
Tau kah kamu bahwa setiap di dunia ini pasti ada yang lahir dan mati. Karena itu sudah menjadi roda dalam kehidupan. Setiap umat mau seberapa kuat dirinya dalam segala hal. Namun, pada akhirnya ketika Tuhan sudah bertindak dalam garis kehidupan nya. Mereka tidak akan tau. Bisa saja hari ini mereka sangat bahagia besoknya mereka akan menangis.
Cobaan dari Tuhan memang sangat berbeda, sulit di tebak bahkan sangat berbeda setiap umatnya. Setiap orang melewati setiap tahapan yang sama. Hanya saja, yang berbeda adalah waktu, tempat dan suasananya. Namun, dengan Tujuan yang sama yaitu memperkuat keimanan kita kepada sang pencipta.
Suara tangis bayi begitu nyaring menggema dalam ruangan yang tidak kedap suara itu menjadi sebuah alunan musik merdu untuk banyak orang yang berbahagia.
Ruangan yang menjadi banyak saksi kelahiran cipta Tuhan yang sangat menakjubkan, dia di bisa tumbuh dan berkembang dalam tubuh seorang wanita yang menjadi ibu.
Tangis haru memenuhi relungan hati yang mendengar suara tangis bayi baru lahir. "Cucu kita sudah lahir, sayang" ucap seseorang yang duduk manis dengan raut wajah tak hentinya tersenyum senang.
"Selamat buat kalian semua yang bakalan menjadi kakek dan nenek" ucap Salah satu dari mereka yang dengan raut wajah begitu bahagia.
Pintu ruang bersalin terbuka menampilkan seorang yang sedang menahan rasa tangisnya "Mama,,papa" ucapnya kemudian memeluk kedua orang tua yang sejak tadi tidak bisa diam. Khawatir.
"Gimana keadaan mereka, kak?" tanya sang mama yang diangguki olehnya.
"Mama, papa maafin Iki yang sering bikin kalian kesal, dan marah" ucapnya yang membuat kedua orang tua itu mengangguk dan mengusap kepala putranya itu.
"Sudah jangan nangis. Sudah jadi bapak-bapak kok, malah nangis, sih." ucap sang papa ketika pelukan mereka terlepas.
"Gimana, cucu mama, ganteng nggak?" tanya sang mama penuh semangat yang diangguki oleh putranya itu. "Mama jadi nggak sabar liatnya" ucapnya membuat mereka terkekeh bahagia.
"Gimana keadaan Utaya, Ki?" tanya Cira.
"Lagi di jahit, Tante. Soalnya harus di jahit karena ada robekan" ucapnya membuat Cia mengangguk. "Dia sekarang sedang istirahat" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Kamu sekarang sudah punya anak beban kamu sekarang bertambah. Jadi om ingetin jangan hanya terlalu fokus bekerja. Tapi juga harus ingat keluarga. Apalagi ini anak pertama untuk kalian. Jadi sudah di pastikan akan banyak hal yang baru untuk kalian dan tidak kemungkinan juga akan menimbulkan banyak perbedaan pendapat. Jadi kalian harus saling menurunkan ego, oke. Dan juga jangan buat istri stress atau mengurus anak sendiri. Tapi, kamu juga harus ikut andil didalamnya agar semua berjalan dengan baik" nasehat Rey yang tentu saja diangguki oleh mereka semua.
"Ingat kabari Oma. Bahwa, cicitnya sudah lahir" ucap Riski kemudian kembali masuk karena di panggil oleh dokter.
Ketika di rumah sakit di isi oleh kebahagiaan berbeda dengan yang ada dirumah yang saat ini sedang panik. Karena Oma terlihat sangat lemah, tidak berdaya.
"Kita bawa Oma ke rumah sakit aja" ucap Alex yang diangguki oleh mereka semua. "Sayang kamu disini sama Rain, ya. Biar aku, Gio sama Jeo yang bawa Oma ke rumah sakit" ucapnya membuat Cia mengangguk.
Ada perasaan sedih, takut dan khawatir dalam diri Cia ketika melihat kondisi Oma. Setelah mereka bersama ke rumah sakit kini Cia dan Rain sedang duduk di sofa dengan pikiran masing-masing. Namun, dering telepon rumah menyadarkan mereka dari lamunannya.
"Hallo?" sapa Cia membuat Rain penasaran dengan siapa yang menelepon. "Wah,,syukur semuanya berjalan dengan lancar." ucap Cia yang membuat Rain mengangguk tenang.
Banyak hal yang diceritakan mommy kepada Cia tentang kelahiran anaknya kak Utaya. Namun, Cia justru bingung mau menjelaskan bagaimana tentang kondisi Oma. Diatas kebahagiaan yang sedang menimpa mereka.
Rain yang melihat raut wajah Cia pun mengambil alih sambungan telepon. "Mommy,,,Oma tadi lemas, dan sekarang Gio, Jeo dan Abang Alex sedang menuju ke rumah sakit" ucap Rain sangat pelan-pelan membuat di sebrang langsung mematikan ponselnya dan berlari menuju ke arah sang suami untuk mengatakan hal yang baru saja di dengarnya.
"Dimatiin sepihak, kak" ucap Rain lirih yang diangguki kembali oleh Cia.
Sekarang mereka berdua. Eh,,bukan mereka bertiga sedang berada dirumah besar, itu salah satunya adalah ART mereka. Sudah tampak sepi sekali. Sedangkan sang papa Aditama sedang trip bisnis ke luar kota.
Cia sangat cemas. Hingga membuatnya lupa untuk makan. "Non, ini makan dulu. Tadi bibi di titipin nasehat agar non makan setiap sejam. Karena sedang hamil" ucap sang ART yang tentu diangguki oleh Cia.
Dia tidak mungkin menyakiti anak mereka dengan tidak memberikan nutrisi kepadanya. Walau dalam keadaan seperti ini. Cia makan dengan tenang. Walau sesekali kesulitan menelan makannya.
"Kak,,Oma baik-baik saja kan?. Oma tidak akan meninggalkan kita kan?. Aku mau ketika menikah Oma melihatnya kak" ucap Rain yang sebenarnya tidak memiliki hubungan darah. Namun, sangat sayang terhadap Oma.
__ADS_1
Ucapan Rain yang dalam keadaan melamun membuat Cia memikirkan hal yang sama juga. "Apa kita ke rumah sakit aja buat menyusulnya ya?" tanya Cia yang sama-sama memiliki pandangan yang kosong.
"Tapi nanti Abang Alex, memarahi Rain karena bawa kak Cia ke rumah sakit. Terus uang THR nya di potong, gimana?" ucapnya sedikit menghilangkan beban pikirannya.
"Kamu tenang aja, masalah THR biar nanti kakak yang kasih" ucap Cia memandang Rain yang juga memandangnya. Hingga membuat mereka berdua tertawa.
"Ih,,nggak mau. Uangnya Abang Alex lebih besar daripada kakak yang sekarang pengangguran, gini" protes Rain membuat nya mendapatkan jentikan jari di dahinya.
"Kamu kira uang Abang Alex bukan uang kakak. Ingatnya uang suami adalah uang istri dan uang istri adalah uang istri. Ingat itu, ya. Jadi kalau kakak bilang jangan di kasih maka suami kakak akan nurut." ucap Cia membuat Rain hanya mengangguk saja.
"Iya yang punya banyak duit, sekarang" ucap Rain "Kakak,,ini si Gio kenapa nggak ada nelpon. Mereka sudah sampai di rumah sakitnya apa belum, sih?" ucap Rain yang melihat tidak ada notifikasi dari Gio.
"Mungkin masih dalam tahap pemeriksaan" tenang Cia.
Hingga dering ponsel berbunyi nyaring membuat mereka berdua terperangah. Dengan cepat Cia menerima panggilan tersebut.
"Hallo, mas?. Sudah sampai?. Gimana kondisi, Oma?" tanya Cia beruntun membuat Alex terkekeh.
"Satu-satu nanya nya. Kamu udah makan?. Sudah minum susunya?" tanya Alex yang berada di luar UGD.
"Iya mas. Sudah semua nya. Ini cuma lagi duduk santai saja" ucap Cia yang di iyakan oleh Alex.
Namun, terlihat Gio tergesa-gesa menghampiri Alex membuatnya mengerjitkan dahinya bingung. Mommy dan Daddy nya sudah bertemu di UGD dan mereka yang menjaga kondisi Oma.
"Bang,,Oma,,,,Oma,,,Oma,," ucap Gio yang sedang mengatur nafasnya akibat berlari terlalu cepat dan tergesa-gesa.
__ADS_1
Alex yang mendengar itu syok. Bahkan sambungan telepon yang masih tersambung juga terdiam syok. "Mas,,Oma kenapa??" ucap Cia yang sudah sangat panik. Tanpa kata Alex