Suamiku Ceo Tampan

Suamiku Ceo Tampan
Capt 3


__ADS_3

Hari berlalu sangat cepat. Sudah seminggu bayi lucu itu dirawat. Dan akhirnya sekarang sudah bisa di bawa pulang. Pihak kepolisian akhirnya menyerahkan bayi itu kepada Rain, tentunya dengan syarat tertentu.


Pihak kepolisian belum juga menemukan siapa ayah atau pun keluarga dari bayi itu. Karena ibu dari bayi itu tidak memiliki kartu identitas sehingga membuat pihak kepolisian kesulitan dalam menyelidikinya.


"Lucu banget sih, kamu dek" ucap Rain yang saat ini berada di ruangan bayi dengan menggendong bayi mungil yang menatap Rain penuh binar.


"Hari ini kita akan pulang ke rumah kakak, ya dek" ucap Rain lagi yang gemas sehingga menciuminya berulang kali.


"Ayo, kita pulang" ajak seseorang yang masuk ke ruangan itu membuat Rain memandangnya dan mengangguk.


"Udah selesai, bang?" Tanya Rain yang diangguki oleh pria itu yang matanya sedang menatap kagum bayi lucu itu.


"Kata bunda, dirumah semua nya sudah siap" ucap pria itu yang kembali diiyakan oleh Rain.


Terkait dengan keluarga mereka. Ketika memberi taukan Bunda dan Ayah. Mereka awalnya kaget dan mengira itu adalah anak Rain. Namun, berkat penjelasan dari Aidan. Akhirnya mereka mengerti. Bahkan sekarang mereka sangat antusias untuk kepulangan bayi tersebut.


Nantinya bayi tersebut akan tinggal bersama Ayah Bunda nya Rain. Mengingat mereka sangat berpengalaman mengurus bayi. Kalau dari pihak Aidan, maklum orang tuanya sudah lama tidak memiliki bayi. Jadi, sudah kaku.


"Perlengkapannya sudah semua?" Tanya Aidan mengecek barang yang akan dibawa mereka pulang.


"Sudah, bang" ucap Rain.


"Lo nggak lapar?" Tanya Aidan yang digelengkan oleh Rain.


"Nanti aja, dirumah makan, bang. Lagian dirumah pasti bunda masaknya banyak. Udah kangen banget sama masakan bunda"


"Oke" jawab Aidan.


Setelahnya tidak ada pembicaraan lainnya didalam mobil. Aidan yang terpokus dengan menyetirnya sedangkan Rain sedang tidak hentinya tersenyum menatap bayi yang manis itu.

__ADS_1


"Dedek lapar ya??" Ucapnya kemudian menyerahkan susu yang sudah dibuatnya kepada bayi mungil itu.


Bayi tersebut meminum susu dengan antengnya. Bahkan melihat hal itu membuat Rain gemas ketika mata bulat bayi itu menatapnya.


Sesampainya dirumah. Mereka disambut gembira oleh keluarga. Bahkan belum masuk rumah. Bayi yang tadinya di tangan Rain. Sudah berpindah-pindah keberadaannya. Mereka semua terlihat sangat senang dengan kehadiran bayi itu.


"Giliran ada bayi aja. Rain di lupain" gumam Rain yang melihat interaksi keluarga nya.


"Kamu cemburu sama bayi??" tanya Aidan menatap Rain penuh tanya.


"Enggak, buat apa juga cemburu, sama bayi. Enggak berfaedah banget" ucapnya kemudian ikut duduk bersama keluarga nya yang diikuti oleh Aidan membawa barang-barang bayi itu.


"Bunda,,,,," rengek perempuan yang katanya tidak cemburu itu. Padahal yang seharusnya cemburu itu kan adiknya si bungsu. Ini malah kakaknya yang cemburu.


Rain kemudian duduk disamping Bundanya yang sedang menimbang bayi kecil itu. "Kamu ini apaan sih, pakai gelayutan kayak gini" protes sang Bunda ketika Rain bergelayut ditangannya. Membuatnya risih.


"Yang katanya tidak cemburu. Sekarang malah manja" sindir Aidan yang duduk sambil meminum jus yang disediakan oleh ART.


Mendengar itu membuat Rain menatap tajam. Kemudian tidak perduli lagi dengan ucapannya. "Aidan, Rain kalian makan dulu, gih. Kalian pasti belum makan kan?" tanya sang Ayah membuat mereka mengangguk dan memakan makannya dengan hikmat.


"Gimana masalah bayi itu?" tanya sang Ayah ketika mereka sudah selesai makan.


"Seperti yang sudah Aidan katakan kemarin. Bahwa Rain ataupun Aidan tidak bisa mengadopsi nya karena beberapa syarat tidak terpenuhi. Maka karena itu saya meminta om untuk mengadopsi nya diatas kertas. Karena nanti biar saya yang mengurus keperluan Raidan, om" ucap Aidan membuat sang ayah terkejut.


"Jadi nama bayi itu. Raidan?" tanya sang Ayah yang diangguki oleh mereka.


"Iya, ayah. Itu gabungan dari nama kita Rain dan Aidan. Bagus kan. Ini Rain yang bikin, sendiri lhoo, ayah" ucap Rain dengan bangganya.


Ayah Chan mengangguk "Jadi kalian kapan nikahnya?" ucapnya membuat Rain termanggu sedangkan Aidan terbatuk mendengarnya.

__ADS_1


Pandangan Ayah Chan menatap mereka meminta penjelasan yang jelas terkait keduanya. "Ayah,,apaan sih. Rain kan masih sekolah, ayah. Memangnya ayah mau kalau Rain nikah muda" ucap Rain membuat sang ayah mengangguk kembali.


"Terus maksud dari tulisan kamu di belakang diary kamu itu gimana??" sanggah sang Bunda membuat Rain membelalakan matanya.


"Ish,,,itu kan waktu aku masih SMP, Bun" rengeknya membuat sang ayah terkekeh mendengarnya.


"Nah,,berarti sekarang terwujud dong. Kamu menikah dengan om-om yang tampan dan kaya" kompor sang Ayah membuat Rain mendengus. Sedangkan Aidan hanya tersenyum saja melihat mereka.


"Ish,,,itu kan maksudnya om-om di Korea, ayah." ucapnya membuat sang ayah dan bunda terkekeh.


"Terserah kamu aja deh, ayah tidak memaksanya. Lagian ayah tau kalau Aidan pasti juga tidak mau menikahi bocah tengil kayak kamu. Ya, nggak Aidan?" ucap sang Ayah yang diangguki oleh Aidan dan tersenyum. Sedangkan Aidan hanya diam saja.


Hari semakin sore, Rain dan sang bunda sedang sibuk-sibuknya dalam menyiapkan keperluan mandi baby Raidan yang saat ini masih anteng dalam dekapan Aidan.


Aidan memilih untuk libur hari ini. Tapi dia masih bekerja dari rumah. Karena terlihat beberapa menerima telepon dari pihak kantor.


"Aduh,,Rain. Kalau airnya panas begini. Nanti yang ada baby Raidan melepuh, sayang. Kamu ini kemarin-kemarin di rumah sakit belajarnya apa, sih. Besok kamu ikut les parenting aja, ya" protes sang Bunda yang kesal dengan anaknya.


"Yaa mana, Rain tau, Bun. Kan Rain belum cek kondisi airnya. baru juga nuangin air hangatnya" ucap Rain membuat sang bunda mendengus dengan mulut komat-kamit membuat Rain hanya diam saja. "Sana kamu ambilin air lagi." perintah sang Bunda yang siap dilaksanakan oleh Rain.


"Tante, ini Raidan mau sekarang dimandiin?" ucap Aidan yang diangguki oleh Bunda dan menyerahkan bayi Raidan kepada sang Bunda untuk di mandikan.


Aidan hanya menatapnya denga mata penuh. Bahkan tidak lepas dari setiap gerakan yang dilakukan oleh bunda yang setia memberitahu Aidan tentang bagaimana memandikan bayi yang baikd an benar.


"Bunda,,sini biar aku aja. Sekalian aku latihan juga, Bun" ucap Rain yang sudah datang dengan air seember kemudian di letak dekat dengan bunda.


Bunda menyerahkan Raidan untuk di mandikan oleh Rain. Terlihat Rain sangat telaten membersihkan tubuh Raidan. Dengan sesekali Aidan membantunya ketika Rain tidak bisa melakukannya.


Dibelakang mereka dengan diam-diam bunda memfoto mereka yang terlihat seperti pasangan pengantin baru memiliki anggota keluarga baru.

__ADS_1


__ADS_2