Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Nanti Saya Cek


__ADS_3

ALEX POV.


Gue Alexander August Killer. Keturunan inggris-indonesia. Dengan bapak dari inggris dan seperti biasa ibu Indonesia. Namun, yang kalau perlu tau wajah gue itu inggris Cuma mata gue aja yang indo. Gue sejak kecil di Indonesia, dan di umur ke 6 atau 10 tahunlah, gue balik lagi ke Inggris. Dan baru datang ke Indonesia sekitar sebulan lebih.


Dan kepulangan gue keindo untuk dilantik menjadi Ceo di perusahaan yang dibangun oleh pappy.


Sebenarnya gue juga pulang ke indo buat nyari orang. Yang entah orang itu masih ingat gue apa ngak. Atau bahkan sudah menikah, entahlah biarkan takdir berbicara.


Di pagi ini gue sudah duduk manis dibangku kebesaran. Iya karena semua orang ingin merasakannya tanpa tau bebannya yang berat dipikul. Bahkan untuk liburan aja rasanya susah banget.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk membuat gue terperangah, karena gue yakin itu adalah seketaris gue “ Masuk!” ucap gue membuat orang yang diluar pintu masuk kedlaam.


“Ini berkas yang diminta kemarin pak” ucapnya dengan memberikan map berwarna coklat. Kemudian gue menyuruhnya untuk keluar.


Gue membuka dan membaca berkas tersebut “Ciarabella Aditama, usia 20 tahun, anak dari pemilik Bank Aditama. ,,,,,,,,. Menarik” ucap Gue ketika membaca profil gadis itu. “Selamat bertemu kembali gadis manis”.


Ketika pertama kali bertemu dengan gadis itu, gue sudah melihat ada yang istimewa dalam dirinya yang membuat gue seolah tertarik dengannya. Dan itu semakin membuat gue yakin ketika bertemu kembali didalam lift.


Sehingga tanpa gue sadari, gue menciumnya. Aneh. Tanpa hal itu membuat gue candu. Dan lebih anehnya pada diri gue. Dengan bodohnya gue mengajaknya menikah karena gue marah ketika melihat dirinya tertawa bersama teman lekakinya yang entah punya hubungan apa.


Gue sudah memiliki rencana untuk gadis itu. Dan gue menanti reaksinya seperti apa. Hahahhaaha. “Buat janji dengan pak Aditama, kalau nanti kita akan datang” ucap gue dibalik telepon dengan seketaris gue.


Setelah beberapa menit gue berkutik dengan tinta di atas kertas. Kepala gue penat dengan huruf-huruf dan angka yang mejadi satu. Rasanya mau meledak kepala gue.

__ADS_1


Jika gue bisa memilih gue ingin kabur aja dari sini. Tapi ini lebih baik dari pada mengurus perusahaan di Inggris bisa mati gue.


“Pak pertemuan dengan Pihak Bank Aditama akan diadakan pada jam makan siang. Sekalian beliau ingin mengajak makan siang bersama.” Ucapnya melaporkan kegiatanku. “Dan ini dari perusahaan A mau berkerja sama dengan kita” ucapnya membuat gue berpikir.


“Nanti saya cek, lagi” ucap Gue yang mulai bosan dengan perusahaan tersebut yang ngotot berkerjasama tapi nggak mau menaiki kwalitasnya.


“Baik pak. Dan ini adalah beberapa, perusahaan tekstil yang terpercaya akan produknya” ucapnya lagi dengan menyerahkan beberapa brosur.


Gue lagi-lagi menghela nafas. Ini sangat berat. Gue ingin menangis, pekerjaan gue nggak habis-habis setiap hari malah bertambah. Belum lagi Mami minta di carikan perusahaan tekstil untuk hadiah harisannya. Terkadang gue heran sama sama Mamy gue kenapa nggak kasih aja piring atau nggak gelas buat hadiahnya, kenapa harus baju segala.


“Halo, mamy. Ini Alex pilih secara acak aja, ya?. Alex nggak tau yang mana bagus” ucap gue pada mamy yang super cerewetnya.


“Boleh asalkan kwalitasnya bagus. Nanti kamu pesankan 5 gulung kain dan 20 potongan baju kaos” ucap mamy gue yang ribet banget.


“Mamy aja yang kesan, deh. Alex sibuk, my” ucap Gue membuat sang mamy menyetujuinya dan satu beban gue teratasi.


Mamy dan papy untuk saat ini masih stay di Inggris. Dan gue di buang, dilempar ke Indonesia sendirian. Tapi untungnya gue tidak bekerja di Inggris karena itu sangat membosankan akibat akan terus diawasi oleh kedua orang tua. Lagian, gue itu suka kebebasan hidup.


“Tunggu kabarnya aja, my. Ini mau lamar dulu, bye…mamy ku cantik tapi udah tua….” ucap gue bercanda dan mematikan panggilan telepon. Dan tentunya akan di telepon balik oleh sang mamy untu menanyakan hal tersebut.


“Yes,,,siapkan dirimu sayang” gumam gue dengan berdiri dan memakai setelan jas, bersiap untuk bertemu dengan sang calon mertua.


“Ayo, pak. Sekarang” ucap seketaris gue yang sudah berdiri di depan pintu.


Didalam mobil gue tak hentinya untuk menahan senyum walau sudah dipastikan akan mendapatkan tolakan tapi gue tetap optimis, Cinta di tolak perjodohan bertindak.

__ADS_1


Sesampai di tempat untuk bertemu. Gue dengan gaya memasang wajah jutek dan dingin. Supaya tidak kentara banget. Seketaris gue hanya diam mengikuti saja apa yang akan nanti gue permainkan.


“Selamat siang, maaf saya datang terlambat” basa basi gue dan duduk di depannya.


“Tidak apa-apa. Saya juga baru sampai. Sebelum kita membahas bisnis kita. Alangkah baiknya kita makan terlebih dahulu agar lebih pokus” ucapnya. Gue sebenarnya kasihan melihat Calon mertua gue yang masih berkerja walau di usianya seharusnya sudah pensiun. “Mau pesan apa?” Tanya lagi.


Gue sedikit kasihan untuk melancarkan rencana gue. “Eh,,makan steak aja” ucap gue yang tadi sempat melamun.


“Maaf ya, pak. Saya yang mengajak bertemu tapi justru saya yang datangnya terlambat” ucap gue yang merasa tidak enak.


“Santai aja. Ini kan jam istirahat jadi panggilannya jangan formal. Panggil saja saya papa. Kamu itu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri” ucapnya membuat jiwa gue melayang jauh. Karena bagi gue ini adalah batu pijakan untuk dapat merealisasikan rencana gue.


Gue mengangguk menanggapi ucapannya “Bapak,,,Eh. Maksud saya Papa. Saya sangat senang dianggap anak oleh anda” ucap gue dengan tersenyum senang.


Setelah pramusaji membawkan pesanan. Kami makan dengan sangat hikmat menikmati setia suapan makan yang masuk kedalam mulut. Setelah selesai makan. Kini gue sedang berbincang masalah proyek yang akan kita kerjakan.


Gue sendiri bingung harus memulai dari mana. “Kamu sudah punya pacar, Al?” Tanya pak Aditama membuat gue dengan cepat menggelengkan kepala “Tapi di berita, kamu sedang berkencan dengan salah satu artis indo” ucapnya lagi membuat gue spontak tertawa.


“Itu cuma rumor atau nggak bumbu masyarakat saja. Saya sendiri nggak mau pacaran, maunya langsung nikah. Takutnya kalau pacaran kena tikungan tajam” ucap Gue sedikit menambahkan pupuk hiperbola agar suasana tidak terlalu canggung.


“Kamu ini bisa, aja. Kamu ini sama seperti anak saya, si Rey. Dia juga nggak mau pacaran, maunya langsung nikah.” Ucapnya tertawa. Gue hampir lupa kalau beliau punya anak laki-laki soalnya anaknya itu jarang terlihat di media. Nggak seperti gue yang setiap saat rasanya ada aja beritanya.


“Eh,,emangnya anaknya om, usia berapa?” Tanya gue atau lebih tepatnya pancing gue sih. Hahaha.


“ Yang pertama kembar sepasang dan sudah berkeluarga. Kalau yang bontot sekitar 20 tahunan lah..” ucapnya membuat gue berusaha menampilkan wajah terkejut.

__ADS_1


“Lho,,,jauh banget jarak dengan si bontot” ucap Gue, membuat dia tertawa.


“Iya karena waktu itu istri papa, hamilnya sudah berumur. Jadinya beda jauh” ucapnya terlihat wajahnya yang sendu. Gue melihatnya semakin penasaran dengan kehidupannya terutama kehidupan putrinya. “Waktu itu istri papa, ngelahirin si bontot memiliki penyakit dan factor umur juga, jadinya dia sudah berpulang ke sisi Tuhan” ucap nya yang terlihat di pelupuk matanya sudah tergenang air mata. “Eh,,,malah jadinya curhat” ucapnya yang menyadari dirinya.


__ADS_2