Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 50. Selamatkan Dia


__ADS_3

Gandi tampak emosi, matanya terlihat menatap tajam pada suatu map plastik warna yang transparan di dalamnya ada dokumen resmi negara, melihat dokumen yang berwarna hijau itu, mata Gandi pun menjadi hijau.


“Hmm itu sertifikat yang aku cari, andai tidak bisa dijual toh bisa digadaikan.. biar mereka yang nebus aku yang daoat uangnya ha... ha....” gumam Gandi dalam hati. Wajahnya terlihat tersenyum licik.


“Cepat kemasi barang barangmu.” Teriak Savitri sekali lagi. Akan tetapi Gandi tidak pergi akan tetapi berjalan mendekat ke arah Savitri. Savitri yang melihat Gandi berjalan mendekat dia mundur untuk berlindung agar tidak jatuh jika Gandi akan melakukan hal kasar pada tubuhnya. Dia ingat pesan dari dokter agar tidak sampai jatuh karena janin sangat lemah. Namun Gandi tidak mendekat ke arah Savitri, dia langsung mengambil map yang berisi sertifikat itu.


“Bang, jangan.” teriak Savitri dan berusaha merebut namun tangan kokoh Gandi lebih kuat memegang map itu.


“Aku akan pergi daan tidak perlu berersi barang barangku, yang penting bawa ini.” Ucap Gandi dengan senyum licik sambil mencium map itu. Lalu dia segera membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar Savitri. Savitri tidak tinggal diam dia berusaha mengejar Gandi sambil teriak teriak. Mbak Lastri yang mendengar Savitri berteriak, juga segera mendatangi kamar Savitri dan ikut mengejar Gandi.


Gandi sudah berhasil keluar dari rumah langkah lebar dia dengan cepat meninggalkan Savitri meskipun tadi Savitri juga sudah berusaha menarik baju Gandi. Savitri terus berlari mengejar Gandi.


“Opa tolonggggg.” teriak Savitri sambil berlari saat berada di ruang tamu maksudnya agar Opa menahan Gandi. Akan tetapi saat keluar dari pintu.


“Ahhhhhhhhh.” teriak Savitri kakinya terpeleset oleh keset yang berada di teras depan pintu.


“Bu....” teriak Mbak Lastri sambil menahan tubuh Savitri. Mbak Lastri yang berada di belakang Savitri dengan sigap terus menahan tubuh Savitri agar tidak jatuh. Sementara Gandi terus mengambil motornya dan berlalu.


“Bu... Bu....” ucap Mbak Lastri dengan nada kuatir saat merasakan tubuh Savitri semakin berat karena menopang di tubuhnya dan tampak ekspresi kesakitan di wajah Savitri.


“Ada apa?” teriak Opa yang mengendong Reni sudah berada di dekat mereka. Saat Opa mendengar teriakan Savitri minta tolong, Opa langsung turun dari mobil, Reni akan ditinggal di mobil tidak mau dia mau ikut menolong Mamanya. Opa langsung berjalan menuju ke tempat Savitri berada tidak tahu kalau Savitri minta tolong agar menahan Gandi. Jadi Opa tidak menghiraukan Gandi pergi.


“Mama.. “ ucap Reni yang berada di dalam gendongan Opa.

__ADS_1


“Vit....” ucap Opa, namun Savitri hanya bisa meringis sambil memegang perut bagian bawah.


“Mbak coba ditidurkan di sofa ruang tamu.” ucap Opa lalu segera menurunkan Reni dan dengan segera mengambil alih tubuh Savitri lalu digendong dibawa masuk ke ruang tamu dan ditidurkan di sofa.


“Apa kita bawa ke rumah sakit saja Opa.” usul Mbak Lastri. Terlihat Opa menyetujui. Opa lalu segera berjalan untuk membuka pintu mobil. Sementara Mbak Lastri menyiapkan barang yang akan di bawa. Sedangkan Reni sambil terisak mengusap usap perut Savitri dengan tangan mungilnya.


Mereka lalu segera membawa Savitri ke dalam mobil. Dan mobil terus melaju ke rumah sakit.


“Sakit.... Mbak....” ucap Savitri sambil terus meringis menahan rasa sakit.


“Iya Bu.. sebentar sampai rumah sakit.” ucap Mbak Lastri yang duduk di jok belakang menemani Savitri. Sementara Reni yang duduk di samping Opa terus menoleh ke arah Mamanya dengn ekspresi wajah sangat kuatir.


“Mbak... ada darah di kaki Mama, kaki Mama yang sakit mungkin Mbak.” ucap Reni yang melihat ada darah yang mulai mengalir sampai di betis Savitri.


“Iya... Iya...” jawab Opa, lalu dia menambah laju kecepatan mobilnya, agar segera sampai ke rumah sakit. Saat Reni mengatakan ada darah di kaki Savitri, Opa sudah menambah laju kemudinya dan kini semakin mempercepat laju kemudinya.. keringat sudah mulai mengalir di dahi Opa. Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan rumah sakit. Mobil segera masuk ke dalam halaman rumah sakit. Opa menghentikan mobilnya di depan pintu masuk. Mbak Lastri dengan segera membuka pjntu mobil lalu berlari untuk mengambil brankar yang akan digunakan untuk membawa Savitri. Sedangkan Opa masih duduk terpaku di kursi kemudi. Beliau masih berdebar debar karena kuatir dengan kondisi Savitri juga berdebar debar sebab sudah lama tidak mengendalikan mobil dengan kecepatan penuh.


“Opa ayo turun.” teriak Reni.


“Iya iya.” jawab Opa lalu membuka pintu mobilnya. Sementara Mbak Lastri sudah datang dengan petugas rumah sakit yang membawa brankar. Petugas rumah sakit lalu dengan segera membawa tubuh Savitri ditaruh di atas brankar dan dibawa ke dalam rumahsakit diikuti oleh Mbak Lastri. Sedangkan Opa dan Reni segera masuk lagi ke dalam mobil untuk memarkirkan mobilnya, dan setelahnya kembali menyusul Mbak Lastri.


“Mbak gimana?” tanya Opa saat sudah berada di dekat Mbak Lastri di depan ruang periksa.


“Dokter belum keluar.” jawab Mbak Lastri. Dan tidak lama kemudian seorang Dokter keluar dari dalam ruang periksa.

__ADS_1


“Mana suaminya?” tanya Pak Dokter sambil menatap Opa.


“Suaminya sedang pergi Dok.” jawab Opa.


“Bagaimana Dok?” tanya Opa kemudian.


“Sangat kecil kemungkinan janin bisa diselamatkan. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin.” ucap Dokter sambil menatap Opa.


“Tolong Dok selamatkan keduanya.” ucap Opa, meskipun janin itu benih Gandi, tapi Opa melihat kedua cucunya yang sangat mengharapkan kehadiran bayi yang dikandung oleh Savitri, dan Opa tahu itu suatu kehidupan ciptaanNya maka Opa pun tetap menginginkan janin itu tetap selamat terlepas dari siapa ayah janin itu.


“Kami usahakan Pak. Kami akan bawa pasien ke ruang UGD.” ucap Dokter lalu masuk lagi ke ruang pemeriksaan dan tidak lama kemudian. Brankar yang membawa tubuh Savitri di dorong menuju ke ruang UGD tampak wajah Savitri sudah tidak lagi meringis menahan rasa sakit sebab sudah mendapatkan tindakan awal dari Dokter.


Sementara itu Oma di rumah terlihat gelisah sebab Opa belum pulang. Tadi Oma sudah menelpon Arya untuk menjemput Reno sebab Opa belum pulang, karena Arya sibuk sedang ada meeting maka Pak Harun yang menjemput Reno memakai motor.


“Tadi kenapa tidak minta Pak Harun saja yang bawa mobil, aku bisa jemput Reno pakai taxi kalau urusan Savitri belum selesai. Kalau begini aku kuatir ada apa apa dengan Opa.” gumam Oma sambil berjalan mondar mandir. Tidak lama kemudian terdengar suara dering telpon. Oma segera berjalan untuk mengangkat ganggang telpon rumah. Jantung Oma berdebar debar sebab jika telpon rumah berdering seringnya mendapat informasi penting.


“Hallo. “ suara Opa saat telpon sudah diangkat oleh Oma


“Opa dimana?”


“Di rumah sakit, Arya suruh ke sini penting....”


“Haduh, tadi kenapa Opa tidak nyuruh Pak Harun yang ngantar Opa itu kenapa siapa yang sakit, Opa tidak nabrak apa apa kan...” saut Oma sebelum Opa selesai bicara.

__ADS_1


__ADS_2