Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 54. Rencana Cerai


__ADS_3

Tubuh Gandi sudah terkapar tidak berdaya. Petugas bertubuh kekar itu lalu menyeret tubuh Gandi. Dibuka pintu utama Tuan Lion, lalu dilemparnya tubuh Gandi keluar pintu Dan dengan segera pintu ditutup lagi.


Leli yang mendengar suara pintu dibuka segera menoleh, akan tetapi di sangat kaget saat melihat tubuh Gandi yang dilempar sudah babak belur terkapar tidak berdaya. Terdengar suara erangan darI mulut Gandi. Leli lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tubuh Gandi.


“Bang kenapa bisa begini?” tanya Leli sambil memegang tubuh Gandi, dan Gandi hanya bisa mengerang kesakitan.


“Kalian apakan Bang Gandi?” teriak Leli sambil menatap tajam ke arah petugas penjaga pintu. Dua petugas penjaga pintu itu Leli tatap secara bergantian.


“Hei jawab kalian apakan sampai Bang Gandi seperti ini, aku laporkan kalian semua pada polisi.” teriak Leli sekali lagi, dan tidak ada satu pun yang menjawab. Akan tetapi salah satu dari mereka berjalan mendekat ke tubuh Gandi. Lalu menginjak dengan keras perut Gandi.


“Aaaaawh....” teriak Gandi dan selanjutnya dia terus mengerang kesakitan. Leli yang melihat semakin bingung antara marah, takut dan kuatir dengan kondisi Gandi.


“Tidak usah banyak omong segera bawa pergi lakimu itu atau menjadi bangkai di sini untuk makanan bintang.” ucap salah satu petugas dengan nada dingin. Leli ketakutan suasana malam yang sepi membuat jantung Leli semakin berdebar debar, dia takut akan mengalami nasib yang sama seperti Gandi. Leli lalu dengan susah payah menyeret tubuh Gandi.


“Tolong.... tolong... angkat tubuh Bang Gandi ke atas motor.” ucap Leli pada petugas dengan memelas, sebab dia tidak bisa mengangkat tubuh Gandi. Dua petugas itu hanya tersenyum mengangkat salah satu ujung bibirnya, dan mereka tetap berdiri tegak di tempat. Leli terus berusaha menarik tubuh Gandi agar bisa berada di atas motor. Akhirnya Leli menaruh tubuh Gandi di bagian depan motor matic Savitri. Tubuh Gandi yang babak belur kesakitan masih ditambah ditekuk tekuk oleh Leli agar memudahkan dia dalam mengendarai motornya.


“Lebih mudah bawa karung belanjaan warung dari pada bawa Bang Gandi. Rencana mau senang senang malah jadi begini. Mau ditinggal Bang Gandinya kasihan juga kalau jadi bangkai.” gumam Leli dalam hati sambil melajukan motornya. Saat di dalam perjalanan Gandi terus mengerang kesakitan. Sementara Leli bingung akan dibawa kemana tubuh Gandi.

__ADS_1


“Apa ditaruh di rumah istrinya saja ya...” gumam Leli dalam hati.


“Tapi Bang Gandi sudah mencuri sertifikatnya pasti akan tambah dipukuli. Mungkin juga istri Bang Gandi sudah menghubungi Tuan Lion mengatakan sertifikatnya dicuri terus membayar Tuan Lion agar Bang Gandi dipukul. Ihhhh bingung... Mau dibawa ke rumah sakit aku ga punya uang, dibawa ke puskesmas malam malam tidak ada puskesmas buka... “ gumam Leli lagi


“Mana bensin motor akan habis begini.” gumam Leli saat melihat tanda di depan kalau bensin sudah di posisi limit.


Sementara itu di lain tempat Savitri sudah keluar dari ruang operasi. Brankar yang membawa Savitri didorong oleh perawat dari ruang operasi menuju ke ruang rawat. Nenek dan Kakek mengikuti langkah kaki perawat yang mendorong brankar Savitri. Terlihat mata Savitri terbuka sesaat akan tetapi selanjutnya terpejam lagi. Nenek mempercepat langkah kakinya, dan kini berada di samping brankar yang membawa tubuh Savitri.


“Vit... “ ucap Nenek masih terus berjalan mengikuti jalannya brankar.


“Sus, bagaimana kondisi anak saya?” tanya Nenek pada perawat, dia kuatir dengan kondisi Savitri.


Tidak lama kemudian brankar Savitri sudah berada di ruang rawat, ruang vip. Arya sudah memesankan kamar rawat vip untuk Savitri, agar Nenek dan Kakek bisa menunggu dan beristirahat dengan nyaman. Perawat membuka pintu kamar itu lalu segera memasukkan brankar Savitri. Kakek dan Nenek segera turut masuk. Kakek dan Nenek menaruh barang bawaannya di lemari di dalam kamar rawat Savitri. Perawat memberi pesan pada Kakek dan Nenek jika memerlukan bantuan agar segera memencet tombol. Tampak Kakek dan Nenek menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih.


“Vit.... lihat Ibumu ini, jangan bersedih yang sudah pergi biarlah pergi.” ucap Nenek sambil mengusap usap tangan Savitri.


“Bu dimana Opa dan Mbak Lastri?” tanya Savitri dengan suara lirih, dia mencari Opa dan Mbak Lastri sebab tadi yang dia lihat sebelum masuk ruang operasi yang mengantar Opa dan Mbak Lastri.

__ADS_1


“Mereka mengurus penguburan anakmu dengan Arya. Syukurlah kalau kamu sudah sadar dan membaik, tadi kamu membutuhkan banyak darah padahal darah di rumah sakit sedang kosong karena habis ada operasi karena kecelakaan.” ucap Nenek yang sudah diberitahu oleh Mbak Lastri dan Savitri hanya menatap Nenek menunggu cerita selanjutnya.


“Terus Arya yang memberikan darahnya buat kamu. Aku sungguh menyesal kenapa tidak menerima usulan Oma agar dulu segera menikahkan kamu dengan Arya.” ucap Nenek.


“Bu sudah jangan bilang yang sedih sedih dulu.” ucap Kakek


“Ini kan gara gara Kakek juga yang termakan bujuk rayu Gandi. Sekarang buktinya malah bikin Savitri sengsara.” ucap Nenek sambil menatap ke arah Kakek.


“Bu.. sudah ini salah Savitri juga, begitu percaya pada orang yang belum begitu kenal. Vitri sudah tidak mau lagi Bu sama Bang Gandi... hiks... hiks.. dia juga sudah mengotori rumah Vitri dengan membawa perempuan lain, sudah mengambil surat surat tanah... hiks... hiks.....” ucap Savitri sambil menangis memikirkan sertifikat yang dibawa kabur Gandi.


“Ooo itu kata Arya hanya fotokopi saja, fotokopi warna dan memakai kertas tebal jadi sepintas mirip. Sudah kamu tenang saja, semua surat surat penting di tempat yang aman.” ucap Kakek


“Kalau kamu mau cerai dengan Gandi aku yang akan menguruskan.” ucap Kakek kemudian.


“Iya Pak, rencana rumah Bang Ardi akan saya kontrakan dulu agar Bang Gandi tidak bisa lagi datang ke sana. Biar nanti kalau Reno sudah besar yang memikirkan mau diapakan rumah itu. Aku bisa tinggal di rumah Bapak Ibu atau Opa Oma ngikutin Reno dan Reni.” Ucap Savitri yang sudah tidak mau lagi melihat dan berurusan dengan Gandi.


“Aku setuju Vit.” ucap Kakek dan Nenek bersamaan.

__ADS_1


“Pak, tolong telpon Reno dan Reni, aku sangat kangen. Tadi saat aku dioperasi aku bermimpi mereka berdua sangat bersedih karena Adik yang dia nanti nanti meninggal. Mereka sudah minta dibelikan box bayi untuk Adiknya sudah beli banyak mainan untuk adik bayinya.” pinta Savitri pada Kakek .


“Iya iya aku juga sudah kangen sama cucu cucuku aku juga ingin mendengar suara mereka.” Jawab kakek dan dengan segera Kakek mengusap usap hapenya untuk melakukan sambungan telpon dengan Opa agar bisa berbicara dengan kedua cucunya.


__ADS_2