segera turun dari mobil.
“Papa.. Mama.. Kok lama sekali aku sudah kangen. “ ucap Reno saat sudah berada di dekat Savitri dan Arya mereka berdua lalu menggandeng tangan Savitri dan Arya. Reno menggandeng tangan Arya dan Reni menggandeng tangan Savitri.
“Kalian berdua langsung mandi terus kita makan malam.” ucap Oma saat mereka sudah masuk ke dalam ruang keluarga. Terlihat Arya langsung berjalan menuju ke kamarnya demikian juga Savitri berjalan menuju ke kamar Reno dan Reni. Sementara Reno dan Reni terus saja mengikuti langkah kaki Savitri.
“Mama kok lama sih kerjanya, jangan lama lama dong Ma. Ini sampai malam. Aku tadi ngerjain pe er sendiri.” Ucap Reno saat sudah berada di dalam kamar
“Iya Ma, jangan malam malam aku juga ngerjain pe er sendiri. “ ucap Reni tidak mau kalah dari kakaknya.
“Katanya mau mandiri.” ucap Savitri sambil menaruh tas nya.
“Sudah dulu ya Mama mandi dulu nanti Mama cium kalian setelah Mama mandi.” ucap Savitri lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi. Sambil masuk ke dalam.kamar mandi Savitri berpikir.
Beberapa menit kemudian Savitri sudah selesai mandi. Dia lalu mendatangi kedua anaknya yang sedang duduk di karpet . Dia lalu memeluk dan menciumi kedua anaknya.
“Mama juga kangen banget pada kalian. Memeluk kalian berdua rasa capek Mama langsung hilang.” Ucap Savitri sambil terus memeluk kedua anaknya.
“Mama besok jangan malam pukang nya.,” ucap Reno lagi
“Iya tadi Mama dan Papa Arya sedang ada urusan pulang dari kerja.”
“Mau kasih adik bayi buat Reni ya Ma.” saut Reni dan spontan Savitri terlihat kaget ekspresi wajahnya. Savitri lalu segera mengajak kedua anaknya untuk meninggalkan kamar dan ber jalan menuju ke ruang makan. Dari pada pertanyaan tentang adik bayi berlanjut.
__ADS_1
Saat sampai di meja makan terlihat Oma dan Opa juga Arya sudah duduk di meja makan. Mereka lalu segera makan malam. Setelah selesai makan malam.
“Bagaimana apa kalian sudsh pesan cincin?” tanya Oma sambil menatap Arya dan Savitri secara bergantian.
“Sudah Ma.” Jawab Savitri dan Arya secara bersamaan.
“Mana buktinya?” tanya Oma sambil mengulurkan tangannya. Arya lalu bangkit berdiri dia berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil nota bukti pemesanan.
Setelah mengambil nota bukti pemesanan cincin, Arya segera kembali untuk menemui Oma yang kini sudah berada di ruang keluarga. Arya segera memberikan bukti pemesanan cincin itu. Saat Oma sudah menerima dsn melihat nota itu. Terlihat ekspresi kaget di wajah Oma.
“ Ada apa Ma?” tanya Opa yang duduk di depan Oma saat melihat ekspresi kaget di wajah Oma.
“Kalian pesan di sana, terus cincin sialan itu?” tanya Oma sambil menatap tajam ke arah wajah Arya. Arya lalu menoleh ke arah Savitri yang sedang duduk memangku Reni dan Reno bergelayut di tubuh Savitri. Sedangkan Savitri yang ditatap Arya tidak melihatnya sebab dia dengan mendengarkan cerita Reni dan duduk di pangkuannya sambil menghadap ke wajah nya.
“Aku sudah tidak mau menerima tetapi Honey yang menerimanya.” ucap Arya
“Honey .. Honey siapa?” tanya Oma sambil tersenyum sebab dia sudsh paham yang dimaksud Honey oleh Arya.
“Vit mana barang itu, akan aku hancur leburkan.” ucap Oma kemudian sambil menatap Savitri. Savitri yang fokus memperhatikan cerita dari anak anaknya, setelah dipanggil namanya oleh Oma lalu dia menoleh ke arah Oma.
“Bawa ke sini barang itu akan aku hancur leburkan.” ucap Oma lagi. Savitri yang paham lalu segara mengangkat tubuh Reni dan di dudukkan tubuh Reni di samping Reno. Savitri segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar Reno dan Reni. Sementara Reni yang mendengar Oma akan menghancur leburkan dan melihat Mamanya pergi ke kamar. Wajah Reni terlihat kaget bercampur kuatir dan tidak lama kemudian.
“Oma jangan dihancurkan adik bayi nya ... hua.. hua... hua... hua." tangis Reni pecah sebab mengira tadi Arya dan Savitri pergi ada urusan dan pulang membawa cikal bakal adik bayi berdasar persepsi Reni.
__ADS_1