
Sementara Cia hanya bengong melihat pertengkaran mulut mereka. Dia kelu harus membela siapa. Untungnya sang papa cepat datang dan membuat semakin merasa aman.
"Mr. Billier terhormat. Anda sebagai tamu undangan telah membuat pesta pernikahan putri saya berantakan. Saya mohon sekarang Anda bisa meninggalkan tempat ini!" ucap sang Daddy yang sudah sangat kesal karena ulah dari anak dan bapak itu.
"Jangan harap kamu bisa mengambil nya dari ku, Alex!" desis Excel dengan senyum devilnya mendekati Cia.
Greb. Semua orang terkejut karena saat ini Cia sudah berada di dalam sandera Excel. "Cia!!" teriak mereka. Karena saat ini Excel sedang mengarahkan pistol kepadanya.
"Excel, apaan kamu ini. Cepat lepaskan aku" ucap Cia yang menahan rasa takutnya.
"Tenang saja sayang. Kita akan hidup bersama" ucapnya yang sudah kehilangan akal.
Sementara Alex yang melihat itu menahan rasa kesalnya. "Lepaskan Cia, Excel!!" teriak Alex. Namun, dihadiahi senyuman mengejek olehnya.
"Tidak akan sebelum kamu menanda tangani surat-surat tersebut" ucapnya dengan pandangan mata mengarah pada salah satu bodyguard nya.
"Jangan, Alex!" ucap Cia.
"Jangan seperti itu, sayang. Hatiku sangat sakit ketika kau mengatakan itu" ucap nya seolah sakit hati. Namun, setelahnya justru tertawa.
"Dasar psiko*Pat!!" teriak Cia kepada Excel.
"Baiklah. Serahkan suratnya" ucap Alex.
"Tanda tangani surat cerai kalian dan juga surat pengalihan jabatan CEO" ucap Excel yang sudah tersenyum senang.
"Jangan Alex!!" ucap sang papi membuat sang Alex menghela nafas.
"Jangan Alex" ucap Cia yang menahan air matanya.
Sementara Alex hanya bisa menatap Cia dan orang tuanya dengan pasrah. Dia lebih baik kehilangan hartanya dari pada harus kehilangan Cia. "Alex jangan..." ucap Cia yang memelas.
"Sayang jangan menangis. Hatiku sakit saat kau menangisi pria itu."ucapnya.
"Gue benci Lo, Excell. Lo psiko*Pat. Lo itu orang bodoh yang gue paling benci!!" maki Cia membuat rahang Excel mengeras.
"Terima kasih pujiannya sayang." ucap Excel sembari mengecup rambut Cia dari belakang membuatnya memberontak. "Ikat mereka semua. Kecuali Alex!" teriak mereka membuat pertempuran terjadi. Namun, ternyata Alex kalah jumlah membuat mereka sekarang diikat.
"Wah,,, ternyata anak Daddy, sangat pintar" ucap pak Billier yang bangga dengan putranya yang saat ini justru tersenyum senang.
__ADS_1
"Alex,,,Alex,,,,kamu kira aku tidak tau kalau kamu sudah menikah dengan Cia. Dan bahkan kamu juga sudah tau strategi ku. Tapi maaf, aku lebih licik daripada mu" ucap Excel.
"Lo sudah gila, Excel!!" teriak Alex.
"Gue memang sudah gila. Semenjak kakek dan nenek selalu membanggakan Lo!. Lo tau gimana rasanya, ketika Lo dibanding-bandingkan?. Rasanya sakit, Lex. Dan setalah dewasa, Lo malah menikahi orang yang gue suka!!. Lo itu yang gila!!!" teriaknya. "Sekarang kalau dia tidak bisa gue miliki. Maka, jangan harap Lo juga bisa memilikinya!" ucapnya dengan mata yang sudah menggelap dan mengarahkan pistol ditangannya ke kepala Cia.
"Hentikan, Excel!. Kau membuatnya takut!" teriak Alex yang melihat wajah Cia sudah pucat pasi. "Baiklah gue akan tanda tangani surat ini" ucap Alex dan melukiskan tanda tangan nya diatas kertas itu. Tawa Excel semakin menggelegar ketika surat itu sudah sempurna.
Sementara Cia hanya bisa menangis "Excel,,aku mohon lepaskan!" ucap Cia yang memohon.
Namun, Alex tetap saja Alex si pria dingin, kaku dan menyeramkan tetapi tampan itu sudah memiliki rencana yang matang. Dor!!!.
Suara tembakan membuat Excel, Mr Billier dan anak buahnya terperangah dengan suara tembakan itu. Namun, saat mereka lengah Alex mengambil Cia dari tawanan Alex. "Bren*gsek!!" umpatnya karena merasa terkibuli oleh Alex.
"Kamu baik-baik saja kan!!" ucap Cia yang berada dalam dekapan Alex. "Apakah ada yang terluka?" ucapnya lagi.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Alex.
Mereka lupa bahwa saat ini ada orang yang sedang mengarahkan pelatuk nya kepadanya. "Alex!!!" "Cia!!!" teriak mereka ketika pelatuk sudah terlepas.
Dor!! Dor!! Dor!!. Suara tembakan tepat mengenai punggung kiri Alex. "Alex!!" teriak Cia begitu yang lainnya.
"Maaf telah membuat kamu ikut dalam masalah ini. I Love You, Cia" ucapnya dalam pelukan Cia. Kemudian menutup matanya membuat Cia menangis memeluk tubuh Alex.
"Nggak!!. Alex ayo,,bangun!!. Alex!!. Alex!!" teriak Cia dengan membangunkan Alex yang sudah lemas. "Papa, Daddy,,Alex tidak mau bangun" ucap Cia yang memandang sang Daddy dan papa dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Cepat panggil ambulans!" teriak salah satu bodyguard.
"A-alex?" ucap seseorang yang berada diambang pintu dengan mata menatap Alex tidak percaya. "Tidak!!!" teriaknya membuat sang papi harus menenangkannya.
"Papi, Alex, Pi. Dia berdarah!!" ucapnya dengan mata yang sendu dan terlihat frustasi.
"Dia akan baik-baik saja, mi" tenangkan Papi Alex. Benar!. Yang melihat itu adalah sang mami. Mungkin karena kekuatan batin membuatnya keluar dan mengecek kondisi putranya.
Sementara Cia sudah lemas karena terlalu banyak menangis. "Bawa dia ke rumah sakit!" perintah sang papi tegas membuat petugas ambulans terkejut.
Mereka membawa tubuh Alex menuju rumah sakit. Diikuti oleh sang papi dan mami. Sementara Cia tidak ikut karena dia pingsan akibat kelelahan.
Hari ini sangat lelah untuk mereka semua yang diluar dugaan mereka. Padahal jika serius, mereka bisa saja mengalahkannya. Namun, dia terlalu menganggap remeh nya. Hingga terjadi hal seperti ini.
__ADS_1
Sementara dirumah sakit Alex sedang ditangani oleh dokter diruang operasi. Bagaimana tidak dia mendapatkan tiga kali tembakan membuatnya harus melakukan operasi darurat.
"Pi, kenapa ini bisa terjadi. Bukannya kamu punya anak buah. Kenapa bisa Alex yang jadi korban!" ucap nya membuat yang papi hanya bisa memeluk tubuh sang istri.
"Maafin papi, mi. Papi kira dia hanya mengertak saja. Dan ini juga salah papi tidak waspada" ucap ya membuat sang mami menangis dalam pelukan sang suami.
"Papi, mami bagaimana keadaan, Alex?" tanya Kakak dari Alex.
"Adik, kamu sedang di operasi Her" ucap sang papi.
"Mi, semuanya akan baik-baik saja. Percaya dengan, Heru, mi" ucapnya mengusap Penggung sang mami.
Heru adalah anak angkat dari pak Killer. Namun, dia sudah seperti anak kandung mereka. Dia diangkat karena memiliki potensi yang besar. Buktinya saat ini dia sudah mampu membuat perusahaan yang ada di Inggris berkembang pesat.
Dan kasih sayang pak Killer dan istrinya juga melebihi sayang mereka kepada Alex. "Bagaimana dengan keadaan, Cia?" tanya Haru membuat sang mami tersadar.
"Eh,,aku baru ingat. Menantu ku gimana, Pi?!" ucapnya membuat sang papi ataupun Haru melongo dengan tingkah sang mami.
"Dia tadi pingsan, mi. Syok melihat Alex yang banyak darah" jelas sang papi membuat sang mami mengangguk.
"Mami sama papi istirahat dulu, di kamar VIP nya Alex. Biar Heru yang jagain Alex disini" ucap Heru yang diangguki oleh mereka.
"Nanti kalau ada apa-apa kasih tau, kami, ya Ru" ucap sang mami yang diangguki oleh Heru.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya ceritanya nggak jelas dan ada salahnya. Karena pengetahuan author sangat minim. Terima kasih.