
Sekarang mereka, sedang berjalan menyusuri mall yang tidak jauh dari perusahaan sang papa. Kedua bocah itu sangat senang ketika melihat banyaknya mainan yang akan mereka mainkan nanti.
"Om,,Ucul mau main itu boleh?" tunjuk nya pada permainan mandi bola.
"Nggak boleh, cul. Kita harus ke sana, biar bisa liat cewek cantik nya" ucapnya membuat mereka mengangguk saja. Kemudian mengikuti kemanapun sang om-om membawa mereka.
Dan disini lah duo kembar itu, di toko kosmetik. Entah apa yang akan mereka beli. Namun, saat ini mereka sedang memilih salah satu lipstik.
"Om beli ini aja. Mama biasanya pakai ini buat bikin bibirnya merah kalau lagi godain papa" ucap si kembar membuat Gio dan Jeo memandang penuh aneh kepada keponakannya itu.
"Eh,,memangnya kalian tau, kalau mama sering godain papa kalian?" ucap Gio yang penasaran dengan hal apa yang kakaknya itu lakukan.
"Iya,,bahkan mama, sering ajak kita main cantik-cantik. Dan rambutnya Ucil sering di kuncir banyak oleh mama" adu Ucil membuat paman mereka itu tertawa.
"Lain kali, Lo jangan mau di jadiin cewek, sama mama. Bilang bisa kalian sembunyi kalau mama mau cantik-cantik kan, ya" tegur sang paman bijak Jeo.
Ini kakaknya sudah gil*a, apa masa iya anak laki-laki didandani cewek. Lagi ngidam kali, ya batin Gio dan Jeo.
"Om beli ini buat siapa?. Om kan cowok, katanya cowok tidak boleh cantik-cantik kan" ucap Ucul membuat paman mereka tergelak.
"Eh,,ini Om mau beliin Mami Aya" alih Gio.
"Owh,,kalau buat tetangga Ucul, boleh nggak?. Tetangga kami perempuan juga" ucapnya yang diangguki oleh pamannya.
Setelah mereka memilih barang yang diinginkan. Sekarang mereka sudah berada di dalam Toko makanan. Karena kedua bocah itu sudah merengek lapar. Dan langsung pulang.
Sesampainya dirumah Cia. Bocah kembar nakal itu langsung turun dan berlari kearah tetangga mereka. Jeo dan Gio yang melihat nya hanya terkekeh geli.
"Mereka kayak Lo banget Gi" ucap Jeo.
__ADS_1
"Alah Lo juga kali. Kan mereka yang ngajarin kita. Jadi sudah dipastikan mirip kita lah," ucapnya bangga dengan kelakuan kedua ponakannya.
"Eh,,kalian sudah sampai. Kembar nakal itu dimana?" ucap Cia ketika melihat adik-adik masuk. Dan tidak mendapati anaknya.
"Kak,,kalau mau cantik-cantik kan. Jangan si kembar jadi tumbalnya dong, kasian tau. Nanti kalau mereka jadi cewek. Kan kakak juga yang rugi. Besok-besok kalau tetap gitu lagi, si kembar bawa ke rumah papa aja. Biar kamu yang rawat" ucap Jeo membuat Cia hanya tersenyum paksa.
"Ya,,kan kakak gemas. Apalagi itu si Ucil rambut nya gondrong nggak mau di potong kan sekalian aja, kakak ikat biar nggak gerah." ucapnya.
Dasar bocah pengadu batin Cia karena di marahi oleh anak tengilnya itu. "Kakak lagi ngidam, ya?." celetuk Gio membuat sebuah tangan melayang kearahnya.
"Nggak, ya. Ini jahitan di perut kakak masih ngilu. Kamu pakai acara ngomongin hamil segala" sewot Cia membuat Gio terkekeh.
"Lagian Abang Alex juga kayaknya lagi pengen punya anak lagi deh" panas Jeo kembali membuat Cia mendengus.
"Mama,,,kakak tetangga kita kemana??" teriak kedua bocah yang datang dengan membawa paperbag.
"Lho,,kalian nggak tau kalau mereka udah pindah?. Katanya mommy kakak itu sakit. Jadi harus pindah untuk merawat mommy nya" ucap Cia membuat kedua bocah itu menghela nafas lesu.
"Memangnya kalian siapanya. Pakai acara pamitan dengan kalian segala. Nggak penting banget" ucapan Gio mampu membuat Ucil bersedih. Kemudian memeluk sang mama.
"Huaa, mama. Ucil padahal udah beliin kakak itu jepit rambut. Sekarang dia udah pergi" ucapnya dengan menangis. Sedangkan Jeo dan Gio tertawa melihat tingkah mereka.
Ucul malah duduk dengan anteng di samping sang mama. Tanpa perduli dengan adiknya yang menangis. "Lho,,,jangan nangis. Nanti kakaknya akan pulang, lagi kesini. Kan barangnya belum diangkut semua" tenang Cia membuat Ucil menjeda tangisnya.
"Beneran, ma?." tanyanya yang diangguki oleh Cia.
"Eh,,adik nya nangis, Lo malah anteng main game. Nggak ikut nangis?. Kan kakak tetangga mau pindah" goda Gio.
"Buat apa?. Kan masih banyak cewek di sekolah. Jadi nanti kasih ke mereka aja" santai Ucul membuat paman nya tidak percaya.
__ADS_1
"Wah,,,ini Lo mau jadi bibit playboy sejak dini" Gio tidak percaya dengan perkataan Ucul.
"Playboy itu apa, om?" tanya Ucil yang sudah tidak menangis lagi. Dan Langsung mendapatkan tatapan tajam dari Cia.
"Itu,,,tanya sama mama kalian aja" ucap Gio cengengesan karena takut salah memberikan pengertian.
"Mama,,,playboy itu apa?" tanya Ucil membuat Cia berpikir supaya anaknya itu mengerti sesuai bahasa.
Namun, untungnya suara telepon mampu mengalihkannya. "Gio, Jeo!!!. Kalian dimana!!" marah Alex di sebrang telepon membuat Jeo dan Gio terkekeh.
"Dirumah, bang. Lagian kakak Cia nya juga sudah pulang. Jadi kami bawa si kembar ke rumah aja. Maaf ya bang, sudah bikin khawatir" ucap Gio membuat Cia menghela nafas.
Sedangkan Alex sudah mengumpati adik ipar yang seenaknya. Karena sudah lebih dari 2 jam mereka tidak balik ke kantor membuat Alex khawatir.
"Hallo, mas. Ini si kembar sudah aman dirumah. Mas, kerja aja yang pokus, ya. Bye sayang" ucap nya.
"Lain kali. Kalau mau kemana-mana kasih tau dulu. Kan nggak pada khawatir jadinya." nasehat Cia yang diangguki oleh paman dari bocah kembar nakal itu. "Sekarang kalian mau kemana lagi?" tanya Cia.
"Mau ke rumah teman kakak. Mau kerja kelompok" ucap Jeo yang diangguki oleh Cia.
Setelah kepergian sang paman. Sekarang Si kembar dengan antengnya duduk menonton kartun. "Mama,,tau nggak. Tadi om Jeo dan om Gio beli lipstik kayak mama pakai itu. Katanya buat ante Aya. Memangnya sekarang ulang tahunnya ante Aya, ya, ma?" tanya Ucul.
Membuat Cia mengerjitkan dahinya. "Eh,,kan ulang tahunnya ante Aya, sudah bulan lalu" terang Cia membuat dirinya berpikir keras dan curiga dengan adik-adik nya itu. "Om kalian beli apa lagi?" ucap Cia.
"Beli palpum, ma" ucap Ucil yang sedang mengunyah kue yang dibawa Cia.
"Owh,,,terus kalian diajarin apa aja, sama om kalian itu?" ucap Cia yang was-was dengan apa yang adik-adik itu lakukan pada anak-anak nya. Mengingat Si kembar masih lugu dan polos.
"Nggak apa-apa. Habis belanja langsung makan. Karena perut Ucil udah lapar" ucap Ucul yang diangguki oleh Cia.
__ADS_1
Seperti inilah keseharian mereka. Bermain, menonton TV, makan dan tidur. Karena si kembar sedang persiapan untuk memasuki dunia taman kanak-kanak.
Sedangkan Cia masih sibuk dengan butiknya. Disela menjaga si kembar Cia menyempatkan diri untuk mendesain. Karena saingnya semakin banyak membuat nya harus mengatur strategi agar butiknya tidak ketinggalan jaman.