Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 67. Sesi 2. Menerima Panggilan Telepon Helena


__ADS_3

Savitri yang mengendong Reni terus berjalan menuju ke kamar Reno dan Reni. Saat melewati ruang keluarga terlihat Pak Slamet masih mengobrol bersama Oma dan Opa, dari sepintas terdengar oleh Savitri mereka bercerita tentang kebaikan almarhum Ardi.


“Reni kok gendongan sudah besar.” ucap Oma sambil menatap Reni.


“Iya Oma, ini lagi manja ...” ucap Savitri sambil tersenyum lalu menatap wajah Reni.


“Kayak Papa Arya.” saut Reni.


“Papa Arya manja bagaimana?” tanya Oma kepo.


“Minta disuap.” jawab Reni, Savitri terlihat tersipu sedangkan Oma terlihat tersenyum senang.


“O ya Pak Slamet besok datang ke sini lagi pagi pagi ya.” ucap Savitri selanjutnya agar mereka semua segera melupakan apa yang baru saja dikatakan oleh Reni, Savitri menatap Pak Slamet. Dan Pak Slamet menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Kamu sudah mulai ke kantor pagi Vit?” tanya Oma dan Opa bersamaan.


“Tidak Ma, Bos minta saya kerja di rumah sementara Bos masih di rumah.” jawab Savitri


“Oooo .” gumam Oma dan dalam hati dia tersenyum senang.


“Sepertinya hubungan sekretaris dan bos akan mendekatkan mereka berdua. Nuning memang pintar.” gumam Oma dalam hati.


Savitri lalu minta ijin ke kamar sebab Reni sudah meminta untuk segera membawanya ke kamar sebab sudah merasakan mengantuk. Dengan segera Savitri melangkah menuju ke kamar kedua anaknya. Saat memasuki kamar dilihatnya Reno sedang duduk di meja belajarnya tampak sedang sibuk dengan buku dan pensilnya.


“Kakak tidak bobok siang?” tanya Savitri sambil membaringkan Reni di tempat tidur.

__ADS_1


“Nanti Ma, mengerjakan PR dulu, setelah selesai baru bobok.” jawab Reno. Reno memang tipe yang tidak bisa menunda pekerjaan dan masalah, anak itu kalau memiliki beban pikiran akan susah tidurnya.


Akan tetapi Reni yang tadi bilang mengantuk saat di tempat tidur dia malah duduk di tempat tidur sambil bermain main dengan boneka yang ada di tempat tidurnya. Savitri yang berbaring di samping Reni mengeryitkan dahinya.


“Adik katanya mengantuk kok malah duduk mainan boneka.” ucap Savitri sambil menatap Reni.


“Ngantuknya hilang Ma.”


“Ma apa Papa Arya marah ya kita tidak boleh main lagi di perusahaan?” tanya Reni sambil menatap wajah Mamanya.


“Iya, nanti kursi Papa bisa rusak buat mainan kamu.” saut Reno.


“Bukan mungkin Papa Arya marah aku bilang .....” ucap Reni tidak melanjutkan bicaranya malah menutup mulut kecilnya dengan kedua telapak tangan mungilnya.


“Adik bilang apa?” tanya Savitri dan Reno bersamaan karena penasaran dengan apa yang sudah diucapkan Reni pada Arya. Reni hanya diam saja kini malah membaringkan tubuhnya sambil memeluk bonekanya, dia memunggungi Savitri. Savitri benar benar gemas dibuatnya.


“Cuma bilang kalau Om Dimas baik dan keren.” jawab Reni


“Bilang Om Dimas lebih ganteng.” ucap Reni lagi


“Terus bilang Papa Arya tua.” ucap Reni kini menoleh menatap wajah Mamanya. Savitri tersenyum.


“Ooo ya sudah sekarang Reni bobok, kalau cuma bilang seperti itu Papa Arya tidak marah.” ucap Savitri sambil menepuk nepuk pantat Reni dengan pelan pelan dan lama lama Reni tertidur. Sementara Savitri masih berpikir apa yang menyebabkan secara mendadak Arya melarang ke perusahaan besok pagi.


Setelah Reni tertidur Savitri bangkit dari tempat tidur Reni. Dia lalu berjalan menuju ke lemari untuk mengambil map yang berisi surat surat tanda belajar dia.

__ADS_1


“Untung masih ada fotokopiannya jadi tidak usah pergi buat fotokopi.” gumam Savitri lalu dia menaruh berkas berkas itu di meja belajar Reni. Savitri lalu akan berjalan meninggalkan kamar kedua anaknya terlihat Reno pun sudah tertidur karena sudah selesai mengerjakan PR nya.


Saat dia masih berada di dekat pintu, hape yang masih berada di dalam tasnya berdering Savitri lalu cepat cepat mengambil hapenya agar suaranya tidak menganggu kedua anaknya yang masih tertidur. Saat dilihat ada nama kontak Arya.


“Ada apa Pak Bos menelepon.” gumam Savitri lalu dia menggeser tombol hijau agar tidak bersuara lagi deringnya, dia berjalan cepat meninggalkan kamar dan menuju ke kamar Arya sebab Arya menyuruh agar Savitri segera ke kamarnya katanya ada yang penting. Savitri segera membuka pintu kamar Arya.


“Sudah bangun, ada apa?” tanya Savitri sambil mendekat ke arah Arya.


“Ini sebentar lagi hapeku ada panggilan tolong Kak Vitri yang menerima bilang saja Kak Vitri sekretaris pribadi aku.” ucap Arya sambil mengulurkan hapenya. Savitri lalu menerima hape itu. Dan benar tidak lama kemudian terdengar ada bunyi dering panggilan suara dan ada sederet angka di layar hape Arya. Savitri lalu menggeser tombol hijau.


“Hallo, akhirnya kamu angkat juga teleponku. Arya tolong aku ya, kirim dong katebelece ke bagian HRD. Kamu kan tahu bagaimana dulu aku waktu di kampus aku bintang kampus, aku juga melanjutkan ke luar negeri tapi hiks.. hiks.. gara gara musibah itu semua berantakan. Tolong aku ya, Arya balas chat ku ya.. ..” suara perempuan di balik hape Arya terus saja berbicara memohon mohon pada Arya. Savitri masih saja mendengarkan sambil menatap wajah Arya, sedangkan Arya hanya melihat langit langit kamarnya. Dan Savitri bisa menerka jika yang menelpon itu adalah Helena.


“Arya omong dong aku kangen suaramu.” ucap Helena dengan nada suara yang mulai manja .


“Maaf saya sekretaris pribadi Pak Arya, Pak Arya meminta anda menunggu hasil dari bagian HRD. Jika anda tidak sabar anda bisa mengajukan lamaran ke perusahaan lain, bukannya anda bintang kampus dan melanjutkan di luar negeri pasti banyak perusahaan akan menerima anda. “ ucap Savitri, Arya yang tadi melihat langit langit kamar sekarang memiringkan tubuhnya menatap Savitri dia tidak menyangka Savitri akan berbicara seperti itu pada Helena.


“Sekretaris kamu tidak tahu ya aku dulu kekasih Arya, dan sampai saat ini Arya masih melajang itu karena aku cinta matinya.” ucap Helena dengan nada tinggi .


“Jika sudah tidak ada yang perlu disampaikan telepon saya tutup. “ ucap Savitri lalu dia menutup sambungan teleponnya. Savitri lalu menyerahkan hape itu pada Arya.


“Terimakasih, sekretaris pribadiku ternyata sangat hebat.” ucap Arya sambil.menerima hapenya dari tangan Savitri.


“Apa lagi yang perlu saya bantu Pak?” tanya Savitri.


“Tolong siapkan air hangat buat mandi aku, habis mandi aku akan selesaikan berkas berkas itu agar besok pagi sudah bisa dibawa oleh Pak Slamet.“ jawab Arya Lalu dia mulai menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.

__ADS_1


Savitri berjalan menuju ke kamar mandi lalu dia menyiapkan air hangat untuk mandi Arya.


“Aku ini jadi sekretaris apa jadi perawat sih.” gumam Savitri dalam hati. Savitri lalu berjalan ke luar dari kamar mandi untuk memberi tahu pada Arya jika air hangat buat mandi sudah siap.


__ADS_2