
Tanpa terasa waktu berlalu. Kini sudah hampir enam bulan pernikahan Cia dan Alex. Mereka saat ini sedang berada di bawah atap rumahnya keluarga Alex di Inggris karena keponakan mereka. Si Bulan, sedang mengadakan acara ulang tahun bersama keluarga saja.
Pernikahan Alex dan Cia berjalan seperti biasanya. Mereka masih terasa pengantin baru. Mungkin menjadi tambah lengket. Buktinya saat ini Alex tidak mau lepas dari Cia karena dia tidak ingin perhatian Cia teralihkan oleh sang ponakan.
"Ish,,,om. Bulan kan mau main sama Tante Cia. Lepas dulu, dong!" rengek Bulan dengan mendorong tubuh Alex menjauh dari Cia.
Mereka yang melihat itu terkekeh gemas. Terutama wajah Bulan yang sudah sangat memerah menahan tangisnya. "Nggak. Tante Cia adalah istrinya om. Jadi harus sama om terus" ucap Alex sukses membuat air mata yang ditahan bulan jatuh.
"Mama,,,om Alex jahat!!!" teriak nya dengan tangis menggelegar berlari mencari sang mama membuat Cia menghela nafas.
"Mas, kamu ini, ih,,,. Kasian si Bulannya. Aku mau nyamperin dia dulu. Ini lepas dulu, dong" ucap Cia yang di hadiahi gelengan oleh Alex.
"Aku lagi kangen kamu, sayang" rengek Alex yang semakin menjadi karena saat ini kepalanya sudah berada di paha Cia dan memeluk Cia dengan menenggelamkan kepalanya di perut Cia.
"Kan kita ketemunya udah setiap hari, mas. Kasian Bulannya nangis gitu. Nanti malam boleh deh minta apa aja" tawar Cia membuat Alex menatapnya dengan penuh.
"Janji mau minta apa aja, boleh?" ucapnya yang diangguki oleh Cia. "Baiklah. Sekarang kamu bebas. Tapi tidak untuk malam ini" ucapnya seraya bangkit.
"Baiklah aku mau lihat Bulan, dulu. Nanti kalau lapar ke dapur aja, ya" ucapnya sembari berlalu meninggalkan Alex yang merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kamu ini kenapa, sih. Masa sama ponakan kamu sendiri nggak mau kalah. Dia sampai nangis kejer itu gara-gara kamu!" protes sang mami yang menghampiri Alex.
"Alex juga nggak tau, mi" ucapnya yang masih membenamkan wajahnya di bantalan sofa.
"Ih,,badan kamu anget, sayang" ucap sang mami yang tanpa sadar memegang kening Alex. "Sana kamu ke kamar, gih. Istirahat. Biar nanti mami suruh Cia bawakan obat penurun panasnya. Pantesan aja kamu manja ternyata demam, toh" ucap sang mami sembari beranjak.
__ADS_1
Alex tidak perduli akan itu. Dia enggan untuk bangkit membuatnya menutup mata tertidur di atas sofa.
Sementara sang mami mencari keberadaan sang menantu yang ternyata berada di kamar sang cucu. "Cia, kamu bawain obat untuk Alex, gih. Tadi mami cek badannya anget" ucap sang mami membuat Cia terkejut.
"Kok bisa, mi?. Tadi aku tinggal badannya masih biasa-biasa aja" ucap Cia sembari beranjak. "Bulan, Tante mau jenguk om kamu dulu ya. Katanya om kamu sakit. Dan om kamu butuh Tante, oke?" ucapnya kepada sang keponakan yang langsung diangguki.
"Bulan sama grandma, ya?" ucap sang mami mendekati si bulan.
Cia dengan segera menghampiri Alex yang masih tertidur di sofa. Cia mengecek suhu di tubuh Alex "Ternyata demam. Pantesan manja" ucapnya membuat Cia mencium pipi Alex. "Mas, bangun. Kita tidur di kamar yuk" ucapnya membuat Alex terganggu dan membuka matanya.
"Mau gendong" ucapnya manja membuat Cia terkekeh.
"Maaf sayang, tubuhmu terlalu besar untuk meminta gendong dari ku yang bagaikan semut ini" ucap Cia membuat Alex mencebikan bibirnya kesal.
"Suami kamu kenapa, lagi?" tanya sang papi yang baru datang dari kerja dan melihat tingkah anaknya yang manja.
"Mau papi gendong, Lex?. Atau mau papi lempar kamu biar segera sampai?" ucap sang papi membuat Alex bangkit dari tidurnya dan meninggalkan mereka berdua yang terkekeh melihat tingkah Alex.
"Kamu banyakin sabar, ya menghadapi manusia manja kayak, Alex" nasehat sang papi kemudian meninggalkan Cia.
Saat ini Alex sedang berbaring di ranjang dengan memangku laptop. Melihat itu membuat Cia berdecak "Mas, kamu lagi sakit jangan kerja, dulu" tegur Cia.
"Dikit, lagi sayang. Ini aku mumpung ingat" ucapnya membuat Cia menghela nafas.
"Mas, ini mami bawain kita pakaian seragam. Nanti kamu bisa kan ikut ke pestanya si Bulan?" tanya Cia yang duduk disamping sang suami.
__ADS_1
Alex memandang Cia dengan penuh kebingungan "Bisa. Kalau kamu sendiri kesana, yang ada kamu di rebutin sama cowok-cowok disana" keluh Alex membuat Cia terkekeh.
Selama pernikahan mereka sikap cemburu dan posesif Alex semakin bertambah pernah Cia cerita bahwa saat bekerja ada klien yang menelpon malam-malam yang ternyata seorang cowok. Membuat nya ikut bekerja bersama Cia dan melupakan pekerjaannya di kantor. Bahkan dia terang-terangan mengatakan bermusuhan dengan kliennya itu yang tidak memiliki maksud lain.
"Lagian siapa yang mau sama aku, sih mas. Yang ada itu kamu. Jadi bahan gibahan ibu-ibu yang haus menantu kayak kamu. Belum lagi anak gadisnya yang kayak mendamba kamu banget" keluh Cia yang dihadiahi kekehan oleh Alex.
"Kamu cemburu, ya?" tanya Alex yang membuat Cia mendengus. "Kamu kayak gini buat aku jadi pengen, tau" ucap ya tepat ditelinga Cia membuat bulu kuduk Cia merinding. "Udah enam bulan, lhoo dan kamu masih malu, sayang. Aduh,,,jadi makin pengen deh,," ucap Alex yang memegang dagu Cia kemudian menciumnya.
Cia yang terbuai pun membalasnya membuat mereka saling menikmati satu sama lain. Hingga tanpa tersadar bahwa mereka kini sudah saling menindih. Bersiap untuk melakukan hal lebih.
Namun, ketukan pintu menyadarkan mereka dari aksi mereka. "Ish,,ganggu aja!" keluh Alex ketika harus melepaskan Cia dari pelukannya.
"Jangan gitu. Mungkin itu mami mau ngecek kondisi kamu" ucap Cia dengan membuka pintu. Dan ternyata benar.
"Bagaimana, Alex?. Sudah baikan?" tanya sang mami yang diangguki oleh Cia.
Mami langsung mengecek kondisi tubuh Alex "Owh,,,sudah tidak panas lagi" ucap sang mami yang diangguki oleh Alex.
"Mami ganggu aja, deh. Alex kan nggak sakit. Lagian Alex cuma butuh istri Alex aja" ucapnya membuat sang mami kesal.
"Kamu ini. Mami udah perhatian salah. Yaudah sana kamu istirahat. Tapi ingat nanti malam pesta ponakan kamu. Jangan sampai Cia nggak bisa bangun gara-gara kamu" ucap sang mami sembari melirik Cia yang terlihat terkejut.
"Ingat habis ini kunci kamar, biar mami cepet dapat cucu nya" bisik sang mami pada menantunya membuat Cia gelagapan. Apalagi dengan mata yang mengarah pada dada Cia yang terbuka.
Setelah kepergian sang mami dan mengunci pintu. Cia dengan cepat bercermin. "Alex!" ucap Cia ketika melihat penampilan nya yang hancur. Dengan belahan baju yang terbuka dan lehernya yang banyaknya bercak merah.
__ADS_1
Sementara Alex sudah menggulung dirinya dengan selimut untuk menghindari amukan dari sang istri. Cia yang kesal langsung melepas dirinya ke arah Alex dan membuka paksa selimut yang menutup tubuh Alex. "Pokoknya kamu harus isi juga!!" ucap Cia yang kesal dengan brutal membuka selimut itu dan langsung menciumi leher Alex membuat Alex justru mendes*ah nikmat. Cia yang kesal menggigit pundak Alex.