Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 65. Sesi 2. Tugas Sekretaris Baru


__ADS_3

Perempuan yang tidak lain adalah Helena itu lalu bangkit berdiri sambil menggandeng tangan mungil anaknya berjalan meninggalkan meja Pimpinan Divisi HRD. Dia berjalan sambil menoleh ke arah Savitri yang masih duduk di sofa. Anak laki laki Helena pun juga menatap wajah Reni sambil tersenyum. Sedangkan Reni juga memandang wajah anak laki laki yang sebayanya namun dengan ekspresi wajah daftarnya, dia merasa kasihan saat mendengar orang tuanya tidak punya uang, tetapi kenapa orang tuanya terlihat tidak suka dengan Mamanya.


“Ayo Sayang kamu duduk di sini apa ikut Mama.” ucap Savitri memecahkan lamunan Reni lalu dia bangkit berdiri memgikuti Mamanya.


“Bu Vitri apa kabar.” ucap Bapak Pimpinan Divisi HRD sambil menyalami tangan Savitri, lalu menunduk untuk menyalami tangan mungil Reni.


“Kelas berapa Cantik?” tanya Bapak Pimpinan Divisi HRD sambil menyalami tangan mungil Reni. Reni menjawab pertanyaan itu dengan mantap.


“Apa yang bisa saya bantu Bu Vitri?” tanya Bapak Pimpinan Divisi HRD dengan suara ramah dan sopan. Savitri lalu menyampaikan niatnya untuk terlibat berperan di perusahaan almarhum suaminya dan juga menyampaikan saran dari Ibu Nuning dan Pak Bagas.


“Begitu Pak, terus saya perlu menyerahkan Curriculum Vitae saya tidak?” tanya Savitri dengan nada serius.


“Lebih baik menyerahkan Bu Vitri, untuk melengkapi data perusahaan. Pak Arya juga, Pak Ardi dulu juga.” jawab Bapak Pimpinan Divisi HRD dengan sopan.


“Baiklah besok saya akan bawa. Tapi Pak maaf apa kehadiran saya tidak membuat kecemburuan calon karyawan seperti Ibu tadi....” ucap Savitri yang sebenarnya dia juga kepo tentang Helena.


“Tidak Bu, itu wewenang dari perusahaan. Jika dari tim kami menyetujui akan tetapi Pak Arya tidak menyetujui calon karyawan juga gagal Bu. Kadang Pimpinan Perusahaan mempunyai alasan tertentu untuk menolak calon karyawan. “


“Pak Arya sudah memesan pada saya untuk tidak menerima Ibu Helena tadi. Kemarin dia sudah datang secara pribadi pada Pak Arya. Dan setelah Ibu Helena pulang Pak Arya mendatangi saya, beliau memang sempat bingung antara demi kemanusian, profesionalisme dan masalah pribadi.”


“Sekarang Ibu Helana datang lagi dengan melamar secara resmi, ya sudah saya terima berkasnya. Nanti saya yang akan atur bagaimana cara menyampaikan informasi hasilnya pada Ibu Helena.” ucap Bapak Pimpinan Divisi HRD sambil membuka buka berkas yang dibawa oleh Helena tadi. Savitri terdiam dia jadi paham kenapa Arya sampai sakit kepala mungkin karena kasihan dan juga Helena memaksa agar diterima menjadi karyawan di sini.


“Ma... Aku juga lapar sekarang kayak anak cowok tadi.” ucap Reni membuyarkan lamunan Savitri. Bapak PimpinanDivisi HRD pun menaruh berkas Helena yang dibuka buka lalu tangannya meraih toples kecil di mejanya.

__ADS_1


“Ini ada biskuit Anak Cantik mau tidak?” Bapak Pimpinan Divisi HRD menawarkan biskuit kepada Reni namun Reni menjawab dengan menggeleng gelengkan kepalanya.


“Terimakasih Pak, mungkin capek dia sebab tadi langsung pulang dari sekolah. Baiklah saya pamit Pak besok saya bawa berkas berkas saya.” ucap Savitri. Dia dan Reni lalu berjabat tangan dengan Bapak Pimpinan Divisi HRD lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Savitri lalu menghubungi Pak Slamet agar segera mengantar mereka pulang ke rumah Opa dan Oma.


Di sepanjang perjalanan Savitri hanya diam saja pikirannya masih memikirkan Helena dia tidak begitu mendengar saat Arya bercerita kepada Oma tentang Helena.


“Kenapa dia menjadi orang tua single, apa cerai apa ditinggal mati seperti diriku.” gumam Savitri dalam hati.


“Ma, anak cowok tadi juga tidak punya Papa ya.. Mamanya tidak punya uang ya.. dia lapar.. tadi kenapa Mama tidak kasih dia uang sih..” ucap Reni sambil menoleh dan mendongakkan kepala menatap Mamanya.


“Mama kan tidak kenal mereka, lagian Mamanya minta pekerjaan bukan minta uang, nanti tersinggung dikira kayak pengemis.” ucap Savitri sambil mengusap usap kepala Reni


“Ooo ya sudah kasih saja pekerjaan.. bilang Papa Arya agar dikasih pekerjaan kasihan kan .. kalau tidak kerja tidak gajian kan Ma.. tidak gajian tidak punya uang.. tidak bisa makan...tidak bisa beli susu..” ucap Reni dengan bibir mungilnya mengerucut ke depan saat mengucap kata terakhir.


“Non kok pinter banget.” ucap Pak Slamet yang mendengar celotehan Reni sambil terus fokus mengemudikan laju mobilnya.


Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di halaman rumah Opa dan Oma. Terlihat mobil Opa pun juga sudah berada di halaman rumah.


“Pak Slamet ayo ikut makan siang di rumah.” ucap Savitri sambil membuka pintu mobil. Pak Slamet terlihat setuju dia lalu mematikan mesin mobil dan juga segera turun dari mobil sedangkan Reni setelah pintu mobil terbuka langsung turun berlari menuju ke dalam. Savitri dan Pak Slamet juga segera berjalan ke dalam rumah.


“Ma, Pa bagaimana keadaan Arya?” tanya Savitri saat melihat Oma dan Opa duduk di sofa di ruang tengah.


“Kecapekan dan kena virus sementara diobati dan istirahat di rumah jika tiga hari masih sakit kembali lagi ke rumah sakit.” jawab Oma. Dan selanjutnya Oma dan Opa tanya Savitri tentang hasilnya ke perusahaan. Savitri menjelaskan semua akan tetapi tidak menyampaikan dia bertemu dengan Helena. Savitri lalu menuju ke kamarnya untuk mengganti baju Reni dan terlihat Reno juga baru berganti pakaian. Terdengar Reni sudah bercerita kepada Reno tentang kedatangannya ke perusahaan.

__ADS_1


“Kalian langsung ke ruang makan ya, Ren ajak Pak Slamet masuk ke ruang makan ya. Mama mau lihat Papa Arya sambil memberikan berkas berkas titipannya ini.” ucap Savitri setelah mengganti baju Reni dan juga sudah membersihkan tangan dan kakinya. Savitri lalu berjalan menuju ke kamar Arya.


Savitri mendorong pelan pintu kamar Arya. Tampak Arya terbaring di tempat tidurnya, namun punggungnya bersandar pada sandaran tempat tidur dan terlihat sibuk dengan hapenya.


“Ya..” sapa Savitri sambil berjalan menuju ke meja yang berada di di kamar Arya lalu menaruh berkas berkas yang diminta.


“Ini pesanan kamu, dan mulai sekarang aku magang menjadi sekretarismu.” ucap Savitri sambil tersenyum.


“Terimakasih Kak Vitri.” ucap Arya.


“Ya aku tadi bertemu dengan seorang perempuan single parent yang membutuhkan pekerjaan.” ucap Savitri sambil menatap wajah Arya. Dia sebenarnya ingin Arya juga bercerita kepadanya tentang Helena.


“Apa itu Helena?” tanya Arya sambil menatap Savitri dan Savitri menjawab dengan aggukan kepalanya.


“Terlepas dari masa lalumu, apa tidak bisa kita merekruit dia. Kasihan anaknya Ya.” ucap Savitri selanjutnya.


“Kak Vitri bukannya aku manusia yang tidak punya rasa belas kasihan. Tapi aku tidak mau lagi pusing dengan urusan dia.” ucap Arya dengan nada serius.


“Saat dia sedang bahagia dia tidak mengingat aku, akan tetapi saat dia kesusahan kenapa baru mengingat aku. Sudahlah Kak lupakan dia. Kalau melihat anaknya akupun tidak sampai hati, apalagi dia seusia dengan Reni.” ucap Arya selanjutnya sambil menatap wajah Savitri.


“Kalau ditaruh di bagian produksi bagaimana Ya. Toh di lokasi berbeda kamu tidak bertemu dengan dirinya.” Savitri memberikan usulan, tampak Arya berpikir pikir.


“Aku pikir pikir dulu, biarkan juga dia mencari pekerjaan di tempat lain, toh masih banyak perusahaan yang lain.” ucap Arya, Savitripun setuju dengan cara pikir Arya

__ADS_1


“Sekarang tugas sekretaris baruku jadwalku makan siang. Tolong bawakan makan siangku ke sini.” ucap Arya selanjutnya. Tampak Savitri mengeryitkan dahinya, lalu dia tersenyum ....


“Baik Pak Arya akan segera saya ambilkan.” ucap Savitri sambil berjalan meninggalkan kamar Arya. Dan terlihat Arya tersenyum datar.


__ADS_2