Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Capt 4


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama sidang yang dilakukan mengenai hak asuh Raidan. Keluarga Aidan dan Rain sudah menunggu di depan ruang sidang.


"Gimana berkasnya sudah siap semua?" tanya sang bunda kepada pengacara.


"Sudah Bu. Semua berkasnya sudah saya siapkan. Dan kemungkinan kita yang akan memenangkan kasus ini" ucap sang pengacara dengan percaya dirinya.


Memang benar semua berkas sudah di sediakan dan juga barang bukti yang akan membuat pihak lawan tidak bisa berkutik. Walaupun keluarga mereka dari keluarga terpandang. Namun, banyaknya masalah yang terjadi kemungkinannya membuat mereka memasrahkan nya.


Sidang akan dimulai mereka semua sudah berada di ruangan. Sidang berlangsung sangat sengit. Karena pihak lawan juga memiliki hak yang sangat pantas. Namun, karena berbagai hal akhirnya keluarga mereka menerima bahwa hak asuh anaknya diberikan kepada keluarga Rain. Tetapi, dengan syarat tertentu, misalnya tidak menutupi jati diri dari bayi itu dan keluarga pihak ayah kandungnya boleh menjenguknya.


"Terima kasih karena sudah menyelamatkan anak saya. Jagalah dia agar tidak seperti saya yang lepas tanggung jawab. Untuk sementara waktu saya akan pindah keluar kota untuk memulai hidup disana. Sekali lagi rawatlah dia dengan sopan, satun dan tanggung jawab yang tinggi" ucap ayah dari bayi yang ada di pangkuan Rain. Kepada Aidan yang berada di samping Rain.


"Saya akan berusaha menjadikan Raidan anak yang berbakti dan bertanggung jawab" ucap Aidan.


"Jadi namanya Raidan, ya." ucap nya dengan pilu yang diangguki oleh Aidan. "Semoga nantinya dia menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan mampu mencintai perempuan dengan tulus" ucapnya lagi yang langsung dipeluk oleh Aidan.


"Doakan saya, agar bisa mendidiknya menjadi orang yang baik" ucap Aidan disela pelukannya yang diangguki oleh ayah dari Raidan.


"Segeralah menikah, agar kalian segera mendapatkan hak asuhnya dengan cepat" ucapnya membuat Aidan dan Rain saling pandang kemudian membuang mukanya.


"Doakan saja" ucap Aidan melirik sedikit kearah Rain.


Mereka saat ini sedang mengadakan syukuran terhadap sidang tadi pagi yang sudah berjalan dengan lancar. Keluarga yang datang hanya keluarga terdekat saja.


"Selamat sekarang Raidan sudah resmi menjadi keluarga kalian" ucap Cira yang datang bersama suami, anak, cucunya.


"Selamat Bunda dan Ayah kalian akhirnya memiliki bayi lagi. Jadi ini sebutannya anak?? atau cucu, Bunda??" goda Cia


"Bisa aja kamu. Ini cucu simpan. Soalnya orangtuanya belum menikah" bisik sang bunda yang membuat Cia dan Cira yang mendengarnya tertawa.


"Mommy,,Jeo sama Gio mau pergi ketemu temen dulu, ya??. Mumpung dia tinggalnya dekat sini" ucap Jeo membuat sang Cira mengangguk.


"Aidan kapan kamu akan menikah??. Cia aja sudah punya dua, kamu satu aja belum. Hahaha" ucap Rey membuat Aidan mendengus.


Mereka tertawa dan menikmati acara syukuran yang sekaligus menjadi ajang kumpul keluarga mereka. Banyak cerita yang mereka tuangkan. Dan membahas banyak hal, salah satunya mengenai bisnis mereka. Sudah menjadi kebiasaan ketika berkumpul mereka akan membicarakan bisnis ataupun tentang anak mereka.


"Rain kamu bawa Raidan ke kamar, gih. Kasian tidurnya udah lelap banget" ucap Aidan yang melihat Raidan sudah tertidur di dalam dekapan Rain. Sedangkan keluarga mereka yang melihat nya hanya mampu menahan tawa mereka melihat interaksi mereka berdua yang sudah seperti orangtua baru.

__ADS_1


"Iya,,benar kata Aidan. Kamu tidurkan saja Raidan di boxnya. Setelahnya baru kita makan bersama" ucap sang Bunda menimpali.


Mereka makan bersama dengan suasana yang hangat, dimana dipenuhi oleh canda tawa dari anak-anak mereka. Sedangkan Aidan merasa hal yang sulit diartikan didalam hatinya. Hingga sebuah dering ponsel menyadarkannya.


"Permisi mau angkat telepon dulu" ucap Aidan yang membuat Rain menatapnya penuh tanya.


"Kepo banget sih,,Lo. Tenang aja itu cuma kerjaan aja" bisik Jeo yang duduk disamping Rain. Membuat Rain mendengus.


"Apaansih,,orang gue cuma liat jam di dinding aja. Bukan kepo" bisiknya lagi membuat Jeo tersenyum penuh arti.


"Kalian lagi bisik-bisik apa, sih. Sampai makannya di anggurin gitu" ucap sang Bunda yang menangkap basah keduanya sedang bisik-bisik.


"Nggak kok, Bun. Kita lagi bisikin makanannya sangat enak" alibi Jeo yang diangguki oleh sang Bunda.


"Biasa aja kamu. Ngelesnya" ucap sang Bunda membuat Jeo terkekeh. Karena ketahuan oleh sang Bunda.


Sementara di belakang rumah, Aidan sedang berbicara dengan sekretarisnya. Membahas terkait dengan bisnis. Setelah selesai Aidan memilih untuk duduk di kursi taman tersebut dengan kepala mengadah dan terpejam.


"Sibuk banget, ya Lo?" tanya seseorang yang duduk disamping Aidan. Membuat Aidan hanya berdehem saja.


"Sekarang sudah ada tanggung jawab, Raidan. Jadi, gue harap Lo bisa meluangkan waktu untuk dia sekalian untuk istirahat. Uang bisa dikejar tapi tumbuh kembang anak tidak bisa di kejar" ucap Alex yang diangguki oleh Aidan.


"Lagi ngomongin apa sih,,serius amat!" sela Cia membuat mereka terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Kepo banget Lo" ucap Alex membuat Cia mendengus dan menarik telinga sang suami. "Au,sakit sayang. Kamu mah KDRT Mulu, sih" gerutu Alex mengusap telinga nya bekas jeweran dan Cia.


"Siapa suruh mulutnya comel. Nanti kalau didengar anak-anak gimana. Aku nanti dikiranya ngajarin yang enggak-enggak. Padahal itu kamu sendiri yang ngomong nya ngasal" omel Cia.


"Beginilah, salah satu yang harus dijalani, Dan. Selalu mengalah kepada sang istri demi anak-anak" ucap Alex memandang Aidan dengan wajah yang serius.


"Dih,,,itu sih. Lo yang kebucinan. Kalau gue sih, enggak bakalan, yaa" cegah Aidan yang berbicara dengan bangganya.


Liat aja nanti, segimana bucinan Lo berdua nanti. Hahaha


"Eh,,kalian. Ayo kemari. Mommy dan Daddy mau pamit pulang katanya!" teriakkan Rain dengan berjengking pinggang menatap kearah mereka.


Mendengarnya membuat mereka bangkit dan mengikuti kemana arah yang dibawa oleh bocah tengil Rain. Sesampainya mereka langsung menyalami Cira dan Rey karena harus pulang mengingat mereka akan ada meeting sebentar lagi.

__ADS_1


Setelah kepergian mereka saat ini. Rain dan Aidan memilih untuk duduk di bangku taman belakang rumah untuk membicarakan masalah kedepannya. "Rain, apa kita nggak masalah, menitipkan Raidan kepada Ayah dan Bunda. Sedangkan mereka berdua sangat sibuk ngurus perusahaan?" ucap pertama Aidan membuat Rain menatapnya.


"Sebenarnya, gue juga ngerasa begitu, bang. Tapi, mau gimana lagi" ucapnya terlihat putus asa.


"Kan gue udah ngusulin buat kita nikah aja, dulu Rain. Dan lagian dengan ini Lo bisa bebas. Dan gue juga ngerasa tenang karena Raidan sudah ditangan gue. Masalah Lo nggak bisa rawat Raidan. Kita bisa menyewa babysister yang baik. Atau nggak kita ajak Mpok Alfa yang ngerawat gue dari kecil. Gimana?" tanya Aidan membuat Rain semakin berpikir keras.


"Tapi gue sendiri belum siap nikah, bang. Gue ngerasa jiwa gue masih kayak bocil." ucap Rain.


"Gue juga gitu. Tapi kita sama-sama menjalani dan melangkah untuk ke hal yang lebih baik. Nanti kita saling belajar" ucapnya membuat cercah sinar di mata Rain sedikit terlihat.


"Oke deh, bang. Besok kita omongin sama yang lainnya" ucap Rain seraya bangkit. Namun, dicegah oleh Aidan.


"Bukan besok. Tapi sekarang. Gue nggak mau menundanya lagi. Karena semakin cepat semakin baik. Lo percaya saja sama gue. Masalah tetebengek pernikahan biar gue yang urus Lo cukup persiapkan diri Lo aja" ucap Aidan membuat raut wajah Rain merasa terkejut sekaligus tidak terima.


"Enggak. Ini pernikahan pertama gue. Ya,,kali gue nggak ngurusin. Pokoknya gue ikut ngurusin biar gue tau rasanya ngurus pernikahan itu kayak gimana gitu" ucap Rain yang diangguki oleh Aidan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih gyussss

__ADS_1


__ADS_2