
Suasana di rumah Keluarga Aditama sangat ramai akibat semua orang berkumpul menikmati kebersamaan mereka. Semua orang bahkan ada Rain dan juga Aidan.
"Mas, mau itu juga" ucap Cia menunjukkan pada buah didepannya itu. Namun, belum sempat Alex mengambilnya Gio dengan tidak tau nya justru mengambil dan memakannya langsung membuat Cia terlihat sedih melihatnya.
"Mas,,apelnya" ucap Cia lirih membuat Alex hanya bisa menghela nafas saja. Sedangkan Gio duduk dengan santai nya. Mulai lagi drama otak hilangnya batin Alex.
"Ini mas ambilkan yang di kulkas aja, gimana?" tanya Alex yang digelengkan oleh Cia.
"Huaa,,,mau apel itu mas. Akan aku yang duluan. Kamu sih mas nggak gercep. Kan ke duluan Alex jadinya" ucap Cia dengan air matanya yang sudah keluar.
Alex tidak tau harus apa. "Maaf sayang. Kita beli aja apelnya ya?" ucap Alex menenangkan Cia.
"Nggak pokoknya aku mau apel itu, mas" ucap Cia menunjukkan apel yang ada ditanya Gio.
"Kakak mau apel ini?" tanya Gio dengan menunjukan apelnya. Yang tentu saja digelengkan oleh Cia dengan wajahnya yang kesal. "Yaudah" ucap Gio memakan apelnya dengan memamerkan bagaimana kenikmatan apel tersebut.
"Masss" rengek Cia yang membuat Alex bingung harus berbuat apa.
"Istrinya kenapa lagi, kak?" tanya Jeo kepada Alex membuatnya mengarahkan pandangannya ke arah Gio yang asik memakan apelnya. Yang diangguki oleh Jeo
"Kakak mau apel juga?" tanya Jeo yang membuat Cia menatap adiknya itu penuh binar bahagia. Kemudian mengangguk. "Ini apelnya?. Mau Jeo kupaskan?" tanya yang tentu saja digelengkan oleh Cia.
"Nggak!. Kakak maunya suami kakak yang kupasin. Aku cukup ambilkan apel putri saljunya aja" ucapnya membuat Alex dan Jeo mengerjitkan dahinya bingung dengan perkataan Cia.
"Apel putri salju yang mana??" tanya Alex.
"Itu yang warna merah, mas. Kamu ini mas,,masa apel putri salju aja nggak tau. Itu kan apel yang dimakan putri salju terus dia kena racun nenek sihir dan tidur selamanya. Hingga pangeran datang dan menciumnya, maka dia baru akan tersadar. Tapi jika pangeran itu memang cinta sejatinya" terang Cia membuat Alex hanya mampu mengangguk saja.
__ADS_1
Panjang banget filosofi apel merah ini batin Alex memandang apel merah yang ada didepannya itu.
"Mas,,jangan diambil!!" teriak Cia ketika Alex hendak mengambil apel yang ada didepannya itu. Mendengar itu membuat Alex dan Jeo terkejut bahkan Gio yang tengah asik makan pun menjadi ikut terkejut. "Jangan diambil nanti kamu jadi kakek sihirnya" ucap Cia membuat Alex menggeleng kan kepalanya.
Drama baru lagi. Ini istrinya hamil kok bisa penuh drama gini, ya? batin Alex.
"Berarti kita main drama putri salju dan 1 kurcaci ini, kak?" tanya Gio menimpalinya.
"Iya kamu jadi kurcacinya kakak yang jelek" ucap Cia membuat Alex mendengus. "Jeo jadi penyihir yang tampan." ucapnya lagi membuat Alex dan Jeo terkekeh.
"Terserah yang lagi hamil aja, deh" terang Gio kemudian asik menonton TV nya.
"Lho,,kamu udah minum susu, Cia?" tanya seseorang yang baru bergabung dengan mereka yang duduk dengan hati-hati yang didampingi suaminya.
Bagaimana tidak perutnya sudah lebih besar dari Cia bahkan seperti ingin meledak saja. "Udah tadi. Mas Alex yang bikinin" ucapnya.
hari ini mereka sedang makan malam bersama. Namun ada yang aneh yaitu bumil satu yang banyak tingkah itu sedang susah makan. Dia lebih memilih menonton mereka yang makan. "Enak mas?" tanya Cia ketika melihat suaminya makan dengan lahap. Tentu saja diangguki oleh Alex.
"Kamu mau apa, sayang. Biar Daddy beliin atau mau Daddy buatkan?" tawar sang daddy Rey.
"Nggak, dad. Cia lagi pengen liat kalian makan aja, Cia udah kenyang" ucapnya dengan tersenyum manis.
"Iyalah kenyang. Orang Lo udah makan duluan, barusan." protes Aidan yang sedang tadi memandang sahabat itu.
"Eh,,biarin. Gue kan lagi hamil, jadi harus banyak makan biar anak gue sehat. Nggak kayak cewek disamping Lo yang makannya dikit demi jaga tubuh. Padahal mah,,perutnya kayak karung" sindir Cia hanya membuat orang disamping Aidan terkekeh saja.
"Idih,,nanti juga dia melar kayak Lo. Kalau dia hamil" ucap Aidan santai membuat semua orang yang disana terbatuk mendengar nya.
__ADS_1
"Kalian udah jadian?" tanya sang Daddy tapi lebih ke protes karena tidak tau apapun tentang anak kesayangannya itu. Siapa lagi kalau bukan si hujan badai.
"Idih,,nggak dad. Rain nggak pacaran sama om-om cabul kayak dia" ucapnya membuat Aidan menatapnya tajam. Sementara yang lainnya tertawa mendengar nya.
"Awas aja kalau nanti Daddy tau nggak terakhir. Daddy nggak mau ngomong sama kamu lagi" kesal sang Daddy yang terlihat seperti pacarnya yang merajuk.
"Nggak. Nanti kalau ada apa-apa Daddy yang tau duluan, kok" ucapnya membuat sang Daddy mengangguk saja.
Sudah biasa seperti itu. Dimana jika berkumpul akan ada saja perdebatannya. Namun, diantara mereka ada salah satu orang yang meringis seperti menahan rasa sakit. Namun, suaminya yang peka menyadari bahwa istri itu sedang kesakitan.
"Apa sakit lagi?" tanya nya sontak saja mengalihkan pandangan orang yang ada di meja. Wanita yang ditanya itu pun mengangguk dengan pelan akibat rasa sakit itu muncul. "Kita ke rumah sakit aja, gimana?" tanya suaminya membuat gelengan kepala muncul dari istrinya.
"Kita ke rumah sakit aja. Takutnya nanti kenapa-kenapa" ucap Sang mommy yang diangguki oleh semua orang. "Gio ambilkan tas yang ada dikamar kakak Utaya yang berisi perlengkapannya. Dan yang lainnya disini saja. Jaga Oma. Kalau udah sampai nanti mommy kabarin" ucap sang mommy yang diangguki oleh mereka semua.
Mommy, Daddy, kak Riski dan Utaya masuk kedalam mobil untuk ke rumah sakit. Mungkin ini proses bersalin. Mengingat hari yang di katakan dokter sudah lewat seminggu. "Kamu atur nafasnya ya sayang" ucap Mommy kepada Utaya. Sedangkan Daddy dengan cepat. Namun, tetap hati-hati mengendarai mobil supaya cepat sampai di rumah sakit dengan selamat.
Sementara yang lainnya sedang khawatir dengan keadaan kak Utaya. Namun, mereka belum ada yang berani mengatakan kelahiran anaknya kak Utaya pada Oma. "Mas,,,aku takut" ucap Cia lirih membayangkan dirinya juga akan merasakan hal yang sama dengan kak Utaya nantinya.
"Tarik nafas dulu. Ingat semuanya akan baik-baik saja. Baik kamu dan bayi-bayi kita nanti akan selamat dan sehat" ucap Alex yang mengusap rambut sang istri dan menciumnya.
"Aduh,,,ngenes banget. Tau gitu ikut mommy dan Daddy ke rumah sakit aja. Kan nggak menemukan hal kayak gini" gumam Gio yang melihat keuwuan Cia dan Alex.
"Kenapa Lo usap-usap perut?. Hamil Lo?" tanya Jeo yang peka terhadap gerakan yang dilakukan Rain. Membuat Cia menatapnya tajam.
"Lo hamil?!" tanya Cia yang tentu saja digelengkan oleh Rain. Namun, yang membuat Cia yakin Rain hamil adalah senyum Aidan yang penuh misteri itu. "Lo nggak hamilin, dia kan?" ucap Cia menunjuk Aidan penuh selidik.
"Kalau iya kenapa. Lagian nanti kan gampang tinggal gue nikahi aja. Beres." ucap Aidan santai membuat beberapa bantal melayang ke arahnya dengan liar dan bebas.
__ADS_1
"Ogah gue punya anak dari Lo!!" seru Rain kemudian mendekat ke arah Gio yang berada di sampingnya.