Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Istirahat


__ADS_3

Takut. Semuanya akan berubah. Takut, akan kehilangan. Terkadang membuat manusia itu sering melakukan hal yang aneh. Sekarang Cia sedang duduk diatas kursi roda yang didorong oleh daddy nya.


"Dad semuanya akan baik-baik saja kan?" ucap Cia mendongak menatap sang Daddy yang langsung mengangguk.


"Jangan berpikiran yang buruk. Semuanya akan baik-baik saja. Dia akan segera sadar" tenangkan sang Daddy yang diangguki oleh Cia.


Saat didepan ruangan itu. Terlihat kakak Dari Alex sedang menunggu disana. Raut wajahnya yang lelah Sanga terlihat. Ditambah bajunya yang sudah mulai kusut. "Haru, apakah operasi sudah selesai?" tanya sang daddy yang sontak di gelengkan.


"Cia gimana keadaan kamu?." tanya nya ketika melihat Cia yang duduk di kursi rodanya.


"Baik-baik saja, kak. Cuma kepalanya masih pusing" ucapnya membuat Heru hanya mengangguk.


"Kamu sudah makan, Ru?" tanya daddy yang duduk disampingnya. Hanya gelengan yang terlihat. "Kamu makan dulu, gih. Biar Daddy sama Cia yang jaga disini. Lagian di kamarnya Alex, mommy Cira sudah bawain makan untuk kalian" ucap nya.


"Terima kasih, dad. Kalau begitu Heru kesana dulu mau makan"


Sepeninggalan Heru Cia kini sudah duduk disamping sang Daddy. Matanya menatap kearah pintu ruang operasi yang menampakkan dirinya.


Melihat dari kata gimana petugas disana lalu lalang menangani pasien yang baru sadar dari komanya. Ruangan operasi yang steril tidak memungkinkan orang untuk kesana. Hanya sampai batas pintu dan jendela kaca saja yang terlihat.


Sudah satu jam lebih Alex juga belum ada kabarnya. Bahkan perasaan Cia sendiri sudah sangat khawatir. Banyak spekulasi negatif mulai muncul dari dalam dirinya.


"Dad, apa yang terjadi didalam. Kenapa perawat atau dokter belum ada yang memberitahukannya?" ucap Cia.

__ADS_1


"Sabar, sayang. Kita berdoa saja agar diberikan kelancaran"


Hingga beberapa menit berlalu. Suara pintu dari ruang operasi terbuka menampilkan seorang dokter yang sudah bersih. "Dengan keluarga nya bapak Alex?" tanya sang dokter yang membuat sang semua yang menunggunya berdiri. Dan berseru iya. "Jadi pasien sudah keluar dari operasi sekarang pasien dalam masa observasi dokter. Karena terdapat 3 peluru di punggungnya yang hampir saja mengenai jantungnya. Ditambah lagi tulang rusuknya yang retak." terang sang dokter membuat Cia dan lainnya syok.


"Tapi anak saya baik-baik saja kan, dok?" ucap sang mami yang diangguki oleh sang dokter.


"Untuk tahap selanjutnya akan saya beritahu secara berkala. Sekarang kita berdoa semoga pasiennya bisa dengan segera sadar. Kalau sampai dalam 24 jam belum sadar. Maka pasien sedang dalam masa koma" terang sang dokter membuat hati sang mami mencelos.


"Kapan saya akan dapat melihat kondisi anak kami, dok?"tanya sang papi.


"Setelah 1 jam masa observasi. Akan dipindahkan ke ruangan ICU sebagai dasar untuk perawatan" ucap sang dokter.


"Baik, terima kasih dokter" ucap mereka.


Sekarang Alex sudah berada di ruangan ICU. Untungnya dia segera sadar. Namun, masih belum bisa di jenguk oleh siapapun. Mereka hanya diperbolehkan melihat dari balik kaca. Melihat bagaimana kondisi Alex membuat sang mami tidak kuasa melihat anaknya di balut perban.


"Pi, Mami nggak kuat lihat Alex, Pi" lirihnya dalam dekapan sang suami. Sedangkan Cia yang melihat itu sudah menangis dan ditenangkan oleh sang Daddy.


"Kuatkan hatimu demi anak kita, mi" ucap sang suami. "Mantu kamu juga sama. Tidak kuat melihat Alex seperti itu. Bahkan sekarang wajahnya sudah pucat" ucap sang papi sambil menunjuk Cia yang tertidur akibat terlalu lelah menangis.


Melihat keadaan mantunya. Membuat mami Alex merasa sedih. "Cia kamu pulanglah. Untuk istirahat nanti kamu drop sayang. Besok kesini lagi, ya?" ucap sang mami yang membelai rambut Cia. Membuat sang empu membuka matanya.


"Tidak, mi. Cia ingin disini menemani Alex saja" balasnya yang duduk tegak.

__ADS_1


"Tidak sayang. Kamu harus istirahat, yang jaga Alex sudah banyak. Jadi kamu jangan khawatir. Sekarang lebih baik kamu pulihin diri dulu. Istirahat yang cukup. Nanti kalau ada apa-apa pasti akan mami kabari" ucapnya membuat Cia mengangguk pasrah.


Akhirnya Cia pulang bersama mommy dan Daddy nya. Benar kata mami. Kalau dia harus istirahat untuk menjaga Alex. Cia tidak akan khawatir lagi karena semua orang menyayangi Alex. Sekarang salah satu masalah sudah berlalu. Dan mereka hadapi bersama.


Setelah dua hari Cia membutuhkan diri untuk memulihkan diri nya. Karena setelah pulang dari rumah sakit Cia justru demam menyebabkan dirinya belum menemui Alex. Dia hanya mengetahui perkembangan Alex dari sang mami mertua yang setiap saat mengirimkan chat.


Seperti saat ini. Tubuh Cia sudah mendingan bisa diajak kompromi. Sehingga, dia memilih untuk menjenguk Alex di rumah sakit. Rasanya rindu terhadap laki-laki yang biasanya selalu cerewet dan posesif itu. Ketika sudah didepan ruangan Alex. Cia berhenti guna untuk menenangkan hatinya.


Cklek. Pandangan Cia langsung mengarah kepada orang yang sedang berciuman. "Eh,,maaf ganggu" ucap Cia yang merasa malu akibat melihat adegan yang tidak seharusnya matanya lihat. "Huh,,,makanya lain kali ketuk dulu kalau mau masuk!" gerutu Cia pada dirinya kemudian memilih duduk di kursi tunggu.


"Eh,,Cia maaf ya. Itu,,,Alex lagi di ruang Rontgen (dibaca Ronsen)" ucap seseorang yang keluar dari ruang itu dengan wajah memerah karena malu ketahuan.


"Eh,,iya. Kak, maaf ya tadi nggak ketuk pintu dulu" ucap Cia semakin membuat kakak iparnya itu malu.


"Udah, jangan dibahas lagi. Nanti tambah malu." ucapnya membuat Cia mengangguk"Sekarang kamu sudah baikan??" tanya nya.


"Udah mendingan. Kemarin setelah di kasih infus sudah mendingan. Bulan dimana, kak?" tanya Cia yang melihat sekeliling tidak menemukan bocah itu.


"Bulan lagi sekolah. Maklum aja, kalau ada anak-anak kita nggak bisa berduaan. Nanti juga kamu akan rasain" ucapnya membuat Cia mengangguk. "Itu, Alex sudah datang" tunjuk nya.


Wajah Cia langsung sumringah melihat hal itu. Bahkan tatapan mata mereka semakin dalam untuk melepaskan rindu mereka. Senyum manis Alex tidak luntur. "Lihatnya gitu amat. Kangen ya??" bisik sang kakak ipar sembari menyenggol pundak Cia. "Ini Istrinya sudah datang. Sekarang sudah tidak bilang iri lagi kan??" goda sang kakak ketika Alex sudah didepan mereka.


Alex menanggapinya dengan dengusan. "Kamu sudah mendingan?. Kenapa nggak istirahat aja, sih" ucap Alex dengan menggenggam tangan Cia, yang menggeleng.

__ADS_1


Alex masih berbaring di bed rumah sakit. "Mulai ngebucin. Kemarin nangis karena rindu. Sekarang udah didepan disuruh istirahat" ucap sang kakak yang baru saja keluar dari ruangan itu. Alex hanya cuek saja. "Ayo,,masuk. Kalian akan mau diluar ngobrolnya??" ucap nya lagi. Mereka akhirnya berbicara di dalam ruangan tersebut. Agar lebih leluasa.


__ADS_2