
Setelah acara kepergok tukang MUA. Cia merasa malu. Apalagi mendengar ucapan dari sang MUA. "Suaminya ganteng, banget, mbak" ucapnya dengan tangan yang telaten menghiasi wajah Cia.
Namun, Cia hanya bisa mengangguk saja. Karena ia takut riasannya hancur. Lagian mbak itu yang menyuruhnya untuk tidak berbicara.
"Aduh,,,jika saya punya suami kayak gitu, maka sudah saja kekepin dirumah aja. Hahaha" ucapnya membuat Cia hanya mengangguk.
"Sudah selesai, mbak?" tanya seseorang yang masuk kedalam kamar. Dan hal itu membuat mbak-mbak MUA itu menjerit.
"Aduh,,,mas. Ganteng banget, sih. saya kan jadi terpana" balas sang MUA yang membuat laki-laki itu hanya tersenyum.
Pandangannya mengarah pada Cia yang sudah di olesi make up natural. Sehingga membuatnya terlihat sedikit berubah.
"Aduh,,mas. Saya menjadi iri. Tatapan nya bisa biasa aja, nggak liatnya. Kok, malah saya yang salting" timpal MUA lainnya yang sedang membersihkan alat make up nya.
Sepeninggalan sang MUA. Kini di ruangan itu hanya ada Alex dan Cia. "Gue mau ganti baju, dulu" kilah Cia untuk menghalau rasa canggung.
"Yaudah, aku tunggu diluar aja. Kamu kalau butuh sesuatu panggil aku aja, ya?" ucap Alex yang diangguki oleh Cia.
"Aduh,,dia cantik banget." gumam Alex yang sudah diluar kamar Cia dengan menghela nafas.
Namun, sisi lain Cia yang sudah memakai gaunnya. Justru, tertunda akibat model bajunya yang memiliki kancing di belakang. Sial. Itu yang saat ini ada di dalam benak Cia, yang sedang menggerutu didalam otaknya.
Hingga dia memilih memanggil Alex. Untungnya laki-laki itu masih setia berada di balik pintu kamarnya.
Alex mengerjitkan dahinya. Meminta penjelasan terhadap apa yang akan dibutuhkan Cia. "Bisa minta tolong?" tanya Cia pelan dan terlihat gugup.
Kemudian Cia membalikan tubuhnya dengan berusaha menahan rasa malunya. Sedangkan Alex hanya termanggu sejenak memandang punggung putih, yang terlihat mulus itu. Hingga ucapan Cia menyadarkannya.
"Eh,,iya" ucapnya dengan mendekatkan tangan untuk mengaitkan kancing baju Cia. Alex terlihat beberapa kali menelan salivanya dengan berat dan penuh tekanan. Tangannya tergugup untuk mengaitkan kancing tersebut.
__ADS_1
Mereka sama-sama terdiam, dengan pikiran masing-masing. Dan menahan rasa gugup mereka. Sriiing. Tanpa disengaja jemari Alex menyentuh punggung mulus Cia. Membuat mereka berdua terkaget.
"Eh,,maaf. Tidak sengaja" ucap Alex yang gugup.
"Iy-iya. Apakah sudah?" tanya Cia.
"Iya sudah" ucap Alex dengan cepat menjauhkan tangannya dari Cia.
"Terima kasih" ucap Cia berbalik menuju cermin untuk melihat make up nya dengan memakai pakaiannya.
"Cia?" tanya Alex yang masih berada di posisi yang sama. Cia memandang Alex penuh tanya.
Alex mendekatkan diri dihadapan Cia. "Sebelum kita menikah dan terjadi hal seperti ini lagi. Saya harap kamu meminta bantuan terhadap orang lain." ucap Alex membuat Cia mengerjitkan dahinya.
Alex yang melihat raut wajah Cia pun menjatuhkan kepalanya dipundak Cia. Membuat Cia terkejut. "Cia kamu pasti tau kan kalau iman laki-laki itu sangat sensitif. Mungkin hari ini aku masih bisa menahannya. Tapi tidak untuk nanti. Jadi aku mohon jangan mengundang aku atau laki-laki lainnya untuk berbuat jahat. Karena bukan hanya laki-laki yang bersalah jika ada masalah seperti pelec*ehan. Namun, terkadang karena perempuan juga yang mengumbar aurat nya." ucap Alex dengan nafas yang frustasi.
"Maksud kamu, apa?!" sewot Cia yang tidak terima dengan ucapan Alex.
Cia menatap Alex dengan sinis dan tajam. "Kamu, dong sebagai laki-laki yang harusnya kuatkan iman. Kalau tau ada perempuan yang begitu jangan dilihat. Kan nggak mengundang dosa. Nanti nyalahin perempuan. Dimana-mana itu perempuan tidak akan pernah salah," ucap Cia terpotong karena Alex dengan cepat menyelanya.
"Nggih,,ibu ratu" balas Alex yang sudah malas berdebat ketika slogannya para perempuan mencuat di permukaan.
"Awas saja. Kalau setelah kita menikah kamu lirik-lirik atau main wanita. Aku tidak akan segan-segan potong unggas kamu itu" ucap Cia membuat Alex mengeri.
"Jangan, dong. Kan si unggas belum ketemu sarang nya" ucap ambigu Alex membuat Cia terkejut sekaligus malu.
"Ih,,apaan, sih. Ngomongnya abstrak banget" ucapan Cia yang pipinya memerah malu. Alex mendekatkan diri kepada Cia membuat Cia mundur perlahan.
"Atau kamu mau kenalan sekarang dengan si unggas?" tanya Alex dengan nada bicara yang menggoda. Membuat Cia gelagapan.
__ADS_1
"Nggak!!" ucap spontan Cia yang justru membuat Alex semakin menggodanya.
Alex dengan cepat menangkap tangan, Cia. Namun, dengan cepat ditepis. Alex tetap saja Alex dengan banyak tingkahnya. Sehingga tangan Cia kembali dapat dicekal.
Cia terlihat panik ketika tangannya sudah dipegang Alex. Memberontak?. Itu yang Cia lakukan saat ini. Namun, tetap saja Alex lebih kuat dibandingkan dirinya.
"Ayo,,kita kenalan, dulu. Nanti pas malam pertama tidak akan canggung lagi" tuntun Alex pada tangan Cia membuat Cia yang dilanda rasa takut dan gugup mendapatkan tenaga dari itu.
"Mesum banget, sih!!" omel Cia ketika tangannya sudah terlepas bebas oleh Alex yang justru tertawa ngakak. "Kamu gi*la tau nggak. Ngelakuin kayak gitu. Dasar cab*ul!!" kesal Cia dengan cepat keluar dari kamar tersebut.
"Lho,,,kamu mau kemana, sayang?!" ucap Alex yang ketika melihat Cia pergi keluar.
"Yang,,,sayang. Cia Sayangnya Alex!!" teriak Alex yang mengejar Cia turun kebawah. Namun, tatapan mereka semua justru mengarah pada Cia dan Alex yang masih ditengah-tengah tangan.
"Alex" geram Cia dari dalam hati bahkan sampai tatapannya pun mengatakan hal yang sama. Sedangkan si pelaku hanya memasang wajah tanpa berdosa nya.
"Wah,,ternyata bos yang Playboy kini sudah bucin banget, ya?" ucap salah satu dari mereka.
"Pasangan yang gemesin banget. Jadi pengen culik calon istrinya" ucap mereka lagi.
Alex dengan cepat menghampiri Cia dan mereka berjalan secara bersamaan menuruni tangga. "Pak Aditama, kenapa nggak sekalian aja mereka dinikahkan. Nanti keburu kebobolan" ucap orang yang berada disamping pak Aditama.
"Itu kemauan mereka, pak. Kita sebagai orang tua percaya dengan mereka. Kalau kebobolan ya,,,itu berarti sudah jalan takdir mereka" ucap pak Aditama membuat orang disampingnya mengangguk.
"Ih,,,ini pernikahannya siapa, sih. Kok kalian yang jadi peran utamanya" sindir Aidan yang menatap mereka jengah.
"Iri aja Lo, bro. Sana cari jodohmu. Siapa tau masih sempat. Sebelum takdir mengarah ke yang lain" ucap Alex membuat Aidan mendengus.
"Ish,,jangan ngomong gitu. Dia itu udah mau dijodohkan, lhooo" sela Cia.
__ADS_1
Aidan hanya bisa mendengus saja mendengar penyindiran dari sepasang gila. Agar tidak membuatnya semakin panas. "Kalian lama banget, sih. Cia kamu ke kamarnya kak Utaya sana. Alex kamu bantuin mommy menyiapkan itu si Abang Riski lagi bolak-balik ke toilet mulu. Katanya gugup" ucap sang mommy membuat Alex terkekeh. Sedangkan Cia dengan cepat menyusul ke kamar sang kakaknya.