
Rain yang melihat mereka termanggu mentap kearah depan pun kesal. “Kak lajukan mobilnya” ucap Rain membuat Cia mengangguk mengerti tatapan jail Rain.
“Woy,,,jadi jalan ngak nih..gue tinggal aja lo bertiga, ya?!” teriak Rain dengan menyembulkan kepalanya dari kaca mobil membuat ketika orang itu terperangah dan berlari memasuki mobil yang sudah berjalan.
“Parah lo berdua, ya.” Ucap mereka bertiga yang ngos-ngosan karena telah berlari mengejar mobil Cia yang justru hal itu membuat dua perempuan itu tertawa.
“Kami berangkat liburan!!” teriak Cia dan Rain membuat mereka yang melihat tingkahnya hanya bisa menggeleng saja.
“Si Ben sama Ferel, sudah disana, kan?” Tanya Cia yang langsung diangguki oleh Raina yang kini sedang bernyanyi mengikuti lantunan music dari mobil mereka.
Sementara ketiga laki-laki yang duduk di belakang memejamkan mata mereka karena terlalu lelah mengejar mobil. Ataupun karena mereka memang sangat mengantuk.
“Berisik, babon” ucap Aidan yang duduk dibelakang Rain kemudian membekap mulut Rain dari belakang membuat Cia yang melirik mereka tertawa.
Rain berusaha melepaskan bekapan dari Aidan hingga gigi tajamnya itu mampu menggigit tangan Aidan dan akhinrya bekapan itu berakhir dengan Aidan yang meringis. “Ternyata lo memang monyet, ya. Bisa-bisa rabies gue, nih” ucap Aidan dengan mengibaskan tangannya dan juga meniupnya akibat gigitan Rain yang membekas di tangannya.
“Bagus dong. Sekarang lo kan bisa melolong. Bisa di coba?” balas Rain sengit membuat Aidan mendengus.
“Gue gigit juga tuh, mulut” gumam Aidan.
Cia melihat itu hanya mampu tersenyum dan menggelengkan kepala. Baru beberapa hari dirinya pulang, sudah sering terjadi badai pertengkaran.
“Kalau kalian nikah, gimana, ya?” celetuk Cia membuat mereka berdua langsung mengamit-amitkan hal tersebut.
Sedangkan si kembar yang terganggung tidurnya dengan mereka justru mengaminkan ucapan Cia dengan mata yang masih betah memejamkan matanya.
“Idih,,,ogah,,banget gue sama bekantan kayak dia” ucap Rain kesal.
“Eh,,babon. Lo kira gue mau sama lo. Idih,, model triplek gitu” balas Aidan dengan bersidekap dada memandang Rain dengan kesal walau terhalang kursi mobil.
“Cocok lah. Kan, kalian satu spesies yaitu spesies monyet, yang satu babon yang satunya lagi bekantan. Pasangan yang serasi” balas Gio membuat mereka tertawa. Namun, tidak dengan yang bersangkutan yang justru menahan kesal.
__ADS_1
“Anaknya gorilla” ucap Jeo dengan gaya santainya, membuat mereka kembali tertawa.
“Kalau kita spesies monyet. Kalian apa?. Cihuahua?” balas Aidan membuat tawa mereka berhenti.
“Cie…kita…. Kak kita katanya. Waduh,,kasian banget temen gue si Ben, tertikung oleh om-om pedofil” heboh Gio membuat Aidan yang kesal langsung membekapnya dengan mengapit kepala Gio di ketiaknya.
“Tingkungan tajam” balas kembali Cia membuat Rain mendengus karena mendengar ucapan Gio.
“Telinga kita rumus persegi panjang. Hahaha” balas Jeo dengan tertawa. Namun, tidak dengan mereka berempat yang menatap Jeo penuh kebingungan.
“Makanya kalau punya otak itu dibawa saat sekolah, jangan ditempatkan di kamar mandi” balas Jeo yang kesal dengan mereka yang tidak mengerti apa yang dia ucapkan.
“Lha,,kita mah,, sekolah seperlunya dan seadanya saja” balas Rain yang justru mendapatkan sentilan di kepalanya dari arah belakang.
“Eh,,lo itu cewek. Pendidikan itu penting, karena nantinya ibu akan mewarisi kepintarannya kepada sang anak, ogeb” balas Aidan yang justru kembali membuat mereka tertawa bahkan Rain ikut tertawa mendengar ucapan Aidan.
Hingga akhirnya mereka sampai tempat impian mereka. yaitu Pantai Indah Ancol. mereka membawa barang mereka yaitu alas kain dan juga alat piknik lainnya tapi lebih ke makanan dan pakaian mereka.
“Hai,,cantiknya abang Ben. Kita renang, yuk?” ajak Ben yang mendekat kearah Rain. Membuat Rain menatap Ben penuh kejijikan dan kesal.
“Lo tau nggak dia sekarang sudah ada pawangnya?” ucap Gio dengan merangkul saudaranya itu membuat Ben memasang wajah sedih.
“Siapa yang berani ngetikung gue. Bakalan gue bacot dia sampai muntah” ucap Ben dengan kesal. Namun, hal itu membuat Cia menggelengkan kepalanya.
“Noh,,silakan ngebacot” ucap Cia dengan mengarahkan kepala Ben kearah Aidan yang sedang memandang luasnya pantai.
Sedangkan gadis yang dipertanyakan itu sedang menikmati memakan cemilan yang dibawanya bersama Ferel dan juga Jeo dengan duduk diatas alas kain yang sudah mereka berdua bentangkan.
“Sungguh dia?” ucap Ben tidak percaya. Membuat mereka mengangguk. “Gue kalah sebelum berjuang, dong” ucapnya lagi yang justru membuat mereka Cia dan Gio tertawa melihat wajah Ben yang terlihat snagat bodoh.
“Tapi mereka kelihatan tidak akur. Jadi gue masih ada kesempatan. Tenda biru belum terpasang. Masih bisa gue gas sampai finish” tekadnya semangat membuat Cia dan Gio hanya menggeleng saja. Melihat Ben dengan semangat membara dan duduk disamping Rain.
__ADS_1
“Gini dah,,kalau hanya ada satu perempuan. Bawaan nya baper aja” ucap Cia melihat bagaimana tingkah Ben mendekati Rain yang dibalas cuek oleh Rain.
“Eh,,kak. Lo cewek kan, ya?” Tanya Gio ketika mendengar ucapan Cia. Membuat Cia memandangnya dengan tatapan bingung.
“Cewek lha,,,” balas Cia sewot.
“Lupa soalnya lo terlihat cowok” ucap Gio dengan cepat menghampiri yang lain, untuk menghindari serangan kakaknya itu.
“Eh,,gue tau ya. Rain lebih cantik dari gue walau dia tomboy. Tapi gue cewek anj*” teriak Cia menyusul Gio.
Mereka menikmati pemandangan pantai. Dan bermain disana. Ketika mentari mulai terik mereka memilih menikmati wahana yang ada disana. Dan kalian tau Ben sangat gencar menjauhkan Rain dengan Aidan. Dan hal itu membuat Cia dan Gio hanya berusaha menahan tawa saja.
“Kalian naik itu aja, kakak mau ke toilet dulu” pamit Cia karena dirinya ingin membuat sisa metabolism di dalam tubuhnya.
“Aku ikut, ya?” ucap Rain mendapatkan gelengan dari Cia.
“Nanti kamu malah di usir dikiranya kamu mesum, masuk toilet wanita” ucap Cia membuat Rain mendengus.
“Tenang aja, dek Rain. Nanti abang Ben anter ke toilet dengan selamat” ucap Ben mendapatn delikan tajam dari Rain. Sementara yang lainnya tertawa melihat tingkah mereka.
Meninggal ke bucinan Ben dengan Rain. Sekarang Cia sedang berjalan untuk ke kamar mandi. Namun, tinggal beberapa langkah lagi untuk ke toilet. Tanpa disengaja mata melihat sosok yang mengangunya ketika menginjakkan kakinya kembali ke tanah kelahirannya.
Ada setetes keingintahuan Cia tentang apa yang dilakukan oleh laki-laki itu, yang sedang duduk manis di sebuah tempat duduk santai. Tanpa terasa kaki jenjang Cia melangkah mendekati kearah nya. “Kamu mau ini?” Tanya orang disamping laki-laki itu.
Cia yang tersadar merasa bingung pada dirinya. Kenapa gue bisa kesini, batin Cia membuat dia segera melangkahkan kembali kakinya kea rah seharusnya dia tuju.
“Ternyata gue tidak salah kira. Playboy bermulut burung murai”gumam Cia masuk kedalam toilet. Suaranya merdu banget.
Entah mengapa perasaan Cia menjadi dongkol, kesal, marah. Hingga berpengaruh pada keinginnan untuk meninggalkan tempat tersebut.
...Terima kasih telah membaca cerita ini. Semoga kalian suka yaa.... Maaf banget kalau masih banyak tipo. Semoga cerita ini kalian sukai. Byeeee,,,,,. 💜💜💜...
__ADS_1