
Mobil segera melaju menuju ke rumah sakit. Ekspresi wajah Arya terlihat sangat panik. Reno yang duduk di jok samping Arya juga terlihat panik namun dia sudah tidak menangis lagi. Mbak Lastri dan Reni yang duduk di belakang bersama Savitri terus memanggil manggi nama Savitri sambil menggosok gosok tubuh Savitri dengan minyak angin.
Beberapa menit kemudian mobil sampai di halaman rumah sakit. Arya memarkir mobilnya di dekat pintu masuk. Arya lalu dengan sigap membuka pintu, dan melangkahkan kakinya. Terlihat Reno juga melakukan hal yang sama.
“Kakak tunggu di sini.” ucap Arya karena ia tahu langkah kaki kecil Reno tidak bisa mengikuti langkah kakinya yang akan berlari mengambil brankar. Reno menuruti perkataan Arya, dia tidak jadi ikut turun dari mobil dia tetap duduk di jok sambil menoleh ke belakang melihat Mamanya dengan wajah sedih. Mbak Lastri dan Reni terlihat masih terisak isak sambil meleleh air matanya.
Tidak lama kemudian Arya datang dengan membawa brankar bersama para petugas rumah sakit. Arya membuka pintu mobil dengan pelan pelan dia mengambil Savitri dan menidurkan di brankar dibantu oleh petugas rumah sakit.
“Mbak Lastri ikuti mereka.” Ucap Arya pada Mbak Lastri yang juga sudah turun dari mobil.
“Kakak dan Adik, ikut Papa dulu.” ucap Arya lalu dia masuk kembali ke dalam mobil. Reno dan Reni masih duduk di dalam mobil.
“Pa, ayo tungguin Mama.” Teriak Reni.
“Iya Sayang, kita parkir mobilnya dulu.” ucap Arya. Tidak lama kemudian Arya sudah selesai memarkirkan mobilnya. Lalu mereka bertiga turun dari mobil.
“Ayo, Papa gendong kalian agar cepat sampai di tempat Mama.” Ucap Arya lalu dia mengendong kedua keponakannya. Reno digendong di belakang sedangkan Reni digendong di depan. Arya lalu segera melangkahkan kakinya dengan cepat.
Tidak lama kemudian Arya sudah sampai di depan ruang pemeriksaan. Mbak Lastri tadi yang sudah mendaftarkan. Kini Mbak Lastri terlihat berdiri menunggu di depan ruang pemeriksaan.
“Mama mana Mbak?” tanya Reno dan Reni setelah diturunkan dari gendongan Arya.
“Di dalam sedang di periksa oleh Dokter.” jawab Mbak Lastri sambil menatap ruang periksa yang pintunya tertutup. Reno dan Reni menatap pintu ruang periksa itu dengan tatapan sedih. Sedangkan Arya mengambil hapenya akan memberi kabar kepada orang tuanya dan juga orang tua Savitri.
__ADS_1
Sesaat pintu terbuka muncul seorang Dokter dari balik pintu.
“Pa Pa... Pak Dokter keluar.” Teriak Reno pada Arya yang masih sibuk pada hapenya. Arya lalu menoleh ke arah pintu lalu melangkah mendekat pada Dokter.
“Ayo masuk.” ucap Dokter pada Arya. Lalu Arya masuk ke dalam ruang periksa mengikuti langkah kaki Pak Dokter.
“Pak, Anda sebagai suami sangat keterlaluan membawa istri dalam keadaaan seperti ini. Terlambat sedikit saja nyawa dua orang melayang.” ucap Pak Dokter sambil menatap tajam wajah Arya yang dikira suami Savitri. Sedangkan Arya kaget dan tidak mengerti kata dua nyawa.
“Bagaimana keadan dia Pak?” tanya Arya dengan kuatir.
“Keadaan mereka sangat mengkuatirkan.” Jawab Pak Dokter
“Mereka?” tanya Arya
“Iya, Bapak jangan hanya suka buatnya tapi mengabaikan kesehatannya. Istri dan anak Bapak dalam kondisi yang sangat lemah. Kami sudah memberi tindakan awal. Kita tunggu perkembangannya.”
“Anda suaminya tidak tahu kalau istri hamil?” tanya Pak Dokter.
“Dia Kakak saya Pak.” jawab Arya, Pak Dokter tampak diam sesaat. Lalu memberitahu kalau pasien akan dibawa ke ruang ICU.
Brankar yang membawa Savitri didorong oleh petugas rumah sakit menuju ke ruang ICU. Arya kembali mengendong Reno dan Reni sedangkan Mbak Lastri membawa tas pakaian Savitri dan satu kantong berisi makanan dan minuman yang baru saja dia beli bersama Reno dan Reni di mini market di rumah sakit.
“Pa kenapa Mama masih diam saja?” tanya Reno saat Savitri dimasukkan ke dalam ruang ICU.
__ADS_1
“Iya, kondisi Mama masih lemah, kita tunggu semoga Mama segera siuman.” jawab Arya dia masih bingung bagaimana cara mengatakan kalau Savitri sedang hamil. Dia berpikir Gandi harus tahu akan kondisi Savitri dan anaknya yang masih di dalam kandungan. Arya terlihat mengurut urut pelipisnya.
“Kakak dan Adik nanti pulang dulu ya Oma sebentar datang buat menjemput Kakak dan Adik.” ucap Arya sambil duduk memangku Reni sementara Reno duduk di sampingnya. Arya sudah menghubungi Oma meminta beliau dstang untuk menjemput Reno dan Reni, karena Arya akan menghubungi Gandi. Dia kuatir jika Reno dan Reni bertemu Gandi akan ketakutan lagi.
“Enggak mau.... aku mau nungguin Mama.” ucap Reno dan Reni sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Arya dan Mbak Lastri terlihat membujuk kedua anak itu agar nanti mau ikut pulang dulu. Dan tidak lama kemudian Oma sudah di rumah sakit diantar oleh Pak Sopir.
“Bagaimana kondisi Savitri?” tanya Oma sambil menatap Arya. Arya belum menyampaikan kalau Savitri sedang hamil.
“Ya sudah, aku bawa pulang Reno dan Reni. Kamu segera kabari Gandi. Orang tua Savitri sudah diberi tahu belum?” ucap Oma selanjutnya. Mendengar kata Gandi Reno dan Reni semakin mendekatkan tubuhnya kepada Arya. Serasa tidak mau lepas dari tubuh Arya. Tampak wajah takut mulai menghiasi wajah mereka.
“Ayo pulang dulu, nanti Mama sudah siuman ke sini lagi. Tidak baik anak kecil di rumah sakit.”ucap Oma sambil berusaha mengendong Reni. Tampak Reni malah semakin memeluk erat Arya.
“Aku mau nungguin Mama.” ucap Reno sambil menatap Oma dengan wajah memohon agar diijinkan untuk tetap di rumah sakit.
“Sayang, kita pulang dulu, Papa Arya mau ngabari Papa Gandi.” ucap Oma yang juga kuatir jika kedua cucunya bertemu Gandi.
“Papa Gandi tidak usah dikasih tahu biar tidak ke sini.” ucap Reno
“Ada hal penting yang ingin Papa Arya katakan pada Papa Gandi, jadi dia harus ke sini demi kesehatan Mama.” ucap Arya sambil mengusap usap kepala Reno. Akhirnya Reno mau diajak pulang oleh Oma, dan Reni kalau Kakaknya mau pulang dia juga ikut.
“Mbak Lastri punya nomor telpon Gandi tidak?” tanya Arya setelah Oma sudah membawa pulang kedua keponakannya.
“Punya saya minta dari Pak Satpam, meskipun saya tidak pernah menghubunginya.” Jawab Mbak Lastri. Lalu terlihat Mbak Lastri mengusap usap hapenya mengirim kontak Gandi ke hape Arya. Setelah terkirim. Arya dengan segera akan mengabari kepada Gandi. Arya menghubungi berkali kali terdengar nada sambung namun tidak diangkat oleh Gandi.
__ADS_1
“Kok tidak diangkat Mbak.” Gumam Arya masih mencoba menghubungi Gandi terus.
“Mungkin sedang mabuk mabuk tidak dengar suara hape.”