Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Kecelakaan


__ADS_3

CIA POV


Gue nggak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Padahal gue sudah berusaha menerima keadaan bahwa jodoh gue mungkin Alex.


Sejujurnya nggak tau perasaan gue ke Alex itu gimana. Karena kata mommy kalau kita kesal atau bahkan dongkol ngelihat seseorang dengan perempuan atau laki-laki dekat dengan orang itu.


Bahkan sekarang bersama dengan Excel aja gue masih bingung. Namun, gue sendiri nyaman bersamanya walau baru bertemu.


"Kamu kenapa bengong, aja" ucap Excel dengan tangannya yang mengibas-ngibas di depan muka Cia.


Cia terperangah "Eh,,enggak kok" ucap gue membuat Excel tersenyum.


"Beneran kok. Tadi saya panggil nggak nyaut-nyaut." balas Excel dan gue hanya menampilkan senyumnya saja.


Gue bingung mau bahas apa lagi, sekita bahan obrolan gue itu habis. Dan kini gue hanya mendengarkan omongan Excel tentang kehidupan nya yang ternyata berada di Inggris.


Gue sendiri hanya bisa mengangguk dan ber-oh saja. Toh,,kalaupun gue balas nggak bakalan nyambung juga kan.


"Masa, sih. Mungkin karena beban pikiran karena pekerjaan" balas gue.


"Kalau gitu kita pulang aja. Kamu bawa mobil?. Atau saya yang antar??" tanyanya sontak saja dong gue tolak daripada jadi perbincangan dan fitnah orang. Apalagi kalau ketahuan oleh papa kan malu jadinya.


"Tidak,,gue bawa mobil kok" balas gue yang untungnya langsung diangguki olehnya.


"Baiklah saya antar kamu sampai di mobil. Oh,,iyaa, saya boleh minta nomor kamu. Biar nanti bisa dihubungi" balasnya membuat gue mengangguk. Dan mengetikan nomor ponsel gue di ponselnya yang dia serahkan.


Gue berjalan bersisian dengannya menurut gue dia itu humble dan mudah mencairkan suasana membuat gue tertawa.


"Terima kasih" balas gue ketika sudah sampai didepan mobil. Dan gue masuk kedalam mobil. Lalu melajukan nya.

__ADS_1


Gue berniat untuk ke bascam. Namun, entah mengapa perasaan gue nggak tenang. Hingga akhirnya gue memilih untuk pulang saja. Jalan menuju rumah gue entah mengapa macet. Hingga sayup-sayup gue dengar katanya ada yang kecelakaan. Dan itu membuat hati gue semakin tidak karuan.


Hingga ketika gue lewat. Sebuah mobil tidak asing menurut gue. Sedang di kerek akibat mogok setelah menghantam sebuah pohon.


Entah mengapa pikiran gue justru ke Alex. Akhirnya karena gue nggak mau penasaran akhirnya gue menepikan mobil dan bertanya kepada warga "Permisi, pak. Mau nanya siapa yaa yang kecelakaan?" tanya Cia pada seorang bapak yang entah sedang apa. Pokoknya dia sedang ikut berkerumun.


"Itu neng. Katanya orang kaya yang sering nongol di tevi. Bapak nggak tau juga siapa. Soalnya nggak pernah nonton tevi" ucapnya membuat gue mengangguk.


Dan gue memperlihatkan sebuah foto Alex. Sontak saja dong raut wajah bapak itu berubah membuat jantung gue deg-degan.


"Iya ini, neng, yang tabrakan itu" ucapnya membuat jiwa Cia seakan kosong.


"Dia nggak papa kan, pak?. Terus sekarang dia dibawa kemana rumah sakit, mana??" tanya gue. Jujur gue takut dia kenapa-kenapa. Gue takut dia mati. Gue belum merasa banyak sekali hutang gue ke dia.


"Sudah di bawa ke rumah sakit terdekat, neng. Katanya kepalanya keluar darah banyak. Terus kaki nya patah. Dan tangannya banyak lecet-lecet" terangnya sontak saja dong membuat mata gue burem mendengar kepalanya berdarah. Seketika pikiran gue melayang jauh.


"Terima kasih, pak" ucap gue kemudian gue langsung masuk kedalam mobil dan menuju ke rumah sakit terdekat. Gue membawa mobil dengan perasaan tak menentu.


Hingga akhirnya gue sampai di depan rumah sakit terdekat. Gue mencari parkir aman agar tidak ada masalah lagi. Gue berjalan cepat untuk menuju ke pusat informasi "Permisi, mbak. Saya mau nanya pasien atas nama Alex korban kecelakaan di jalan Kencana. Bagaimana ya, mbak?" tanya gue. Membuat mbak itu mengerjitkan dahinya.


"Alex dengan nama lengkap siapa ya, mbak. Soalnya ada dua pasien dengan nama Alex?" ucapnya membuat gue tersentak. Masalahnya gue lupa namanya Alex siapa. Bodoh memang gue melupakan namanya.


"Saya kurang tau juga mbak. Itu,,lho mbak pasien baru masuk rumah sakit karena kecelakaan" ucap gue memperjelas lagi. Gue semakin panik dan khawatir dengan Alex. Gue lihat mbak itu menelepon seseorang. Mungkin pihak dokter.


"Maaf mbak pasien tersebut berada di UGD dengan bed paling pojok kanan" ucapnya sontak saja membuat gue berlari kearah UGD yang cukup padat akibat banyaknya pasien.


"Pasien atas nama Alex dengan kronologi kecelakaan sudah tidak tertolong lagi" Deg. Mendengar ucapan samar-samar dari dokter membuat hati gue terasa sesak. Dan suara tangis terdengar semakin membuat gue takut untuk masuk kedalam UGD.


Tubuh gue lemes hingga gue terjatuh di kursi tunggu UGD. Perasaan gue berkecambuk antara tidak percaya dan juga sedih. Hingga tanpa terasa air mata gue terjatuh dan gue menangis.

__ADS_1


Gue menangis tersedu-sedu. Gue menyesal karena telah terlalu jahat kepada nya. Gue begitu buruk memperlakukan dia yang begitu baik terhadap gue.


POV CIA off


Sementara Alex sedang meringis kesakitan dan perih akibat dokter yang membersihkan lukanya dan memberikannya obat. Alex langsung menelpon sekretaris untuk datang ke rumah sakit mengurus dirinya. Karena Alex sendiri tidak ingin orang lain tau dirinya kecelakaan.


"Akh,,,sakit dokter!!" teriak Alex ketika dokter membersihkan lukanya.


"Ini untuk menghilangkan kumannya, pak. Agar tidak terjadi infeksi" terang sang dokter membuat Alex ingin memukulnya akibat kesal ditambah kakinya yang sakit dan perih.


Sementara di samping bed Alex terlihat anak kecil yang menertawakan Alex yang meringis kesakitan. Di lihat dari raut wajah anak itu seperti mengejek dirinya. Membuat Alex menatap tajam anak kecil itu.


"Apa lo. Lihat-lihat!!" ucap Alex kesal yang justru mendapatkan kikikan dari anak itu.


"Dasar Om payah. Aku aja yang disuntik nggak nangis" ucap bangga anak itu dengan memamerkan tangannya yang terpasang selang infus.


"Cih,,nggak nangis apanya. Matanya sampai sembab itu" balas Alex membuat bocah itu merasa kalah telak dan memilih terdiam setelah menjulurkan lidahnya mengejek.


Alex ingin membalas bocah songong itu. Namun, sekretarisnya segera datang. Membuatnya mengurungkan niatnya "Pak,,biaya administrasi sudah saya lakukan" ucapnya membuat Alex mengangguk dalam ringisan nya.


"Untuk lukanya jangan dulu dikenakan air selama lukanya masih basah. Dan nanti untuk perawatan lukanya bisa dilakukan dengan mengoleskan salep ini dan mengganti perbannya" ucap sang dokter dengan memberikan obat luka kepada seketaris ya.


"Baik dok. Terima kasih" ucap sang seketaris. "Apakah pasiennya sudah boleh pulang, dok?" tanya lagi.


"Tunggu dulu beberapa menit untuk proses observasi. Setelah semuanya baik-baik saja. Baru boleh pulang" ucap sang dokter yang diangguki oleh Alex dan juga seketaris nya itu.


"Saya lapar. Tolong belikan saya makan" perintah Alex membuat seketaris nya mengangguk dan meninggalkan Alex menuju ke kantin.


Setelah selesai membeli makan di kantin untuk bosnya itu. Roy. Seketaris Alex merasa tidak asing dengan seseorang yang duduk di bangku tunggu UGD menangis tersedu-sedu. "Mbak??" ucapnya dengan menepuk pelan pundak orang itu. "Lhoo ibu. Kenapa disini. Kenapa menangis. Siapa yang sakit?" tanya seketaris Alex yang bingung dengan ibu bosnya yang ada disini.

__ADS_1


"Roy...Alex sudah meninggalkan kita. Dia kecelakaan dan meninggal" ucap Cia yang tangisnya pecah.


Sedangkan Roy hanya plaga-plogo mendengar ucapan majikannya. Lhoo bukannya bapak Alex, cuma luka lecet?. Kenapa bisa meninggal. Tadi baik-baik saja, bahkan bisa bertengkar dengan anak kecil batin Roy seketaris Alex.


__ADS_2