
Alex yang sedang berbaring di brankar merasa bosan dan lapar. Karena seketaris belum juga datang. "Dia itu beli makanan nya dimana, sih. Lapar banget lagi. Mana disini nggak disediakan makan lagi" keluh Alex. "Awas saja kalau dalam lima menit nggak datang bakalan saya potong gajinya!" kesal Alex. Kemudian memilih tidur untuk meredam rasa laparnya.
Sementara seketaris nya, Roy. Sedang berbicara dengan sang calon ibu bosnya atau lebih tepatnya menenangkannya. "Ibu salah orang. Bapak masih hidup" ucap Roy membantah ucapan Cia.
Cia sedikit mereda tangisnya ketika mendengar ucapan Roy "Kamu segitu sayangnya sampai nggak percaya bahwa Alex sudah meninggal, Roy. Kita harus segera menghubungi mami, dan yang lainnya." ucap Cia yang merasa kasihan dengan Roy yang seolah tidak terima bahwa bosnya itu sudah meninggal.
"Bapak masih hidup, ibu. Dia masih di dalam" balas Roy lagi. Namun, mendapatkan gelengan dari Cia. "Kalau ibu nggak percaya. Ayo,,masuk kedalam sama saya. Biar ibu tau bahwa bapak masih hidup. Bahkan bapak bisa debat dengan anak kecil" balasnya lagi.
Cia tampak berpikir dan akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti Roy. Cia berjalan dibelakang dengan langkah pelan. Namun, ketika sudah sampai didepan pembatas ruang. Cia merasa bingung. "Roy,,bilik nya bukannya disana?" tanya Cia dengan menunjuk kearah bilik yang terdengar suara tangisan.
Roy mengerutkan dahinya "Bukan ibu." balasnya. Cia mengerjitkan dahinya. "Kalau ibu nggak percaya. Ayo, kita masuk. Bapak sedang didalam" balasnya lagi yang membuat Cia mengikuti.
"Astaga!!" ucap Roy yang terkejut melihat kondisi bosnya yang tangannya dibalut perban seperti orang patah tulang. Dan juga luka yang diperban di dahi dan kakinya yang digantung seperti patah juga.
Cia yang melihat hal itu terkejut "Alex,,,Lo kenapa?. Lo habis nabrak apa, sampai bonyok gitu?!" ucap Cia spontan dan menatap tajam Roy.
"Astaga baru beberapa menit ditinggalkan kenapa jadi begini?" gumam Roy yang melihat kondisi mengenaskan bosnya itu. Alex dengan cepat membuka korden yang menutupi setiap bilik untuk memastikan bahwa pikirannya itu tidak kenyataan.
"Alex,,,bangun. Jangan mati dulu. Dosa lo banyak ke gue karena Lo ngajak gue nikah. Masa iya gue harus jadi janda pera*wan" ucap Cia yang sudah berdiri disamping Alex yang berbaring.
Alex yang mendengar keributan dan tangis Cia pun berniat melakukan prank terhadap calon istri nya itu. Hingga dia menyuruh dokter untuk memasangkan alat untuk patah tulang ditangan dan kaki.
__ADS_1
Ini cewek nggak ada akhlaknya banget. Bukannya kasian sama kondisi gue. Malah ngitungin malam pertama batin Alex yang berusaha melancarkan aktingnya dengan baik.
Cia menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh siapapun. "Alex maaf, ya. Gue mungkin belum cinta sama Lo. Tapi gue nggak mau Lo mati secepat ini. Dosa lo dan gue terlalu banyak kalau lo mati duluan. Nanti gue nggak ada ajak untuk tanding banyak-banyakan dosa" ucap Cia membuat Roy yang sudah selesai mengecek kamar sebelah Alex.
"Ibu,,,,nyebut. Nyebut Bu...dosa" balas Roy yang membuat Cia tersentak kaget. "Bapak masih hidup, Bu" balasnya lagi. Cia termangu dan menatap dramatis kearah Roy yang sedang menyiapkan makan yang dipesan Alex.
Entah ada angin apa Cia mendekatkan wajahnya kepada wajah Alex. Sedangkan Alex yang merasakan deru nafas Cia berusaha menahan nafasnya. Namun, karena perutnya tidak bisa diajak bersandiwara maka dia menabuh kan genderang. Hingga membuat Roy tertawa. Saking kerasnya suara perut bosnya itu.
"Lo nggak meninggalkan, ya!!. Lo jahat banget, sih. Tadi gue nangis tau. Gue kira Lo beneran meninggal. Gue nggak mau Lo meningg. Karena Lo sudah berjanji menikahi gue" ucap Cia yang air matanya sudah banjir. Dia senang karena Alex tidak meninggal. Dia takut akan kematian seseorang. Dulu mamanya meninggalkannya ketika masih bayi. Kemudian Oma Ida yang selalu mendukungnya. Dia takut orang-orang meninggalkannya.
Greb. Alex memeluk tubuh Cia dengan erat "Maaf saya telah membuat kamu menangis. Saya baik-baik saja. Saya tidak akan meninggalkan ataupun pergi. Jika bukan kamu yang menyuruh saya pergi. Terima kasih telah mengawatirkan saya" balas Alex mencium pucuk kepala Cia.
Matanya menatap tajam kearah Alex "Mati aja sono, Lo." malu Cia membuat Alex terkekeh melihat tingkah Cia. Kemudian kembali mencium kening dan tangan Cia.
"Sudah bermesraan nya. Ini Bu bos, suapi dulu pak bosnya, karena dari tadi katanya dia belum makan." balas Roy yang menyadarkan mereka berdua dari dunianya.
"Kamu keluar. Ganggu aja" balas Alex yang membuat Roy mendengus dan meninggalkan mereka berdua. "Kamu suapi saya, ya?. Tangan saya luka" balas Alex dengan nada manja yang membuat Cia mendengus.
"Nyesel gue nangis. Ternyata Lo baik-baik saja. Itu juga bapak-bapak ngasih taunya yang serem-serem. Bikin panik aja" kesal Cia dengan tangan menyendok kan makan untuk Alex.
"Hahaha,,,iya soalnya darahnya banyak yang keluar dari dahi tapi untungnya tidak pingsan." ucap Alex dengan tertawa.
__ADS_1
"Syukur deh,,,tapi kenapa bisa tabrakan, sih?" tanya Cia sembari menyuapi Alex.
Alex tampak berpikir sambil mengunyah makanannya. "Itu,,,tadi ada kucing lewat, terus banting stir jadinya tabrak pohon" alibi Alex membuat Cia mengangguk.
Kalau gue katakan yang sebenarnya. Nanti malah jadi marah. batin Alex.
Cia dengan telaten menyuapi Alex. Hingga suara dokter mengintruksi mereka untuk berhenti dari manja-manja. "Pak Alex sudah boleh pulang. Karena saya lihat bapak sudah sehat" balas sang dokter membuat Cia memandang nya penuh selidik.
Dibayar pakai apa dokter ini sampai mau aja disuruh bohong batin Cia bertanya.
"Eh,,dokter ini perban di kaki saya bukain, dulu. Dan ini tangannya terasa kaku banget" Alex membuat dokter itu terkejut. Bukannya tadi disuruh berbohong kalau dia luka. Ini kenapa jadi harus di lepas. Jadi acara prank nya sudah selesai? batin dokter itu dengan memandang Alex penuh tanya.
"Buka aja, dok. Dokter, sih. Mau aja disuruh-suruh berbohong oleh dia. Dia itu memang banyak mau nya dok. Dokter pasti tadi sempat darah tinggi kan ngadepin dia?" ucap Cia yang langsung diangguki dan dibalas kekehan oleh sang dokter dengan tangan melepaskan perban-perban di tangan dan kakinya Alex sementara Alex sudah mendengus kesal.
"Anda istrinya pak Alex yang mau di prank, kan?. Katanya dia cemburu ngeliat istrinya jalan sama cowok. Terus salah salip mobil malah jadi nabrak pohon." tanya dokter itu membuat Alex yang meneguk minumnya tersedak.
Sementara Cia memandang Alex dengan tatapan tajam penuh selidik. "Dokter ngarang aja" balas Alex dengan menoel lengan sang dokter bermaksud untuk mengkode sang dokter untuk tidak berbicara lagi.
"Saya bukan istrinya, dok. Tapi calon istri nya" balas Cia membuat sang dokter mengangguk.
"Sama saja, ibu. Cuma beda waktunya aja" balas sang dokter membuat Alex terkekeh sedangkan Cia hanya tersenyum paksa.
__ADS_1