
Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe yang dekat dengan bandara. Mereka masih diam satu sama lain. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan.
Alex diam menatap perempuan itu dengan gaya angkuhnya. Sedangkan yang ditatap hanya bisa menunduk kan kepalanya.
"Kamu nggak ada yang mau dijelaskan?. Setelah beberapa tahun menghilang tanpa kabar?" ucap Alex terdahulu.
"Maaf" hanya itu yang muncul dari mulut perempuan itu.
"Taukah kamu. Bahwa karena kamu, aku sampai tidak memiliki minat untuk mengenal cinta. Tapi terima kasih berkat kamu. Aku menemukan seseorang yang membuatku kembali merasakan cinta. Bahkan lebih indah dari kamu" pamer Alex membuat perempuan itu menangis.
Ingin rasanya Alex bernyanyi 'Biar Mantan tau, kisah cintaku. Kini jauh lebih bahagia. Masa depanku, lebih indah tanpa dirinya'. Namun, Alex tau ini bukan saat nya untuk bernyanyi.
"Maaf" ucapnya lagi membuat Alex menghela nafas.
"Angkat kepala mu" ucap Alex membuat perempuan itu memandang Alex. Matanya sudah merah akibat menangis. Lagi, Alex menghela nafas.
"Aku maaf kan kamu. Karena dengan kejadian ini aku dipertemukan dengan dia" balas Alex membuat perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Enggak. Kamu nggak boleh. Aku masih mencintaimu, Xan?" ucapnya dengan menggelengkan kepalanya keras kemudian tangannya meraih tanya Alex.
Alex menepis tangan yang berusaha menyentuhnya. "Mungkin kita memang ditakdirkan hanya untuk berteman saja, Chel" ucap Alex.
"Maafkan aku, Xan. Dulu aku dibutakan oleh Faro. Hingga tidak bisa melihat cinta tulus mu, Xan" ucapnya dengan nada menyesal.
"Jangan panggil Xan ataupun Xander. Karena orang dengan nama itu sudah mati sejak kau tinggalkan. Sekarang aku adalah Alex. Dengan cinta yang bahagia bersama Cia, calon istri ku." ucap Alex.
"Maaf, Xan. Maksudku Alex. Ternyata Faro hanya tidak mau kalah dengan mu. Sehingga membuat aku menjauh dari mu. Kamu tau kan bahwa Faro selama ini iri dengan kamu, Lex" ucapnya namun, tidak membuat Alex goyah.
"Sudah, cukup, Chel. Aku sudah bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang. Aku mohon buanglah, rasa kasihan mu itu. Dan jangan pernah kau ganggu lagi kehidupan ku. Karena aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan mu" tegur Alex bangkit dari duduknya.
Greb. Pelukan tiba-tiba datang dari belakang membuat Alex terdiam. "Aku mohon. Berikan aku kesempatan untuk merasakan cintamu lagi, Lex" ucap perempuan itu di belakang nya.
Helaan nafas terdengar. Kemudian melepaskan pelukan dan berbalik menatap perempuan itu. "Maaf, Chel. Mungkin ini adalah pertemuan kita sebagai teman yang terakhir. Karena aku nggak mau nantinya gara-gara hal ini membuat hubungan ku hancur dengan istriku." ucap Alex.
__ADS_1
"Aku nggak mau, Lex. Faro selama ini dia menduakan aku. Dia menyiksaku. Dia menjadikan aku budak uangnya, Lex" ucapnya.
Mendengar itu membuat Alex tanpa disadari mengepalkan tangannya. Lalu memeluk tubuh yang menangis tersedu penuh luka. Tanpa mereka sadari seseorang dengan memakai masker sedang merekam mereka.
"Aku akan beri pelajaran kepada, Faro. Anggap saja ini adalah bantuan ku yang terakhir. Setelah ini jangan pernah kau muncul lagi dihadapan keluarga ku" ucap Alex.
Alex meninggalkan orang itu dengan angkuhnya. Lalu memasuki mobilnya. Dan menuju ke massion orang tuanya.
"Kamu lama banget, sih" ucap seseorang yang sedang menunggu di dalam rumah yang mewah dengan lapangan yang luas.
"Macet kak" ucap Alex dengan cengengesan kemudian masuk tanpa memperdulikan tatapan sang kakak.
"Alex!!!" teriak sang mami turun tangga dari kamarnya. Dengan raut wajah yang sangat marah. "Kamu mau membatalkan pernikahan ini, ya!!!" teriaknya lagi membuat orang di rumah itu terkejut.
"Apaan, sih. Nggak lah!" ucap Alex yang bingung dengan ucapan sang mami.
"Lalu ini, apa?!." tunjuk nya pada sebuah foto ketika Alex berada di sebuah cafe bersama dengan sang mantan pacar.
"Memang benar, foto itu, mam. Tapi itu tidak disengaja. Alex nggak menduakan, ataupun ingin membatalkan pernikahan ini, mam" ucap Alex membuat sang mami memicingkan matanya.
"Terus sekarang kamu, mau apa dengan berita ini?. Sebelum papi kamu bertindak. Dan Keluarga Cia melihat nya. Tau kan harus bagaimana?" ucap sang mami membuat Alex mengangguk.
Dia kesal dengan orang yang memfotonya dengan sengaja. Alex tau ini adalah ulah dari musuhnya. Alex padahal sudah mengantisipasi nya. Namun, tetap saja sama. Ada saja celah ingin merusaknya.
"Cari tau siapa yang menyebarkan berita itu?" ucap Alex pada di sebrang.
Alex merasa geram. Ternyata waktu dua bulan ini. Dia juga belum mampu menyelesaikan masalah ini. Ada perasaan tidak nyaman terus menghantui Alex, ketika nanti dia sudah menikah. Takutnya nanti keluarga nya yang menjadi sasarannya.
"Sebarkan berita kalau kita memenangkan tender di Amerika itu. Dan kau tau kan bagaimana cara memanasi mereka. Besok kita adakan meeting inti" ucap Alex yang terdengar di siapkan oleh orang di telepon. Kemudian mematikan sambungan.
"Siapapun kamu, bersiaplah menghadapi bagaimana keluarga Killer akan membasmi hama" monolog Alex dengan senyum devilnya.
Sementara di rumah Cia sedang diadakan makan bersama. Bahkan pasangan baru menikah pun sudah pulang dari bulan madunya. Mereka mendapatkan banyak godaan dari orang tua.
__ADS_1
"Gimana, rasanya malam pertama?" bisik Cia pada Utaya yang sudah sejak tadi wajahnya memerah akibat merasa malu.
"Apaan, sih." ucap Utaya dengan mencubit gemas lengan Cia.
Mendapatkan itu membuat Cia tertawa. "Kak Riski. Mainnya jangan keras-keras, dong. Kasian Utaya jalannya jadi, kayak gitu" celoteh Cia yang memperhatikan cara berjalan Utaya yang seperti kura-kura membuat mereka yang makan disana tertawa.
Riski tersedak ketika mendengar ucapan Cia yang prontal. Dia tidak bisa berkata lagi untuk menjawab nya. "Nanti kamu juga kayak gitu, kalau udah nikah. Tunggu aja" ucap sang Daddy yang sejak tadi menyimak percakapan mereka.
"Ish,,,Daddy nggak seru." ucap Cia.
"Udah,,semua orang pasti akan merasakannya. Ada yang duluan dan belakangan aja" lerai sang mommy.
"Ish,,aku yakin kakak nggak akan bisa bangun nanti saat malam pertama, dengan Abang Alex" celetuk Gio sontak saja membuat mereka semua memandangnya penuh curiga.
Pletak. Sebuah sentilan mendarat indah di dahi Gio. "Kamu ini masih kecil. Jangan ngomong gitu. Nggak baik." ucap sang mommy memandang tajam anaknya itu.
"Ish,,,mommy, sakit tau."
"Sana masuk ke kamar. Jangan nguping pembicaraan orang dewasa. Rain, Jika masuk ke kamar" ucap Sang mommy membuat mereka mengangguk.
Untungnya mereka sudah selesai makan. Kini hanya Cia dan mommy Daddy nya sedang duduk manis di ruang keluarga. "Alex sudah ada kabar?" tanya sang Daddy.
Iya, Keluarga Cia sudah tau tentang berita itu. Namun, keluarga Cia tidak ingin mempermasalahkan nya atau ambil pusing. Selagi Alex belum menjelaskannya. Karena mereka menganggap nya ini adalah salah satu godaan sebelum menikah.
Gelengan kepala Cia membuat sang Daddy geram. "Itu anak gimana, sih. Kok menyelesaikan ini saja, tidak bisa!" geram sang Daddy.
"Sudahlah, dad. Nanti juga berita nya hilang." ucap sang mommy.
"Tapi Daddy nggak bisa, mom." ucap sang Daddy.
"Ah,,Daddy biarkan saja. Toh, juga ini bukan yang pertama. Sudah sering kan terjadi kayak gini. Tapi itu hanya untuk meningkatkan popularitas saja. Lagian Alex kan di Inggris" ucap Cia yang dengan santainya justru menonton kartun. Sedangkan Daddynya sudah kepanasan mendengar berita yang masuk dengan berbagai spekulasi mereka.
Cia sendiri tidak ambil pusing dengan itu. Walau dia sedikit marah. Sehingga membuatnya memilih untuk mematikan ponsel. Supaya laki-laki itu tidak bisa menelponnya.
__ADS_1