
Cia berjalan menyusuri tempat tersebut. Melihat indahnya dan tawa suka ria dari pengunjung membuat dirinya bisa mengalihkan beban pikiran yang tidak dimengerti oleh dirinya sendiri.
Karena terlalu asik memandang banyaknya wahana, hingga tanpa disadari dia menabrak seseorang. “Ach…!” teriak nya karena telah ditabrak oleh Cia.
Menyadari itu membuat Cia berjongkok, ternyata yang ditabraknya adalah seorang anak kecil “Maafin tante, ya. Apakah ada yang sakit” ucap Cia sembari membantu bocah itu untuk bangkit.
“Tante kalau jalan pelan-pelan, dong. Permen aku kan jadi jatuh!” ucapnya kesal dengan menunjuk permen yang sudah tergeletak diatas tanah.
Mendapatkan amarah dari bocah itu mengingatkannya pada dirinya sendiri. “Maafin, tante, ya. Baiklah sekarang kita beli permen lagi, ya?” ucap Cia dengan mengusap pakaian yang kotor bocah itu.
Bocah yang berusia sekira 8 tahun itu mendengus dan menatap Cia penuh selidik “Ayo?” ajak Cia dengan berdiri dan mengulurkan tangannya yang langsung diraih oleh bocah itu.
Cia membawa anak itu kedekat kedai yang menjual berbagai permen kapas “Kau mau berapa?” Tanya Cia memandang bocah itu.
“Dua saja” ucap bocah itu dengan memamerkan angka dua dengan jarinya. Membuat Cia gemas.
“Baiklah” ucap Cia kemudian memesankannya kepada penjual untuk membuatkan dua permen.
Namun, seseorang datang dan meneriaki nama seseorang “Bulan!!” teriaknya membuat Cia memandang bocah yang pegangan tangan mereka terlepas dan bocah itu berlari menghampiri oleh yang memanggilnya.
“Om Al!!” teriaknya dan langsung memeluk tubuh Om nya itu. Cia yang melihat itu hanya termangu.
“Kamu kemana aja. Mami kamu khawatir” ucap Om nya dengan memeluknya dan membawa tubuh bocah itu kedalam gendongannya.
“Tadi Bulan ingin lihat kupu-kupu. Tapi ditabrak tante itu” ucap bocah itu dengan menunjuk kearah Cia berada membuat sang Om mengikuti arah pandangannya.
Pandangan mereka bertemu dan saling mengunci keterkejutan keduanya. Om dari bocah itu mendekat kerah Cia. Tatapan mereka tidak terputus bahkan sampai Om dari bocah itu sudah berada didekat mereka.
Hingga sang penjual permen kapas menyadarkan mereka “Neng, ini permen kapasnya. Totalnya 40 ribu, neng” ucap sang penjual.
__ADS_1
Cia merogos kantong celananya dan untungnya ada uang lima puluh ribu rupiah dan menyerahkan kepada pedagang tersebut “Ambil aja kembaliannya, pak. Terima kasih,” balasnya Cia ketika sang penjual menyerahkan permen tersebut.
“Ini permennya terima kasih. Dan tante minta maaf karena sudah menabrak kamu. Tante pergi dulu” ucap Cia menyerahkan permen tersebut kepada bocah yang ada dalam gendongan sang Om yang langsung diterimanya dengan senang.
Sedangkan sang Om dari bocah itu hanya menatap Cia tidak percaya. “Terima kasih, tante cantik” ucapnya kemudian Cia memilih pergi tanpa memandang kearah pamannya.
“Kamu pergi cari, mami mu, ya. Om ada urusan penting” ucap sang Om dengan menurunkan bocah tersebut yang mengangguk senang karena mendapatkan dua permen kapas.
Om dari bocah itu berlari mengejar Cia. Namun entah berjalan kearah mana Cia sudah lenyap dari pandang Om dari bocah itu “Sial!” umpatnya ketika kehilangan jejak dari Cia.
Sedangkan Cia sedang bersembunyi didalam geromboloan orang ketika dia menyadari bahwa orang itu mengikutinya. Ketika melihat orang itu pergi membuat Cia menghela nafas lega. Dan keluar dari kerumunan tersebut.
Karena hari libur membuat penjung sangat ramai sehingga memudahkan Cia untuk bersembunyi. Hingga tepukan di pundaknya membuatnya kaget. “Kak dicariin, malah disini” ucap Jeo yang menepuk pundak Cia, yang langsung menghela nafas.
“Eh,,tadi itu nyasar” jawab Cia ngasal membuat Jeo menatap raut wajah sang kakak. Namun, karena sikap cueknya tidak ingin menanggapi lebih dalam lagi. “Ayo,,ke yang lainnya” ajak Cia menggandeng tangan adiknya.
“Aduh,,adek Rain. Kan sudah ada abang Ben” ucap Ben membuat Rain menatapnya tajam.
“Lebay!”ucap Aidan dengan mendorong tubuh Rain membuatnya jatuh kearah Cia dan ditangkap olehnya.
“Dasar bekantan nggak berperikemanusian” balas Rain membuat mereka tertawa melihat tingkah mereka yang nggak ada niatan untuk akur.
Aidan tidak perduli. Dan mendahului mereka bersama dengan Gio dan Ferel. Ben yang melihat sang pujaan hati di perlakukan begitu pun menatapnya penuh sayang. Namun, tidak diperdulikan oleh Rain.
“Bekantan kan hewan jadi pantaslah tidak berperikemanusian” balas Jeo membuat Rain tambah kesal dan segera menendang kaki Jeo namun segera ditepis oleh Cia.
“Sudah, ayo,,,nanti ditinggal sama mereka” balas Cia dan akhirinya mereka pun pulang karena terlalu lelah bermain lagi.
Mobil di bawa oleh Aidan, karena Cia mengatakan sangat lelah dan memilih untuk tidur. Sementara si kembar ikut bersama mobil Ben dan Ferel katanya mau nongkrong.
__ADS_1
Sedangkan Rain sedang kesal karena tidak di ajak oleh mereka. “Ish,,” kesal Rain dengan mere*mas sabuk pengamannya dan hal itu mengganggu perhatian Aidan. “Eh,,lo kenapa, sih?” Tanya Aidan dengan pandangan sesekali melirik kearah Aidan.
“Kepo banget lo!” ucap Rain dengan pandangan mengarah ke ponsel nya. Tanpa melihat kearah Aidan. Mereka kembali sibuk dengan pikiran mereka, sedangkan Cia sudah berkelana kealam mimpinya.
Hingga mereka sampai dirumah Rain. “Terima kasih, kak” ucap Rain sebelum turun dari mobil. Memang itulah Rain dia tau tempat dimana harus bersopan. Aidan mengangguk. Dan meninggalkan rumah Rain.
Mereka tidak masuk kedalam rumah karena ingin cepat pulang. Sehingga Aidan hanya mengantarkan Rain dari depan gerbang rumah orang tuanya, dan melajukan mobil ketika Rain sudah masuk kedalam rumah.
“Woy,,,iler lo keluar!”ucap Aidan ketika melirik kebelakang dan melihat Cia tertidur dengan ngang*kang dan ilernya mau keluar. “Gimana mau dapat jodoh, jika tidurnya lebih cantikan kucing” ucap Aidan geleng-geleng kepala melihatnya.
Sementara dirumah seseorang yang tadi mengejar Cia sedang duduk melamun bersama ponakannya yang sedang bermain. “Om mikiran, apa sih?” Tanya ponakannya ketika melihat pamannya melamun.
“Eh,,nggak apa-apa. Om cuma lagi capek aja. Kamu bermainnya sendri dulu ya?” ucap Omnya membuat bocah itu mengangguk.
“Bulan kan memang sering main sendiri kalau lagi dirumah, adiknya masih kecil nggak bisa diajak main” balas bocah itu membuat Omnya terkekeh dan mengusap kepala bocah itu.
Om nya itu memasuki kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Tetapi sebelum itu dia sudah menyuruh asisten rumahnya untuk menjaga Bulan bermain.
Keponakannya itu baru datang dari Inggris. Karena ingin liburan disini.
Jadinya dia ke Indonesia bersama mami dan adiknya yang masih lima tahun dan itu adalah adik laki-laki, sehingga dia akan selalu mengatakan adiknya masih kecil padahal adiknya itu tidak mau bermain boneka bersamanya.
“Alex?. Kata bulan kamu melamun? Kenapa?” Tanya sang kakak ipar yang berdiri didepan kamar adik iparnya itu. Membuat orang yang dipanggil itu bangkit.
“Nggak kenapa-kenapa, kak. Cuma lagi lesu aja” balasnya membuat kakak iparnya mengangguk.
“Kamu mau susu atau teh hangat?” Tanya sang kakak ipar yang masih berdiri di tempatnya. Dan langsung diangguki oleh Alex.
“Teh hangat aja, kak” Membuat kakak iparnya pamit untuk membuatkan pesanan dari Alex. Dan beberapa menitnya sudah dibawakan oleh asisten rumahnya karena katanya sang kakak iparnya mengurus Bulan menangis
__ADS_1