
Sekira pukul jam 3 dini hari. Cia dipaksa bangun oleh sang mommy. Padahal nyawanya baru saja tidur jam 1. Cia sudah bertanya-tanya mengapa dia harus bangun dan bersiap-siap di jam sekarang. Namun, jawaban nya hanya 'Ini darurat'. Kesal, bukan?.
Saat ini Cia sedang berada di mobil bersama mommy Daddy dan papanya. Entah kemana. Karena Cia memilih untuk menggunakan waktunya untuk tidur.
"Ya?. Bangun, kita sudah sampai. Kamu malah molor." protes sang mommy yang menepuk pelan pipi Cia.
Cia membuka matanya dan melihat sekeliling. Ternyata dia berada di tempat parkir "Mom, ini dimana?. Kita mau ngapain, disini?" tanya Cia yang penasaran dengan maksud dan tujuan mereka.
"Udah, kamu ngikut, aja" ucap sang mommy yang turun dari mobil. Diikuti oleh Daddy dan papanya.
"Tapi, mom. Cia ngantuk banget. Dan ini kenapa lagi, pakai baju kayak gini. Kayak mau nikahan aja" protes Cia kembali turun dari mobil dan memegang gaun bawahnya yang menjuntai kelantai.
"Ayo, sayang. Nanti keburu telat!" ucap sang mommy yang melihat anaknya jalan dengan memegang ekor bajunya.
"Ish,,mommy, susah tau pakai baju gini. Bantuin, kek. Ini malah protes, aja" kesal Cia yang membuat mereka terkekeh.
"Yaudah, biar Daddy, sama papa aja pegangin, baju kamu" tawar sang Daddy membuat Cia mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih Daddy dan papa" balas Cia yang diangguki mereka.
Hingga sampailah mereka ditempat yang dituju. Ruangan yang memiliki hiasan bunga-bunga membuat Cia bertanya-tanya akan apa yang akan terjadi. "Mom, ini ada apa?" tanya Cia yang masih berdiri disamping sang Daddy.
"Kamu duduk aja, dulu. Kita tunggu yang lainnya aja" ucap sang papa yang semakin membuat Cia penasaran dengan apa yang akan terjadi.
"Tapi, pa. Cia ngantuk banget. Tadi Cia tidurnya jam 1 terus kalian bangunin Cia jam 3 dan sekarang sudah jam 4 subuh, pa." protes Cia. Namun, dihiraukan oleh mereka bertiga.
__ADS_1
Hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Seseorang datang bersama dengan orang tuanya berserta dengan orang yang Cia tidak kenal.
"Gimana, lancar kan?" tanya papinya Alex yang diangguki oleh mereka. "Kita mulai aja sekarang. Bagaimana pak penghulu?" tanya Pak Killer yang diangguki oleh mereka semua.
Cia yang mendengar itu terdiam. Dia bingung harus berkata dan berbuat apa. Dirinya sangat syok mendengar ucapan mereka. Apalagi ditambah dengan raut wajah seseorang yang sejak tadi hanya diam saja.
Berbagai pikiran bercabang muncul di dalam benak, Cia. Gue nikah sekarang?. Secepat ini?. Ini pasti mimpi batin Cia dengan berusaha menyadarkan dirinya agar terbangun dari mimpi yang dia maksud.
"Aww" teriaknya ketika cubitan yang dia lakukan terasa sakit di tangannya. Ini bukan mimpi batinnya kembali dengan pandangan memandang mereka semua yang saat ini memandang Cia penuh khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya sang papa yang mendengar teriakan putrinya. Cia hanya menggeleng kan kepalanya.
"Mari kita mulai" lerai sang penghulu menuju ke tempat diadakannya akad nikah.
Cia dan Alex duduk berdampingan didepan para penghulu dan juga didampingi oleh para saksi dari KUA dan juga orang tua mereka.
Hingga dalam 60 detik berlalu. Kini status Cia dan Alex sudah menjadi sepasang suami istri. Secepat itu. Bahkan hanya satu nafas saja, status mereka sudah berubah.
"Selamat sayang kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kami" ucap sang mami mertua memeluk tubuh kaku Cia yang masih syok dengan kejadian beberapa detik itu.
Bahkan Alex pun sama. Dia masih dilanda ketidakpercayaan bahwa dia secepat itu menikah dengan Cia secara agama. "Selamat ya sayang" ucap sang mami Alex tentu saja pada anaknya.
Jika kalian tau. Dibalik keterkejutan Cia akan status nya. Ada seseorang yang menangis di pelukan sang istri karena anaknya sekarang sudah bukan tanggung jawab nya lagi. Beda halnya dengan mereka. Seseorang yang sedang bercengkrama dengan besannya. Berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak menangis.
"Papa?" ucap Cia yang menghampiri sang papa yang sedang berbicara.
__ADS_1
Kedua orang itu memandang Cia. "Kenapa, sayang?" tanya sang papa yang memandang penuh senyuman pada anaknya.
Pelukan meluncur kepada sang papa. Cia menangis dalam pelukan sang papa. Hingga membuat sang papa tidak kuasa untuk menahan air matanya. Mereka menangis saling berpelukan.
"Kamu nanti jangan bandel, ya. Karena sekarang kamu sudah menjadi istri orang." nasehat sang papa yang membuat Cia semakin menangis. Namun, segera sang papa melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Cia menghapus air matanya. "Jangan nangis, dong. Papa jadi ikut nangis kan. Bahkan Daddy kamu aja sudah nangis kejer, gitu" tunjuk sang papa pada Rey dan Cia yang menangis saling berpelukan.
Cia terkekeh melihat mereka berdua. "Kami juga keluarga kamu, sekarang sayang. Jangan nangis, ya?. Masak di hari yang bahagia ini kamu nangis, sih" ucap sang papi Alex membuat Cia mengangguk.
Sementara seseorang hanya melihat interaksi mereka. "Kamu segera selesaikan masalah ini. Kalau tidak kamu tidak akan mendapatkan bulan madu yang nyaman" tegur sang mami membuat Alex memandang maminya penuh curiga.
"Akan segera Alex basmi, mi" balas Alex membuat sang mami mengangguk dan menghampiri Cia.
"Akhirnya mami memiliki teman buat diajak curhat dan juga shopping" ucapnya memeluk tubuh Cia.
"Iya, mi" ucap Cia pelan dalam pelukannya.
Alex masih senantiasa memandang mereka. Jangan lupakan dia sejoli yang kini juga sudah ikut bergabung bersama mereka. Ada perasaan senang menyelimuti hati Alex. Namun, ada pula kekhawatiran tentang mampu kah nantinya dia menjaga dan melindungi istrinya dengan baik?.
"Lo tidak berniat mendekati istri lo?" ucap seseorang dari samping Alex. Membuat Alex memandang nya.
Senyuman Alex terbit ketika menyadari siapa orang itu "Biarkan dia bersama mereka. Dia masih syok dengan pernikahan dadakan ini. Gue nggak mau dia nantinya menjadi takut dan sedih lagi" ucap Alex yang diangguki oleh orang itu juga.
"Lo jaga dia, ya. Gue tau dia itu keras anaknya. Itu karena keadaan yang membentuknya. Sayangi dan perlakukan dia selayaknya ratu. Gue serahkan tanggung jawab gue untuk bahagiain dia kepada Lo. Tapi, kalau gue tau Lo sakiti dia. Maka, jangan harap gue bisa kayak gini lagi sama Lo" ucapnya membuat Alex terkekeh dan tersenyum.
"Tenang saja. Gue sedang mempersiapkan kebahagiaan yang berlimpah kepadanya. Tapi untuk saat ini gue minta bantuan, Lo untuk jaga dia. Karena Lo tau kan musuh dalam bisnis itu banyak. Dan saat ini salah satu musuh gue lagi bertumbuh. Setelah selesai gue yang akan menjaganya" ucap Alex yang diangguki nya.
__ADS_1
"Ayo,,kita samperin, dia. Kita liat gimana ekspresi nya." ucap ya terkekeh. "Aduh,,nyonya Killer cantik banget hari ini " balas nya membuat Cia memandang mereka secara bergantian.
Pandangan Alex dan Cia bertemu membuat kecanggungan terjadi. Hingga, Cia memilih memutuskan kontak matanya dengan Alex. Gue bingung harus omong apa?. Gue malu. batin Cia.