Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Byurrr


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal makan malam sesuai dengan perintah sang papa. Entah mengapa Cia memiliki pirasat buruk tentang makan malam hari ini. Hingga dia menghubungi sang sahabat yaitu Aidan untuk nongkrong di tempat mereka.


'Aidan ku yang ganteng. Kuy,,,kumpul ditempat biasa, gue tunggu lo 20 menit dari pesan ini' ketik pesan Cia kepada Aidan.


'Gue masih hotel, anj*, sekarang otw' balasnya membuat Cia tertawa karena dia pasti tau bagaimana kelabakannya si Aidan ketika dia mengirimkan pesan tersebut.


Cia keluar dari kamar dengan daster modern. Ketika melewati ruang keluarga, Cia melihat sang daddy dan papa sedang berbicara santai “Pa, dad. Cia mau keluar dulu ada urusan penting masalah pekerjaan” ucap Cia yang membuat dua orang menatap Cia penuh selidik.


“Pekerjaan apa?. Sama siapa?” Tanya sang papa membuat Cia terdiam mencari alasan.


Sebelum Cia mendapatkan idenya, sudah di sela oleh sang daddy “Perasaan di tim kamu tidak pernah ada yang namanya pekerjaan di rumah. Lagian malam ini ada tamu yang datang, nggak baik kalau kamunya nggak ada?”


Cia hanya menghela nafas.


“Iya, dad. Ini pekerjaan di universitas perihal kelulusannya” ucap Cia yang asal jawab supaya sang daddy percaya.


“Owh,,,. Tapi kenapa harus malam?” Tanya sang papa lagi.


Cia kembali menghela nafas dengan dalam “Papaku sayang waktu kita kan berbeda dengan diaaaa,,,,” ucap Cia geram yang akhirnya di iyakan oleh sang daddy dan papanya.


“Kamu mau kemana?” dicegat lagi Cia oleh sang mommy.


“Tanya sama daddy aja mom. Cia capek ngejelasinnya keburu waktu” ucap Cia seraya mencium pipi sang mommy.


Cia menggerutu dalam hati karena banyak banget tantang ketika harus keluar malam untuk menghindari makan malam kali ini. Karena pirasatnya itu.


Byur…


Basah sudah pakaian Cia akibat ulah sang kembar yang menyiramnya dari atas balkon. Membuat Cia sangat kesal.


“GIO…..JEO…!!!!” teriak Cia yang kesal dengan sang adi kembar. Entah mengapa hari ini dia sangat bernasib sial, sudah dicercah pertanyaan oleh sang daddy dan papa, terus dicegat sang mommy, dan sekarang malah di guyur sang adik kembar. Ingin rasanya Cia sekarang menangis. Namun, usianya tidak membiarkannya menangis dalam permainan yang dilakukan sang adik.


“Ups…maaf kak. Tadi tangan kita terpeleset” ucap si Gio dari balkon.

__ADS_1


Tin-tin-tin.


Klakson mobil terdengar membuat Cia yang ada diluar basah kuyup memandang mobil yang memasuki pelantaran rumahnya. Ada rasa penasaran dengan orang yang didalam mobil tersebut.


Mereka yang didalam mobil pun keluar. Cia menatap tajam kearah orang tersebut. Hingga teriakan dari dalam rumah membuat Cia terkejut “Kak Kiki!!!” teriak si kembar yang keluar dengan menabrak bahu Cia. Untungnya gadis itu mampu menahan bobok tubuhnya.


“Woy,,sans bro!” teriak Cia yang kesal dengan tingkah adiknya itu. Si kembar tidak perduli dengan Cia. Dan dengan segera memeluk sang kakak sepupu. “Awas ya kalian!” gumam Cia mendekati si kembar dan menjewer telinga sang adik kembar, membuat dia mengaduh.


“Kenapa kamu basah, Ra?” Tanya sang sepupu ketika melihat tubuh Cia yang sudah basah kuyup seperti tikus kecebur di got.


“Ini semua gara-gara, kedua curut ini!” kesal Cia dan melepaskan jeewerannya.


“Ye,,kita kan Cuma menghalangi kakak untuk balapan” ucap Gio membuat Cia dan Jeo dengan cepat membekap mulutnya.


“Apa?” Tanya sang kakak sepupu yang kurang jelas mendengarkan ucapan dari Gio.


“Bukan apa-apa. Itu tadi mau bertemu dengan Aidan” balas Cia dengan cepat. Membuat sang sepupu hanya mengangguk saja.


“Kalian ini kenapa sih,, malah teriak-teriak sudah malam, tau!” omel Cira yang datang dari dalam rumah, karena mendengar suara teriakan anaknya. Dan betapa terkejutnya dirinya karena sang keponakan sudah datang.


Si kembar yang mendengar ucapan sang mommy dengan segera merayu sang mommy tanpa memperdulikan ejekan sang kakak yaitu dengan bergelajut manja di tangan sang mommy dengan mengatakan sang mommy sanga cantik dan baik.


Namun, malah terusir untuk disuruh menyiapkan segalanya di dapur.


“Rayu sampai mampus” ucap Cia ketika melewati mereka.


Membuat Riski tertawa melihat tingkah mereka. “Maafkan anak-anak tante, ya. Mereka memang begitu” ucap Cira membuat keponakannya yang semakin tinggi itu tersenyum dan merangkul sang adik dari papanya itu.


“Tante pasti capek, ya. Mengurus tiga anak yang super itu?” Tanya sang ponakan membuat Cira menggeleng.


“Tante justru senang, karena tingkah mereka membuat tante tidak kesepian. Gimana disana, apakah semuanya sehat-sehat?” Tanya Cira yang langsung diangguki olehnya.


“Tante tau, semenjak Riska menjadi dokter, anak itu ngak pernah pulang kerumah. Kalaupun libur alasannya terlalu capek. Bahkan papa, nenek sama kakek dan nenek marah denganya”cuhat Riski kepada sang tante membuatnya tertawa. Namun, hati sangat sedih.

__ADS_1


“Kamu mau membuatnya masuk angin dengan mengobrol di luar?” Tanya seseorang membuat Cia dan keponakannya memandangnya dan terkekeh.


“Ih,,,mas, aku kan keasikan ngobrol” ucap Cia dan mereka masuk dan langsung disambut oleh papa mertua tantenya itu.


“Ini Riski, anaknya Wisnu?. Kamu sudah besar banget bahkan sudah lebih tinggi dari kakek” ucap papa Aditama berdiri dan memeluk Riski dan mengiyakannya dengan terkekeh.


“Ayo,,,duduk, kita ngobrol dulu” ucapnya lagi dengan menuntun Riski duduk. “Kamu sama, kakek Aditama, dulu. Tante mau menyiapkan makan malamnya” ucap Cira yang langsung diangguki oleh sang ponakan.


“Kamu sekarang kerja dimana?” Tanya papa Aditama membuat Riski tersenyum.


“Kerja di rumah, kek.” Ucapnya santai membuat sang pak Aditama mengerjitkan dahinya.


“Kerja apa dirumah?” Tanyanya lagi.


“Dia arsitek, pa. Dia punya rumah desian, yang merangkap sebagai kantornya. Makanya dia selalu berada dirumah.” Ucap Rey membuat papanya tertawa begitupun dengan Riski.


“Oalah,,,papa nggak ke pikiran. Terus Riska kerja apa, sekarang, kakek nggak pernah dengar kabarnya setelah 8 tahun kebelakang ini. Dimana dia sekarang?”Tanya pak Aditama.


“Riska dokter, kek. Dia bersama kakek di Eropa. Semenjak kepergian nenek, dia ikut kakeknya kesana” ucap Riski membuat mereka sedikit sedih mengingat luka lama.


“Owh,,maaf ya, kakek ngungkit luka lama kamu” papa Aditama merasa bersalah yang langsung diangguki oleh Riski.


Memang 15 tahun ini banyak membawa perubahan, yang selalu ada akan pergi. Penyakit seolah menjadi penentu kehidupan. Menunggu dengan sabar dan dan keikhlasan adalah hal terpenting.


“Ayo makan malamnya sudah siap. Mas, minta tolong panggilin anak-anak ya?” ucap Cia yang diangguki oleh Rey.


Papa Aditama mengajak Riski ke meja makan. Sedangkan Rey naik ke atas mencari sang anak-anak “Cia makan malam, sayang” ucap Rey yang menggedor pintu anak perempuannya itu yang dibalas teriakan iya oleh Cia.


Kemudian, beralih ke pintu kamar si kembar "Gio,,,Jeo,,,turun makan malam sudah siap. Kalian ditungguin sama kak kiki” ucap Rey membuat sang bocah kembar itu membuka pintu dan mengikuti sang daddy ke bawah.


Begitupun dengan Cia yang keluar dari kamarnya sudah berpakaian bersih dan kering. “Nggak jadi ngeeng,,,ngeeng,,,?” goda Gio membuat Cia menatapnya tajam. Namun, dengan cepat dilerai oleh sang daddy.


“Jangan mulai Gio. Dibawah ada tamu, nggak enak kalau kalian yang sudah gede gini masih juga bertengkar” ucap sang daddy membuat mereka bertiga diam.

__ADS_1


...Terima kasih 💜💜💜...


__ADS_2