
Arya terlihat tersenyum lalu menepuk nepuk pundak Savitri dengan lembut. Dia lalu melepas segala perlengkapan baju pengantinnya yang menempel di tubuhnya. Mulai dari hiasan di kepalanya, lalu baju pengantinnya hingga kain batik bawahannya. Kini Arya hanya memakai singlet dan celana boxernya. Savitri bisa melihat tampilan Arya pada cermin riasnya. Meskipun Savitri sibuk membersihkan make up di wajahnya matanya tetap bisa memandang sosok Arya di cermin riasnya.
Arya lalu menaruh baju pengantin dan perlengkapannya di keranjang baju kotor yang ada di dalam kamar Savitri. Dia lalu membuka kopernya. Arya lalu mengambil handuk besar dari dalam kopernya.
“Aku mandi dulu ya.. biar segar badanku.” ucap Arya sambil menoleh ke arah Savitri, dan Savitri pun menjawab dengan senyuman dan anggukan kepalanya. Arya bisa melihat dari pantulan cermin rias Savitri, dia lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Savitri lalu terlihat menghentikan kegiatan membersihkan wajahnya. Padahal dia belum selesai membersihkan keseluruhan make up di wajahnya. Savitri kini sibuk membuka baju pengantinnya. Dengan cepat dia melepas baju pengantin itu. Dia terburu buru agar cepat selesai sebelum Arya selesai mandi.
Savitri dengan cepat berjalan menuju ke lemarinya dan dengan segera dia membuka pintu lemari lalu menarik satu helai dasternya dan dengan segera dia memakai daster itu. Setelahnya Savitri membuka kain panjang yang membalut bagian bawah tubuhnya. Savitri terlihat lega, lega karena tubuhnya sudah terlepas dari baju pengantin dan sudah tertutup tubuhnya oleh daster. Setelah menaruh baju pengantin, Savitri kembali duduk di kursi riasnya melanjutkan membersihkan wajahnya dari make up.
Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan muncul sosok Arya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhnya. Arya terlihat kaget saat Savitri sudah memakai daster dan masih duduk di kursi rias.
“Honey kapan kamu melepas baju pengantin kok sudah pakai daster?” tanya Arya sambil menoleh menatap Savitri dan Savitri hanya tersenyum.
“Aku padahal ingin membantu melepas baju pengantinmu he... he...” ucap Arya lagi sambil tertawa kecil. Arya lalu berjalan menuju ke kopernya lalu dia memakai tshirt dan celana boxer nya. Sekilas dari pantulan kaca Savitri melihat bagaimana Arya memakai baju dan celana boxernya. Dada Savitri berdebar melihat pemandangan itu meskipun hanya sebentar.
__ADS_1
“Kenapa tidak dipakai saat di dalam kamar mandi sih...” gumam Savitri dalam hati.
Sedangkan Arya setelah memakai baju dia berjalan menuju ke tempat tidur dan segera meloncat ke atas tempat tidur. Dia terbaring terlentang sambil kedua tangannya ditekuk dipakai untuk bantal kedua telapak tangannya. Arya pun merasakan lega. Lega sudah segar tubuhnya, lega saat terbaring terlentang sambil berbantal kedua telapak tangannya dia merasakan punggungnya menjadi nyaman. Lega juga karena dia sudah melepas masa lajangnya.
Arya menatap langit langit kamar pengantin itu.
“Honey apa kamu tidak capek?” tanya Arya sambil masih menatap langit langit kamar. Dia bingung apa yang harus dilakukan sekarang.
“Kalau Papa capek istirahat saja.” jawab Savitri lalu dia bangkit berdiri dari kursi riasnya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Savitri yang di dalam kamar mandi tersenyum mendengar ucapan Arya. Lalu Savitri segera mandi dia akan mandi dan keramas agar rambut dan tubuhnya benar benar bersih dan segar. Sementara Arya yang di atas tempat tidur merasakan Savitri terlalu lama di kamar di mandi, berkali kali Arya menoleh melihat pintu kamar mandi berharap Savitri segera keluar dari pintu kamar mandi.
Dan beberapa saat kemudian pintu terbuka, muncul sosok Savitri dengan tubuh segarnya terbalut oleh bath robe. Savitri lalu berjalan di kursi riasnya terlihat Savitri mengeringkan rambutnya. Arya kini sudah tidak tiduran terlentang dia memiringkan tubuhnya sambil terus menatap sosok Savitri. Saat dilihat rambut Savitri sudah terlihat kering, Arya lalu bangkit dari tidurnya dia lalu berjalan menuju ke tempat duduk Savitri. Arya yang sudah tidak tahan lalu dia segera mengendong tubuh Savitri.
“Pa... masih sore...” ucap Savitri yang sudah berada di dalam gendongan Arya.
__ADS_1
“Aku sudah tidak tahan, aku sangat merindukanmu, satu minggu aku tidak ketemu kamu dan setiap hari minum jamu.. kini saatnya aku akan melepas rasa rinduku dan membuktikan efek jamu itu...” bisik Arya sambil berjalan menggendong Savitri menuju ke tempat tidur. Arya lalu segera membaringkan tubuh Savitri dengan pelan di tempat tidur. Dia pun dengan segera naik ke atas tempat tidur. Arya menciumi wajah Savitri yang halus dan harum. Ciuman Arya pun semakin turun dan turun, hingga bath robe Savitri lepas talinya dan itu sangat memudahkan Arya untuk mengeksplore seluruh tubuh Savitri dengan bibir dan tangannya. Savitri pun hanya pasrah dan menikmati setiap sentuhan dari bibir dan tangan kekar Arya. Leguhan Savitri yang menikmati sentuhan Arya pun semakin membuat hasrat Arya meronta ronta.
Arya lalu melepas tshirt nya dan dia lempar begitu saja tshirt itu ke lantai. Jari jari lentik Savitri pun bergerak menurunkan boxer yang dipakai oleh Arya. Bantuan dari Savitri itu pun semakin membuat hasrat Arya semakin memuncak. Kini pandangan mata Savitri pada G String Arya dengan bagian tubuh di dalam nya sudah meronta ronta ingin masuk ke dalam sarangnya. Arya pun dengan segera melepas benda yang masih menghalangi bagian tubuhnya yang meronta ronta itu. Dan mereka berdua pun akhir nya melepas rindu berbagi cinta hingga sore berganti malam hari.
Kini jam makan malam pun tiba. Sementara itu Reno dan Reni yang sudah diperingati untuk tidak boleh masuk ke dalam kamar Savitri, hanya melihat pintu kamar itu saat mereka berdua melewati kamar itu. Sambil dalam hati bertanya tanya kapan adik bayi akan datang.
“Nek adik bayi nya kapan datang nya?” tanya Reno saat dia sudah duduk di meja makan.
“Ya tidak tahu kapan datangnya. Maka kalian jangan masuk ke dalam kamar Mama dan Papa dulu sampai adik bayi datang. Kalau adik bayi malu dia tidak jadi datang.” jawab Nenek, dan Kakek yang mendengar hanya tersenyum. Sementara Reni juga turut mendengarkan jawaban Nenek dengan serius. Sedangkan Oma dan Opa sudah pulang ke rumahnya sore hari tadi.
“Apa mereka berdua Nenek biarkan tidak makan malam?” tanya Kakek pada Nenek setelah Nenek selesai memberi jawaban pada Reno.
“Biarkan saja Kek, pasti nanti kalau mereka berdua lapar akan keluar kamar untuk makan.” ucap Nenek sambil mengambilkan nasi pada piring Reno dan Reni.
“Iya Kek, biar saja Mama dan Papa sedang menunggu adik bayi datang. Nanti kalau kita ketuk ketuk pintunya adik bayi tidak jadi datang.” ucap Reni sambil menatap wajah Kakek.
__ADS_1