Suami Turun Level

Suami Turun Level
Bab. 79. Sesi 2. Bukan Gombalan


__ADS_3

Arya masuk ke dalam kamarnya. Dia heran kenapa pagi pagi Oma sudah tahu tadi malam ada adegan dia peluk peluk Savitri.


“Hmmm apa Kak Vitri yang cerita ke Oma. Apa dia terkenang kenang pelukanku hingga cerita cerita.” gumam Arya dalam hati sambil tersenyum. Sebab Arya tidak mengira jika Reni sudah bangun di pagi pagi dan sudah cerita ke Oma. Arya lalu segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi


Beberapa waktu kemudian semua sudah berkumpul di meja makan. Savitri pun sudah tampil cantik siap akan ke perusahaan untuk mulai bekerja di hari pertama. Arya sekilas memandangnya sambil tersenyum. Sedangkan Reni tampak hanya menundukkan kepalanya melihat ke arah makanan di depannya. Selain dia takut dimarahi Arya, dia juga sedih tidak boleh ikut ke perusahaan karena harus bersekolah dan sedihnya bertambah karena dia ke sekolah diantar oleh Opa sedangkan Reno diantar oleh Arya dan Savitri. Berbeda dengan Reni yang hanya mendudukkan kepala, Reno pagi ini wajahnya sangat ceria dan bersemangat.


“Adik tidak usah sedih, makan yang banyak biar cepat jadi anak SD terus bisa di antar oleh Mama dan Papa Arya.” Ucap Reno sambil menatap Reni.


“Iya tidak usah sedih, sekarang kalau kamu diantar Papa Arya masih terlalu pagi sayang.. kamu nanti di sana belum ada temannya.” ucap Savitri sambil membantu Reni makan.


“Iya nanti kamu diculik lho...” ucap Reno yang bermaksud untuk menakut nakuti Reni agar mau diantar oleh Opa, akan tetapi tiba tiba malah Reni menangis dengan suara keras.


“Hua... hua... hua... Hua... aku tidak mau diculik.... hua.... Hua...” tangis Reni pecah dia malah benar benar takut jika akan diculik.


“Hua... hua... hua... aku tidak mau sekolah takut diculik... Aku ikut Mama saja...hua Hua...” tangis Reni lagi malah mengambil kesempatan agar tidak berangkat ke sekolah dan ikut Savitri ke perusahaan agar bisa bermain main dengan Om Keren dan Ganteng.


Savitri terlihat sedikit bingung karena harus mendiamkan Reni agar tidak menangis dan juga dia sendiri sedikit nervous karena hari pertama kerja bersama Arya dan juga ada rencana mengunjungi Helena.


“Kakak kenapa ditakut takuti sih, jadi nangis Adiknya.” ucap Savitri menatap Reno sekilas lalu dia mengusap usap kepala Reni sambil.menghapus air mata Reni dengan tisu.

__ADS_1


“Adik sudah jangan nangis, bedaknya hilang dan jadi cemong kena air mata. Kalau tidak sekolah jadi bodoh kamu nanti.” ucap Savitri tetapi Reni terus saja menangis.


“Ya sudah ayo ikut diantar Papa, cepat makannya dihabiskan keburu siang Kak Reno terlambat nanti, Papa dan Mama juga terlambat.” ucap Arya menengahi dan mengalah agar drama di meja makan tidak berlanjut.


“Opa ayo mengikuti dari belakang nanti nungguin Reni. Tidak apa apa aku muter dikit, dari pada pagi pagi sudah penuh derai air mata.” ucap Arya yang melihat Savitri kebingungan mendiamkan tangis Reni.


“Ya sudah ayo Opa siap siap ganti baju sana. Nanti aku juga ikut mau beli jajan di depan sekolah Reni itu.” ucap Oma dan terlihat Arya mengeryitkan dahinya sambil menatap Oma sedangkan Oma hanya tersenyum.


Setelah selesai makan pagi mereka semua kembali ke kamarnya untuk kembali merapikan diri dan mengambil perlengkapan kerja dan sekolahnya. Savitri terlihat kembali merapikan bedak Reni dan selanjutnya juga merapikan riasan wajah dia sendiri.


“Mama cantik.” puji Reno yang sudah siap dengan tas punggungnya.


Reno dan Reni terlihat berlari menuju ke mobil Arya dan selanjutnya mereka berdua masuk ke dalam mobil. Mereka berdua terlihat sangat senang dan bahagia. Reni sudah tidak terlihat jejak tangis di wajahnya. Arya pun tersenyum melihat kedua keponakannya yang terlihat bahagia di pagi hari.


“Senang jika melihat mereka bahagia.” Ucap Arya sambil tangan satunya memeluk pundak Savitri yang berjakan di sampingnya.


“Hayo peluk peluk lagi.. Pa kita harus segera ke rumah Nenek dan Kakek untuk melamar.” ucap Oma yang sudah berjalan di belakang Arya dan Savitri. Arya yang tidak menyangka ada Oma di belakang nya lalu segera menarik tangannya yang baru saja menempel di pundak Savitri. Savitri terlihat tersenyum dan pipinya merona merah. Tanpa menoleh mereka berdua terus berjalan menuju ke mobil. Mobil lalu berjalan menuju ke sekolah Reno sebelum menuju ke sekolah Reni.


Setelah mengantar Reno dan Reni, mobil Arya langsung menuju ke perusahaan. Arya bibirnya selalu tampak tersenyum dan sesekali melirik ke arah Savitri yang duduk di jok sebelahnya. Sedangkan Savitri ekspresinya terlihat sedikit tegang.

__ADS_1


“Kak Vitri tenang saja, tidak usah nervous dan kuatir.” ucap Arya sambil terus fokus mengendalikan laju kemudi mobilnya.


“Hmmm aku sepertinya harus memanggil Kak Vitri dengan sebutan Ibu Vitri saja.” ucap Arya selanjutnya sambil tersenyum dan sekilas menoleh menatap Savitri.


“Baik Pak Arya...” ucap Savitri sambil tersenyum dia berusaha untuk merilekskan diri agar tidak terlihat tegang. Arya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan terus melajukan mobilnya.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman gedung perusahaan. Mobil terus berjalan menuju ke tempat parkir. Setelah mobil berhenti, mereka berdua keluar dari pintu mobil.


“Kak.. eh Bu Vitri kita lewat sini saja ada lift yang langsung menuju ke ruanganku eh ruangan kita.” ucap Arya sambil menggandeng tangan Savitri untuk diajak berjalan menuju ke lift tidak berjalan menuju ke depan lewat resepsionis.


“Pak Arya sudah jangan digandeng tangan saya, nanti kalau ada yang lihat malu.” ucap Savitri sambil menarik tangannya dan mereka lalu berjalan menuju ke lift yang akan membawa mereka menuju ke lantai tempat ruang kerjanya.


“Selamat pagi Pak Arya selamat pagi Bu....” ucap salah satu karyawan cleaning service yang sedang membersihkan lantai yang mereka lewati. Arya dan Savitri membalas sapaan mereka sambil tersenyum.


“Ternyata sudah ada yang melihat, tidak apa apa aku gandeng lagi he... he...” ucap Arya sambil tertawa kecil lalu menggandeng tangan Savitri lagi. Sedangkan Savitri yang masih malu menarik lagi tangannya. Arya malah mempererat gandengan tangannya sambil terus tertawa kecil. Dan tidak lama kemudian mereka sampai di depan pintu lift. Arya melepas tangan Savitri lalu dia menekan tombol lift. Dan setelahnya Arya menoleh menatap wajah Savitri.


“Rasanya sekarang tubuh Ibu Vitri ada magnetnya yang selalu menarik anggota tubuhku.” ucap Arya sambil tersenyum dan menatap mesra ke wajah Savitri .


“Sejak kapan kamu pintar mengombal.” ucap Savitri dan tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Arya kembali dengan segera menarik tangan Savitri dengan pelan dan digandengnya untuk memasuki pintu lift.

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu sejak kapan, tetapi ini kenyataan dan bukan gombal.” ucap Arya dengan nada serius setelah pintu lift tertutup.


__ADS_2