
Mereka akhirnya sampai disebuah tempat makan. Namun, lagi-lagi perdebatan terjadi pada mereka. "Ayo turun!" ajak Cia yang kesal dengan Alex yang tidak mau turun dari mobil.
"Kita pesen aja, makanannya" ucap Alex membuat Cia tidak habis pikir dengan kelakuan Alex.
"Kalau gitu, makannya di rumah mami, aja!" kesal Cia yang sudah seperti terbakar meladeni Alex yang entah mau nya apa.
"Itu, ide yang bagus. Lagian disini ramai banget. Nanti pasti banyak banget mata yang ngeliatin kamu!" ucap Alex sembari memutarkan mobilnya dan meninggalkan tempat makan yang lumayan ramai itu.
Sedangkan Cia hatinya sudah sangat dongkol dan kesal. Alex terus saja berbicara dalam perjalan mereka. Namun, hanya dibalas deheman saja oleh Cia.
"Ayo, turun. Ini nanti kamu kasih sama mami, ya" ucap Alex yang memarkirkan mobilnya kemudian menyerahkan paper bag kepada Cia yang termangu melihatnya. "Ayo, ambil. Aku tau kamu kesal. Dan ini nanti kasih mami sebagai buah tangan.
Akhirnya dengan terpaksa Cia menerima nya. Dan mereka masuk kedalam rumah itu bersama. "Eh,,sudah datang?" ucap sang mami ketika membuka pintu rumahnya dan memeluk tubuh menantunya itu tidak memperdulikan anaknya.
"Ck. Anaknya yang tampan ini nggak di sambut" cibir Alex masuk ke rumah tanpa memperdulikan mantu dan mertua.
"Kamu sudah makan?" tanya sang mami menggiring Cia masuk ke rumah. Tentu saja di gelengkan oleh Cia. "Dasar suami nggak peka. Bukannya dibeliin sarapan. Ini malah di diamin" dumel sang mami.
"Kamu kok nggak ngajak, Cia sarapan?!" cocol sang mami membuat Alex mendengus.
"Selamat pagi, Pi. Nggak kerja, Pi?" tanya Cia sekadar untuk basa basi.
"Ini papi mau kerja. Cuma nantian. Nunggu suami kamu, nih." sindir sang papi membuat Alex kembali mendengus.
"Kan kata papi, aku boleh libur. Karena sekarang adalah hari pernikahan ku" ucap Alex.
"Iya, tapi itu kan tadi subuh. Kalau sekarang kamu mah, harus ikut kerja"
"Lho,,kok gitu, pi?. Pokoknya Alex hari ini mau libur. Titik."
Saat hendak protes dengan anaknya itu "Sudah, Pi. Ini juga masih pagi. Nanti aku bantuin" ucap seseorang yang datang dari arah belakang mereka yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi papi ingin kamu segera urus masalah itu" ucapnya yang diangguki Alex.
Mereka makan bersama. Diiringi oleh canda dan tawa mereka. Bahkan gadis kecil bernama Bulan pun ikut hadir. "Kakak ipar dimana?" tanya Cia membuat mereka memandangnya penuh cengo. Kemudian tatapan mereka mengarah pada di si pelaku.
"Lagi tidur. Kecapean" ucapnya dengan merasa malu karena semua tatapan mata mereka menuju dan menusuk.
"Iya, juga" ucap Cia dengan polosnya. Sedangkan yang lainnya justru tersenyum penuh arti.
"Sudah, ayo lanjut makan. Karena habis ini kita harus mempersiapkan banyak hal tentang pernikahan kedua kalian" ucap sang mami yang diangguki mereka.
Mereka makan bersama. Hingga tiba saatnya Alex dan Cia pamit untuk ke rumahnya karena sesuai dengan rencana Alex dan Cia untuk saat ini tidak bersama dulu. "Mami,,boleh nggak aku nginep di rumahnya Daddy Rey?." rayu Alex yang sejak tadi merayu sang mami agar dia di bolehkan menginap dan tidur dengan Cia.
"Boleh, kalau kamu mau terus dihantui sama musuh kamu itu!" sindir sang mami membuat Alex terdiam.
"Yaudah, Alex dan Cia pulang dulu. Bye,,,mami, Bulan" pamit Alex yang diikuti oleh Cia.
"Tante Cia, nanti main kesini lagi, ya. Bulan bakalan punya adik lagi" ucapnya membuat sang papa terkejut dengan ucapan anaknya itu. Sedangkan yang lainnya menahan tawa mereka.
"Mau adik cowok. Tapi dari perut Tante, ya?" ucapnya membuat Cia terdiam. Sedangkan Alex sudah tersedak dengan salivanya sendiri. "Boleh kan, Tante?" tanya ya lagi menyadarkan Cia yang dibalas anggukan.
Tatapan kakak Alex terhadap Alex penuh arti bahkan alisnya sudah di naik turunkan menggoda Alex. "Mohon di kabulkan permintaan anak gue" bisik sang kakak membuat Alex meringis dan mengangguk kaku.
Perasaan Cia bercampur aduk. Harus gimana. Hingga, dia hanya bisa mengangguk saja. Karena untuk memiliki anak Cia harus berpikir secara matang.
Sudah ku duga. Ini pasti akan terjadi batinnya.
"Sudah, kalau Bulan mau cepet punya adik dari Tante Cia. Bulan jangan ganggu Tante Cia dan Om Alex, ya?" ucap sang mama anak itu yang datang dari arah belakang membawa paperbag. Ucapannya langsung diangguki semangat oleh Bulan "Ini kasih Oma, ya. Kakak kemarin beli obat herbal buat Oma" ucapnya membuat Cia mengangguk dan berterima kasih.
"Dadadada,,Bulan!" ucap Cia yang sudah memasuki mobil bersama Alex setelah menyalami mereka.
"Kamu yakin nggak mau tidur di apartemen, sayang?" ucap Alex.
__ADS_1
"Kan rencana aku belum nikah sama kamu. Lagian ini cuma semalaman aja. Jangan lebay, deh. Biasanya juga tidur sendiri" cibir Cia membuat Alex mendengus.
"Yaudah, tapi setelah masalah ini selesai kita harus bulan madu. Titik." putus Alex yang membuat Cia mengangguk. "Kamu lagi liatin, apa sih?" tanya Alex yang melirik Cia sedang memandang ponselnya.
"Lagi lihat-lihat peningkatan kualitas produk" ucap Cia membuat Alex mengangguk.
Mereka di perjalan diiringi oleh musik. Bahkan mereka berdua bernyanyi bersama ketika lagu yang terputar lagu yang mereka tau.
Setelah sampai mereka melihat rumah sangat sepi. Bahkan mobil-mobil tidak terpakir disana. "Pada kemana mereka?" tanya Cia. Mereka masih berada didepan pintu gerbang rumah. Dan melihat dari celah tidak ada mobil.
"Ke hotel, nggak?" ucap Alex.
"Ayo kita kesana. Sekalian lihat apakah semuanya sudah siap"
"Baiklah"
Mereka akhirnya pergi ke tempat dimana akan diadakannya pernikahan. Sesampainya disana. Para pegawai sangat ramai bekerja keras. Dan ternyata benar saja. Terlihat wanita paruh baya sedang duduk manis ditemani oleh si kembar.
"Oma?" seru Cia membuat sang Oma memandangnya dengan tajam akibat tidak melihat dengan jelas karena jaraknya yang jauh.
"Kamu ngapain kesini?" tanya sang Oma ketika Cia sudah didepannya. "Eh,,Alex juga ikut?" ucapnya ketika melihat Alex dibelakang Cia. Yang tentu saja Alex menyalimi sang oma.
"Ini ada obat herbal dari kakak iparnya Alex, Oma. Yang lainnya dimana, Oma?" tanya Cia yang tidak melihat keberadaan yang lainnya.
"Kakak kayak nggak tau yang lain aja. Tentu saja mereka sedang berada di salon" ucap Gio yang terlihat kesal.
"Kalian nggak diajak?" tanya Cia. Sedangkan Alex sudah bersama Jeo yang sedang mengutak-atik laptop nya. Entah apa yang mereka lakukan.
"Kami orang miskin. Mana bisa bayar perawatan di salon" sendu Gio membuat Cia terkekeh.
"Yaudah,,karena kakak sudah disini. Kalian ke salon, gih. Nanti kakak yang bayarin. Siapa tau nanti ada tamu hadirin yang kepincut dengan adik-adik kakak yang ganteng, ini" ucap Cia yang tentu saja membuat Gio bersorak senang dan langsung memeluk tubuh Cia dan mencium pipinya. Namun, ada seseorang yang menatap mereka dengan tajam.
__ADS_1