Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 32. Konspirasi


__ADS_3

“Vit.... Vit.... “ teriak Gandi sambil membuka pintu kamar Savitri dengan sangat keras. Dia dengan langkah kaki yang cepat masuk ke dalam kamar Savitri.


“Vit di mana kamu? Jangan sembunyi ya!” teriak Gandi sambil mencari Savitri di kamar mandi sebab tidak menemukan Savitri di kamar. Di kamar mandi pun tidak diketemukan sosok Savitri. Dengan segera Gandi meninggalkan kamar Savitri sambil masih terus berteriak teriak memanggil nama Savitri.


Gandi melangkah dengan cepat dan wajah yang memerah karena marah. Dia berjalan menuju ke kamar Reno. Saat Mbak Lastri melihat Gandi sudah mendekat di kamar Reno. Mbak Lastri langsung mematikan kompor dan dia berjalan mendekati Gandi.


Mbak Lastri berdebar debar saat tangan Gandi sudah akan memegang handel pintu kamar Reno.


“Pak Gandi ada apa mencari Bu Vitri. Bu Vitri itu sedang sakit tadi saya temukan dia pingsan di lantai.” ucap Mbak Lastri dengan segera memegang handel pintu kamar Reno sebelum kedahuluan tangan Gandi. Mbak Lastri menarik handel pintu dengan kuat agar tidak bisa terbuka.


“Kamu hanya seorang pembantu yang sudah dipecat. Jangan ikut campur!” bentak Gandi. Mbak Lastri yang dibentak merasa sakit hati meskipun dia pembantu tetapi yang membayar dia saja sudah menganggap dia sebagai saudara dan tidak pernah membentak atau merendahkan. Ini orang ga bayar malah menghina.


“Saya harus ikut campur untuk keselamatan Bu Vitri, karena dia juga sudah membantu saya. Pak Gandi ada masalah apa sampai marah marah berteriak teriak kayak orang gila.” ucap Mbak Lastri dengan ketus namun kata orang gila di bagian akhir kalimat tidak terdengar suaranya, hanya mulut Mbak Lastri yang terbuka.


“Kurang ajar kamu.” bentak Gandi akan memukul Mbak Lastri. Namun diurungkan, dia lalu menggeser tubuh Mbak Lastri dengan paksa agar tidak menghalanginya. Namun hasilnya sia sia, sebab tubuh gemuk Mbak Lastri dengan kokoh tetap berada di depan pintu kamar Reno.

__ADS_1


“Aku mau mengambil hapeku yang diambil Savitri.” ucap Gandi yang kini sudah agak melunak.


“Mana mungkin Bu Vitri mengambil hape Pak Gandi. Bu Vitri saja pingsan saat saya pulang. Pintu pagar terbuka, pintu rumah juga berbuka. Mungkin sudah ada orang jahat masuk mengambil hape Pak Gandi dan menyakiti Ibu Vitri sampai pingsan.” ucap Mbak Lastri dengan panjang kali lebar. Gandi tampak berpikir pikir.


“Apa Anna yang datang ke sini dan mengambil semua hape.” gumam Gandi yang terdengar oleh Mbak Lastri. Mbak Lastri tersenyum dalam hati.


“Mungkin saja Pak, sudah Pak Gandi pergi sana segera mencari Anna keburu hapenya dijual.” ucap Mbak Lastri. Gandi terlihat berpikir pikir lagi. Lalu dia membuka celana panjangnya. Mbak Lastri spontan menutup matanya tetapi dia juga penasaran Gandi akan melakukan apa. Mbak Lastri berdebar debar, lalu dia membuka sedikit matanya untuk melihat apa yang dilakukan oleh Gandi. Ternyata Gandi setelah melorotkan celana panjangnya, dia mengambil segepok uang di dalam saku celana boxernya. Uang Savitri yang sudah dirampas disembunyikan di dalam saku celana boxernya. Setelah Gandi mengecek uangnya utuh , selanjutnya Gandi memakai lagi celana panjangnya lalu dia segera pergi meninggalkan rumah Savitri.


Mbak Lastri terlihat lega. Dia lalu dengan segera masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ketiga hape yang sudah diambilnya. Dengan segera dia berlari ke rumah Anisa.


Anisa menyuruh Mbak Lastri segera masuk, Anisa memberikan air mineral pada Mbak Lastri. Setelah minum air mineral Mbak Lastri lalu menceritakan segalanya tentang Savitri yang pingsan sampai hape yang sudah diambil alih oleh Mbak Lastri. Mbak Lastri menceritakan semua. Lalu meminta tolong agar Anisa menyimpan hape hape tersebut. Sebelum Anisa akan menjawab. Mbak Lastri dengan segera bangkit berdiri dan akan segera pulang ke rumah Savitri.


“Keburu orangnya datang lagi Mbak.” teriak Mbak Lastri sambil berjalan cepat.


Tidak lama kemudian Mbak Lastri sudah memasuki pintu pagar rumah Savitri. Mbak Lastri langsung mengembok pagar. Lalu segera masuk ke dalam rumah, dan tidak lupa mengunci pintu.

__ADS_1


“Haduh kenapa aku juga takut ya. Bilang Bu Vitri tidak ya...” gumam Mbak Lastri dalam hati sambil melangkah menuju ke dapur untuk mengambil mie instannya yang belum sempat dimakan. Namun akhirnya dia mengurungkan niatnya lalu dia menuju ke kamar Reno. Dia membuka pelan pintu kamar Reno. Terlihat Savitri terbaring di tempat tidur dengan air mata yang meleleh.


“Apa yang terjadi Mbak aku dengar Gandi marah marah?” tanya Savitri saat Mbak Lastri sudah berada di dekatnya. Mbak Lastri lalu menceritakan semuanya.


“Sekarang kamu hubungi Anisa. Bilang padanya agar menemui pengurus komplek, kalau Gandi akan melihat CCTV komplek jangan diperbolehkan entah alasan apa terserah Anisa atau Bu Erte yang mikir. Aku sudah tidak bisa mikir.” ucap Savitri setelah Mbak Lastri menceritakan kelakuannya. Savitri kuatir Gandi ngecek CCTV komplek dan mengetahui Mbak Lastri yang mengambil hapenya.


“Iya ya Bu... Saya juga akan menghubungi Pak Satpam harus diajak apa Bu namanya Bu... kons... kontrasepsi apa konstruksi...” ucap Mbak Lastri berusaha mengingat ingat sebuah kosa kata.


“Konspirasi istilah lainnya kongkalikong.” Jawab Savitri sambil tersenyum.


“He... he... iya ...iya... ga apa ya Bu kongkalikong untuk menyelamatkan diri.” ucap Mbak Lastri lalu dia segera keluar dari kamar Reno lalu segera menuju ke kamarnya untuk mengambil hapenya untuk menghubungi Anisa dan Pak Satpam. Setelah selesai menghubungi Anisa dan Pak Satpam, Mbak Lastri terlihat tenang hatinya.


“Haduh sekarang kok jadi lemes begini tubuhku.” gumam Mbak Lastri sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Namun dia langsung teringat akan mie instannya yang masih berada di atas kompor. Dia berlari dengan sisa tenaga yang ada. Dilihatnya mie instan di dalam panci sudah dingin dan wujud mienya sudah gendut gendut bagai tubuh Mbak Lastri.


“Tidak apa apa yang penting perutku kemasukan makanan. Setiap hari begini aku bisa langsung langsing.” ucap Mbak Lastri sambil menyendok mie langsung dari pancinya. Akan tetapi saat Mbak Lastri baru memasukkan mie satu sendok. Terdengar suara motor berhenti di depan rumah Savitri. Suara motor Savitri yang tadi dipakai Gandi.

__ADS_1


“Haduh kenapa orang itu datang lagi. Kenapa tidak tidur di rumah istrinya di sana. Mau makan saja kok gagal terus.” ucap Mbak Lastri sekarang dia berjalan ke depan sambil membawa panci mie instan dan sendok. Tidak mau acara makan malamnya gagal lagi.


__ADS_2