
Acara makan malam berjalan lancar tanpa ada drama yang berarti. Reni yang sudah dibelikan es krim oleh Oma makan nasi dengan lahap, sebab tidak boleh makan es krim jika makan nasi hanya sedikit. Dan tidak banyak berceloteh atau bertanya tanya sebab dia terburu buru agar bisa segera makan ea krimnya.
Setelah selesai makan Arya lalu berjalan menuju ke kamarnya. Tampak Savitri masih sibuk membantu memberesi meja makan. Oma yang sedang dalam misi mendekatkan Savitri dengan Arya lewat hubungan bos dan sekretaris cepat cepat mengambil barang yang sedang dipegang Savitri. Saat mendengar kabar Helena kembali dan berusaha mendekati Arya, Oma kuatir Arya kembali pada Helena maka Oma gencar lagi dalam menjodohkan Arya dengan Savitri.
“Sudah Vit, bantu Pak Bos sana, biar tugas dia segera selesai. Untuk urusan ini bisa aku kerjakan dengan Mbak.” ucap Oma sambil menarik piring piring kotor yang dipegang oleh Savitri.
“Tapi Ma...”
“Sudah tidak ada tapi tapi, Reno dan Reni juga sudah biasa diurus aku dan Opa. Tuh mereka sudah dengan Opanya.” ucap Oma sambil menunjuk dengan dagunya ke arah kamar kedua cucunya. Opa memang sudah berjalan menuju ke kamar Reno dan Reni.
Savitri lalu berjalan menuju ke kamar Arya. Ssvitri mengetuk ngetuk pintu dengan pelan, sama seperti tadi Arya hanya menjawab dengan deheman. Savitri lalu memutar pelan handel pintu dan mendorong pelan pelan pintu kamar Arya itu.
“Ya, aku bantu apa?” tanya Savitri saat sudah mendekat pada Arya.
“Bantu pijit juga boleh Kak, pijitan Kak Vitri enak.” ucap Arya dengan nada serius. Dia masih sibuk membaca berkas berkas dan menandatanganinya.
“Apa pekerjaan sekretaris seperti itu Ya?” tanya Savitri dengan nada serius
__ADS_1
“Tidak semua.” jawab Arya
“Ya sudah kalau Kak Vitri tidak mau, sekarang tolong cek ini saja apa ada yang terlewatkan. Kak Vitri bisa duduk di sofa itu.” ucap Arya selanjutnya sambil menyerahkan setumpuk dokumen. Savitri lalu menerima berkas berkas dokumen dokumen yang baru saja di kerjakan oleh Arya, dan selanjutnya Savitri berjalan menuju ke sofa. Arya terus melanjutkan pekerjaannya dan setelah selesai dia menaruh lagi setumpuk berkas di tepi mejanya. Selanjutnya dia membuka lap topnya yang sudsh berada di atas mejanya. Dia fokus menatap layar lap topnya, dia mengamati data data laporan yang baru saja masuk dari pimpinan pimpinan divisi.
“Ya, ini sudah.” ucap Savitri saat sudah selesai mengerjakan apa yang ditugaskannya. Arya hanya menjawab dengan menepuk nepuk tumpukan berkas yang sudah ditaruh di tepi meja. Savitri paham yang dikodekan oleh Arya, dia dengan segera berjalan untuk mengambilnya. Lalu dia kembali ke tempatnya lagi.
“O ya Kak , lupa aku tolong dikasih tanggal dan stempel ya. Ini pakai ini.” ucap Arya sambil menunjukkan alat yang digunakan untuk memberi stempel dan tanggal. Savitri lalu berjalan lagi menuju ke meja Arya.
“Ini baru namanya benar benar pekerjaan sekretaris, mosok pekerjaan sekretaris mijitin, bisa bisa tukang pijit mengatakan dirinya sebagai sekretaris.” gumam Savitri saat mengambil seperangkat alat yang digunakan untuk memberi stempel. Arya yang mendengar gumaman Savitri tersenyum.
Saat Savitri dan Arya masih sibuk bekerja tiba tiba pintu terbuka. Sosok Reni langsung saja nyelonong masuk ke dalam kamar Arya, dia langsung berlari menuju ke sofa dan ikut duduk di samping Mamanya.
“Hmmm kok mereka benar benar kerja serius. Apalagi ditambah ada Reni.” gumam Oma dalam hati.
“Ren, ayo ikut Oma, kita jalan jalan lagi.”
“Ogah Oma.... sudah malam.” ucap Reni yang sedang serius melihat Savitri memberi tanggal di berkas dengan alat stempel. Terlihat Reni sangat terpesona dengan alat itu, saat sedang tidak digunakan oleh Savitri dengan segera tangan imutnya mengambil alat itu lalu menekankan alat itu di kakinya. Dan saat ada angka angka tertera di kakinya terlihat dia tersenyum puas.
__ADS_1
“Kamu malah mainan, kotor kakimu.” ucap Oma saat melihat apa yang dilakukan oleh Reni.
“Ini kayak sapi yang Reni lihat di kebun Kakek, Oma.. ada kayak gininya.” ucap Reni sambil menunjukkan sederet angka di kakinya.
“Ha.... ha.... ha..... kamu itu ada ada saja. Ayo jangan ganggu Mama.” ucap Oma sambil berusaha mengendong Reni. Akan tetapi Reni tetap tidak mau. Dia bilang kalau akan membantu Mamanya. Arya pun menoleh dan tersenyum melihat tingkah Reni, lalu Arya malah memberikan kertas kosong kepada Reni untuk ikut membantu memberi stempel, tentu saja Reni riang gembira. Akhirnya Oma pun mengalah dan pergi meninggalkan kamar Arya.
Arya terus saja sibuk mencermati data data laporan di layar lap topnya. Tidak lama kemudian Reno pun ikut masuk ke dalam kamar Arya. Reno tidak ikut duduk di sofa tetapi dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur Arya. Sementara itu Savitri sudah selesai mengerjakan tugasnya dia lalu menyerahkan berkas berkas kepada Arya akan tetapi Reni belum mau berhenti bermain main dengan stempel tanggal itu, dia yang sedang belajar angka bilang tidak bermain main tetapi sedang belajar. Savitri pun akhirnya tertidur di sofa panjang itu.
Arya pun lalu menyudahi pekerjaannya karena ia ingat pesan dari dokter agar tidak tidur terlalu malam. Saat dia menoleh ke sofa dilihatnya Savitri sudah tertidur pulas, sementara Reni masih serius dengan bermain stempel tanggal itu, dia putar putar semua angka dan ditekan tekan di bantalan tinta lalu ditekan di kertas yang tadi diberikan oleh Arya hingga kertas itu kini sudah penuh dengan angka.
Arya lalu berjalan mendekati Reni, dan menyuruhnya untuk istirahat karena sudah malam. Arya lalu menuntun Reni ke kamar mandi untuk memcuci tangan dan kakinya. Setelah itu mereka berdua berjalan keluar dari kamar mandi.
“Aku ikut Kak Reno bobok.di sini.” ucap Reni saat melihat Reno sudah terlelap di tempat tidur Arya. Dan Reni pun lalu menyusul Reno berbaring di tempat tidur Arya. Arya memberesi meja kerjanya juga kertas kertas Reni yang berserakan. Terlihat Reni pun sudah tertidur pulas. Arya lalu mengganti lampu tidur di dalam kamarnya. Kini suasana kamar itu terlihat temaram.
Dia kini bingung akan tidur di mana, tidur di tempat tidur dengan kedua keponakannya kok tidak tega melihat Savitri yang tertidur di sofa. Arya lalu berjalan menuju ke sofa.
“Kak, Kak Vitri pindah ke tempat tidur saja dengan anak anak biar saya yang tidur di sofa.” ucap Arya sambil menepuk nepuk pelan lengan Savitri. Akan tetapi Savitri yang kecapekan itu masih saja tertidur pulas bahkan terdengar denguran halus. Arya tidak tega membangunkannya lagi, akhirnya dia membopong tubuh Savitri dan akan dipindah ke tempat tidurnya. Dada Arya berdetak dengan kencang saat memegang tubuh Savitri dengan cepat dia membaringkan tubuh Savitri di samping anak anaknya. Rambut panjang Savitri yang terburai itu dirapikan oleh Arya.
__ADS_1
“Ehhhhmmm.” leguhan halus terdengar dari mulut Savitri semakin membuat jantung Arya berdetak lebih kencang. Arya lalu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Savitri bersama anak anaknya itu. Arya lalu berjalan menuju ke sofa lalu membaringkan tubuhnya.
“Sejak kapan dadaku deg degan kayak gini di dekat Kak Vitri, pengaruh suasana malam atau aku... “ gumam Arya lalu memejamkan matanya.